“Kau masak apa, Na?” William menghampiri Illeana yang tengah masak di dapur. Hari ini gadis itu berada di rumah seharian karena kuliah dan kerjanya sedang libur. William pun turut berada di sana seharian juga. Pria itu pengangguran sekali, satu-satunya kekayaan yang dia miliki hanyalah wajah tampan, auranya yang menawan, dan kepercayaan diri yang begitu tinggi. “Hanya masakan yang biasa aku buat. Kenapa? Kau bosan?” Illeana menjawab sedikit sarkas. “Tidak. Aku rindu malah,” aku William yang menghentikan gerakan tangan gadis itu. “Oh!” Illeana terkejut kerika ujung mata pisau tak sengaja mengirisnya ketika tengah mengiris bawang. Warna merah pekan berbau karat itu mengucur dari ujung jarinya. Sigap saja William menarik tangan gadis itu untuk menghentikan cairan berwarna itu. Illae

