Di dapur rumah Jasmine itu Illeana tampak gelisah memikirkan apa yang mungkin akan Jasmine lakukan. Dia membereskan alat masak yang sudah dia pakai barusan dan menata lauk di atas meja makan sambil menunggu sang sahabat yang tak kunjung datang setelah lima menit berlalu. Illeana berdiri di pintu, menunggu Jasmine yang kembali tak lama kemudian. Tepat seperti dugaan Illeana, gadis itu kembali bersama seseorang yang paling tak Illeana harapkan. “Silakan masuk,” ujar Jasmine. Gadis itu terdiam dengan tatapan tertuju pada sosok yang mengikuti Jasmine di belakangnya. “Dia sakit, Na, kau bisa memeriksanya nanti. Saat aku datang tadi, dia kesulitan bangun,” bisik Jasmine begitu mereka berhadapan. Mendengar apa yang Jasmine katakan itu semakin membuat Illeana terdiam. Jasmine sendiri

