KEYFA Ternyata aku manusia biasa. Seberapa keras usahaku untuk menahan tangis agar tidak jatuh, hanyalah sebuah usaha yang sia-sia. Hatiku terlalu sakit untuk tidak menangis karena puluhan kalimat yang menusuk bagai duri itu. Hari ini, mungkin akan menjadi salah satu mimpi buruk selama aku hidup. Aku sudah kebal dengan komentar Mami mengenai penampilanku, tapi aku tidak begitu saja menerima komentar mereka terhadap papaku. Aku dan Papa memang belum lama dekat, canggung masih ada. Tapi sebagai anak, siapa yang ingin mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri ketika orang tuanya dipandang rendah? Aku yakin tidak ada. Sayangnya, orang-orang yang tidak punya empati itu adalah mertuaku. Aku harus bagaimana sekarang? Kabur? Agar bisa lepas dari lingkaran keluarga Wisnu. Lalu, bagaimana

