3

1187 Words
WISNU Gue punya enam sahabat dekat waktu SMA, Seven Squad namanya. Persahabatan kami dimulai ketika kami sama-sama mengikuti ekskul futsal. Kami berada di team inti pada saat itu. Tapi dari setengah lusin sahabat gue, gue punya satu orang yang lengket banget sama gue dari zaman gue dekil sampai sekarang masih dekil juga. Cuma bedanya dompet gue udah gak sedekil dulu. Nih, pria yang berprofesi dokter yang duduk di balik kemudi mobil gue ini adalah sahabat yang paling dekat dengan gue di antara sahabat gue yang lain. Bukan berarti gue mengucilkan yang lain, tapi gue memang lebih dulu dekat dengan Galih. Kami memulai pertemanan dari hari pertama MOS——Masa Orientasi Siswa. Dia duduk di sebelah gue waktu itu. Karena karakter kami berdua agak-agak mirip, ngobrol juga jadi nyambung dan santai. Habis itu, gue juga satu kelas dengannya. Masa lalu Galih gak beda jauh dari gue. Sama-sama pensiunan madesu alias masa depan suram. Hobi dia nongkrong di club. Nyari mainan sama minuman. Sebelum akhirnya tobat dan berhasil menikahi gadis berusia 21 tahun dan sekarang istrinya lagi hamil. Dunia memang suka bercanda sama gue. Beda sama gue yang kadang masih sering didatangi setan porno yang pada akhirnya menjerumuskan gue ke dalam kenikmatan sesaat. Padahal gue tahu bahwa apa yang gue lakukan itu dosa. Ah, mungkin setelah menikah gue juga akan berubah menjadi lebih baik seperti Galih. Doain gue ya... Keberuntungan Galih gak sampai di situ, mantan tunangan dia cantik. Keturunan Aussie. Cuma sayang, tunangannya itu balikan sama mantannya dengan cara yang cukup dramatis. Lepas dari Raina—mantannya, Galih dapat bibit muda yang super manis. Anak kuliahan bisa dia nikahi, Bro. Lah gue? Nyokap sampai meragukan kalau gue bisa nyari calon istri sendiri. Gue bukannya nggak bisa nyari calon istri, tapi buat gue cewek itu ribet. Titik. "Gal?" "Hmm." Si kampret yang nebeng pulang sama gue ini menjawab panggilan gue cuma bergumam doang. "Gimana sih rasanya nikah?" Dikasih pertanyaan seperti itu, Galih langsung melirik gue dengan raut keheranan. "Lo lagi ngigau ya, Nu? Kalau mau tahu rasanya, makanya nikah." Gak suka nih kalau jawabannya ngeremehin gue kayak barusan. "Lo nikah udah berapa bulan?" "Empat bulan." Wah, udah empat bulan aja. Perasaan baru kemarin gue maki-maki dia di depan rumah mertuanya saat dia hampir salah menyebut nama mempelainya sendiri. Si kampret yang gagal move on ini hampir nyebut nama Raina, yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan tunangannya pada saat ijab kabul. "Selama empat bulan itu perubahan apa yang lo rasain?" "Apa ya?" Galih kelihatan lagi mikir. "Banyak sih, Nu. Kalau gue jelasin sampai akar-akarnya dua jam gak bakal selesai." "Intinya aja, Somat!" Galih terbahak di saat gue nunggu jawaban seriusnya. "Pertama, gue lebih bisa ngatur emosi. Gue lebih sabar ngadepin Nana. Kalau pas awal-awal nikah gue masih sering ribut sama dia. Karena Nana juga masih belum sepenuhnya percaya kalau gue udah gak cinta lagi sama Raina." Pasti susahlah ngebangun kepercayaan perempuan yang awalnya cuma dijadikan pelampiasan oleh si kutu kupret ini. Masih untung istrinya gak membatalkan pernikahan waktu itu. "Gimana cara lo yakinin Nana?" Sumpah gue kadang mikir apa sih kelebihan Galih selain pekerjaannya yang mentereng sampai istrinya tahan sama kelakuan nih bocah satu. Eh, dia bukan lagi bocah soalnya spermanya on the way menghasilkan bocah. "Dengan cara olahraga malam berdua." "Eh, b*****t. Serius!" umpat gue. "Santai dong!" Galih terkekeh. Lalu berdeham pelan. "Gue cuma berusaha nunjukin ketulusan gue. Karena gue juga capek kalau tiap kali bertengkar sama dia gara-gara Raina terus." "Terus selain itu apalagi yang lo rasain?" "Kedua, kalau ada istri semua perlengkapan kerja lo yang nyiapin pasti istri. Yang nyiapin sarapan juga istri. Istri juga yang nungguin lo pulang kerja." Ya, ya, ya. Gue rasa semua pria pasti punya jawaban yang sama. Bokap juga seperti itu. Sering kali bokap banggain nyokap selama menjadi istrinya. "Ketiga, temen tidur lo tetep satu tiap malam. Nggak senggol bacok sana sini." Shit! "Mantan PK gak usah sindir-sindir." Galih pernah terjerumus ke dunia malam, tapi gak separah gue. Gue masih susah buat keluar dari lingkaran hitam itu, terlalu asik sampai lupa waktu kalau misalnya umur gue udah pas buat nikah. "Satu hal yang bikin gue malu sama diri gue sendiri, Nu." Galih mulai dramatis. Ia menjeda ucapannya sendiri. Fokus mengemudi dalam beberapa detik, sebelum melirik gue sambil tersenyum miring tercetak di bibirnya dan kedua bola mata yang menatap kosong. "Masa lalu gue yang nakal." Oh, sialan. Apa gue juga akan menyesali hal yang sama saat gue susah punya istri? "Lo itu beruntung karena dapetin Nana." "Kan gue bilang, Nu. Gue selalu selangkah lebih maju dari lo." Galih menyeringai. "Sombong lo gak pernah berubah," cetus gue. "Hak dan kewajiban suami itu apa aja?" "Lo beneran punya rencana buat nikah, Nu?" Gue yakin Galih adalah orang yang paling tidak percaya kalau gue bakal nikah dalam waktu cepat. Selama ini gue sering menghambur-hamburkan waktu buat hal yang tidak jelas. Gue memupuk dosa karena datang ke kelab tiap malam. Gue minum, gue main cewek. Gak ada positifnya hidup gue. Tapi, satu hal. Satu hal yang penting sekali. Perlu digarisbawahi dengan spidol permanen. Gue jenuh. Tiap hari aktivitas gue begitu-begitu saja. Nongkrong bareng temen juga jarang. Kadang gue bingung harus melampiaskan kejenuhan gue dengan cara seperti apa? Cara yang lebih positif misalnya. "Gara-gara bokap, Nyet. Udah cepet jawab pertanyaan gue." "Lo bisa baca di buku nikah nanti." "Yaelah." "Semua itu mengikuti kok, Nu. Yang penting lo ngejalaninnya dengan sungguh-sungguh." Petuah yang berfaedah sekali. "Lo bahagia habis nikah?" "Nu, sumpah. Pertanyaan lo gak penting semua." "Berbagi dikit, Gal." Cengiran gue ditanggapi horor oleh Galih. Ia mengernyitkan alisnya, menatap gue heran. Sebelum akhirnya, dia kembali memulai bercerita, "Awal-awalnya gue sendiri takut gak bisa bikin Nana nyaman dan bahagia hidup sama gue. Lo tahu sendiri kan gue sering banget bikin dia nangis sampai gak mau tidur sekamar sama gue. Tapi gue belajar dari semua kesalahan itu, Nu. Sampai perlahan semua keadaan itu membaik, terus membaik sampai saat ini." Gue masih belum memberikan tanggapan. Gue menunggu sampai Galih menuntaskan ceritanya. "Dan satu hal yang bikin gue speechless." "Apa?" tanya gue spontan. "Waktu Nana bilang dia hamil. Rasanya merinding. Gue sampai gak bisa berkata-kata. Kayak mimpi aja gitu kalau gue bakal jadi ayah." "Lo excited?" "Jelas," jawabnya lugas. "Itu hasil goyangan gue sama Nana." "Bangke." Galih terbahak. "Nu, manusia itu makhluk sosial. Mereka butuh pendamping untuk hidup. Itu sebabnya manusia diciptakan berpasang-pasangan. Lo gak bakal bisa berkembang biak tanpa istri, Nu. Mungkin bisa dengan cewek-cewek yang mampir cuma satu malam di hidup lo. Tapi gue yakin,  Nu. Jauh di lubuk nurani lo yang paling dalam, lo gak pengen anak lo lahir dari hasil hubungan di luar nikah. Iya kan?" "Iya lah," jawab gue spontan. Setelah gue hampir ngeces karena serentetan kalimat yang Galih ucapkan barusan. "Semua balik lagi ke lo, Nu. Gue dan yang lain cuma bisa mendukung apa pun keputusan lo." "Menurut lo Keyfa gimana?" Galih mengangkat bahunya. "Gue gak kenal dia secara personal, Nu. Mungkin lo bisa tanya ke Dipo langsung. Secara dia keluarganya." "Gue takutnya Dipo bangga-banggain Keyfa padahal aslinya gak sebagus itu." "Gue percaya sih kalau dia cewek baik-baik," kata Galih tanpa ragu. "Gue ajak dia ketemuan deh nanti." "Sip. Good luck, Bro." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD