2

1075 Words
KEYFA Apa benar ibu-ibu akan lebih bawel saat anaknya belum menikah di atas usia 25 tahun? Soalnya mamaku juga seperti itu. Ketika kutanya kenapa dia maksa banget aku buat nikah, jawabannya simpel kok. Katanya usiaku sudah cukup matang untuk membangun rumah tangga. Begini, bukannya kecukupan usia itu belum tentu menjadi kunci kebahagiaan rumah tangga? Sekarang banyak perempuan yang menikah muda, dan tidak sedikit pula perempuan yang menikah di atas 30 tahun. Berkecimpung di dunia pertelevisian bikin aku nyaman. Sampai lupa kapan terakhir kali aku pacaran. Kayaknya pas zaman kuliah. Entah itu di semester berapa, aku sendiri lupa. Setelah itu aku hampir gak pernah lagi pacaran. Mamaku sampai mengira aku belok karena tidak pernah mengajak "teman dekat" cowok ke rumah. Padahal karena memang tidak ada. Ralat, bukan tidak ada namun aku yang sepertinya terlalu cuek sehingga para lelaki yang sudah mendekat, kembali menjaga jarak. Soal penampilanku juga sering kali Mama keluhkan. Katanya terlalu tomboi lah, gak bisa make up, wajah kusam, bibir pucat mirip vampir, celana sobek mirip preman. Sudah tidak ada poin plus-plusnya penampilanku di mata Mama. Mendengarkan musik sambil rebahan dalam posisi terlentang di atas kasur memang yang paling nikmat. Genre musik rock adalah genre yang paling kugemari dari kecil sampai sebesar ini. Nah, urusan selera musik pun Mama kembali protes dengan mengatakan kalau genre musik yang aku sukai itu benar-benar tidak manusiawi. Bagiku musik rock itu mampu membawa semangat yang menghentak-hentak. Aku dikejutkan oleh Mama yang tiba-tiba muncul dan melepaskan headset yang sedang kupakai. Aku bangkit dan duduk bersila di kasur. Menatap Mama dengan raut protes, namun Mama adalah satu-satunya orang yang tidak pernah terintimidasi oleh tatapanku. "Paketan baru kamu. Pasti isinya onderdil motor." Mama meletakkan kardus yang ia bawa itu di atas kasur. Aku nyengir lebar. "Mama tahu aja. Makasih ya, Ma, udah terima paketnya dan nggak ngebuangnya." Terlalu sering mungkin aku membeli onderdil motor sampai Mama bisa berkata demikian. Padahal paket kali ini isinya itu sebuah tas—tas brandid mbak bro, tas tersebut sengaja aku beli jauh-jauh hari untuk kado ulang tahun Mama akhir tahun nanti. Mama belum tahu aja, coba kalau sudah tahu aku pasti dihujani ciuman sambil muji-muji diriku ini. "Perempuan lain pesen di toko online tuh skin care, baju, tas, sepatu. Sedangkan kamu onderdil terus," protes Mama sambil berkacak pinggang. "Aku kan bukan perempuan lain yang Mama maksud," balasku santai. "Iya, tapi kamu anak Mama, Key." Mama berbicara penuh penekanan dan didukung oleh matanya yang melotot. "Memangnya siapa yang bilang kalau aku anaknya Barack Obama?" "Key, serius," omelnya. Menggoda Mama adalah salah satu kegiatan yang mengasikkan walaupun setelahnya aku harus pasang telinga dengan baik karena pastinya serangan balasan dari Mama yang berupa ocehan-ocehan itu tidak akan habis selama tujuh hari tujuh malam. "Key juga serius, Mama. Udah ya berhenti nyuruh Key nyari jodoh." Aku mengangkat tangan kedua tangan. Tanda menyerah dengan keinginan Mama. Mama mendengkus. "Kamu beli onderdil itu dari mana sih?" "Ini diimpor langsung dari Amerika." "Jauh amat. Kenapa nggak sekalian aja kamu pesen pria tampan, masih muda, sukses, dan pastinya single." Ke situ lagi larinya. Sampai panas telingaku mendengarkan ocehan Mama tentang calon suami. "Iya nanti pesen. Tapi ongkirnya mahal deh kayaknya, Ma. Soalnya paket isi manusia," celetukku asal. "Atau kamu daftar acara jodoh-jodohan di teve. Apa ya judul acaranya? Kok Mama lupa." "Take me out?" "Nah iya take me out." Aku memutar bola mata malas. Begini nih, kalau Mama keseringan nonton televisi. Program-program yang mengandung unsur tipu daya itu Mama percayai begitu saja. "Plis deh, Ma. Jangan keseringan nonton teve." "Lho kamu juga kerja di teve," balas Mama. "Beda teve dong, Mamaku sayang. Aku di talkshow Putih Abu-Abu di TV10," jawabku gemas. "Mau Mama tonton acaranya tapi buat apa kalau kamunya gak masuk teve." "Sakit lho dengernya. Kayak lagi dicabik-cabik gitu, Ma." Aku bangkit berdiri, hendak pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Dering ponselku membuatku langkahku tertahan. Satu panggilan masuk dari Mbak Rina. Dia kakak sepupuku yang paling tua dari pihak keluarga Mama. "Halo, Mbak Rina. Kenapa?" "Key, jangan lupa mandi. Mentang-mentang libur jam sepuluh pagi belum mandi. Gimana laki-laki bakal naksir kalau jorok kayak gitu," cerocos Mama. Tema ceramahnya tiap hari libur gak pernah ganti. "Kenapa lagi tuh sama mama kamu?" "Biasalah jiwa emak-emaknya keluar. Btw, ada apa, Mbak?" "Masih butuh calon suami sewaan gak?" Ngomong-ngomong soal calon suami sewaan, kemarin aku sempat curhat soal keinginan kedua orang tuaku yang ingin aku menikah akhir tahun atau awal tahun depan, sebelum usiaku menginjak angka 26 tahun pada tanggal 22 Januari nanti. Sebagai anak tunggal aku gak punya teman curhat, Mbak Rina adalah satu-satunya sepupu yang dekat denganku. Sejak kecil aku selalu berbagi cerita dengannya. Namun sejak ia menikah, kami jarang bertemu. Aku juga malu sama suaminya kalau keseringan main ke rumah dia. Takutnya suaminya malah naksir aku. "Butuh, Mbak. Soalnya Mama neror aku terus nih." "Mbak punya kenalan. Temen deketnya Dipo. Dia juga disuruh nikah sama orang tuanya." Wah, kebetulan sekali. Bisa diajak kerja sama nih. "Temennya Mas Dipo? Berarti udah 30 tahun lebih dong umurnya?" "Iya, 30 tahun lebih kayaknya." Lumayan matang juga usianya. "Orang mana, Mbak?" "Orang Jakarta juga. Mbak lupa sih alamat rumahnya." "Ganteng gak nih? Soalnya standar menantu Mama itu yang kayak Andhika Pratama." Nah, salah satu efek sering nonton televisi, Mama jadi mengkhayal banyak. Salah satunya pingin dapat menantu yang gantengnya kayak aktor-aktor Indonesia. "Nah, coba cari kontaknya Nicholas Saputra aja, Key. Kan dia agak-agak mirip Andhika Pratama. Siapa tahu aja mamamu mau." "Mbak, plis. Gak usah halu. Cukup Mama aja." Mbak Rina terbahak-bahak di ujung sana. Butuh beberapa detik hingga tawa Mbak Rina menghilang. "Iya deh. Jadi gimana, Key? Mau ketemuan dulu gak sama orangnya?" "Boleh, Mbak. Besok ya," tawarku. Mumpung weekend. Kalau tidak weekend, aku orang yang sibuk dan susah mencuri-curi waktu untuk bersantai. "Jam berapa?" "Pas lunch aja. Nanti aku nyari tempatnya dulu buat ketemuan." Jangan yang terlalu mahal, takutnya cowoknya gak mau bayarin. "Kamu mau kontaknya gak?" "Nanti aja. Kalau jelek kan sayang bagi-bagi kontak sama dia," kekehku. "Dasar kamu! Yaudah fix nih?" "Fix." "Sip kalau gitu Mbak bilang ke temennya Dipo." "Emang ada di situ?" "Nggak ada sih. Maksudnya lewat Dipo. Biar dia yang bilang ke temennya." "Ooooohhh." "Ya udah deh, Key. Mbak tutup dulu. Semoga berhasil." "Thanks, Mbak." "Urwell, Honey." Semoga misi kali ini berhasil dan orang tuaku, terkhusus Mama bisa berhenti sindir-sindir ataupun maksa aku buat nikah. Minimal Mama tuh tahu kalau anaknya ini biarpun tomboi tapi tetap normal. Tidak cinta pada sesama jenis, masih suka terong-terongan. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD