Kartu 7

1165 Words
Aaric berdiri dengan gagah di atas podium disaksikan oleh ratusan siswa lainnya dan juga keluarga yang hadir dalam acara seremonial pagi itu. Ini pertama kalinya mimbar diisi oleh anak yang berbeda, karena setiap tahun podium itu dimonopoli oleh anak perempuan dengan warna rambut tembaga dan bola mata amber, Lisa. Jas yang dipinjamkan Uli sangat pas di tubuh Aaric. Itu jas yang sama yang Uli kenakan saat kelulusan dirinya dari akademi kepolisian. Dasi berwarna merah dan kemeja putih juga terlihat sangat serasi. Aaric itu tampan, hanya saja dia tak sadar kalau dirinya tampan. “Prestasi adalah sesuatu yang diraih dengan kerja keras. Masa muda adalah masa yang pas untuk menggali apa yang kalian suka, jika kalian menemukannya maka mulai lah fokus pada yang kalian cita-citakan! Menjadi sukses juga bukan masalah nilai yang tertulis pada rapot kalian, tapi apa yang bisa kalian berikan sebagai kontribusi kepada masyarakat. Terima kasih" Aaric berorasi. Tepuk tangan riuh terdengar dipenjuru lapangan Baseball Pagi itu, matahari bersinar cerah keemasan menghangatkan hati semua siswa-siswi yang mengikuti acara. Semua orang kagum pada Aaric, sebagian bahkan tak menyangka sekolah mereka ternyata menyimpan harta karun berharga seperti Aaric. Lisa yang duduk paling depan bersama Isabel dan Philip tak henti-hentinya bertepuk tangan. Meskipun ia sedikit kecewa karena di penghujung sekolahnya ia tak bisa menutup dengan tampil di podium, namun ia cukup senang jika Aaric yang tampil, Aaric memang pantas untuk itu. “Itu anak yang belakangan ini selalu pulang bersamamu, bukan?” Isabel berbisik pada Lisa. “Iya... rumahnya dua blok dari sini,” jawab Lisa. “Apa dia pintar?” tanya Isabel lagi. “Tentu saja, Bi. Kalau tidak pintar bagaimana ia bisa berdiri di mimbar pagi ini,” Lisa berujar. “Apa dia anak biasa?” tanya Isabel. “Maksudmu apa, Bibi Isabel? Bibi pikir dia vampire atau alien?” Lisa tampak kesal. “Ya sudah, aku tak suka melihat wajahmu yang itu,” Isabel urung membahas Aaric lebih banyak lagi, ia kembali duduk tenang di posisinya. Setiap acara seremonial satu per satu berakhir, ditandai dengan foto bersama kemudian melemparkan toga ke langit, dengan demikian dinyatakan semua anak sudah lulus dari bangku sekolah. Lisa mencari-cari sosok Aaric di tengah kerumunan para wisudawan. Ternyata Aaric sedang mengobrol dengan Kevin, juga ayah dan ibu Kevin. Sementara Sabine tengah mengambil jamuan untuk disantap. “Hai, Aar, apa aku menggangu?” sapa Lisa. “Lisa, kau rupanya, kau datang dengan siapa?” tanya Aaric. “Aku datang dengan Bibi Isabel dan ayahku!” kata Lisa kemudian melambaikan tangan ke arah mereka. Aaric mengangguk dan tersenyum dari kejauhan, yang di balas dengan ramah oleh orang tua Lisa. “Kenalkan ini Kevin temanku!” Aaric memperkenalkan Kevin pada Lisa. “Hai, aku tak menyangka bisa bersalaman denganmu, Nona Sterne. Aku ini fansmu, kau tahu,” Kevin tersenyum. “Aku merasa tersanjung. Kalian sudah lama berteman?” tanya Lisa. “Ya, kami sudah berteman bahkan semenjak kami di dalam kandungan ibu kami,” jawab Kevin, memang terdengar seperti lelucon. “Kau ini bisa saja!” Aaric menepuk pundak Kevin. “Ngomong-ngomong, kalian mengobrol saja, aku mau ke sana sebentar!” tiba-tiba Aaric pamit. Kevin dan Lisa hanya bisa memandangi kepergian Aaric dengan sedikit heran. “Sudahlah, anak itu memang kadang bertingkah aneh,” ucap Kevin mengalihkan perhatian Lisa. Kemudian Lisa tersenyum. “Rumahmu dekat dengan rumah Aaric?” tanya Lisa. “Tidak bisa di bilang dekat juga, tapi jauh juga tidak. Rumahku sekitar 100 meter dari blok rumah Aaric, kau sendiri di mana?” “Rumahku sangat dekat, dari sini hanya tinggal lurus saja, nanti di belokan depan kau akan menemukannya,” “Wow, ternyata dekat juga,” respon Kevin. “Ngomobg-ngomong, kau suka es krim, Lisa?” tanyanya. “Ya, sangat suka,” “Mau aku ambilkan?” “Boleh kalau tidak merepotkan,” jawab Lisa tersenyum. “Kau suka rasa apa?” tanya Kevin. Tiba-tiba Aaric sudah datang dengan tiga buah es krim di tangannya. “Ini untukmu!” Aaric memberikan 2 scop es krim coklat kepada Kevin. “Dan ini untukmu!” kemudian Aaric memberikan 2 scop es krim stroberi dan vanila dengan taburan kacang almond di atasnya. Lisa terkejut. Ia hanya menatap Kevin, dengan penuh tanya. Kevin pun sebaliknya. Bagaimana bisa Aaric tahu es krim favoritnya, padahal setahunya ia belum pernah memberitahu apapun soal es krim kesukaannya pada Aaric. “Itu es krim kesukaanmu, bukan?” tanya Aaric. Aaric agak heran melihat Lisa hanya memegang es krimnya tanpa memakannya. “Teman, sepertinya aku salah sangka, kalian pasti sudah saling mengenal cukup lama ya kan?” akhirnya Kevin bersua. “Kami baru berkenalan selama dua minggu, dan aku tidak pernah mengajaknya makan es krim,” respon Lisa masih syok. “Sungguh? Lalu bagaimana kau tahu es krim kesukaan Lisa dengan sangat detail?” Kevin bertanya pada Aaric. “Hmm... entah lah. Mungkin aku hanya menebak, ya... benar, aku hanya menebak,” jawab Aaric gugup. Sebetulnya ia pun tidak mengerti, mengapa tebakannya bisa tepat. “Ya sudah, lupakan! Ayo kita nikmati es krim ini,” “Frost!!!” mereka mengacungkan es kirimnya masing-masing setinggi-tingginya, sebelum menjilatinya hingga habis. *** “Aku yakin benar, Aaric temannya Lisa itu bukan anak sembarangan, ia memiliki kekuatan, Phips,” lagi-lagi Isabel mencoba membahas soal ini lagi. “Mungkinkah ia seorang....” “... Rein?!” sambungnya lagi. “Masih adakah seorang Rein di zaman sekarang ini, Isy?” tanya Philip sangat retoris. “Bahkan seorang Rein di zaman sekarang ini mungkin tak akan menyadari dirinya adalah bangsa Rein,” ujar Philip, ia sama sekali tidak mengerti mengapa Isabel begitu bersikeras menganggap Aaric punya kekuatan khusus. “Jika benar kita telah menemukan Rein dari klan lain, itu artinya, pertarungan melawan para penyihir akan segera di mulai! Kita harus bersiap, Phips,” nada suara Isabel mulai terdengar sangat khawatir. “Hmm....” Philip tak tahu harus berkomentar apa. Ia hanya sedang berpikir. “Aku tak tahu kau tengah membicarakan omong kosong macam apa, tapi tiba-tiba aku tergelitik untuk mengamati pemuda itu lebih dekat,” ucap Philip. “Itu yang ingin aku lakukan sejak waktu itu, Phips. Tapi sepertinya kau sudah terlambat. Kata Lisa pemuda itu sudah pindah bersama keluarganya ke kota lain,” “Panggil Lisa sekarang! Aku tunggu di ruang kerjaku!” Philip bergegas pergi ke ruang kerjanya. Kali ini ia terlihat sangat serius. Lisa sedang berada di bangku taman, mengisi formulir aplikasi sebuah Universitas, saat Isabel datang menghampirinya. Entah mengapa Lisa tiba-tiba saja tercetus ide untuk mengambil jurisan kedokteran di LMU. “Halo, Sayang, apa aku mengganggu?” tanya Isabel. Ia tiba-tiba datang dan cukup mengagetkan Lisa. “Tidak, Bibi, duduklah!” jawab Lisa, kemudian kembali menyelesaikan pengisian formulir. “LMU? Kau akan daftar ke sana?” Isabel mengrenyitkan dahi. “Aku ingin mencoba, Bi. Menurut informasi yang aku dapatkan jurusan kedokteran di sini salah satu yang terbaik di Jerman, bahkan Eropa,” jawab Lisa. “Oke, aku percaya padamu, Sayang,” Isabel tersenyum. “Boleh aku tanya sesuatu?” “Tanya saja, Bi,” Lisa menyimpan kertas dan bolpoinnya kemudian fokus memperhatikan Isabel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD