“Kau melihat anak tadi?” bisik Isabel pada kakaknya, dari balik jendela.
“Iya, terus ada apa? Philip balik bertanya seolah tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan Isabel. Ia meneruskan sarapannya, setelah Lisa pergi sekolah.
“Sudah dua hari, Lisa pulang dan pergi sekolah bersama anak itu,”
“Biarkan saja, Lisa kita sudah dewasa sekarang, sudah sewajarnya dia tertarik dengan lawan jenis!” respon Philip datar.
“Bukan soal itu, aku penasaran dengan pemuda itu, bisakah kita mengundangnya ke rumah kita, Phips?”
“Ayo lah, Isy, aku mengambil cuti hari ini untuk beristirahat, bukan mendengarkan omong kosong,” ucap Philip mulai kesal.
“Aku tidak bicara omong kosong, instingku mengatakan anak laki-laki itu memiliki potensi energi yang sangat besar! Hingga aku sulit mengkalkulasikan energinya, ini sangat jarang terjadi,”
“Kau bilang apa barusan?” Philip bertanya, kemudian meletakan pisau dan Marmelade yang berada di tangannya. Lalu mulai memperhatikan yang dibicarakan Isabel dengan serius.
“Seperti yang aku bilang tadi malam. Beberapa hal-hal ganjil mulai terjadi. Yang paling tidak aku mengerti adalah soal Lisa. Bagaimana mungkin bisa Lisa dikalahkan oleh anak manusia normal, kecuali ada yang salah,”
“Maksudmu? Ada anak lain seperti Lisa di sekolah itu?”
“ya, aku menduga keras seperti itu. Lalu tiba-tiba saja muncul juga anak laki-laki tadi, yang informasinya tidak bisa aku terawang karena energinya terlampau besar. Untuk itu aku ingin memastikannya, apa ini saling berkaitan?”
“Baik, sebelum kau memastikan yang itu, ada baiknya kau pastikan dulu ketersediaan gula di rumah ini! Stoples ini kosong, kau menginginkan aku minum kopi pahit, ya?” ucap Philip ketus, ia kembali menyimpan stoples yang seharusnya berisi gula ke dalam kabinet.
“Ya Tuhan, jangan-jangan sejak tadi kau sama sekali tidak memperhatikan apa yang aku ucapkan, Phips?” Isabel kesal.
“Hmm... sekarang kau bisa pergi ke swalayan untuk membeli beberapa gula dan camilan, karena mereka tidak akan datang sendiri ke rumah ini hanya menggunakan kekuatan pikiran,” sindir Philip.
“Baiklah aku akan pergi, ada yang mau kau beli lagi?”
“Hmm... mungkin untuk sementara tidak ada, terima kasih sudah mau pergi,”
“Ya memang seharusnya kau berterima kasih, sebelum kupatahkan lehermu karena selalu merepotkan. Lalu kau mau apa sekarang?” tanya Isabel.
“Tentu saja berjemur,” jawab Philip enteng. Ia segera membawa tabir surya dan sebundel surat kabar hari ini ke halaman belakang rumah.
***
Sabine sudah sampai di swalayan, yang tidak terlalu jauh dari rumah. Ia hendak membeli beberapa bahan kue Blackforest, hari ini teman-temannya dari perkumpulan theater akan berkunjung kediaman keluarga Karte.
“Opa, bisa tolong pastikan apakah kita masih punya gula dan tepung di rumah? Barusan aku lupa mencatatnya di daftar belanja,” kata Sabine meminta George lewat saluran telefon untuk mengecek beberapa kebutuhan dapur.
“Baik, Sabine, sebentar aku lihat dulu,”
“Oke, aku tunggu, tolong jangan lama-lama ya!” kata Sabine masih tersambung pada telefon.
Tanpa sengaja tiba-tiba Sabine menyenggol pengunjung lain, yang sama-sama sedang mengambil beberapa item kebutuhan dapur.
“Brukk…” beberapa karton cooking cream jatuh dari rak, tak sengaja tersenggol juga.
“Aduh, maaf Bu, maaf… saya tidak sengaja!” Sabine panik. Sambil merapikan beberapa barang yang ikut terjatuh.
“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Isabel ramah, ia menolong Sabine merapikan barang-barang yang berserakan di lantai.
“Ada yang terluka?” tanya Sabine.
“Tidak ada, semua baik-baik saja, permisi” jawab Isabel kemudian pamit, menuju rak lainnya. Sabine tersenyum.
“Apa yang terjadi?” George sangat khawatir. Karena terdengar keributan kecil dalam telefon itu.
“Tidak ada apa-apa. Aku tak sengaja barusan menyenggol orang lain,”
“Ah, Sabine, kau ini tidak pernah berubah,” keluh George.
“Aku tahu itu, Opa. Bagaimana? Apakah kau sudah melihatnya? Apa saja yang habis di dapur?” tanya Sabine. Kemudian George menyebutkan barang-barang apa saja yang habis.
Setelah membeli beberapa barang kebutuhan dapur dan barang lainnya yang dibutuhkan, Sabine segera menuju meja kasir, untuk membayar barang-barang tersebut. Tak diduga, ia kembali bertemu Isabel yang juga sedang mengantre giliran.
“Mohon maaf yang tadi ya, Bu!” Sabine menyapa Isabel yang berdiri di depannya.
“Eh, tampaknya kita berjodoh, bisa bertemu lagi di sini. Lupakan saja, Bu, itu bukan hal besar,” jawab Isabel ramah.
“Tinggal disekitar sini?” tanya Sabine.
“Ya, hanya beberapa blok saja. Anda juga tinggal di daerah sini?”
“Ya, tidak jauh,”
“Pantas saja rasa-rasanya sering melihat Anda berbelanja di sini,”
“Sungguh?” Sabine tersenyum.
“Iya, kebetulan sekali. Ngomong-ngomong, Anda suka memasak?” tanya Isabel. Setelah tanpa sengaja melihat isi keranjang yang dibawa Sabine. Sebetulnya, tanpa perlu mengintip isi belanjaan Sabine, Isabel pun sudah dapat membaca beberapa informasi tentang Sabine hanya dengan menatapnya sebentar saja.
“Ya, memasak itu menyenangkan. Tapi bagaimana Anda bisa tahu?” tanya sabine heran.
“Hanya menduga,” jawab Isabel sambil melirik ke dalam keranjang miliki Sabine.
“Ah ya, kenapa aku tidak berpikir sampai ke situ,” Sabine pun tertawa, baru menyadari bahawa isi keranjangnya itu dipenuhi oleh tepung gandum, mentega, gula, beberapa bungkus kacang kenari, buah ceri, dan coklat batangan.
Akhirnya tiba giliran Isabel, ia mengeluarkan beberapa belanjaan milikinya di atas meja kasir, diantaranya adalah gula pasir sesuai permintaan Philip, dan beberapa camilan, juga kebutuhan rumah seperti sabun dan deterjen. Setelah selesai, Isabel tersenyum ke arah sabine, untuk mengucapkan selamat tinggal. Sabine membalasnya.
Sabine melirik ke arah Isabel yang pergi meninggalkan mini market. Ia tercenung sejenak, entah mengapa Sabine tiba-tiba yakin kalau Isabel memiliki kekuatan tertentu. Sabine bisa merasakan energinya. Tapi pikiran itu buru-buru ditepis, ia sudah memutuskan untuk tidak lagi mau berurusan dengan kekuatan apa pun di alam semesta ini.
***
Ada sebuah rahasia besar di alam semesta ini tentang energi. Aristoteles telah menyinggung kata energi di abat ke-4 sebelum masehi, jauh sebelum ditemukannya konsep energi seperti yang diungkapkan oleh pakar-pakar fisika modern.
Energi adalah sebuah definisi kekuatan yang tidak dapat diciptakan namun tidak dapat juga dimusnahkan. Satu-satunya di alam semesta yang kekal adalah energi, paling tidak itu yang disebutkan dalam literasi-literasi fisika di seluruh penjuru dunia. Konsepsi bersama yang masih dipercaya hingga kini.
Ada banyak bentuk energi di alam semesta ini; kinetik, potensial, mekanik, kimia, listrik, magnetik, radiasi, nuklir, ionisasi, elastik, gravitasi, termal, bahkan sesuatu yang diam pun menyimpan suatu energi. Dan semakin perkembangannya ilmu pengetahuan makin banyak lagi benuk-bentuk energi yang ditemukan.
Manusia adalah salah satu media penyimpan energi terbesar. Russel mengemukakan konsep energi pada manusia ini yang diberi istilah ilmiah Psikosintesis. Konsep ini menerangkan bahwa manusia adalah sebuah sistem energi. Di mana dengan sadar manusia dapat mengendalikan energinya, mampu mendefinisikan segala hal yang bergejolak di dalam dirinya. Contoh yang paling mudah adalah memahami energi pada manusia adalah, pengenalan emosi yang merupakan ciri spesifik menjadi manusia.
Jika seseorang tersenyum, orang yang melihat tentu akan mendefinisikan kalau orang tersebut sedang bahagia, itu bersifat umum semua orang dapat dengan mudah membacanya. Namun orang yang memahami konsep energi pada manusia yang lebih mendalam, bisa mengartikan senyum itu lebih spesifik lagi, apakah senyum bahagia, senyum haru, atau bahkan senyum palsu dengan tepat.
Tuhan menciptakan manusia dengan energi yang besar dan kompleks dibandingkan makhluk lain di dunia ini, bahkan di alam semesta ini. Pada tingkatan lebih lanjut, manusia mampu merasakan energi yang dipancarkan orang sekelilingnya, dan pada tingkatan kemampuan yang lebih tinggi lagi, mereka mampu mengendalikan semua energi yang muncul baik dari dalam dirinya maupun yang dipancarkan manusia lain secara simultan.
Ilmu Psikosintesis yang menerangkan konsep tentang kesadaran energi pada diri manusia ini diterapkan pada sekelompok orang yang mampu menangkap spektrum-spektrum energi pada diri setiap individu bahkan dari alam semesta guna menghasilkan kesadaran yang tinggi, membangkitkan intuisi, memperhalus sensitivitas, hingga tak menutup kemungkinan dapat mengendalikannya. Sehingga beberapa orang tersebut diberikan kemampuan dapat membaca informasi tentang orang-orang di sekelilingnya semudah membaca lembaran-lembaran buku.
Itulah kekuatan yang dimiliki Isabel Sterne. Kekuatan yang dimaksud oleh Sabine, kekuatan Isabel yang dapat dirasakan olehnya. Sabine segera pergi dari mini market selepas ia membayar semua belanjaannya. Dengan gugup, Sabine menghidupkan mesin mobil, dan bergegas menuju rumahnya.
“Ini pasti salah… ya, ini pasti salah,” gumam Sabine sepanjang jalan. Sabine berusaha tidak memikirkannya, namun kejadian berpapasan dengan Isabel tadi terus menari-nari di benaknya.
Mobil di masukan ke garasi. Setelah mematikan mesin, ia bergegas masuk ke dalam rumah. Sabine menyimpan seluruh belanjaannya di atas meja dapur. Setelah itu bergegas ke perkebunan untuk bertemu George.
“Opa… Opa… Opa!!!” panggil Sabine sambil mencari-cari George. Ternyata ia sedang sibuk merawat tanaman-tanamannya.
“Opa! Kau di sini rupanya, aku mencarimu!” kata Sabine sedikit panik.
“Kau kenapa?” tanya George dingin.
“Opa, aku bertemu Klan lain di toko swalayan barusan! Kita bukan satu-satunya di Ramsau ini?!”
“Kau ini bicara apa?”
“Benar, Opa. Aku bisa merasakan energinya, berbeda dari orang biasa!” Sabina menceritakaan kejadian tadi dengan penuh antusias.
“Ya Ampun, aku bodoh, aku tidak tanyakan di mana rumahnya, tapi ia bilang tidak jauh dari swalayan!” sambungnya lagi masih heboh.
“Tenangkan dirimu, Sabine! Sejak tadi kau terlihat sangat gugup,”kata George, ia beranjak dari tempatnya. Kemudian berjalan menuju teras belakang rumah. Sabine mengikuti di sebelahnya.
“Opa, aku serius! Ini pasti sebuah pertanda. Setelah belasan tahun aku tak pernah menemukan populasi yang serupa dengan kita, kini tanpa sengaja kami bisa berpapasan di sebuah swalayan, ini pasti sebuah pertanda!”
“Jangan berlebihan, kau sendiri yang bilang kau ingin hidup normal seperti kebanyakan orang,” respon George. Ia duduk di sebuah bangku sambil menikmati pemandangan perkebunannya yang tumbuh subur.
“Huh, andai saja kami bisa bertemu lagi, aku ingin mengobrol banyak dengannya,” Sabine bergumam.
“Aku merasa, akan terjadi huru-hara besar sebentar lagi,”
“Apa maksudmu, Opa?” Sabine tak mengerti.
“Sudah lupakan lah!” George berdiri dan masuk ke dalam rumah.