Mereka terus berjalan, menyusuri trotoar. Ternyata Lisa anak yang ramah dan nyaman untuk teman mengobrol, tidak sesuai yang disangkakan, biasanya kebanyakan anak populer di sekolah identik dengan angkuh dan arogan. Namun Lisa tampil apa adanya dan layak menjadi prototipe.
Banyak hal yang mereka obrolkan sepanjang jalan menuju rumah, kebanyakan hanya tentang sekolah dan hobi. Tak jauh dari belokan sebelumnya tiba-tiba Lisa menghentikan langkah.
“Kenapa?” tanya Aaric, ikut berhenti.
“Aku sudah sampai,” jawab Lisa, ia berhenti tepat di gerbang sebuah rumah.
Aaric melihat hunian mungil dan asri, bercat warna putih dengan desain nordic. Terasa aura yang hangat dari dalamnya, biasanya sebuah rumah mencerminkan perasaan penghuninya.
“Ini rumahmu?” tanya Aaric.
“Ya, mau mampir?” ajak Lisa.
“Mungkin kapan-kapan, terima kasih,” jawab Aaric.
“Baik kalau begitu, rumahmu masih jauh?”
“Tidak hanya tinggal beberapa belokan lagi,”
“Oke, hati-hati di jalan! Aku masuk ya, Tschuss (dadah)!” Lisa berpamitan. Kemudian masuk ke halaman rumahnya sambil melambaikan tangan kepada Aaric.
“Dah...”Aaric balas melambaikan tangan, kemudian melanjutkan perjalanan.
Lisa kembali berlari ke dekat pagar, dilihatnya punggung Aaric sudah jauh, ia lupa menanyakan sesuatu. Nomor handphone Aaric. Bagaimana bisa seorang teman tidak tahu nomor kontak masing-masing, pikirnya.
Namun karena Aaric sudah terlalu jauh dan tidak mungkin dikejar, maka Lisa berniat akan mencegatnya saat berangkat sekolah esok. Aaric pasti akan lewat rumahnya.
“Aku pulang!” ucap Lisa sambil melepas sepatunya.
“Kau pulang dengan temanmu?” tanya Isabel sambil melirik ke luar jendela.
“Bibi Isabel mengintip?”
“Aku wajib mengintip, karena aku harus memastikan kau pulang dengan selamat,”
“Oke, aku sudah pulang dengan selamat, terima kasih sudah mengkhawatirkanku!” jawab Lisa.
“Memang siapa tadi itu? Aku belum pernah melihatnya sebelum ini?” Isabel terus mencari tahu.
“Dia temanku, kami baru berkenalan satu jam yang lalu,”
“Benarkah? Aku senang mendengarnya. Tapi tampaknya kau sudah sangat akrab dengannya ya?” komentar Isabel. Kemudian masuk ke dalam ruang kerja yang tepat bersebelahan dengan pintu masuk.
“Lisa bisa tolong kemari sebentar!” panggil Isabel.
“Ya, Bibi, aku datang!” jawab Lisa kemudian masuk ke dalam ruangan di mana Isabel tengah mempersiapkan sesuatu.
“Lihat Ini! Cantik, bukan? Ini sangat cocok di tubuhmu, lihat motif payet bunga Liliy ini, kau pasti suka, Sayang,” Isabel menjelaskan seolah dia adalah desainer.
Di hadapannya sudah tergantung sebuah pakaian bak putri istana, yang ia buat diam-diam selama satu bulan terakhir. Khusus untuk Lisa.
“Bibi kapan menjahit ini? Ini cantik sekali! Aku sangat suka,” puji Lisa, matanya berbinar-binar.
“Benarkah? Aku menjahitnya diam-diam saat kau sudah tidur,”
“Uhh, Bibi Isabel kau sangat manis!” seru Lisa dengan manja lalu memeluk Isabel dengan hangat.
“Saat berdiri di podium nanti kau pasti akan terlihat yang paling bersinar dan anggun dengan dress ini!” kata Isabel.
Ia memang kerap menghadiahi keponakan itu sebuah dress setiap tahun, yang dijahitnya sendiri untuk dipakai di acara kenaikan kelas.
“Lupakan lah Bibi,” raut wajah Lisa menjadi lesu.
“Hah? Ada masalah?” tanya Isabel heran.
“Tidak. Hanya saja sudah ada orang lain yang menduduki posisiku tahun ini! Dia yang akan naik ke atas podium untuk berpidato,”
“Kau sungguh-sungguh? Kamu tahu sendiri keluarga kita dilahirkan dengan bakat dan intelegensi di atas rata-rata manusia normal. Mustahil kau terkalahkan, Sayang,” Isabel tak mengerti.
“Tapi itu lah kenyatannya, Bibi! Orang itu baru muncul sekarang,” Lisa menjelaskan.
“Aneh sekali,” Isabel mengerutkan kening.
Lisa kemudian berpamitan, ia meninggalkan Isabel seorang diri di ruangannya, lalu masuk ke dalam kamar. Isabel Sterne adalah adik kandung ayahnya Lisa, Philip Sterne. Sayang sekali ia divonis mandul, sehingga baru setahun menikah suaminya pergi meninggalkannya, dan akhirnya ia tinggal bersama keluarga kakaknya, bahkan sejak Lisa kecil.
Kebetulan Lisa sudah tak punya ibu sejak usianya tujuh tahun, ibu nya mengidap penyakit aneh, yang sulit diidentifikasi oleh medis hingga akhirnya meninggal dunia.
Lisa tentu sangat terpukul menghadapi kenyataan pahit di usianya yang terbilang masih sangat belia, untung lah ada Isabel yang menggantikan sosok ibu bagi Lisa. Isabel benar-benar dapat menjalankan peran seorang ibu dengan sangat baik, Lisa dirawat olehnya dengan sangat baik hingga kini usia Lisa tak terasa sudah menginjak 17 tahun. Kurang lebih ia sudah merawat Lisa dengan penuh kasih sayang dan perhatian selama 10 tahun terakhir.
“Halo, hari ini kau pulang cepat?” terdengar suara Isabel dari sambungan telepon.
“Ada apa, Isy, ada masalah di rumah?” tanya Philip.
“Semua baik-baik saja, Phips, jangan khawatir. Hanya ada sesuatu yang ingin aku diskusikan,”
“Soal apa?”
“Nanti aku ceritakan saat kau di rumah,”
“Baiklah kalau begitu, sampai nanti!”
“Sampai nanti! Semoga harimu menyenangkan,”
“Kau juga,”
Isabel mematikan ponselnya, kemudian menggenggamnya dengan sangat erat, tersirat sebuah kecemasan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
“Mungkin kah??” gumam Isabel dalam hati.
***
“Siang semuanya!” sapa Aaric pada anggota keluarganya yang sedang sibuk bebenah dan membungkus barang-barang yang akan mereka bawa pindah.
“Kau sudah pulang, Sayang? Bagimanan hasilnya?” tanya Sabine tak sabar. Ia tahu hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian.
“Datanglah minggu depan pada acara seremonial, aku akan tampil di atas mimbar!” jawab Aaric sangat santai.
“Kau serius? Ya Tuhan, aku tidak percaya ini. Aku bangga padamu, Aar!” teriak Sabine histeris, sambil memeluk anaknya yang kini tingginya sudah melebihi dirinya.
“Terima kasih, Mama,”
“Kau hebat, Nak!” George tak mau kalah memberikan selamat pada cucu semata wayangnya. Lalu merangkul Aaric.
“Terima kasih, Opa!” jawab Aaric.
Kemudian Aaric melirik ke arah Uli yang masih mematung di posisinya dengan wajah yang bahagia dan bangga. Sedetik kemudian Uli membuka tangannya lebar-lebar, mengisyaratkan kepada Aaric untuk sebuah pelukan.
Dengan senang hati Aaric mendatangi ayahnya, lalu merangkul bagai teman yang sudah lama tidak bertemu. Mereka berpelukan cukup lama, tak henti-hentinya Uli menepuk putranya yang tak terasa sudah tumbuh dewasa.
“Hebat! Aku yakin kamu pasti bisa!” kata Uli penuh rasa bangga.
“Aku terharu sekali melihat pemandangan ini, rasa-rasanya aku tengah menonton opera sabun di televisi,” komentar Sabine tersenyum sambil mengusap ujung matanya.
“Ah, Mama, kau memang sangat sensitif,” Aaric akhirnya melepas pelukan Uli.
“Baiklah, aku harus apa sekarang?” tanya Aaric. Ia menyimpan tas ranselnya di samping kursi, di sana sudah berjejer beberapa kotak kardus yang berisi barang-barang untuk pindahan.
“Kau sudah mengepak barangmu?” tanya Sabine, ia kembali sibuk menyortir beberapa pernak-pernik dapur miliknya.
“Belum, bukankah kita masih punya waktu seminggu lagi?” tanya Aaric.
“Ya memang, tapi aku lebih suka jika pekerjaan ini cepat selesai,” jawab Sabine.
“Baiklah kalau begitu, aku akan merapikan garasi saja,” ucap Aaric kemudian bergegas ke luar rumah.
“Tunggu sebentar, aku ikut! Ada beberapa barang di garasi yang harus aku bereskan,” Sabine mengikuti Aaric dari belakang.
Sesampainya di luar rumah, cuaca cukup cerah. Matahari musim panas mulai menampakkan dirinya dengan pasti, hawa terasa lebih hangat beberapa drajat dari hari ke hari.
Aaric membuka pintu garasi, mobil Uli terparkir di sana, karena hari ini Uli tidak bekerja, ia mengambil cuti, untuk membantu menyiapkan kebutuhan pindah rumah. Setelah itu Aaric mulai merapikan barang-barangnya, bahkan beberapa sudah teronggok bertahun-tahun di sana, contohnya saja skuter mini miliknya yang ia dapatkan dari ulang tahunnya yang ke-7. Rencananya barang yang tidak terpakai akan ia sumbangkan, agar tidak membuat penuh rumah barunya nanti, dan tidak merepotkan George karena harus sendirian merapikan semuanya, sepeninggalan mereka.
“Aaric,” tiba-tiba Sabine memanggilnya.
“Ada apa?”
“Di mana sepedamu?” tanya Sabine, melihat sepeda yang biasa dipakai Aaric ke sekolah tidak ada di garasi.
“Ah itu, aku meninggalkannya di sekolah,” Aaric pun baru teringat. Tadi pulang sekolah ia berjalan kaki bersama Lisa.
“Kau ini, kenapa kau bisa sampai meninggalkan sepedamu di sekolah?” Sabine kembali meneruskan aktivitasnya.
“Besok aku bawa,” jawab Aaric.
Waktu siang lebih panjang, matahari baru terbenam sekitar pukul 21.00, Aaric terlihat sudah tampak kelelahan merapikan garasi, ada sekitar 4 kotak besar berisi barang-barang yang akan disumbangkan. Sebelumnya Sabine memberi Ide untuk membuka toko garasi, lumayan dari barang-barang tak terpakai itu bisa mendatangkan pundi-pundi, tapi Uli tak setuju, ia menyuruh barang-barang itu disumbangkan saja atau sekalian dibuang. Kadang cara berpikir Uli memang sedikit berbeda.
“Ayo, makan malam sudah siap!” panggil Sabine. Semua anggota keluarga pun menghentikan semua aktivitasnya, dan berkumpul menuju meja makan.
***
Pagi-pagi Aaric sudah bersiap pergi sekolah. Uli menawarkan tumpangan hingga ke sekolah, karena kemarin Sabine memberitahu Uli bahwa Aaric meninggalkan sepedanya. Tapi Aaric menolak, ia lebih suka berjalan kaki sambil menikmati udara hangat yang sangat jarang ia dapatkan selain musim panas. Jika terlewat maka harus menunggu hingga 6 bulan kedepan untuk mendapatkan sinar matahari cerah semacam ini. Lagi pula pagi-pagi hawa masih relatif sejuk dan matahari pagi baik untuk kesehatan tulang.
Aaric menlewati jalan yang sama hampir setiap hari saat berangkat sekolah, tak terasa ia sampai di sebuah rumah di ujung blok yang kini sudah ia ketahui siapa penghuninya. Tepat di depan gerbang rumah itu Aaric mempercepat langkahnya.
“Aar!” teriak Lisa. Sudah sejak tadi ia menunggu Aaric lewat.
Aaric tak menyangka akan bertemu lagi Si Bintang Sekolah ini. Padahal tadi Aaric sengaja melewati rumahnya begitu saja.
“Aar, tunggu aku!” teriaknya, ia berlari menghampiri Aaric. Nafasnya masih tersengal-sengal.
“Aku pikir kau sudah berangkat,” ucap Aaric.
“Belum. Aku sengaja menunggumu,”
“Begitu kah?”
“Ya, kemarin aku lupa menanyakan sesuatu padamu, Aar,”
“Tanya apa?”
“Boleh aku minta nomormu?” Lisa menghentikan langkah, kemudian menyodorkan handphone ke hadapan Aaric.
“Berapa nomormu, biar aku telefon,” Aaric pun mengeluarkan handphonenya. Setelah Lisa menyebutkan nomornya, terdengar suara ponsel Lisa berdering, tertera pada layar sebuah nomer.
“Aku simpan ya, terima kasih” kata Lisa.
Mereka berjalan di trotoar yang sama seperti kemarin, sedikit banyak Lisa mulai membaca karakter Aaric. Meski Aaric bukan termasuk orang dengan pembawaan yang terlalu terbuka, namun ia cukup open minded dan nyaman diajak diskusi untuk kategori teman yang baru dikenal.
“Oh ya, kau tahu Aaric, kau teman yang menyenangkan!” puji Lisa. Cukup ampuh membuat pipi Aaric memerah.
“Kau juga,” jawabnya pelan sambil tersipu-sipu.