Kartu 4

1839 Words
Sabine tengah sibuk menyiapkan makan malam, Salad Kentang dan Schnitzel buatannya selalu menjadi favorit seluruh anggota keluarga. Suara mobil masuk ke pekarangan rumah, Sabine melongok ke luar jendela, ternyata Uli pulang lebih cepat hari ini. Ia bergegas ke ruang depan untuk membukakan pintu, namun Uli terlanjur masuk lebih dulu. “Hai, Sayang!” Uli mencium Sabine dengan hangat. “Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Sabine. “Baik. Kau sendiri? Sudah berapa resep kau taklukan hari ini?” Uli tersenyum. “Hari ini aku tidak banyak berkutat di dapur, tadi siang aku bertemu Peter saat ia melintas untuk jogging,” “Wah, dia tidak pernah berubah sejak dulu, selalu rajin berolah raga, apa dia masih sering latihan hockey?” “Entahlah aku tidak bertanya soal itu. Tapi kupikir dia masih bergabung dengan tim hockeynya,” “Ngomong-ngomong anak kita ke mana?” “Tadi dia pamit untuk bersepeda, tapi sebelum jam makan malam ia berjanji sudah berada di rumah lagi,” jawab Sabine. Tiba-tiba pintu terbuka. “Aku sudah di sini!” kata Aaric. “Kebetulan sekali,” komentar Uli. “Kau sudah di rumah, Pa?” sapa Aaric. “Seperti yang kau lihat. Oh ya dari mana saja tadi? Ibumu bilang kau bersepeda?” “Aku ke kedai Paman Maxi, Pa,” “Apakah pengunjungnya banyak hari ini?” “Ya, seperti biasanya,” Aaric berbelok ke arah tangga menuju kamarnya di lantai dua, sedang Uli pergi ke dapur. Ia mengambil gelas beling dan mengisinya dengan air mineral, kemudian meminumnya hingga habis. Setelah itu pamit sebentar ke kamar untuk bertukar pakaian. Tak lama setelah itu ia kembali lagi ke dapur bersma George. “Baiklah, keluargaku, sekarang waktunya kita makan!” seru Sabine dengan ceria. Ia meletakkan semangkok besar Salad Kentang dan nampan besar berisi potongan Schnitzel yang baru saja keluar dari penggorengan. “Voila, kelihatannya lezat sekali, Ma!” puji Aaric. “Tentu saja, Sayang. Kalau masakanku tak enak mana mungkin ayahmu mau menikahiku,” Sabine berkedip. Uli dan George merespon dengan tawa. Acara makan malam yang hangat di mulai, masing-masing anggota keluraga mulai mengambil beberapa potong d**a ayam dan pelengkapnya. Mereka makan dengan nyaman dan bahagia. “Sayang, sepertinya ada sesuatu yang harus kau sampaikan di meja makan ini,” tiba-tiba Sabine membuka pembicaraan, matanya melirik pada Uli yang dengan lahap memakan Salad Kentang favoritnya. Mungkin sedikit berbeda dengan kebiasaan keluarga lainnya, yang melarang berbicara di meja makan. Keluarga Karte sebaliknya, justru momen makan bersama adalah waktu yang tepat untuk saling bercerita dan mengakrabkan diri antara satu sama lain. “Sungguh? Apa yang harus aku sampaikan?” Uli balik bertanya. “Soal rencanamu pindah tugas, sepertinya Aaric adalah satu-satunya anggota keluarga yang belum kau beri tahu secara langsung,” Uli menyimpan garpu dan pisaunya di meja, pandangannya menatap ke arah Aaric. Aaric terlihat santai saja, karena sejatinya ia sudah mengetahui berita ini dari beberapa sumber. “Aku kira dia sudah tahu,” kata Uli tanpa diduga. Kemudian melanjutkan makannya. “Jangan begitu, Sayang. Kau harus mengatakannya lagi kepada kami,” pinta Sabine. “Baiklah, mungkin akhir musim panas tahun ini adalah musim panas terakhir kita di Ramsau, lepas itu kita akan pindah dan menetap di München untuk waktu yang tidak dapat dipastikan hingga berapa lama, apakah kau setuju, Nak?” tanya Uli pada Aaric. “Tidak masalah,” jawabnya Aaric singkat. “Mungkin kau harus sudah mencari informasi di mana kau akan berkuliah nanti. Saranku kau masuk saja ke LMU, itu salah satu Universitas terbaik,” “Sayang, apakah harapanmu pada Aaric tidak terlalu berlebihan?” tanya Sabine pada Uli. Sabine merasa khawatir, mengingat saingan untuk masuk ke Universitas itu sangat banyak dan cukup ketat, juga datang dari seluruh penjuru dunia. Apalah Aaric, ia hanya seorang siswa lulusan Gymnasium dari sebuah kota kecil. Sabine khawatir itu malah akan membebani Aaric nantinya. “Tidak, dia mampu!” George tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan itu. Seperti sedang membaca pikiran menantunya. “Kau dengar Aaric? Jika kakekmu sudah bicara begitu maka itu lah yang akan terjadi,” ucap Uli serius. “Haduh, kurasa, lebih baik kita rubah topik pembicaraan saja,” Sabine mulai merasa tak nyaman. Selanjutnya mereka kembali menikmati santap malam, sesekali terdengar gelak tawa dari meja makan itu, entah apa yang mereka bicarakan, namun keluarga itu memang kerap bercerita banyak hal. Setelah semua anggota keluarga selesai dengan makan malamnya, giliran Sabine terkadang juga dibantu Uli merapikan dan membereskan meja makan, dan Aaric setelah bantu-bantu secukupnya, ia lebih sering langsung pergi ke kamarnya. “Sayang, bisa kita bicara setelah ini?” tanya Sabine sambil memasukkan piring dan gelas kotor ke dalam mesin cuci piring. “Tentu, Sayang, aku tunggu di atas,” jawab Uli, kemudian ia beranjak meninggalkan dapur. Uli sedang berbaring sambil membaca buku setebal 800 halaman, yang biasa ia habiskan kurang dari seminggu. Sabine masuk ke kamar setelah urusannya di dapur selesai. Melihat kedatangan istrinya, Uli menutup buku yang sedang dibacanya dan meletakkannya di sebuah meja kecil di sebelah tempat tidur. “Kau mau bicara apa tadi?” tanya Uli. Sabine duduk di tepi tempat tidur, Uli pun bangkit dan duduk di sebelahnya. “Aku mulai mencemaskan sesuatu,” ucap Sabine pelan. “Mencemaskan apa? Apa ini ada kaitannya dengan rencana kepindahanku?” tanya Uli tak paham. “Bukan, ini soal Aaric,” “Aaric? Kenapa dengan dia? Apakah ada masalah?” “Secara umum tidak. Tapi aku mulai khawatir, apakah dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya, usianya kini sudah 18 tahun,” “Hmm… maksudmu soal itu,” “Ya, sebetulnya aku sudah tidak mau tahu soal nenek moyang kita, tapi bagaimana pun Aaric itu mewarisi darah leluhurnya,” “Jika tidak ada yang membahas ini didepannya, maka sampai kapan pun ia tidak akan tahu siapa dirinya. Kau jangan terlalu mengkhawatirkannya,” Uli merangkul Sabine mencoba membuatnya lebih tenang. “Kau ingat pembicaraan kita di meja makan tadi?” “Yang mana?” “Soal masuk Universitas, aku yakin Opa tadi sedang menggunakan kekuatannya untuk memprediksi nasib Aaric. Dan aku tak suka itu, kita sudah sepakat untuk hidup layaknya orang-orang normal pada umumnya,” “Jangan berlebihan, kurasa Aaric pun menanggapinya biasa saja. Sayang, hari ini kelihatannya kau lelah, beristirahatlah! Semoga esok perasaanmu jadi lebih baik!” Uli bergeser, kemudian membantu Sabine berbaring, setelah memasangkan selimut hingga menutupi sebagian tubuh istrinya, ia pun mengambil posisi serupa dan mulai tertidur. *** Waktu berjalan begitu cepat, meskipun hari-hari di sebuah kota kecil memang terasa sangat monoton, namun waktu terus berjalan bagaimana pun cara menjalaninya. Aaric telah mendapatkan salinan hasil tes yang sudah dijalaninya. Meski semua orang sudah menduga, Aaric tetap belum percaya bahwa dirinya lulus dengan angka 1 untuk semua materi yang diujikan. “Selamat ya!” beberapa orang mulai menyalami Aaric. “Danke (terima kasih),” jawabnya. Selain dirinya ada beberapa anak lain yang juga mendapatkan hasil di atas rata-rata, namun jika di lihat dari berbagai asepek lainnya selain akademis, Aaric mungkin satu-satunya anak yang memiliki nilai sempurna di semua bidang, baik akademik maupun di luar akademik. Aaric itu termasuk anak yang cukup aktif, bahkan sejak kecil, meskipun bukan seorang yang ambisius. Ia aktif di tiga jenis ekstrakulikuler, yakni softball, science club, dan pustakawan. Prestasinya tidak buruk, meskipun ia tidak pernah berharap menjadi yang paling unggul, hingga tiba lah hari ini entah bagaimana ceritanya, ujian kelulusan kemarin itu terasa sangat mudah untuk di selesaikan. Aaric sendiri pun heran, semua yang ia pelajari semalam sebelumnya, semua muncul dengan sempurna dalam lembar esai yang harus ia kerjakan dalam ujian. tidak ada yang meleset satu pun, sehingga ia bisa mengerjakannya. “Hai, kau yang lulusan terbaik itu, kan?” tanya seseorang dari arah belakang. “Hai,” Aaric menoleh. “Selamat ya!” ucap Lisa. Dia adalah Lisa Sterne, anak yang setiap tahun hampir selalu berdiri di atas podium untuk menyampaikan sepatah dua patah kata setiap acara kenaikan kelas, namun tampaknya untuk acara graduation kali ini ia harus pensiun. Lisa selalu mendapatan prestasi yang membanggakan, terutama nilai akademik. Aktivitas sambutan dari siswa berprestasi ini memang menjadi sebuah ritual yang sering dilakukan sekolah setiap tahun, untuk memberikan semangat dan motivasi pada siswa-siswa lainnya untuk mencontoh figur anak berprestasi. Aaric tidak mengenalnya terlalu balik, namun ia tahu Lisa, karena setiap tahun pasti melihatnya di podium menyampaikan orasi. “Terima kasih. Kau?” “Ya, kau pasti mengenalku, kan?” kata Lisa ramah. “Ya, selamat juga untukmu, Nona Sterne” “Selamat apanya? Tahun ini kau yang akan tampil di podium, tidak kah itu keren?” “Ya, sangat keren. Aku juga tidak menyangka,” Respon Aaric sedikit malu-malu. “Bisa kita berteman?” tanya Lisa. Ia kembali mengulurkan tangan. “Oh, tentu saja. Namaku Aaric Karte. Jangan terlalu formal panggil saja Aaric,” Aaric membalas uluran tangan Lisa. Ia baru menyadari ternyata anak perempuan ini memiliki bola mata berwarna amber seperti dirinya. Salah satu warna bola mata langka di dunia. “Kau tahu, aku tak menyangka posisiku akan ada yang mengalahkan, kukira hanya aku satu-satunya di sekolah ini yang memiliki kemampuan akademis dan non-akademis sempurna, sampai-sampai aku merasa bosan karena tidak ada tantangan,” Lisa bercerita. Mereka berjalan menyusuri koridor. “Kau harusnya bersyukur, banyak orang ingin berdiri di posisimu,” respon Aaric. “Termasuk kau?” “Mungkin. Tapi sejak dulu aku bukan orang yang berambisi,” “Di mana rumahmu?” tanya Lisa mengalihkan pembicaraan. Mereka sudah sampai di gerbang sekolah. “Dua blok dari sini,” jawab Aaric. “Bisa kita pulang bersama? Rumah kita sepertinya satu arah,” ajak Lisa. Aaric terdiam sejenak. Ia melirik tempat pentitipan sepeda, yang masih berada di area sekolah. “Ada apa?” tanya Lisa heran. “Tidak ada apa-apa. Jalan kaki? Ayo!” “Ayo!” Mereka menyusuri trotoar dengan langkah yang lambat. Sinar matahari yang jatuh di kepala Lisa membuat rambutnya yang berwarna perunggu terlihat mengkilat. Mereka memang masih agak canggung satu sama lain. Apalagi bagi Aaric, bagaimana tidak, selama bersekolah di Gymnasium baru kali ini Aaric berjalan dengan anak perempuan sebayanya, tak tanggung-tanggu ia seorang bintang sekolah, pantas sepanjang jalan orang yang satu sekolah dengan mereka terus memperhatikan. “Setelah ini kau mau melanjutkan kemana, Aar?” tanya Lisa. “Aku belum memutuskan, kau sendiri?” jawab Aaric. Padahal jauh sebelum ini, Aaric dan keluarganya sudah ada pembicaraan mengenai masa depan pendidikannya. Apalagi setelah mereka pindah ke tempat baru. Namun Aaric memang bukan tipe anak yang suka sesumbar, apalagi sesuatu yang belum pasti. “Aku sangat tertarik bidang kedokteran, jadi kemungkinan besar aku akan mengambil pendidikan dokter,” jawab Lisa dengan mantap. “Luar biasa, cita-citamu keren sekali, apa itu sudah kau memimpikan sejak dulu?” “Ya, sejak aku kecil, apa lagi saat masa-masa tersulit dalam hidupku…” mata Lisa tiba-tiba berkaca-kaca. “Kau baik-baik saja? Jangan dilanjutkan jika itu membuat perasaanmu buruk,” Aaric coba berempati. “Tidak apa-apa, tak perlu khawatir, aku hanya jadi ingat sesuatu. Tapi lupakan lah, maafkan aku, Aar, mungkin jadi membuatmu tak nyaman,” “Tidak sama sekali,” “Terima kasih, kapan-kapan mungkin akan aku ceritakan padamu, tapi tidak sekarang,” “Santai saja, kita masih punya banyak waktu,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD