Bab 03. Kembali Bangkit

1130 Words
Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa usia pernikahan kontrak yang dijalani oleh Wilona dan Devan sudah menginjak satu bulan lamanya. Di luar, semuanya tampak normal. Mereka memainkan peran masing-masing dengan rapi yang berhasil meyakinkan semua orang, terlebih sang nenek. Di balik pernikahan sandiwara itu, meskipun sikap Devan di belakang layar terkesan dingin, namun ada tanggung jawab yang tak terbantahkan terpancar darinya sebagai sosok suami. Semua kebutuhan Wilona dipenuhi tanpa cela, selain uang bulanan seperti yang dijanjikan, kartu kredit yang memudahkan segala keinginan sang istri juga diserahkan. Namun di balik segala kesempurnaan itu, ada ruang kosong yang mulai merambat di hati Wilona. Rindu yang terpendam pada sahabatnya, menguasai pikiran. Sudah terlalu lama mereka terpisah oleh jarak dan waktu. Kini, setelah kondisi Dahlia membaik, Wilona nekat meminta izin untuk keluar sejenak. Bukan sembarangan, meski Devan tenggelam dalam pekerjaan yang tak kenal henti di perusahaan, Wilona tak perlu terlalu khawatir meninggalkan Dahlia, karena sang nenek tidak sendiri, beberapa Asisten Rumah Tangga di kediaman Megantara juga selalu siap untuk menjaga. *** Wilona melangkah masuk ke sebuah kafe yang hangat, jantungnya berdetak kencang saat matanya menangkap sosok yang sangat dirindukannya. Di sana, sahabat lamanya sudah menunggu, wajah wanita itu berseri-seri penuh kebahagiaan. "Wilo … ! Aku kangen banget sama kamu." Lea Abraham, meloncat dari kursinya dan berlari ke pelukan Wilona. Pelukan itu erat, hingga beberapa saat baru mereka melepaskannya. "Aku juga kangen banget sama kamu, Lea. Kenapa lama banget sih, ke luar kotanya? Sampai rela meninggalkan pekerjaan di sini. Betah banget di Tanjung Pinang ya, sampai lupa pulang ke Jakarta?" Wilona bertanya dengan nada setengah heran, setengah kesal. Lea tertawa kecil, matanya memancarkan ketenangan yang tak biasa. "Maaf ya, bukan begitu maksudku. Aku cuma butuh istirahat, menenangkan diri sebentar." Ia menarik napas dalam-dalam. "Apa kamu tahu, kota itu benar-benar buat otak aku segar kembali. Sayangnya, aku baru tahu punya bibi yang tinggal di sana. Kalau tahu dari dulu, sudah lama aku ke sana untuk liburan. Kotanya memang nggak seramai di sini, tapi aku bisa main ke pantai yang jaraknya nggak terlalu jauh, menikmati ombak yang menenangkan jiwa." Wajahnya bersinar, seolah menemukan oase di tengah padang pasir kehidupan yang gersang. "Di sana, aku benar-benar bisa menghirup udara baru, otakku jadi fresh dan aku merasa hidup kembali." "Cih, dramatis banget." Wilona menatap tajam, memastikan dengan nada mengejek. "Tapi, syukurlah kalau begitu, artinya kamu sudah benar-benar melupakan Troy si b******n itu, 'kan?" Lea tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kemenangan. "Tentu saja. Laki-laki b******k yang yang tiba-tiba nikah sama wanita kaya dan meninggalkan aku begitu saja? Bagi aku dia sudah mati. Sekarang, aku Lea yang sudah sendiri, justru lebih bahagia tanpa parasit itu," ujarnya dengan antusias. Namun seketika, sesuatu mengusik benaknya. "Ngomong-ngomong soal laki-laki b******n, aku benar-benar nggak nyangka, ternyata Dimas juga sama!" Suara Lea bergetar sedikit, mencampur amarah dan kecewa. "Bedanya, dia nggak selingkuh dan nikah sama perempuan lain. Tapi dia bohong, memakai nama kamu buat ngutang, terus kabur entah ke mana." "Tetap saja, b******n!" ujar Wilona tanpa kompromi. "Ya, aku setuju," sahut Lea. Dia menatap penasaran, lalu bertanya dengan suara hampir berbisik, "Terus, gimana ceritanya kamu tiba-tiba bisa nikah sama laki-laki tajir yang bahkan belum kamu kenal sebelumnya?" Wilona menatap kosong ke kejauhan, napasnya berat. "Lebih baik sekarang kita duduk dulu, ya. Aku akan ceritain semuanya sama kamu." Lea mengangguk pelan, lalu keduanya segera duduk. Waktu seolah memaksa membuka semua keluh dan luka yang selama ini hanya tersampaikan melalui ponsel. Wilona menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menumpahkan semua cerita yang membelit hidupnya. Dari awal pertemuan sampai tiba-tiba ia menikah dengan Devan, semuanya terdengar seperti drama cina yang tak terduga. Pernikahan kontrak itu bukan sekadar solusi bayar utang, utangnya yang menggunung karena dibuat oleh mantan kekasihnya yang b******n dan tak tahu diri itu, tetapi juga demi kesejahteraan dan menjaga keamanan orang tuanya di kampung yang sempat terjebak dalam bahaya. Wilona rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri. "Hidupku sudah seperti neraka waktu itu, Le. Diancam, dikejar-kejar utang, padahal aku nggak pakai uang itu sama sekali. Dimas benar-benar memperparah semuanya." Suara Wilona pecah, mata berkaca-kaca. "Tapi syukurlah, Tuhan mengirimkan aku penolong yang nggak pernah aku duga sebelumnya," ucapnya lega. "Aku turut prihatin ya, Beb. Dimas memang benar-benar keterlaluan! ujar Lea geram. "Tapi, walaupun pernikahan kamu dan Devan hanya pernikahan kontrak dan dibayar dua ratus juta, setidaknya kamu bebas." Dia memandang sahabatnya penuh simpati, mencoba menguatkan. "Yang penting sekarang, nikmati saja. Kamu adalah istri orang kaya, pewaris tunggal keluarga Megantara, keluarga yang terkenal dengan kekayaannya yang tiada tara itu." Namun, di balik kata-kata itu, ada getir yang membeku di antara mereka, bahwa kemewahan belum tentu melindungi hati yang lelah dan jiwa yang terkepung oleh luka masa lalu. "Iya, kamu benar." Suara Wilona lirih penuh kepahitan. "Aku juga sudah benar-benar melupakan Dimas. Aku nggak peduli lagi sama dia. Tapi, kalau suatu saat aku ketemu sama dia, aku pasti akan tagih semua hutangnya. Masa aku yang harus melunasi, sementara dia santai menikmati hidupnya tanpa beban." "Ya dong, itu harus," ujar Lea, mendukung sepenuhnya. Namun tiba-tiba dia menunduk, napasnya tertahan. "Maaf ya, Wilo. Aku baru bisa balik sekarang. Kamu jadi menyimpan semuanya sendirian selama ini," ucapnya dengan rasa bersalah yang mendalam. Wilona menggenggam tangan Lea erat-erat. "No problem, honey. Aku juga tahu, kamu pergi buat menenangkan diri. Untungnya kita bertemu lagi sekarang dan ini harus kita rayakan, kebebasan kita dari para laki-laki sialan dan pecundang itu." Senyum terkembang di wajahnya, penuh semangat baru. "Gimana kalau kita ke mall? Aku traktir kamu." "Cie … yang sudah jadi orang kaya. Ayo, siapa takut," sahut Lea antusias. Keduanya tertawa bersama, dua sahabat itu seperti menemukan kembali nyawa mereka yang sempat tercekik luka. Dunia memang kejam, tapi mereka bertekad bangkit dan melangkah bersama. Akan tetapi, baru saja mereka hendak meninggalkan tempat itu, mata Wilona menangkap sesuatu yang membuat dadanya tercekat. "Lea, tunggu di sini, aku ada urusan sebentar," ucapnya dengan suara bergetar, tak sempat menjawab saat Lea bertanya ke mana dia akan pergi. Langkah Wilona mengalir cepat, seolah ada magnet yang menariknya ke sebuah sudut di depan restoran, tepatnya di samping parkiran mobil. Matanya membelalak saat melihat pemandangan yang tak pernah dia duga. Devan, suaminya itu tengah bersama dengan perempuan lain. Wanita itu dengan leluasa menarik lengan Devan, seolah mereka punya rahasia yang hanya mereka tahu. "Oh, jadi begini? Alasan kamu sibuk di kantor, tapi malah di sini sama perempuan lain?" ucap Wilona dengan lantang. Devan dan wanita itu terkejut dan serentak menoleh, tatapan bingung menghujam pandangan wanita yang asing bagi Wilona. "Kamu siapa?" Suara dingin dari wanita itu menusuk. Wilona mengangkat dagunya dengan bangga sekaligus getir. "Kamu yang siapa? Aku istri Devan," jawabnya, menepis tangan wanita itu kasar dari lengan suaminya. Dengan sekejap, Wilona merengkuh tangan Devan erat, seolah menandai wilayahnya, membuat jantung Devan berdetak kacau. Di dalam diamnya, Devan berbisik pada hatinya sendiri, "Apa ini benar-benar nyata? Wilona mengakui aku suaminya di depan umum?" Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD