Meski Devan sadar betul, pernikahannya dengan Wilona hanyalah kontrak semu yang sudah dirancang satu tahun lamanya dan setelah itu akan berakhir tanpa ikatan, tapi di mata agama dan negara, mereka tetap sah sebagai pasangan suami istri. Maka, mengapa dia harus menolak kebahagiaan kecil itu? Kebahagiaan yang teramat langka, melihat senyum neneknya yang selama ini bagai hantu yang terlupakan di sudut ruangan, tiba-tiba mengembang, tulus dan penuh harap.
"Dev, kenapa kamu berdiri di situ? Ayo ke sini." Suara lembut Dahlia merayap, membelah lamunan sang cucu seperti bisikan angin yang mengusik dedaunan kering.
Wilona, yang tak sadar akan kehadiran Devan, langsung menatap suaminya itu dan menyambut dengan senyum manis yang sudah mereka hafal betul, senyum pura-pura mesra yang mereka jaga rapat, sandiwara demi menjaga damai di hadapan sang nenek. Sebuah kebohongan besar untuk kebaikan yang tak bisa mereka ucapkan secara jujur, entah sampai kapan.
"Ah, iya Oma. Aku baru saja sampai di rumah dan tidak mau mengganggu." Devan berkata pelan, lalu melangkah mendekat.
Tangannya sigap menyalami, sebelum dengan penuh hormat mencium lembut punggung telapak tangan neneknya. Setelah itu, matanya beralih pada Wilona dan dengan sentuhan hangat ia mencium kening istrinya tersebut dalam pelukan mesra, menghangatkan suasana.
Di kursi rodanya, Dahlia menatap pemandangan itu dengan mata berbinar bahagia. Tanpa ragu, ia meraih tangan Devan dan Wilona, menyatukannya dalam genggaman yang penuh harap dan doa. "Wilona, Devan, Oma sangat ingin kalian cepat memberikan Oma cicit," ucapnya lirih, suaranya menyiratkan harapan yang dalam. "Anak itu bukan hanya pelengkap, tapi juga pengikat yang akan membuat hubungan kalian semakin kuat."
Devan dan Wilona saling bertukar pandang, hati mereka melonjak antara kaget dan tertawa getir. Mereka paham keinginan Dahlia dan itu sangat wajar, tanpa tahu bahwa pernikahan yang mereka jalani hanyalah sandiwara rapuh yang harus keduanya jaga rapat-rapat.
Devan menunduk, mencoba menenangkan neneknya. "Oma, sudah ya. Jangan berpikiran yang macam-macam. Yang penting sekarang, Oma fokus dulu sama kesembuhan Oma. Ikuti kata perawat pribadi Oma dengan baik, supaya Oma cepat sembuh," ujarnya lembut namun tegas, suara yang menyembunyikan gelombang perasaan yang tak mudah ia ungkapkan.
Pikiran Dahlia berkecamuk, mencoba menangkap maksud tersembunyi dalam ucapan Devan. "Maksud kamu apa, Devan?Apa yang salah dengn ucapan Oma? Wajar 'kan, Oma menginginkan cicit dari kalian? Keluarga kita juga butuh penerus. Lagi pula, untuk apa juga Oma cepat sembuh, kalau Oma tidak bisa bermain dengan cicit-cicit Oma. Untuk apa juga hidup Oma ini?" katanya dengan senyum dingin yang menusuk, seolah menyulut bara di hati Wilona dan Devan.
Wilona benar-benar tersudut, gugup dan tak tahu harus berkata apa. Namun demi meredakan amarah dan kekhawatiran Dahlia, dia mencoba ikut menenangkan dengan suara gemetar, "Oma, soal anak ... aku dan Devan pasti akan berusaha. Kalau memang sudah rezekinya, kami yakin akan segera dikasih. Tapi kalau belum diizinkan, kami nggak bisa memaksa. Oma tenang saja, ya."
Dahlia mengangguk, seolah jawaban itu memenuhi ekspektasinya. Lalu dia menatap tajam ke arah Devan, penuh sindiran, "Jawaban seperti Wilona yang Oma mau. Tidak seperti anak ini," ucapnya dingin.
Devan menarik napas dalam, kesal menyembul di dadanya. "Ya, aku minta maaf, Oma. Tapi, sebenarnya yang cucu Oma itu siapa? Aku atau Wilona?"
Dahlia menatap dingin, seperti embun pagi. "Tentu saja Wilona cucu Oma. Wilona, ayo antar Oma ke kamar. Oma mau istirahat," ajaknya, tanpa kompromi lagi terhadap Devan.
Mengangguk pelan, Wilona lalu mendorong kursi roda Dahlia dengan langkah berat, seakan beban harapan yang tak terucapkan menyesakkan dadanya, diiringi oleh detak langkah yang membayang penuh kecemasan dan ketegangan.
Sementara itu, Devan langsung saja melangkah menuju ke kamarnya, tubuhnya yang gerah setelah seharian beraktivitas penuh, menuntutnya segera membersihkan diri.
*
Setelah memastikan Dahlia terlelap dengan tenang, Wilona akhirnya berjalan ke kamar Devan yang juga menjadi kamarnya sejak menikah dengan pria itu. Akan tetapi, meski berbagi ruangan yang sama, keduanya tak pernah tidur sekasur. Devan memilih sofa, bukan karena kebiasaan, tapi demi kesepakatan tegas dalam kontrak pernikahan mereka yang dingin dan penuh batasan, demi menjaga jarak dan menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan akan terjadi.
Saat Wilona membuka pintu kamar dengan langkah ringan, pandangannya membeku seketika. Devan muncul dari balik kamar mandi, hanya terlilit handuk di pinggangnya, d**a telanjang memperlihatkan otot-otot yang menegang sempurna, memancarkan kekuatan dan pesona yang tak bisa disembunyikan. Hening sejenak merayap di antara mereka, Wilona terpaku, jantungnya berdegup lebih keras, mata terpikat tanpa daya menolak.
Wilona meneguk salivanya dengan susah payah, jantungnya berdebar tak menentu. "Ya ampun, benar-benar ciptaan Tuhan yang paling indah," gumamnya dalam hati, penuh kekaguman sekaligus gelisah.
Siapa sangka, di balik sikap tegasnya sebagai perawat, pikiran Wilona bisa berlari ke arah yang tak terduga. Apalagi ini tentang Devan, suaminya sendiri, sah-sah saja menurutnya.
"Andaikan saja pernikahan ini bukan pernikahan kontrak, pasti sudah aku remas-remas otot dadanya itu. Menggemaskan!" Wilona kembali bermonolog di dalam hatinya. Namun seketika, kesadarannya membentur tembok malu. "Astaga, Wilo, bisa-bisanya kamu ngebayangin yang aneh-aneh gini? m***m banget!"
Dia buru-buru mengusir bayangan itu, mencoba mengembalikan pikirannya yang mulai liar.
Tiba-tiba, langkah Devan melambat, menghampiri Wilona dengan jarak yang kini nyaris menyentuh.
Detak jantung Wilona berubah menjadi simfoni yang memekakkan telinga. "Kamu mau apa?" Suaranya bergetar, terbungkam oleh gugup yang membelenggu.
Devan menatap istrinya dalam-dalam, bibirnya mengukir senyum penuh arti. "Kenapa kamu menatapku seperti itu? Atau jangan-jangan, kamu ingin kita mewujudkan keinginan Oma untuk segera punya cicit? Seperti yang kamu ucapkan tadi, akan berusaha!" ucap Devan dengan nada yang menggoda, membakar udara di antara mereka.
Mata Wilona terbelalak, dia menelan ludah, berusaha mengabaikan ucapan Devan yang menusuk telinganya. "Siapa juga yang berpikiran seperti itu? Kamu saja yang berpikiran terlalu jauh," ujarnya, berusaha menarik diri.
Namun, sebelum dia sempat melangkah pergi, tangan Devan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. Tubuhnya ditekan ke dinding, udara seketika berubah menjadi tegang.
Mata Devan menelusuri setiap inci wajah Wilona dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Wajahnya pelan-pelan mendekat, seolah menyimpan rahasia yang membuat jantung Wilona berdebar tak beraturan.
Rasa bingung dan ketakutan bercampur aduk dalam diri Wilona. Ia memejamkan mata, pasrah menerima apa pun yang akan terjadi. Namun, tanpa peringatan, jentikan jari Devan menghantam keningnya dengan lembut namun tegas.
Wilona membuka mata, terkejut dan langsung menatap tajam ke wajah suaminya. "Apa maksudmu, Devan?" tanyanya, suaranya bergetar antara kesal dan kebingungan.
Devan diam, hanya senyum misterius yang terukir di bibirnya, senyum yang membuat Wilona benar-benar tak berdaya.
Ketegangan semakin menjadi, hingga akhirnya Wilona memberanikan diri melepaskan diri dari cengkeraman Devan. Ia berhasil meloloskan diri, berlari menjauh sambil menahan detak jantung yang masih berlari kencang.
Sementara itu, di balik senyumnya yang penuh teka-teki, Devan berbisik dalam hati, "Menarik. Kamu semakin membuatku penasaran."
Bersambung …