Mencari di Perbatasan

1179 Words
Kepala Leah dan Que langsung menoleh ke belakang begitu dua orang pria lainnya mengedikan dagu pada kehadiran Zam. Leah dan Que bersamaan berbalik. Hanya Leah yang tersenyum, sementara Que diam tanpa ekspresi. “Jadi, kau sudah menemukan caranya?” Zam tidak tahu pertanyaan itu untuk menyindir dirinya atau sungguh memang sebuah pertanyaan tanpa maksud apa pun. Zam menggangguk sekali tanpa bersuara. Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju Ormanza. “Kuda yang cantik, Kawan,” ujar salah satu pria di depan Leah dan Que. Pria itu memiliki rambut hitam keabu-abuan gondrong yang dikepang ke belakang. Kedua tangannya berkacak pinggang. “Ya. Dia memang cantik,” jawab Zam datar tanpa emosi. Pikirannya masih penuh dengan hal lain. Ia harus menyiapkan rencana B sebelum mereka berangkat. “Tapi aku tidak cukup yakin ia bisa berlari cukup jauh. Kurasa ia lebih pantas berlenggok di acara Pesona Kuda tiap tahun,” ejek pria di depan pria berambut kepang. Pria itu memiliki rambut pirang yang kecokelatan dan bergelombang panjang. Pria itu menatap Zam dan Ormanza dengan tatapan mengejek yang kentara. Pesona Kuda adalah ajang perayaan yang diadakan di beberapa kerajaan setiap tahunnya untuk menilai kuda tercantik tahun itu. Kerajaan Helvantica pernah mengadakannya. Tapi Zam tidak pernah mengikutsertakan Ormanza. Bukan karena ia tidak yakin menang, tapi ia tidak mau melepaskan Ormanza. Jika Ormanza menang, maka Zam harus rela menukar kuda kesayangannya itu dengan beberapa keping emas. Meski Zam adalah seorang pencuri, ia tidak rela satu-satunya mahluk hidup kesayangannya ditukar oleh emas. Mereka boleh mengambil semua milik Zam, kecuali Ormanza. “Ya. Dia memang akan ikut perayaan itu tahun ini. Dan aku akan sangat terhormat jika kau melihatnya berlenggok di alun-alun Kerajaan Helva,” sahut Zam dengan nada sarkas. Pria itu lalu naik ke atas punggung Ormanza. Sebelum pergi menghampiri Pangeran Baylord, Zam mengimbuhkan kalimat sebelumnya dengan senyuman tipis. “Itu pun kalau kau masih hidup hingga saatnya tiba,” imbuh Zam dengan kilat mengejek di maniknya. Pria yang diejek Zam sudah bersiap akan membalas perkataan Zam. Namun, bahunya ditahan oleh Que. “Sudahlah, Darf. Kau yang mulai duluan,” katanya. Darf mendengkus keras. Lalu ia berlalu ke arah kudanya. Sedangkan Que dan pria satunya lagi hanya bisa menggeleng. Leah tersenyum. “Saudaramu itu lucu sekali, Sezzard,” kata Leah. “Lucu?” tanya Sezzard balik. Rambutnya yang dikepang ikut begerak saat menoleh ke arah Leah. Leah mengangguk. “Ya. Dia suka sekali mencela orang lain. Tapi ketika ia yang dicela oleh orang lain, dia langsung mengamuk seperti seekor banteng.” *** “Pangeran,” sapa Zam pada Pangeran Baylord yang tengah mengusap kepala kudanya dari atas punggung kuda hitam itu. Pangeran Baylord menghentikan gerakannya dan mengalihkan tatapannya pada Zam. “Ya?” Mata Zam meredup sendu. “Aku turut berduka untuk Puteri Sylvia.” Pangeran Baylord juga langsung tertunduk sendu. “Semua sudah terjadi. Tidak bisa lagi diulang. Aku yang gagal melindunginya,” gumam Pangeran Baylord lirih. Zam diam. Tidak tahu harus menyahuti apa. Tapi Pangeran Baylord sepertinya belum ingin berhenti bercerita mengenai mediang mantan calon istrinya itu. “Saat malam itu datang, aku sedang bersama Puteri Sylvia di kamarnya. Sayangnya, setelah itu aku tertidur cukup pulas hingga tidak mendengar suara kakinya yang melangkah keluar kamar.” Zam menatap kuda Pangeran Baylord dan Ormanza bergantian hanya untuk mengalihkan tatapannya yang ikut merasa sedih. Meski ia tidak begitu menyukai si Pangeran, tapi tetap saja ceritanya begitu menyedihkan. Padahal sebentar lagi mereka akan melangsungkan pernikahan. “Sebaiknya kau memiliki rencana cadangan, Zam. Untuk berjaga-jaga jika kabut tiba-tiba datang,” kata Pangeran Baylord. Kepala Zam terangkat. Alisnya mengkerut tanda tak mengerti. “Kabut datang? Bukankah Leah sudah memprediksikan tidak akan ada kabut malam ini?” “Semua bisa berubah, Zam. Alam tidak bisa kita kendalikan. Mereka memiliki kuasanya sendiri. *** Mereka sampai di desa paling luar dari wilayah istana. Zam tidak habis pikir bagaimana mungkin setelah tahu apa yang terjadi, masih ada saja penduduk yang mau tinggal di wilayah ini? Bukan hanya jaraknya yang lumayan jauh dari istana tapi juga desa ini tentu adalah tempat pertama yang akan diselimuti kabut dibanding desa-desa lainnya. Kuda mereka berjalan lambat setelah sampai di desa itu. Mayat-mayat masih bergelimpangan di atas tanah lembab. Kepala Zam mengamati sekitarnya dengan mata nanar. Saat Pangeran dan yang lainnya turun dari kuda, Zam mengikuti. Ia turun dari punggung Ormanza dan berjalan ke salah satu rumah kayu yang ada. Baru beberapa detik kakinya melangkah masuk, ia langsung kembali keluar. Bulu kuduknya berdiri dan rasa mual memenuhi perutnya. Bau anyir lebih menyekap di dalam sana dan membuatnya memenuhi indera penciuman Zam. Ditambah lagi ia melihat isi kepala yang terburai di lantainya. “Aku kira kau sudah terbiasa, Nak,” kata Sezzard dengan penuh pemakluman sembari meremas bahu Zam. Punggung Zam sedikit membungkuk. Kemudian ia menjawab, “Ya. Terbiasa dengan potongannya. Tapi tidak dengan isi dalam tubuh manusia.” Sezzard menepuk bahu Zam berkali-kali. Pria paruh baya itu mendekat ke arah yang lain. Sementara itu, Zam masih menetralkan gejolak di perutnya. “Kau bisa tetap di sini. Kau terlalu lemah untuk mengemban tugas seberat ini,” ujar Kalu dengan nada mencela sesaat sebelum masuk menyusul Pangeran Baylord ke rumah lainnya. Zam hanya menoleh melewati bahunya sembari melirik tajam pada Kalu. Ia berjalan tertatih ke arah Ormanza. Tangannya meraih botol minum yang tergantung di dekat kaki belakang kuda putih itu. “Apa kau tidak merasa orang-orang di sini aneh, Ormanza?” tanya Zam pada Ormanza dengan suara bergetar. Ormanza meringkik pelan lalu mendengus. Zam mengangguk seolah paham yang dikatakan kudanya. “Ya, Ormanza. Aku rasa ada dua golongan kelompok orang aneh di tanah ini. Hantu kabut dan mereka,” ujar Zam sambil menyeruput air dari botolnya dengan manik melirik ke arah rumah kayu. “Mereka menyebalkan bukan?” imbuh Zam lagi. Air dingin yang melewati kerongkongannya lumayan bisa menetralkan gejolak perutnya. Zam minum berteguk-teguk air hingga hanya menyisakan setengahnya. “Zam! Cepatlah kemari!” teriak Que dari dalam rumah. “Mengapa ia harus berteriak? Padahal kan jarak kita tidak begitu jauh. Apa ia tidak kasihan pada mayat-mayat ini? Arwahnya bisa saja terganggu,” monolog Zam. Kedua bola matanya berotasi. Ormanza meringkik lagi. Zam mengelus kepala Ormanza dan berjalan cukup pelan menghampiri Que di depan pintu. “Kau sudah lebih baik?” Pertanyaan Que itu dijawab dengan anggukan Zam. “Kalau begitu kau sudah siap untuk melihat ini,” tukasnya lagi. Que berjalan lebih dulu. Di belakangnya Zam mengekor. Bau anyir sudah tercium sejak di depan pintu. Tapi kondisi mayat di rumah ini masih lebih baik dibanding rumah yang ia datangi pertama kali. Maksudnya, kondisi mayatnya tidak semengerikan sebelumnya. Di dalam rumah itu, Pangeran Baylord tampak berkeliling mengamati tiap mayat bersama Darf. Sezzard dan Leah memeriksa kondisi rumah. Menilai adakah sesuatu yang rusak seperti sebuah dobrakan atau yang lainnya. Zam mendekat ke salah satu mayat yang memunggunginya. Ia balik perlahan. Zam sedikit tersentak. Namun, dengan cepat ia menguasai lagi dirinya. Ia amati mayat itu dengan seksama. Lalu matanya menangkap sesuatu yang tergenggam di tangan mayat itu. Zam menariknya. Dan ketika benda itu berhasil lolos, ia melebarkan benda itu. Sebuah kain. Kain itu menciptakan tanda tanya di benak Zam. “Kain apa ini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD