Hantu Kabut

1502 Words
Zam melangkah ke dalam istana dengan wajah sumringah dan senyum lebar. Di tangan kirinya ada satu tas kertas penuh beraneka ragam makanan yang ia dapatkan dengan gratis. Begitu pula di tangan kanannya yang menggenggam sebuah apel masak. Mulutnya terus melumat potongan apel dalam mulutnya. Suasana hatinya sedang baik. Jika tahu akan begini indahnya berada di Kerajaan Zhuro, Zam akan pindah ke negeri ini dari dulu. Tidak perlu menunggu diancam oleh hunusan pedang Kalu dan siasat Raja Helva XII. Bibir Zam bersenandung lirih. Sisa apel yang ia makan, ia buang sembarangan di atas rumput yang dipotong rapi. Dia tidak perlu ambil pusing dengan sampah itu. Dia kan perantara dewa. Seseorang pasti akan membersihkan sisa makanan dewa. Bahkan tadi pengawal yang berjaga di depan gerbang pun langsung mempersilakan dirinya masuk begitu melihat iris matanya. Memiliki mata emas adalah sebuah keberuntungan. Zam kira waktu kecil warna matanya yang berbeda dari penduduk Kerajaan Helvantica adalah sebuah kelainan. Ternyata ia salah. "Tingkahmu sungguh menjijikan." Zam mengangkat wajahnya. Ekspresi dingin dan kalimat skeptis nan sarkas dari bibir Kalu membuatnya berhenti melangkah. "Aku tidak melakukan apapun," sanggah Zam. Kedua alisnya langsung mengkerut tidak suka dengan kalimat Kalu. Kalu mengedikan dagunya ke arah tangan Zam yang menenteng makanan. “Apa kau sekarang sudah berubah dari pencuri menjadi pengemis? Tingkahmu tidak lebih dari seorang peminta-minta.” “Hei! Aku tidak meminta. Aku diberi secara gratis,” bantah Zam. Nada suaranya sedikit meninggi. Memang ada beberapa makanan yang ia minta. Tapi selebihnya ia dapatkan dengan cuma-cuma tanpa perlu menunjuk. Dan lagi pula makanan itu ditawarkan padanya. Apa ia harus menolak makanan seenak itu? “Itu sama saja. Kau membuat malu Kerajaan Helvantica dan mencoreng nama baik Pangeran Baylord.” Kalu berjalan mendekat ke arah Zam. Wajahnya terlihat sinis dan penuh kebencian pada Zam. “Tahu dirilah sedikit, Pencuri Kecil. Kau di sini bukan sebagai tamu kehormatan. Aku saja malu melihat tingkahmu. Apa kau tidak merasakan hal itu pada dirimu?” Setelah itu, Kalu berlalu. Meninggalkan Zam dengan emosi yang bergemuruh. Dari hidungnya, mendengkus keras. Mengapa ia harus merasa malu karena makanan yang diberikan dengan gratis oleh penduduk Kerajaan Zhuro jika yang memberikannya saja merasa terhormat? *** Zam yang masih merasa kesal karena sindiran dari Kalu, si kepala pengawal yang hobi menyindir dirinya sejak pertama kali datang ke Kerajaan Zhuro, memilih memanjat ke atas pohon. Pohon yang sudah ia incar sejak pertama kali melihatnya di kejauhan. Pohon dengan dahan-dahan besar dan kokoh. Seandainya ada pohon seperti ini di Kerajaan Helvantica, tentu ia betah berlama-lama berada di atasnya. Zam terpana oleh pemandangan yang disajikan oleh bukit di sekitar Kerajaan Zhuro. Matahari terbenam dengan warna merah keemasan yang menerpa dedaunan seolah semua warna hijau itu lenyap terbakar oleh lidah api. Zam masih terpaku pada pemandangan itu saat ia menyadari kabut mulai turun perlahan di sekeliling bukit. Cahaya indah matahari itu pupus sepenuhnya berganti diselimuti kabut. Semua orang berlari menuju rumah masing-masing dan mengunci rapat pintu rumah mereka. Seolah mereka beradu waktu sebelum diburu oleh kabut tebal. Zam memutuskan untuk tidak turun dari pohon. Matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Yang bisa ia lihat hanya dahan besar tempatnya berdiri dan menunggu dengan perasaan tak menentu. Zam menunggu dengan jantung berdebar kencang hingga ia bisa mendengar suaranya. Ia sudah mendengar mengenai keanehan kabut yang menyelimuti desa dan Kerajaan Zhuro tadi. Dan setelah berada di dalam kabut, bulu kuduk Zam merinding merasakan hawa mencekam di balik kabut. Napas Zam tercekat saat kabut semakin tebal mulai menyelimuti lembah, pepohonan, bangunan rumah, hingga ke istana di ujung sana. Tubuh Zam menggigil karena dingin. Namun, matanya dengan jeli berusaha menembus pemandangan kabut di bawah pohon tempatnya berpijak. "Argh!!!" Suara jeritan laki-laki melengking ke udara. Disusul suara teriakan yang bersahutan memecah keheningan. Zam menoleh ke sumber suara. Akan tetapi kabut terlalu tebal. Ia tidak bisa memastikan dari rumah sebelah mana suara itu berasal. Zam semakin menegang di tempatnya. Ketakutan merambati jiwa. Kakinya terasa kaku untuk digerakkan. Lalu matanya mulai bisa menyesuaikan dengan ketebalan kabut. Mata Zam membeliak tak percaya saat melihat bayangan putih tersembunyi di ketebalan kabut. Tangan Zam bergetar hebat melihat bayangan putih yang melalui pohonnya. Hantu kabut sungguh ada. Suara teriakan, jeritan kesakitan, dan tangisan pilu yang menggema menambah mencekamnya suasana. "Argh!!! Jangan lakukan itu pada kami," jerit seorang perempuan dengan keputus-asaan. "Keluar kalian!" teriak seorang laki-laki dengan suara baritonnya. Zam mengenali suara itu. Itu suara Deryl. Lelaki yang ia lihat tadi sebelum masuk ke istana. Lelaki yang juga menyembahnya seperti ia adalah sosok dewa yang turun ke Bumi. "Argh." Zam bisa mendengar dengan jelas pekikan kesakitan dari Deryl. Apa sesuatu terjadi padanya? Suara-suara yang ia dengar seluruhnya berasal dari penduduk Zhuro. Tidak ada suara desingan besi yang beradu, lesatan anak panah, atau hantaman benda tumpul. Semua suara benda-benda yang digunakan untuk menyerang atau melukai tidak terdengar sama sekali di sela-sela lengkingan dan pekikan orang-orang. Zam melirik ke bawahnya. Hantu kabut itu berjalan dengan tenang di bawahnya. Jumlahnya sudah tidak sebanyak sebelumnya. Dengan perlahan Zam menarik keluar anak panahnya dari sarungnya yang ada di punggung. Anak panah Zam melesat ke bawah menembus kabut, tidak peduli mengenai hantu itu atau malah mengenai salah satu penduduk Zhuro. Ia hanya ingin mencobanya untuk menghilangkan sedikit ketakutannya. Pemuda itu menunggu dengan jantung yang debarannya kelewat kencang hingga terasa menyakitkan. "Ck. Hantu tidak akan terluka hanya dengan anak panah, Zam," katanya pada diri sendiri berusaha menenangkan diri. Kabut sedikit menipis di bawah kaki pohon. Mata Zam menyipit saat ia melihat salah satu hantu itu berlari cepat ke arah pohon yang ia panjat sebelum kabut tebal kembali menelan bayangan samarnya. Jubahnya berkibar di belakang tubuhnya saat mahluk itu bergerak dengan cepat. Zam mendengar suara gesekan kulit pohon di bawahnya. Secara spontan, Zam berlari ke dahan besar di seberang pohon. Ia melompat dari satu dahan besar ke dahan besar lainnya. Ia bersyukur dalam hati karena dahan yang besar ini, jarak antar pohon terasa tidak begitu jauh. Zam dengan mudah melompati pohon-pohon besar itu. Zam tidak perlu menoleh untuk melihat sosok hantu itu yang mengikuti di belakang. Suara pijakan halus dan gesekan kulit pohon yang mereplika dan seirama dengan langkah miliknya sudah menunjukkan, jika hantu itu sangat cekatan mengejarnya. Zam tersandung bagian dahan yang mencuat. Ia meraih batang pohon yang kasar agar tidak terjun bebas ke tanah yang akan meluluh lantakan tubuhnya lalu merosot dengan lancar. “Fiuh. Untung saja aku menggunakan sarung tangan," ucapnya pelan dengan nada senang. Sebuah kawat tipis melilit ke salah satu pergelangan tangannya tanpa suara. Kawat itu melilit dengan sangat kencang hingga Zam yakin pergelangan tangannya bisa terputus dari sendinya. Dengan spontan, Zam menarik balik kawat tipis itu yang menembus kabut dengan sebelah tangan yang bebas. Tetapi tidak bisa. Ada sesuatu yang menahannya di balik kabut itu. Sesuatu yang sangat kuat. "Argh," pekik Zam saat sendi pergelangan tangannya bergeser karena tarikan dari arah berlawanan. Sedikit lagi bergeser dan benar-benar akan terpisah dari tubuhnya. Zam mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik kawat itu. Hantu kabut muncul setelah melepaskan kawat di tangannya yang membelenggu tangan Zam. Zam mendesah sakit. Sebelah tangannya memegangi pergelangan tangan yang berdarah. Dengan gerakan seringan angin, hantu kabut itu menyerangnya dengan kawat lainnya. Tanpa suara. Kali ini kaki Zam yang terjerat. Kawat itu ditarik dengan cepat dan membuatnya terjatuh. Kepalanya terbentur akar pohon. Zam meringis kesakitan. Dengan panik, ia meraba kakinya. Tanpa ia sadari ia mengembuskan napas lega ketika masih bisa merasakan kakinya. Ia mencoba menggerakkan kedua kakinya. Meski terasa sakit, tetapi ia masih cukup senang menyadari kedua kakinya masih utuh. Zam mengamati sekelilingnya dalam jarak pandang yang terbatas sembari mencoba bangkit. Sekelilingnya tertutup kabut sangat tebal. Zam hanya bisa melihat warna putih keabu-abuan dari kabut. Tubuh Zam bersandar pada pohon. Jantungnya masih berdegup kencang. Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada lagi suara jeritan, pekikan, tangisan, ataupun teriakan. Semua tenang. Apa yang terjadi di balik kabut itu? Apa semua orang sudah mati? batin Zam. Lalu Zam mencium bau yang khas. Bau anyir dari darah segar. Zam tahu hantu kabut itu baru saja menemukan orang pilihannya. Bagian tubuh orang itu tentu sudah terpisah dari tubuhnya. Bau anyir itu melekat erat di hidungnya. Apa korban mereka ada di dekat Zam? Zam mencoba melangkah. Baru satu langkah ia ambil, sebuah batu besar melesat mengenai kepalanya. Zam terpental beberapa langkah sebelum ambruk di atas tanah dingin. Kepalanya berdarah, terasa sakit dan nyeri. Telinganya berdenging. Mata Zam mencoba untuk membuka. Sosok hantu kabut itu menembus kabut di depan Zam. Zam ingin melarikan diri. Akan tetapi tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Hantu kabut itu perlahan mendekati Zam. Di masing-masing tangannya menggenggam dua gulungan kawat yang meneteskan warna kemerahan. Kawat itu baru saja digunakan untuk melukai tubuh seseorang. Mata Zam yang tajam mengamati sosok berjubah putih itu. Tudungnya menutupi seluruh wajahnya. Jarak beberapa langkah dari Zam, mahluk itu berhenti. Gulungan kawat itu diurai, bersiap menjerat kepala Zam. Zam sudah menutup kelopak matanya, mempersiapkan diri dari apa yang akan terjadi. Namun, tidak terjadi apa-apa. Zam masih menunggu. Dan memang benar tidak terjadi apapun kepadanya. Perlahan ia mengintip dari balik bulu matanya yang lentik. Sosok itu bergerak mundur menjauh darinya bersamaan dengan hilangnya kabut. Lalu setelah itu, Zam tenggelam dalam kegelapannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD