Suara ribut di sekitarnya menyadarkan Zam. Entah sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Terakhir yang ia ingat adalah ia berada di dalam kabut.
Kabut!
Mata Zam langsung membeliak cepat saat teringat tentang kabut. Ia bangkit dengan terburu-buru. Lalu kepalanya terasa sakit luar biasa. Seperti habis dipukul dengan batu besar.
Zam menunduk menahan rasa nyeri luar biasa di daerah kepalanya.
Tangannya meraba bagian dahi. Ada perban yang membalut kepalanya. Ia kira ia hanya bermimpi melihat sosok mengerikan dari hantu kabut.
Tapi ternyata itu adalah sebuah kenyataan.
Zam mengedarkan pandangan ke sekeliling. Cahaya matahari sudah meliputi semua yang ada di sekitarnya dari jendela kayu yang berada di dekat sebuah meja.
Ia sudah tidak berada di dalam kabut. Lalu dari mana sumber suara ribut itu?
“Apa kakinya masih bisa diselamatkan?”
Zam menajamkan telinganya yang sesaat lalu berdenging. Suara-suara itu berasal dari balik pintu yang tertutup di kamarnya berbaring. Disusul dengan suara-suara lainnya yang saling bersahutan.
“Tidak. Lukanya terlalu parah. Kita harus memotongnya.”
Saat mendengar kalimat itu, jantung Zam berdegup kencang. Secara spontan ia meraba pergelangan tangannya yang ia tahu semalam hampir terlepas dari tubuhnya.
Satu embusan napas lega lolos dari mulut Zam.
Tangannya masih utuh di tempat seharusnya dengan dibalit perban tebal. Pemuda bermanik emas itu sedikit susah menggerakannya. Namun, ini masih lebih baik. Ia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan salah satu anggota tubuhnya.
Kalau tangannya hilang sebelah, bagaimana ia bisa memanah, memanjat pohon, dan mencuri?
Perlahan Zam bangkit dari pembaringannya. Berjalan mendekat ke pintu.
Saat pintu terbuka, dua orang pengawal Kerajaan Helvantica tengah terbaring di lantai di antara kaki pengawal yang lain. Yang satu mengerang masih sadarkan diri. Dan yang satunya lagi ...
Zam menutup mulutnya menahan gejolak di perutnya. Tangannya menekan perut agar tidak mengeluarkan cairan asam dari lambung.
Salah satu pengawal Kerajaan Helvantica yang berbaring di sana tidak memiliki kepala. Kepalanya hilang. Dan cairan kental merah dari luka bekas tempat kepala itu berada masih mengalir di lantai Kerajaan Zhuro.
Zam mencium bau anyirnya yang beredar di sekelilingnya dan ia tidak lagi bisa menahan isi perutnya.
Ia mengeluarkan semuanya.
Suara Zam yang tengah muntah itu berhasil mengambil alih perhatian orang-orang di sana. Dua pengawal yang berdiri di antara pengawal yang terbaring itu, mendekat pada Zam.
“Kau baik-baik saja?” tanya salah satunya.
Tanpa menoleh, Zam melambaikan tangannya. Hanya gerakan sekecil itu dan ia kembali muntah.
Tangan pengawal meraih pundak Zam dan berujar, “Aku rasa sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu. Kau juga merupakan salah satu korban, bukan?”
Zam menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan gejolak perutnya. Setelah beberapa saat, ia menegakan punggungnya.
Saat ia mengamati dua pengawal itu, barulah ia sadar bahwa yang berada di dekatnya adalah pengawal Kerajaan Zhuro. Zam bisa melihat lambang pohon dari emblem emas yang terpasang di baju mereka.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya lirih.
Salah satu yang berambut ikal mengedikan bahu ringan. “Seperti biasa. Hantu kabut. Apa kau tidak diberi tahu sebelum ke sini?”
“Aku tahu. Maksudku, berapa banyak korban hantu kabut semalam? Apa mereka semua ... kehilangan anggota tubuhnya?” imbuh Zam dengan perasaan tak menentu.
Zam melirik sekilas pada pengawal tanpa kepala. Buru-buru ia mengalihkan tatapan saat merasakan cairan asam di lambungnya kembali naik.
Si ikal menoleh ke belakang dan kembali menatap Zam. Bibirnya mencebik seperti meremehkan yang tengah terjadi.
“Mereka berdua hanya contoh dari kekejaman hantu kabut. Untuk korbannya, korban paling banyak dari hantu kabut berasal dari rombongan Pangeran Baylord.”
“Aku rasa mereka belum diberitahu tentang hantu kabut,” kata temannya yang berjenggot tebal.
“Lalu untuk apa mereka datang ke sini jika tidak tahu masalahnya?”
Zam berjalan melewati dua pengawal itu yang masih terus membahas perihal kedatangan rombongan Pangeran Baylord. Zam mengamati dari dekat sosok dua pengawal Kerajaan Helvantica.
Ia sudah bisa sedikit mengontrol dirinya saat melihat kondisi tubuh mereka dari dekat. Bukan hanya kepalanya saja yang hilang, tetapi kedua kakinya juga hilang.
“To ... long,” pinta pengawal yang kedua kakinya koyak. Suaranya begitu pelan dan lirih.
Zam tidak bisa mendengarnya. Tapi ia bisa membaca gerakan bibirnya.
Itu adalah salah satu pengawal yang menangkapnya saat mencuri di pasar. Zam mengangguk, tidak tega melihat pengawal itu menderita karena kesakitan.
Zam mencari tabib istana atau siapapun yang bisa membantunya dan menolong pengawal itu.
Napas Zam tercekat saat melihat pemandangan di depannya. Tubuh manusia berjejer dengan keadaan tidak utuh di sepanjang lorong yang ia lewati.
Ada yang masih bernyawa, sekarat, ataupun mati. Ada yang kehilangan pergelangan tangannya, kakinya, lengannya, kepalanya. Bahkan yang palinh mengerikan sejauh ia melihat, ada yang tubuhnya terbagi menjadi dua bagian dan memburaikan isinya.
Zam menahan napas agar tidak mencium bau anyir itu lagi. Ia mendekati salah seorang yang berpakaian serba putih yang ia tebak sebagai salah satu tabib kerajaan.
Tabib itu menoleh saat merasakan kehadiran seseorang meski mereka masih cukup berjarak. Pria tua itu menunduk hormat. Zam meringis salah tingkah.
Perlukah ia melambaikan tangan seperti yang dilakukan Raja Helva XII saat rakyatnya menunduk hormat?
“Syukurlah kau baik-baik saja.”
Tabib itu terlihat lega saat melihat kondisi Zam yang bisa berjalan tegak. Meski wajah Zam masih terlihat pucat, tapi secara sepintas kondisinya memang tidak separah korban lainnya.
“Ya. Saya rasa saya cukup beruntung.”
Mata tua itu melengkung saat tersenyum di antara rasa lelahnya. Zam bisa merasakan kehangatan dan ketulusan dari bahasa tubuhnya.
“Ada seorang pengawal di sana yang membutuhkan pertolongan segara. Kakinya —”
Tabib yang tidak diketahui namanya itu mengangkat tangannya, memotong ucapan Zam.
“Saya tahu. Tapi di sini juga banyak yang terluka.”
“Tapi kau bisa melihatnya dulu. Dia bisa mati kalau kehilangan banyak darah,” paksa Zam halus.
“Dan mereka juga bisa mati kehabisan darah jika tidak segera diberi pertolongan,” sanggah tabib itu.
“Kau hanya perlu menilai kondisinya. Mengatakan sepatah dua patah kata untuk menenangkannya lalu kembali ke sini.”
Tabib itu menggeleng. “Mereka tidak membutuhkan kata-kata. Mereka memang membutuhkan pertolongan dengan segera, Tuan. Sayangnya tabib di kerajaan ini mulai berkurang jumlahnya karena mereka pun turut menjadi korban. Saya akan memeriksa kondisi mereka secara bergilir,” jelasnya.
Zam menarik kerah sang tabib. “Dia bisa mati jika harus menunggu lebih lama lagi,” desis Zam.
Dengan gerakan kasar, tabib itu menepis tangan Zam. “Mereka semua bisa mati, Tuan. Tapi mereka tidak punya pilihan lain selain menunggu. Lebih baik kau beristirahat.”
Lalu setelah mengatakan demikian, tabib itu kembali melanjutkan pemeriksaannya pada korban hantu kabut lain bersama anak buahnya.
Zam yang baru saja akan melayangkan protes, ditarik oleh seseorang menjauh dari tabib.
“Jangan menambah kekacauan di sini, Pencuri.”
Zam mendengkus kesal. Mengapa di saat hatinya sedang kacau malah harus bertemu dengan Kalu?
Tubuh Zam dihempaskan dengan kasar oleh Kalu. Zam membuang muka ke arah lain. Tenaganya belum pulih betul untuk memukul kepala pengawal yang tampak sehat dan kuat itu dibanding anak buahnya.
“Kau tidak perlu memaksa seorang tabib untuk menyelamatkan nyawa seorang pengawal,” kata Kalu dingin tanpa perasaan.
Zam mendelik tak percaya. “Mereka anak buahmu. Bagian dari rombongan Pangeran Baylord. Bagaimana bisa kau mengatakan hal demikian?”
“Seorang pengawal harus siap dalam kondisi apapun untuk berperang. Termasuk kehilangan nyawa. Dan kuanggap yang terjadi pada anak buahku adalah sama seperti perang.”
Zam menggeleng. “Kalau kau menganggap yang terjadi ini sebagai perang, maka kau seharusnya bisa membunuh lawanmu.”
Kalu tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya sebelah alisnya yang terangkat sebagai gantinya.
“Kau harus memburu hantu kabut. Kau harus bisa memenangkan ‘perang’, bukan?”