Penjara

1354 Words
"Apa yang kau bilang barusan?" "Memburu hantu kabut," ulang Zam dengan sedikit geram. Ia masih memikirkan nasib pengawal yang meminta tolong padanya. Mengapa semua tampak tak acuh pada nyawa orang lain? Kalu diam sesaat. Lalu dia tertawa keras. Sebuah tawa yang tidak pantas dilontarkan saat keadaan seperti ini, di mana potongan tubuh manusia berceceran di bawah kaki mereka. "Kau percaya hal-hal fiksi seperti hantu kabut? Dan kau bilang kami harus memburu hantu kabut?" Kalu tertawa lagi. Lebih keras dari sebelumnya. Zam menatap tak mengerti ke arah Kalu. Beberapa orang yang lewat di sekitar mereka langsung menoleh ketika mendengar tawa Kalu. "Aku tidak tahu kau pandai melawak," ucapnya kemudian. "Aku tidak sedang bercanda. Aku melihatnya dengan kedua bola mataku," kata Zam bersikeras. Kalu langsung menghentikan tawanya dan merubah ekspresinya menjadi sedingin sebelumnya. "Dan apa yang kau lihat?" Zam mengusap wajahnya kasar. "Aku ... aku melihat mereka dengan sangat jelas. Mereka sungguh ada. Mereka datang berkelompok dan menyaru dengan kabut. Mereka bukan seperti yang orang-orang di kerajaan ini katakan. Mereka—" Ucapan Zam terjeda saat Kalu menaikan telapak tangannya menghadap wajah Zam. "Aku rasa kau mulai terpengaruh oleh ucapan penduduk di sini. Tidak ada hantu kabut. Yang ada hanya sekelompok pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk meneror Kerajaan Zhuro." "Aku sungguh melihat mereka." Zam masih bersikeras dengan pendapatnya. Melihat Zam dan Kalu yang berdebat di tengah kekacauan, para pengawal dari rombongan Pangeran Baylord berkumpul mendekati mereka. Mungkin mereka berpikir, masalah apa lagi yang dibuat oleh Zam, si Pencuri. "Apa yang kau lihat?" tanya salah satu anggota rombongan. "Hantu kabut," jawab Zam mantap dan tegas. Lalu semuanya tertawa. Dan berhenti saat Kalu menaikan kembali tangannya. "Kepalanya terbentur. Wajar saja jika ia bertemu dengan hantu kabut." Kalu tersenyum miring dengan sinis. Lalu melangkah mendekati Zam. Dengan suara pelan nyaris berbisik, ia berkata, "Mungkin kau tidak tahu apa tujuan kita datang ke sini karena kau tidak diperbolehkan bertanya. Jadi biar kuberitahu, Zam. Kedatangan kita ke sini, terutama Pangeran Baylord, adalah untuk menenangkan keadaan penduduk Zhuro yang sedang diteror. Aku dan anak buahku tengah menyelidiki kasus ini. Kami percaya adanya pembunuh bayaran yang menyebar teror. Kuharap kau tidak mengacaukannya." Setelah itu, Kalu melangkah mundur. Meninggalkan Zam dengan perasaan berkecamuk. Kalu membalik tubuhnya lagi setelah beberapa langkah menjauh. Dengan jari telunjuk teracung penuh perhitungan, ia berkata, "Ingat yang kukatan barusan. Jangan. Membuat. Kekacauan." Zam sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dengan wajah datar dan tenang yang berkebalikan dari isi hatinya, Zam memilih kembali bersuara. "Lalu bagaimana kalian menjelaskan cara pembunuh bayaran itu membantai banyak nyawa dalam satu malam?" Kalu menatap tajam pada Zam. "Seperti katamu mereka berkelompok." Zam balik menatap Kalu dengan padangan menyelidik. "Apa kalian tahu benda apa yang menjadi senjata mereka?" Kalu mengedikan bahunya, "Mungkin sebilah pedang. Atau benda tajam lainnya." Zam menggeleng skeptis. "Kalau kalian saja tidak tahu pasti apa senjata mereka, bagaimana kalian akan menyerang?" Anggota rombongan yang berada di pihak Kalu mendekat, mengerubungi Zam. Begitu pula dengan Kalu. Ia berdiri tepat di hadapan Zam. Sedang yang lain berdiri berjajar di samping Kalu. "Apa ada yang ingin kau katakan, Zam?" tanya Kalu dengan penuh penekanan di setiap katanya. Zam sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap mengintimidasi Kalu. Sikapnya justru terlihat tenang. Dan dengan berani, ia balas menatap Kalu tepat di kedua matanya. "Kau tidak tahu senjata apa yang digunakan oleh mereka. Kau juga tidak tahu apa yang terjadi di balik kabut itu. Tapi aku tahu." "Lalu?" Kalu mendongakan dagunya angkuh dan menantang. "Kau harus percaya, hantu kabut itu sungguhan ada." Zam sama sekali tidak gentar. Ia percaya apa yang ia lihat adalah sebuah kebenaran. Dan kebenaran itulah yang harus diselidiki lebih jauh. Kalu menghela napas pelan. Dia mengedikan dagu ke arah anak buahnya. Anak buahnya langsung meringkus Zam. "Apa-apaan ini?" Zam memberontak. "Kau akan dikurung di penjara istana untuk sementara waktu," kata Kalu. "Atas dasar apa?" Zam menggeram marah. "Ucapanmu akan menghasut orang-orang dan menghalangi proses penyelidikan yang dilakukan oleh pengawal kerajaan yang diutus." Kalu berjalan lebih dulu. Anak buahnya menyeret Zam dengan kasar. Sedangkan Zam terus berusaha melepaskan diri. "Tapi kau harus percaya. Kau harus melihatnya dari ketinggian." Tanpa menoleh, Kalu mengucapkan kalimat penuh ancaman pada Zam. "Sekali lagi kau bersikeras dengan pendapatmu itu, maka bisa dipastikan aku lah yang akan menjadi hantu kabut itu untuk menarik lepas kepalamu." *** Tubuh Zam terbanting ke atas lantai penjara yang terasa dingin dan bau. Ada tumpukan jerami di sudutnya yang dikerubungi oleh lalat. Tanpa melihatnya dari dekat, Zam tahu ada sebuah bangkai di sana. Mungkin tikus atau mungkin tahanan kerajaan sebelumnya. Zam berlari ke jeruji pintu dan sekali lagi berteriak mengenai hantu kabut. Tidak ada jawaban. Ia ditinggalkan di sana begitu saja. Zam menghela napas dalam. Sialnya bau apak dan tak sedap lainnya yang bercampur memenuhi indera penciumannya. "Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak mau mati di dalam penjara saat kabut itu datang nanti malam," gumam Zam pada dirinya sendiri. "Sst. Sst." Suara desisan membuat Zam langsung bangkit berdiri. Jantungnya berdegup kencang. Apa ada ular berbisa di dalam penjaranya? Ah, sial betul nasibnya. Kalau tidak mati karena hantu kabut, jangan sampai ia mati karena patokan ular berbisa. "Sst. Sst." Zam semakin menjauh dari tumpukan jerami. Prediksinya di sanalah ular itu berada. Matanya menatap nyalang ke arah jerami basah. Lalu mengedar ke sekeliling lantai. "Tuan?" Zam terlonjak kaget sampai memekik nyaring kala suara serak tertangkap indera pendengarannya. Kepala Zam berputar mencari sumber suara yang berbicara padanya tadi. Ia yakin ia mendengarnya. "Tuan?" Sekali lagi suara itu terdengar. Lebih dekat dan lebih keras. Zam mulai merasakan ketakutan lagi seperti saat berada di dalam kabut. "Tuan. Ini aku Arro." Tubuh Zam tiba-tiba kaku saat mendengar nama yang memanggilnya. Arro? Itu sungguh Arro atau hanya suara dalam kepalanya? "Tuan. Aku di belakangmu. Cobalah menoleh ke arah jendela." Zam berbalik ke belakang. Wajah Arro tersenyum sumringah. "Kau pucat sekali, Tuan. Apa kau baik-baik saja?" tanya Arro khawatir. Zam mendengkus keras. Dia baik-baik saja. Jantungnya yang tidak. "Aku baik-baik saja. Apa yang kau lakukan di sini?" "Aku melihat Tuan dibawa ke sini. Aku juga mendengar ucapan Tuan pada pengawal Kerajaan Helvantica. Dan aku percaya yang Tuan katakan adalah benar." Zam bersedekap. Alisnya terangkat sebelah. "Apa maksudmu kau percaya?" tanya Zam sangsi. "Aku pernah mendengar sebuah cerita dari seseorang yang menjadi korban selamat dari hantu kabut. Mereka mengatakan hal yang sama dengan Tuan." "Dan apa yang mereka katakan?" "Maaf. Bukan mereka. Hanya seorang saja dari puluhan korban yang selamat. Dan kebetulan kau juga termasuk salah satunya, Tuan." Zam memutar kedua bola matanya. “Ya ya ya. Lalu apa yang dia katakan?" "Dia pernah bercerita kalau ia melihat sosok hantu itu di dalam kabut. Sosok itu membedah jantung anggota keluarganya di depan matanya." Arro membeliakan matanya saat merasa ngeri dengan cerita yang diingatnya. Tubuhnya bahkan sampai bergidik. Zam yang mendengarnya mencoba mengingat korban-korban yang ia lihat sebelum dimasukan ke penjara. Tidak ada satupun dari korban itu yang kehilangan jantung. Rata-rata mereka kehilangan anggota tubuhnya. Tapi tidak ada yang sampai seperti dikatakan oleh Arro. "Aku tidak melihat korban semalam yang memiliki luka terbuka di tubuh atasnya," sanggah Zam. Arro mengedikan bahunya. "Aku tidak tahu soal itu. Tapi cerita orang itu membuatku tidak pernah bisa tidur setiap malam." Zam masih mencoba memahami cerita orang itu yang diceritakan kembali oleh Arro. "Lalu bagaimana nasib orang itu sekarang, Arro? Apa aku bisa menemuinya?" Arro menggeleng, "Tidak bisa. Dia sudah mati dua minggu yang lalu." "Apa jantungnya juga diambil?" "Ya. Aku rasa seluruh anggota keluarganya mati karena diambil jantungnya oleh hantu kabut." Entah pemikiran dari mana, tapi Zam mencoba menanyakan hal yang mungkin saling bersangkutan satu dengan lain hal. "Apa orang itu memiliki ciri khusus? Maksudku, mengapa ia harus mati dengan cara yang berbeda dengan penduduk lainnya? Mengapa hanya dirinya yang diambil jantungnya sedangkan penduduk lain harus kehilangan anggota tubuhnya?" Arro tampak merenung memahami pertanyaan Zam. Lalu jarinya menjentik saat menemukan jawaban. "Dia adalah anggota dari perantara Dewa. Aku rasa aku ingat ia juga memiliki mata emas seperti milikmu." Zam terdiam mencerna informasi dari Arro. Lalu setelah memahaminya, seketika wajah Zam semakin memucat dibanding sebelumnya. Dengan sedikit panik, ia meraih tangan Arro yang memegang jeruji besi jendela penjara. "Keluarkan aku sekarang, Arro. Aku harus keluar saat ini juga sebelum kabut datang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD