lima

1684 Words
Hari hariku ku lalui dengan menahan perasaan... Aku tak pernah menduga jika kehidupanku disini bakal berubah seratus derajat setelah ku injakan kakiku ke Jakarta terlebih ketika aku sekolah di sekolahnya anak anak orang kaya. Sekolah elite... Aku sadar ketika aku memasuki sekolah ini pandangan mereka terhadapku sudah lain. Mereka tidak berkenan menerimaku karena mereka telah melihatnya dari status serta penampilanku yang notabenya orang kismin. Aku sadar jadi bahan perhatian mereka juga tidak meng-enakan bahkan telah dihinaku semenjak aku memasuki kelas. Padahal aku telah berusaha untuk bersikap biasa. Pyarrrr... Ada yang mengguyur ku dengan air hingga sebagian rambut juga bajuku jadi basah. Setelah ku lihat siapa pelakunya ternyata Raya dan temen temannya. Raya menatap ku dengan sinis, tersenyum penuh ejekan, bahkan yang ada didalam kelas seperti menutup mata dengan apa yang ku alami. Aku coba untuk kuat walaupun hatiku dilanda kesedihan tapi aku menahannya, aku tak boleh cengeng karena hal itu malah membuat mereka girang. "Huuhhh,,,," sorak yang lainnya sangat senang melihatku kena bully. "Ha ha ha,,, heh gimana kismin, enak?" ledek Raya menghinaku, tersenyum sinis. Aku memilih untuk diam, dan memilih untuk duduk di bangku ku. Angga, aku tak tau kemana dia karena ketika aku putuskan untuk ke kelas dia ijin kemana gitu? Aku yakin kalau Angga pasti sudah tau semua ini, karena seperti di rencanakan. Hingga beberapa saat Angga datang, bahkan memilih bungkam tanpa menanyaiku, sedih rasanya karena saudaraku sendiri sepertinya tidak punya rasa peduli sedikit pun dengan keadaanku. "Untung masih air biasa. Besok pasti lebih ekstrim, ki ki kikkk...." tawanya Raya penuh kelicikan. Salahku apa pada Raya, aku sekolah disini ingin tenang, tapi tetap aku tidak tenang karena selalu ada gangguan. Di kampungku, aku sekolah bisa tenang. Teman temanku semua menghargai ku. Sekalipun disini aku anak yang pintar karena bisa mengalahkan yang lain, hal itu malah jadi bumerang bagiku. Seakan satu kelas sangat membenciku bahkan terang terangan membullyku. Hidupku rasanya tidak bisa tenang. Entah sampai kapan ini akan berakhir... Pelajaran pun berjalan seperti biasanya... Aku duduk masih anteng hingga jam istirahat tiba, aku pun beranjak hingga ku rasakan ada yang lengket di celana belakangku setelah ku periksa ternyata permen karet menempel erat di celanaku. Ya Allah, apa lagi ini? bisik batinku merintih. Tadi saat duduk aku tidak memperhatikan tempatku, kenapa aku sembrono. Itu semua karena rasa kesedihan yang ku rasakan sehingga aku langsung duduk saja. Tentu saja hal itu membuat riuh seisi kelas menyorakiku... Rasanya aku ingin nangis namun aku tahan, aku hanya bisa pasrah... Aku harus kuat dengan semua ini. 'Ya Alloh, siapa yang melakukan ini padaku?' bisik batinku, aku berusaha menghilangkan permen karet yang menempel dicelanaku walaupun agak kesusahan, aku menjadi sedih. Namun, ada seseorang yang menatapku penuh kegirangan yaitu Riko. Terukir jelas senyum liciknya. Tatapannya tajam menikam. "Enak...! Syukurin!" cibirnya tanpa dosa menatapku tajam bahkan agak melotot. Tapi tak ku pedulikan. Aku masih berusaha menghilangkannya hingga membekas noda permen karet yang menempel. Aku biarkan saja, nanti saat pulang dan berada di rumah aku akan membersihkannya. "Gimana,,,? Itu belum seberapa, masih ada kejutan yang lainnya buat Lo, gembel. Ha ha ha,,,," imbuhnya lagi dengan tawa girangnya karena aku tak mempedulikannya tapi hal itu membuat nyaliku makin ciut mendengar ancamannya yang tidak main main. Sekilas aku menatapnya tajam... Ku alihkan pandanganku ke arah Raya, w***********g itu tersenyum penuh ejekan. Ku tinggalkan ruang kelas yang penuh dengan Bullyan mereka, aku berlalu cepat karena aku tak ingin mendengar u*****n dari yang lainnya. Sampailah aku di perpustakaan dan mengambil beberapa buku untuk k*****a karena mau ke kantin sayang uangnya karena akan ku tabung, untuk membeli sesuatu. Aku sudah sarapan tadi pagi di rumah jadi masih kenyang, walaupun sedikit haus, tapi ku tahan. Aku tidak tahu kemana Angga, mungkin bersama dengan ganknya di gudang sekolah. Cukup lama aku berada di perpus, tidak banyak siswa yang membaca di perpus ini yang menurutku bukunya sangat komplit. Ada seseorang yang menatapku, aku belum mengenalnya, anaknya tidak terlalu ganteng tapi terlihat manis... Anak itu mendekatiku lalu duduk didekatku sambil memperkenalkan dirinya. Murah senyum, sikap sangat ramah sekali... "Kakak perkenalkan namaku Rreindra. Kakak, kak Bening kan,,,?" anak itu mencoba ramah padaku, tersenyum lembut, bersahabat kearahku sambil mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya. "I, iya,,,, salam kenal juga. Aku Bening" balasku membalas jabatan tangan hangatnya, mencoba untuk tersenyum ramah. Aku lihat kalau Rrein bukan dari anak orang biasa tapi penampilan terlihat biasa. "Kak Bening kenapa sering kesini, mana teman kakak?. Kan ada kak Angga saudara kak Bening,,," "Hmmm,,, sama temennya. Aku nggak punya teman. Tapi nggak apa apa. Disini aku lebih tenang!" Rreindra duduk didekatku memperhatikan sejenak, seperti melihat sesuatu terhadapku... Ku dengar gumamnya yang membuatku heran... "Kak Bening bukan orang biasa,,,?" tatapannya sejenak tajam kemudian berubah. Aku berusaha tenang dengan apa yang di katakan oleh Rreindra. Mungkinkah Rreindra termasuk anak indigo. Entahlah, dari tatapannya aku juga merasakan sesuatu hal. "Kamu bilang apa Rrei. Asalku dari pelosok kampung di Sumatera Selatan" ralatku supaya Rrei tidak penasaran denganku. "Beneran kak Bening. Kak Bening itu,,, hmmm,,, aku tidak bisa menjelaskannya" "Kamu kayak indigo bisa melihat keadaan orang lain?" Rreindra tanpa sadar mengangguk pelan. Dari raut mukanya kini terlihat sedih. "Benar apa yang kak Bening ucapkan. Aku memang anak indigo" "Ohh,,,!? Tapi kenapa kamu terlihat sedih Rrei?" tanyaku karena tadi terlihat senang tapi mendadak sedih. "Gini kak Bening. Sebentar lagi aku mau pindah sekolah karena papaku pindah tugas. Padahal aku ingin berteman dengan kak Bening, tapi tak pernah ada kesempatan karena kak Bening sulit di temui bahkan sering di kelas. Tapi tidak apa apa aku bahagia karena sekarang aku bisa ngobrol sama kak Bening" ulasnya panjang lebar. Entah aku harus senang atau sedih karena aku punya teman satu lagi yang baik tapi di waktu yang bersamaan akan terpisah. "Aku doakan supaya kamu dapat teman baik, disana" "Terima kasih kak Bening. Ternyata kak Bening ini orang baik juga sangat lembut" "Terima kasih. Aku dapat teman sebaik kamu. Kamu kelas berapa Rrei?" Aku tak ingin suasana terasa melow karena Rreindra seperti sedih. "Aku masih kelas X kak Bening" "Oo,,, pantes aku baru lihat kamu" "Sebenarnya aku sudah lama lihat kak Bening" "Nggak apa apa kita sekarang temenan kan,,," ku lihat Rreindra mengangguk senang. "Ya sudah. Kapan kamu pindahnya Rrein?" "Minggu depan kak Bening" "Ayo masuk kelas tadi bel telah berbunyi,,," "Kak, boleh minta nomornya?" "Oh, boleh. Catat ya,,," "Oke kak, tak save ya" "Oiya, Rrei kamu miscall saja. Entar aku yang menghubungi kamu" "Emangnya kenapa kak?" Rreindra terlihat mengernyitkan dahinya. "Soalnya, kontakku nggak ada yang tau selain kamu. Kakak harap kamu bisa menjaga rahasia ini" "Iya kak Bening. Pasti. Terima kasih" "Ya sudah ayo masuk" Rreindra pun berjalan didampingan... Kami pun meninggal perpus dengan berbagai perasaan. Perasaan bahagia, juga ada perasaan sedih. Walaupun Rreindra akan pindah, setidaknya aku punya teman sebaik dia. Dan Rreindra itu anak indigo. ____________ Sampai pelajaran berakhir tak ada gangguan dari siapapun, aku bisa bernafas lega karena ancaman dari Raya maupun Riko tidak dilakukannya. Tapi, aku merasakan kalau ini masih awal dari kejadian yang tak pernah aku menduganya, entah apa itu? Di rumah aku sibuk mencuci celanaku yang kena permen karet, untung nodanya bisa hilang, aku pun menjemurnya, semoga sore panas hingga sore jadi besok bisa aku pakai buat sekolah. Aku memilih untuk duduk di ruang tamu, sambil menyalakan kipas angin mode kecil, aku tahu kalau harus menghemat listrik terlebih disini aku menumpang hidup di rumah pamanku. Angga belum juga pulang, entah kemana hingga jam tiga Putri pulang dengan wajah lelah serta keadaan capek karena seharian belajar. Tapi Angga belum juga pulang. Untungnya tadi aku sudah sembahyang kemudian makan siang, kini sambil membaca buku untuk pelajaran besok. Jadi, jika ada kata yang belum ku mengerti aku tinggal tanya sama guru. "Mas Bening sudah pulang. Mas Angga mana mas Bening?" tanya Putri menghampiriku duduk di dekatku sambil menikmati kipas angin yang tidak kencang aku pun menambahinya supaya agak kencang anginnya. "Tidak tahu Put, tadi aku pulang duluan. Biasanya Angga main dulu sama the gan-,,," hampir saja aku keceplosan mengucapkan the gank pada Putri. Mungkinkah Putri akan curiga. Semoga tidak kepo. "Apa mas Bening. Tadi mas ngomong apaan?" Nah, beneran kan Putri langsung kepo. "Bukan apa apa, waktu pulang tadi aku nggak tahu Angga kemana-?" "Kebiasannya kumat lagi!" rutuk Putri terlihat kesal. Sepertinya Putri tau kebiasaan Angga, aku juga tidak perlu menanyakan itu padanya. Ku biarkan saja. Aku memilih untuk diam, karena aku tak ingin keceplosan lagi. Putri juga terlihat kesal. "Pasti sedang Mabar sama Ganknya. Gank Koplak!" sungutnya terlihat kesal. Benar dugaanku kalau Putri sudah tau tentang kakaknya yang jika tidak pulang saat jam pulang, perginya kemana dan main ditempat siapa. 'Oh, jadi Angga lagi main game online!' pikirku hanya terdiam. "Sudah mas Bening aku mau mandi. Istirahat!" Putri pun pamit meninggalkan ku sendirian. Ku perhatikan Putri mengambil air minum di dispenser serta meminumnya lalu masuk ke kamarnya. Ku tutup bukuku. Aku pun masuk ke kamar karena ada sesuatu yang ingin ku periksa. Aku yakin kalau Angga pulangnya akan menghadapi magrib, atau mungkin tidak pulang karena keasikan main game online. ______________ Benar saja, sore harinya Angga tidak pulang, entah nginap dimana? Bibi dan paman juga tidak menanyakan keadaannya tapi mereka terlihat tenang. Tentu saja ibuku menanyakannya... "Kenapa semalam Angga tidak pulang?" tanya ibuku ada rasa khawatir. Bibiku hanya tersenyum... "Mbakyu, Angga sudah ijin ke saya kalau mau nginap di rumah temennya karena ada acara" jelas bibiku. Ibuku kini tidak khawatir lagi. Aku menyelesaikan sarapanku karena ibuku dan bibiku juga bersiap untuk berangkat kerja. Aku tahu kalau Angga itu sedang main game online, tapi tidak ada yang tahu. Karena Putri memberitahuku, sebenarnya aku ingin memberitahu tapi aku pikir pikir.... Aku memilih untuk diam, takutnya aku nanti mengadu lalu Angga marah padaku. Aku tak mau hal itu terjadi. ____________ Ku edarkan pandanganku kedalam kelas, tak ada yang didalam. Perasaanku sedikit tak enak. Tapi perasaan itu ku tepis. Rasa curiga pasti ada, namun aku tetap masuk kedalam kelas. Agak waspada karena tidak biasanya keadaan kelas sepi, biasa ketika aku masuk pasti akan ada siswa didalam tapi ini sangat berbeda, sepi. Ada rasa curiga dihatiku, walaupun ada rasa senang karena sepi tak ada siapapun. Ada senyumku. Saat aku melangkah... Aku merasa kaget saat kakiku menyentuh sesuatu di bawah, saat ku sadari itu benang karena tidak kelihatan. Selanjutnya....??? Byuuuuurrrrrrr.....!!!! Tubuhku basah kuyup tersiram air yang baunya tidak sedap. Aku mematung ditempatku?!. Saat itu suara riuh tawa terdengar dari luar maupun dari dalam, semua siswa yang bersembunyi tertawa senang melihatku basah kuyup karena tersiram air comberan. Benar ucapan Raya kalau besok akan memberiku hal yang tak terduga karena kemaren belum seberapa. Kini, semuanya sudah terjadi.... Air mataku luruh tak terasa, mereka begitu kejam mengerjai ku. Ya Tuhan, salah apa aku pada mereka sehingga aku harus mereka kerjai seperti ini? bisik batinku perih. Air mataku terus luruh hingga juga geram.... "Ha ha ha,,,, Emang enak! Rasain Lo!" cibir Raya didepanku dengan Riko yang menyeringai penuh kemenangan. "Cuihhh,,,, Dasar gembel. s****h,,,!" hardiknya padaku hingga meludahiku dalam keadaan bau serta basah kuyup. "KALIAN,,,!?" seruku penuh dendam. Aku berbalik, secepatnya aku meninggalkan kelas menuju ke toilet sekolah. Aku terus berlari dengan cepat hingga siswa yang berpas pasan denganku ada mencibir, ada yang meludah, dan ada yang menghinaku. Lengkap sudah penderitaan yang ku alami hari ini. Ku tutup pintu toilet, aku menangis sejadi jadinya sambil membersihkan tubuhku yang kotor. Tak ada yang bisa ku lakukan selain menangis, melawan pun rasanya percuma karena aku tak punya kekuatan untuk itu. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku ini. "Ya Allah!?" ucapku sedih. Mungkin ini kurang baik karena aku menyebut nama Tuhan di dalam wc sambil menangis serta membersihkan diri dari air comberan. Cukup lama aku berada didalam WC, aku pun keluar dengan gontai. Bagaimana aku akan masuk ke dalam kelas sedang keadaanku saat ini basah dan ada sedikit bau yang tak sedap. Kalau tadi baunya sangat menyengat tapi kini agak berkurang. Setelah aku berpikir, lebih baik aku pun pergi kelapangan untuk mengeringkan pakaianku yang basah. Mungkin sampai jam istirahat. Keadaan lapangan sepi karena seluruh siswa sedang berada di dalam kelas. Untung buku dalam tas tidak basah dalam keadaan aman, aku bisa bernafas dengan lega. Aku termenung cukup lama, merenungi nasibku yang kurang baik. Perlahan pakaiankilu sudah agak kering karena aku menjemur diriku. Ku dengar bel istirahat berbunyi. Aku menarik nafas lega juga sedih karena tiga jam aku tidak mengikuti pelajaran itu sama dengan tiga pelajaran, itu karena keadaanku. Mereka ingin membuatku nilainya jelek karena tidak mengikuti pelajaran. Baru kali ini mereka keterlaluan karena aku tidak bisa mengikuti pelajaran di jam pertama. Angga seakan tidak peduli dengan apa yang ku alami. Aku merenung sendirian didekat pagar sekolah karena memang jarang yang datang kesini. Untung bell tanda masuk bisa terdengar dimana mana selama itu dilingkungan sekolah. Tanda bell masuk telah berbunyi, aku pun beranjak dari tempatku menuju ke kelasku. Aku berjalan lesu dan gontai, setiap aku berpas pasan dengan siswa lain, pasti mereka mencibirku karena keadaanku yang lusuh mirip gembel. Tentu saja kesedihanku kian memuncak. Tapi, tak ada hak bisa ku lakukan untuk memperbaiki keadaan juga hal alami. (Jika kalian pikir, disini bisa ngadu itu mudah, maka akan ku lakukan. Karena jika hal itu ku lakukan, maka aku akan menanggu konsekuensinya. Maka dari itu, aku tidak ingin hal itu terjadi). Untuk itulah yang bisa ku lakukan yaitu tetap bertahan serta menahan perasaanku. Entah hal apa lagi yang akan ku alami nanti karena aku merasa akan ada hal ekstrim yang akan terjadi padaku. Tapi, aku berdoa semoga saja hal yang buruk tidak menimpaku lagi. Semoga... #bersambung Jangan lupa vote and koment ya... Biar semangat updatenya. Ditunggu.... Apalah arti sebuah tulisan kalau tidak ada yang membaca serta vote.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD