Seusai sholat, semua keluarga kumpul diruang tengah. Semua asik berbicara, bercerita tentang banyak hal, baik Putri yang saat disekolah bersenang senang dengan teman temannya, juga bibi dan ibuku yang asik ngerumpi ketika bekerja dirumah majikannya yang katanya orangnya baik serta Paman dan ayahku yang jadi securiti, penjaga rumah mewah orang kaya yang aku sendiri tidak tau nama boss mereka yang katanya sangat baik. Mereka begitu keasikan ngobrolnya tentang keseharian yang menyenangkan yang mereka lalui hari ini. Aku dan Angga memilih untuk diam mendengarkan cerita mereka karena tak ada yang perlu diceritakan, sekalipun ini pertama kali aku masuk sekolah serta yang ku temui bukan hal yang menyenangkan. Miris. Aku hanya menceritakan hal yang perlu saja yaitu mengenai guru serta wali kelasku yang cantik, berjilbab dan baik hati serta pengertian selebihnya aku memilih untuk diam serta senyum yang sengaja ku buat supaya kedua orang tuaku tidak curiga.
Sebenarnya ada cerita yang menyedihkan dan aku tak pernah menceritakan hal itu pada mereka, Angga pun tidak mungkin menceritakan hal tersebut pada mereka...
Yaitu mengenai teman baruku yang satu kelas denganku bernama Riko dan Raya yang sangat membenciku bahkan ingin mencelakai ku serta ingin membuatku tidak betah untuk sekolah disekolah elite.
Entah kesalahan apa yang pernah ku lakukan pada mereka hingga begitu banyak yang membenciku, atau karena aku miskin jadi aku tak pantas sekolah bareng mereka yang rata rata anak orang kaya. Itu bukan suatu alasan jika mereka harus membullyku, menghinaku juga mencibirku walaupun aku tau itu sekolah elite, hanya anak orang kaya dan tajir yang bisa sekolah disitu, sedangkan aku hanya mengandalkan beasiswa dan kepintaran otakku, itu pun atas kebijakan kepala sekolahku dulu.
"Ayah, ibu aku mau istirahat dulu, besok akan ada ulangan" kataku beralasan karena sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, toh ibu dan ayahku sedang keasikan ngobrolnya dan merasa senang mendapatkan perkerjaan baru. Kedua orang tuaku tidak tau tentang keadaanku yang sebenarnya seperti apa, bahkan dihari pertama aku masuk sudah mendapatkan hal yang tidak mengenakan. Terlebih dengan luka dikaki dan tanganku yang ku sembunyikan dari mereka sekalipun sama Putri juga tidak mengetahuinya sama sekali. Biarlah ini ku rahasiakan dari mereka daripada nantinya kedua orang tuaku malah mengkhawatirkan keadaanku. Aku tak mau hal itu sampai terjadi.
"Nak tunggu. Ibu ada sedikit uang jajan buat kamu besok sekolah" ucap ibuku memberiku uang lima puluh ribuan. Aku menerimanya serta berterima kasih. Aku memilih untuk diam. Menutupi rasa nyeri yang sedikit membuatku tidak nyaman. Aku berusaha untuk menyembunyikan yang aku bisa.
"Nak ada apa? Sekolah kamu baik baik saja kan?" tanya ayahku seperti sedikit menaruh curiga padaku serta ku balas dengan anggukan pelan sambil tersenyum untuk menutup perasaan gugup seandainya ayahku tau mengenai keadaanku yang sesunguhnya, walau pun rasanya hatiku begitu miris, rasanya aku tak sanggup untuk membohongi mereka. Aku pun berlalu pergi ke kamar untuk tidur, tak lupa mengucapkan salam pada mereka sembari tersenyum.
"Pa, ma aku tidur dulu ya" pamit Angga ingin menyusulku. Angga tau semuanya tentang apa yang terjadi denganku disekolah, Angga memilih untuk diam dan tidak cerita, itu lebih baik bagiku.
Putri juga pamit untuk istirahat. Hingga yang ada diruang tamu para orang tua...
Aku merebahkan tubuhku yang terasa letih, besok adalah babak baru dan tentunya aku akan menemui hal yang ekstrim dari Riko the gank serta Raya.
Angga hanya memakai kolor saja, toples, sekalipun tubuhnya bagus berisi. Sebenarnya aku agak risi melihatnya, nggak enak, mungkin sudah kebiasaannya tidur hanya memakai kolor saja serta rebahan didekatku sekalipun ada sedikit jarak karena aku memejamkan mataku sedari tadi serta menghadap ke dinding.
Ada desah lirih ku rasakan karena aku belum tidur...
"Mas gak apa apa ya kalau aku tidur cuma pake kolor doang?" izin Angga seperti tau tentang sikonku karena aku memilih untuk pakai kaos dan celana santai ketika tidur. Ingin rasanya aku biarkan tapi aku merasa kasihan membiarkannya...
"Terserah. Kamu b***l pun terserah kamu" balas ku dengan asal.
"Nghhmmmm,,, biasanya, aku t*******g kalau nggak ada mas. Soal nya risi kalau pake pakaian" akunya jujur. Aku tidak tau tentang keseharian Angga dirumah terlebih ketika Angga mau tidur, kini dia mengatakan apa adanya. Aku hanya tersenyum tapi aku tak berani menatapnya, takutnya dia malu.
"Hah,,, kamu?" aku langsung berbalik melotot tak percaya kearahnya.
"Mas, gulingku mana? Aku biasanya tidur sambil peluk guling. Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada gulingku" tanya Angga kalut. Padahal tadi menyimpannya karena baunya minta ampun, campur keringat juga aroma lainnya yang bikin muntah.
"Tuh dekat lemari. Aku lempar kesitu"
"Mas jahat amat. Itu guling kesayanganku mas"
"Bawel amat. Kamu peluk aku aja"
"Emang boleh?"
"Iya"
"Tapi jangan kenceng kenceng, soalnya aku tidur dinina bobok sama ibu, baru ibu pergi kalau aku sudah terlelap"
"Asik,,,"
"Huh,,," sungutku.
Benar saja, tanpa aba aba Angga langsung memelukku membuatku kaget bukan main tapi aku memilih untuk diam dan menenangkan hatiku yang berpacu. Aku senang karena Angga pengganti ibuku, walaupun kasih sayangnya beda. Namun, perasaanku menjadi tenang, hingga tak terasa mataku menjadi berat dalam pelukan sepupuku yang gagah.
___________
&&&&&&&&
Suasana sekolah begitu ramainya, bahkan didalam kelas pun begitu riuh, tak tau apa yang sedang terjadi?
Bunyi bel baru saja berbunyi hingga para siswa masuk kedalam kelas masing masing dan akan memulai pelajaran yang akan disampaikan guru bidang studi ataupun wali kelas masing masing...
Namun, hari ini guruku yang baik tidak berangkat karena ada urusan yang penting....
Seluruh siswa disuruh kelapangan oleh guru yang lain supaya kelas tidak ramai serta tidak mengganggu kelas yang lainnya, karena pasti menimbulkan keonaran.
Aku membawa uang pemberian ibuku kemarin, masih utuh karena aku agak malu karena tidak berani ke kantin sebab tidak mau uang yang diberi ibuku buat jajan masih tetap ku simpan. Aku memilih untuk pergi ke perpus karena memang itulah yang bisa ku lakukan sambil menahan rasa haus. Tapi, saat akan pergi ke kantin ada pengumuman kalau kelasku diharuskan menuju ke lapangan. Aku pun buru buru kesana. Karena semua murid yang dari kantin berlari kecil menuju kearah lapangan. Aku mengikuti dengan jalan agak tergesa menahan rasa haus.
Semua siswa dari kelasku sedang berkumpul dilapangan yang begitu luas, aku juga merasa heran, ternyata ada sekolah yang mempunyai lapangan yang begitu luas.
Ada guru olah raga yang sedang memperhatikan kami yang sedang berbaris....
"Semuanya, lari keliling lapangan sepuluh kali, setelah itu kalian boleh istirahat" seru seorang guru olah raga sebagai pembimbing serta memberi instruksi. Tubuhnya sangat atletis, tapi aku tak begitu memperhatikannya, aku memilih untuk membaur dengan murid yang lainnya. Aku sangat senang dengan perintah nya karena menurutku lari itu menyenangkan dan sangat ku sukai. Sudah lama aku tidak lari, tentunya bukan hal ringan untuk mereka yang tidak pernah lari yang mana harus keliling lapangan yang begitu luas sebanyak sepuluh kali putaran buat anak kota. Aku harus menahan rasa nyeri ku karena lukaku belum sembuh benar.
Aku hanya tersenyum dalam hati dengan hal itu terlebih nanti melihat para anak kota yang sombong itu pada tumbang. Aku bisa banyangkan apa yang bakal terjadi pada mereka jika tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan, pasti akan mendapat hukuman.
"Waktunya saya tentukan, jika dari kalian tidak ada yang bersungguh sungguh, maka akan mendapatkan hukuman. Mengerti,,,!" ancam guru olah raga tidak main main.
Sudah ku duga dari awal, senyumku makin mengembang, tapi aku tidak berani memperlihatkan pada yang lain, yang bisa ku lakukan tersenyum dalam hati saja.
"Ga, siapa nama guru itu? Keren juga ya,,," bisikku, sedari tadi aku tidak memperhatikan Angga karena aku sibuk dengan duniaku sendiri. Hal itu membuat Angga melotot kearahku. Sengaja ku cari Angga dari sekian banyaknya murid yang sedang berkumpul. Tidak sulit aku untuk menemukannya, sikapnya sudah tidak bisa dibilang lagi, cuek. Tapi aku berusaha untuk tetap tersenyum.
"Pak Surya jaya. Kamu jangan aneh aneh ya sama guru itu, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah kalau kamu nekad sama dia" jelasnya perihal guru olah raga, yang kini aku sudah tau namanya, pak Surya jaya, nama yang cocok dan pas dengan orangnya yang keren juga handsome. Sepertinya Angga tidak suka aku membicarakannya. Ada apa dengan Angga yang tiba tiba sewot gitu padaku, padahal aku cuma tanya serta memujinya, kalau memang dia itu orangnya keren. Apa salah?.
"Kamu kenapa Ga kok jealous gitu? Aku kan cuma muji guru olah raga kita. Emang beneran kalau dia itu keren dan ganteng" ulasku, bikin Angga tatapannya makin tak suka.
"Sudah, sudah,,, ya aku gak suka aja. Sudah jangan bahas guru itu lagi" balas Angga ketus karena Angga tidak suka kalau aku muji muji pak Surya jaya terus. Ada apa dengan Angga, aneh? Mendingan aku memilih untuk diam.
Guru membawa pengeras yang suara kenceng hingga semuanya bisa mendengar....
"Siapa saja nanti yang larinya sampai finish nomer satu akan saya beri hadiah uang tiga ratus ribu dengan catatan sesuai waktu yang ku berikan. Sanggup!" titahnya berapi api menatapi seluruh siswa dengan mata elangnya.
"Siap,,,!"
Seru seluruh siswa antusias. Tentu saja aku sangat bersemangat. Aku harus memenangkan hadiah itu, tapi sepuluh putaran dengan waktu yang telah ditentukan, itu bukanlah perkara yang mudah. Terlebih kondisiku yang kurang baik, tapi aku harus berusaha itu juga demi reputasi ku disekolah ini sebagai anak baru. Namun, aku harus berusaha untuk menang, dan aku akan membuktikan kalau aku mampu dan bisa.
"Bersiap,,,!. satu- dua- ti- ga....Mulai....!" teriak pak Surya lantang, memberi aba aba kepada seluruh siswa untuk lari.
"Hush,,,, mas Bening, hati hati ya" bisik Angga memperingati ku. Entah apa maksudnya? Namun aku harus waspada.
"Dengan siapa Ga?" tanyaku penasaran karena aku mulai berlari diantara anak yang lainnya.
"Sama Riko dan Raya, mereka- " suara Angga terputus karena desakan para siswa yang lainnya yang berdesakan untuk lari jadi yang pertama. Aku sedikit mengerti dengan pesan yang Angga berikan padaku, mungkin keduanya akan mencelakai ku, atau mungkin ada hal lainnya sehingga Angga memperingati ku begitu.
Dengan berhati hati aku berlari diantara antrian para siswa yang ingin jadi nomer satu.
Tak terasa sudah lima putaran kami berlari mengelilingi lapangan, jika tidak sampai sepuluh putaran tentunya akan mendapat hukuman dari pak Surya. Yang tersisa hanya beberapa anak yang masih kuat untuk berlari termasuk Angga dan Riko, tinggal 10 anak yang tersisa termasuk aku. Ku akui kalau fisik Riko cukup lumayan kuat, begitupun Angga walaupun terlihat letih serta yang lainnya sudah pada keletihan.
Namun, saat putaran ke delapan Angga sudah menyerahkan, Riko sudah ngos ngosan, sepertinya gengsi untuk menyerah dan masih tinggal 3 sepertinya mengalami hal yang sama dengan Riko. Aku masih kuat untuk lari dua kali putaran lagi, walaupun aku juga merasa keletihan juga haus namun tekadku sudah bulat untuk menenangkannya maka aku pun lari dengan kencang meninggalkan mereka bertiga sekuatnya untuk finish karena pak Surya sudah memberi aba aba.
Nampak Riko terlihat kesal karena aku dapat mengalahkannya. Katanya, selama ini, dia paling jago lari dan tidak ada yang mengalahkannya.
"Awas Lo Bening. Gue akan buat Lo menyesal!" ancamnya disela nafasnya yang ngos ngosan. Sebenarnya hadiah uang tiga ratus lima puluh ribu bagi Riko tidak ada artinya apa apa, tapi buatku itu bukan uang sedikit, tidak mungkin ibu atau ayahku memberi uang sebanyak itu, karena untuk uang jajan aku jarang dikasih karena buat untuk bayar SPP. Aku tidak peduli dengan ancamannya, karena selama ini Riko selalu mengancamku.
Syukurlah, akhirnya aku menyampai finish duluan, aku merasa haus, lelah pasti, aku duduk ditambah dengan menselojorkan kakiku. Pak Surya tersenyum bangga, tak menyangka kalau bisa menyelesaikan sepuluh kali putaran lari keliling lapangan bahkan waktunya belum habis aku sudah finish dulu.
Pak Surya mendekat kearahku, aku masih mengatur nafasku yang belum teratur karena lari keliling lapangan sepuluh kali itu tidak mudah...
"Selamat ya Bening, kamu luar biasa dapat mengalah Riko, karena selama ini tidak ada yang bisa mengalahkannya kecuali kamu. Apa kamu suka lari dikampungmu?" tanya pak Surya, tadi memujiku juga menanyakan tentang pribadiku, padahal hanya Bu Rara saja yang tau kalau aku berasal dari kampung, tapi kini pak Surya sudah tau, dari mana pak Surya mengetahuinya, atau Bu Rara yang menceritakan padanya, entahlah?. Pak Surya merogoh sakunya mengambil amplop warna kuning berisi uang yang sesuai dijanjikannya dari awal.
"Tidak pak, bahkan saya jarang lari. Saya hanya anak desa pak. Palingan cuma keladang atau kesawah, keseringan jalan kaki pak" balasku malu karena pak Surya tau keadaanku. Memang tak ada yang istimewa tentang kegiatanku selama ini, ketika aku masih dikampung dulu.
"Bapak suka anak yang jujur dan baik seperti kamu" ucapnya sambil tersenyum bangga. Aku tidak berani beradu pandang dengannya yang berkharisma. Aku memilih untuk menunduk atau mengalihkan tatapanku kearah lain.
"Ini minumlah. Kamu pasti haus,,," sodornya memberikan air mineral padaku. Aku merasa tak enak dengan yang lainnya karena aku terus diperhatikan. Bagaimana pak Surya seperti mengakrabkan diri terhadapku, hal itu membuatku tidak enak. Aku bisa melihat wajah iri mereka padaku dari tatapan mereka. Bahkan ada yang mencibir, jijik. Entah mengapa sikap mereka seperti itu?.
"Tidak pak" cegahku, pak Surya terlihat kecewa padahal aku merasa kehausan tapi aku tidak enak dengan siswa yang lainnya. Kenapa cuma aku yang diberi, tidak yang lainnya, siapa gitu?.
"Sudah, minumlah, kamu tidak perlu malu ataupun takut. Ini uang yang telah saya janjikan sejak awal. Terimalah"
"Terima kasih pak"
"Uang itu akan kamu gunakan untuk apa?"
"Saya tabung pak" balasku pelan. Mungkin akan ku gunakan untuk hal yang penting karena itu memang sangat penting buatku....
"Bagus itu. Kalian dengar itukan...! Kalian harus mencontohnya,,," seru pak Surya dan hal itu aku malah mendapat cibiran dari siswa yang lain.
Angga terlihat capek dan kehausan, keringat keluar banyak begitu pun Riko menatapku dengan rasa kebencian bahkan Raya selalu mencibirku juga yang lainnya masih saja mengunjingku.
"Huu,,, huuu,,,!" sorak yang lainnya.
"Huuuu,,, dasar gembel miskin. Uang segitu gak ada gunanya" teriak Raya dan itu mendapat respon siswa yang lain, membuat Riko tertawa penuh kemenangan bahkan mencibirku.
"Jaga sikapmu Raya. Bagaimana kalau hal itu terjadi padamu-"
"Ya gak mungkinlah pak, secara- Raya gitu loh,,," colotnya, penuh kesombongan, padahal yang dihadapi guru olah raga. Hal itu mendapat respon positif dari teman temannya membuat Raya tertawa bangga.
"Sudahlah pak, kenapa belain anak miskin macam dia. Bening itu gembel, gak pantas sekolah disini" seru Riko menatapku tajam dengan sikap tidak suka.
"Riko, Raya jaga sikap kalian. Itu perbuatan yang tidak pantas. Kalian harus saling menghargai, bukan malah mencibir" bentak pak Surya seperti tersulut emosi atas sikap mereka.
"Coba posisi kalian seperti Bening, kalian tau bagaimana rasanya?"
"Alah pak, miskin ya tetap miskin, gembel ya gembel" cerca Riko tak mau kalah membuat pak Surya cuma menggeleng saja.
"Sudahlah. Mungkin sudah nasib saya. Saya terima lapang d**a"
"Nah itu Lo nyadar, he he,,," Raya hanya tersenyum girang. Pun dengan yang lainnya ikutan sinis menatapku.
Angga yang sedari tadi didekatku hanya diam saja, tidak mungkin berani membelaku. Malah akan berakibat fatal jika Angga membelaku terang terang, secara Angga telah jadi anggota ganknya Riko dan menjadi pesuruh mereka.
Sebenarnya aku merasa kasihan pada Angga, tapi apa yang bisa ku lakukan untuk menolongnya. Toh, Angga pasti difasilitasi oleh Riko yang kaya itu, karena aku tau kalau Angga tidak pernah bawa uang, tapi bisa pergi ke kantin, makan, minum dengan gratis, siapa lagi kalau bukan Riko the gank yang mentraktirnya.
#bersambung...
Km 23 September 2021