tiga

1773 Words
Sekolah telah usai... Angga dan aku pulang dengan jalan kaki bersama karena tidak membawa uang lebih. Kami berdua tidak kekantin karena uang jajannya tidak ada karena aku tidak membawa juga. Mau naik angkot juga tidak mungkin. Sangat miris sekali hidupku dan ini sudah kisaran jam 12:00-an. Saat aku dan Angga sedang asik ngobrol, saat itulah ada mobil mewah melaju dengan cepat serta menyerempet ku juga Angga. Aku terjatuh dan terluka ditangan serta kakiku sakit. Selamat bagi Angga karena buru buru menghindari tapi tidak denganku yang nasibnya tidak baik. "Mas, kamu gak apa apa?" tanya Angga memperhatikanku sambil menolongku dengan mengulurkan tangannya. Lalu memapahku. Aku meringis kesakitan karena luka luka yang ku alami terasa perih. Ada noda di seragamku yang kotor. Rasanya aku ingin menangis, tapi malu karena aku sudah besar, kelas XI. "Lumayan" balasku datar. Meringis menahan nyeri sambil tertatih dibantu Angga yang hanya nyengir melihat noda darah dipakaianku. "Mobil siapa itu tadi Ga?" tanyaku tapi Angga cuma diam saja. "Gak punya mata apa, kalau ada orang sedang jalan. Padahal jalannya lebar" rutukku pada pengendara yang tadi bikin ulah. Ku lihat Angga hanya nyengir saja bahkan sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal. "Kamu tau siapa pemilik mobilnya kan, Ga?" cerca ku karena Angga hanya terlihat cengar cengir sedari tadi, kini hanya mengangguk lemah. Sudah ku duga kalau Angga pasti mengenalnya. "Riko dan dibelakangnya tadi mobil milik Raya" jelasnya menatapku ragu. Kenapa mereka sangat membenciku? Apa salahku pada mereka hingga hampir menabrak ku yang menyebabkan ku luka luka. "Kenapa mereka begitu jahat padaku?" keluhku sambil meringis menahan nyeri yang ku rasakan. Angga memilih untuk diam ketika aku sedang bersedih karena ulah Riko. Aku berjalan tertatih sambil meringis dan dipapah oleh Angga, rasanya ngilu. Rasanya aku gak kuat berjalan, namun aku paksakan untuk berjalan, karena jaraknya sampai kerumah masih agak jauh. "Mas, aku gendong ya. Kayaknya, mas Bening gak kuat" kata Angga. Aku hanya diam saja saat Angga meraih tubuh ku, di aturnya untuk digendong dipunggungnya yang lebar dan nyaman. Aku tau kalau Angga kuat terlebih tubuh nya bagus. Namun, masih bagusan tubuh Riko, kenapa aku malah kepikiran anak jahat itu? Akh, lebih baik aku mikir ke hal yang lainnya. "Apa yang mas pikirkan, Dari tadi cuma diam?" tanya Angga didepanku yang fokus jalan karena aku berada dalam gendongannya yang nyaman. Tak terasa akan sampai ke rumah karena aku melamun cukup lama. "Gak ada" balasku bohong, setelah menyadari aku terlalu banyak diam dalam gendongannya. Tidak mungkin aku jujur pada Angga kalau aku kepikiran sama Riko yang jahat itu. "Jangan bohong!" "Maksud kamu apa Ga?" "Ya, karena mas Bening, gak biasanya ngelamun" "Sudahlah Ga, gak usah bahas hal yang nggak penting" "Turun mas, capek. Udah nyampek" "Makasih Ga" Angga masih memapahku keadaan rumah masih sepi. Sepertinya Putri belum pulang, kata Angga biasanya pulang jam 3:30. Masih ku rasakan sakit menderaku. Aku buru buru masuk dan menahan rasa nyeri yang menderaku sekuatnya. Ingin aku cepat mandi dan menunaikan tugasku sebagai muslim, tak boleh ditinggalkan. Itulah bentuk pengabdian ku pada Tuhanku. "Mau kemana mas?" tanya Angga keheranan karena aku seperti memiliki kekuatan baru. ku tak pedulikan Angga yang melongo keheranan melihat tingkahku. "Kamu Kesambet ya mas" imbuhnya lagi. Aku tak peduli ocehan Angga, aku langsung masuk ke kamar mandi serta langsung mandi. Walaupun, ada rasa perih saat ku guyur tubuhku. Aku juga tak lupa mencuci pakaianku biar bersih dari noda darah yang sudah mengering. Beberapa saat selesai, aku pun ganti baju dan sholat dikamar. Agak lama... Angga tak kelihatan batang hidungnya dikamar, mungkin diruang tengah sedang nonton tv atau kemana? Setelah selesai sholat dan ganti pakaian bersih Angga masuk ke kamar menatapku agak heran. "Gak mandi Ga. Kamu belum sholat kan?" ingatku padanya, ku lihat Angga tak bersemangat. "Ga ada yang perlu ku tanyakan padamu-?" "Tentang apa mas?" kini Angga duduk ditepi bad, menatapku sejenak, sembari menghela nafas lirih. "Kamu mandi dulu. Cepat sholat. Nanti saja setelah kamu selesai mandi" "Iya,,, Bawel" sungutnya. Aku hanya tersenyum meringis karena lukaku terasa perih dan nyeri... "Lukamu perlu di kasih anti septik biar tidak infeksi dan diperban" "Aku bisa sendiri. Kamu mandi dulu, sana,,," "Baiklah" Angga cuma bisa pasrah mengambil handuk yang tadi ku pakai dan pergi mandi. Sesaat kemudian, Angga keluar dari kamar mandi, aku sudah rebahan dengan santai. Tubuh Angga cukup bagus dan atletis, terpahat sempurna untuk ukuran anak seumuranku, tetap saja pesona Angga masih kalah jauh dengan Riko sekalipun Riko seorang bad boy yang membullyku. "Gimana lukanya mas Bening, sudah dikasih anti septik belum?" tanyanya berdiri didekatku, tentu saja pikiranku jadi aneh. "Belum Ga. Lagian, aku gak tau dimana letak p3k-nya?" "Tadi dibantu gak mau" sungutnya sepertinya kesal padaku. Sepertinya menyalahkan ku karena aku menyuruhnya buru buru untuk mandi, malah kini aku yang repot sendiri, terlebih Angga hanya memakai handuk melilit di pinggang kokohnya mencari kotak P3k untukku. Letaknya diatas lemari... Aku melihat punggung kokohnya saat mengambil kotak. Ketiaknya ada bebuluan yang tidak begitu lebat, membuat anganku melambung, karena aku masih rebahan, menatapnya, santai. Angga mendekatiku dengan tersenyum... "Sini aku bantu" "Makasih Ga. Hsh,,, adaw,,, pelan pelan, nyeri tau" saat Angga tanpa aba aba memberi anti septik ke lukaku, rasanya perih bukan main. "Manja. Tahan dikit. Maaf mas Bening" ucapnya tanpa dosa malah nyengir, tadi lututku kini beralih ditangan ku. Aku bisa mencium aroma sabun serta shampo yang dipakainya terlebih rambutnya yang masih lembab. Aku pun terpejam saat nyeri menyergapku ketika rasa nyeri dari lukaku terasa serta merambat ke syaraf dan menyebar disekujur tubuhku. Aku menahan untuk sejenak hingga berangsur menghilang. "Sudah selesai. Kayak apaan mas ekspresi mu. Kayak diperkosa saja mas, hadeh,,," "Emangnya kamu pernah n*****t sama cewek?" "He he he Belum" gelengnya, jujur dengan cengiran khasnya. Dasar otak m***m. "Lha kok tau ekspresi orang yang sedang diperkosa?" "Ya liat di film film blue fantasi (BF)-lah mas" akunya, kembali dengan nyegir. Huh, dasar otak kotor. Beberapa kali ku umpat dia dalam hatinya. "Kan kalau diperkosa ekspresinya kayak kamu tadi mas" imbuhnya. Ingin rasanya aku gemplang kepala yang isi otaknya ngeres. "Angga,,, dasar OMES ya kamu" teriakku dongkol. Angga malah tertawa girang, berhasil mempermainkanku. "Aku cowok Angga, bukan cewek" "Tapi, mas Bening manis, ngegemesin gitu" balasnya dengan senyum m***m. Hadeh, dasar ya si Angga makin menjadi. Seakan aku memberinya peluang untuk pikirannya yang jorok jorok. "Aku gampar ya nanti. Udah sholat sana. Coba lihat jam berapa sekarang, waktunya hampir habis Ga" suruhku, sambil teriak teriak padanya. "Iya, bawel amat, kayak cewek. Huh,,," sungutnya mencari sarung serta baju, bahkan tak peduli melepaskan handuknya membelakangi ku. Bisa ku lihat bokongnya yang sekel, menggoda. Buru buru ku mengalihkan pandanganku , karena aku tak mau melihat ke-omes-an Angga yang sepertinya memancing mancing ku. "Assalamu 'Alaikum" terdengar salam dari luar, sepertinya Putri sudah pulang. Buru buru aku kedepan, karena Tak enak dikamar walaupun badanku rasanya capek. Sambil menyambar buku buat belajar sepertinya besok akan ada ulangan harian dadakkan. Untuk antisipasi karena aku tau betul watak guru guru sekarang karena sudah ada buku LKS untuk pegangan murid. Jadi murid disuruh belajar sebentar, lalu dijelaskan sebentar, kemudian ulangan setiap hari, disemua mata pelajaran. "Waalaikum salam. Udah pulang Putri?" tanyaku hanya tersenyum kearah sepupu perempuanku. "Iya mas capek. Banyak kegiatan disekolah. Lagian, aku kan jadi anggota OSIS mas, jadi ya sibuk gitu dech" balasnya, terlihat wajah lelahnya lalu masuk ke kamarnya. Aku duduk diruang tengah sambil belajar karena aku tak ingin nilaiku jelek. Aku bisa makin malu karena aku miskin, bodoh lagi, aku tak bisa membayangkan hal tersebut terjadi padaku. Untuk masuk disekolah ini, mungkin ada yang main sogok untuk bisa masuk disekolah elite ini buat orang tajir. Aku tidak mau hal itu terjadi serta menjadi racun buatku. "Mas makan yuk, aku sudah lapar nih" ajak Angga memakai kaos biru pendek serta celana pendek selutut. "Sekalian sama Putri, Ga. Pasti belum makan juga" "Kalian makan duluan. Tadi disekolah udah makan" seru Putri dari dalam kamarnya karena Putri jarang sekali keluar kamar kalau pulang dari sekolah karena aktivitasnya yang padat. "Kamu dengarkan mas Putri tidak mau. Ayo makan, lapar nih" "Iya, iya sabar" aku meletakan buku pelajaranku dimeja, lalu pergi ke dapur untuk makan siang walaupun ini beranjak sore bersama Angga. Setelah makan, aku dan Angga keruang tengah kembali sambil nonton tv, tapi aku lebih fokus pada buku pelajaran ku karena sudah jadi prioritas ku. "Kamu gak belajar Ga. Besok ada ulangan harian dadakan lho" "Kata siapa mas. Ada ada aja?" Angga cuma geleng geleng kepala sebagai tanggapannya seakan aku membohonginya. "Terserah kamu. Aku sudah memperingati kamu Ga. Kalau ada ulangan kamu jangan minta bantuanku. Nghhmmmm,,, apa nunggu ulangan dulu baru belajar, Ga?" "Males mas!" balasnya enteng, malah keasikan main hp. "Kamu sedang ngapain Ga?" tanyaku karena Angga terlihat begitu serius dan antusias memainkan hp androidnya. "Main game online mas. Lagi seru nih. Jangan ganggu!" celutuknya, terusik denganku. Emangnya aku pengganggu ya. Dasar ya Angga. "Memangnya main game online apaan Ga sampai segitunya?. Mana rumah sepi, paman sama bibi belum pulang juga orang tuaku. Pada kemana mereka? Sudah sore begini belum pulang?" gumamku pada diriku karena terlalu keasikan dengan game online sampai lupa kalau aku ada didekatnya dengan perasaan kesal. "Yah kalah. Anjir, team g****k!" sungutnya, sepertinya kalah dan lagi marah marah karena kalah. "Ga, aku mau tanya satu hal sama kamu. Apa benar kamu ikutan gank-nya Riko?" tanyaku diujung kekalahan Angga yang terlihat penuh sesal. Mata Angga sesaat membesar, mungkin terkejut mendengar pertanyaanku karena tau tentang hal itu. Atau aku telah kelepasan karena aku tau tentang satu rahasian tentang Riko dan ganknya. "Mas tau dari mana? Atau, jangan jangan yang dikejar kejar itu mas, karena mengintip kegiatan kami" katanya, tanya balik padaku. Aku hanya mengangguk pelan karena tak mungkin aku menutupi terus apa yang pernah ku lihat digudang itu kalau sebenarnya yang mereka kerja itu aku. Kini, aku sudah mengaku kalau itu aku, karena yang mengetahui cuma Angga karena yang ku tau Angga tak mungkin akan melaporkan serta mengadukan hal itu pada Riko. Aku tak tau nasibku kedepannya jadi seperti apa? Aku tak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Nasibku kini tergantung dari kejujuran Angga. Tentu saja hal itu membuat Angga tak percaya menatapku karena aku sudah tau tentang rahasianya. "Ga, kalau menurutmu itu baik, ga apa apa, tapi kalau hal itu merugikanmu buat apa kamu ikutan mereka?" "Aku tak bisa menolak mas. Tentu aku akan di bully habis habisan sama Riko the gank kalau aku tidak bergabung. Mas tau sendiri kan gimana Riko?". "Aku tau. Mungkin sulit untuk keluar dari gank mereka?". Kamipun sama sama terdiam karena tak tau harus berbuat apa? Solusinya pun tak ada karena melawan Riko the gank sama saja bunuh diri, karena Riko yang sikapnya arogan juga temperamental dan tak segan segan untuk berbuat jahat serta sangat s***s karena Riko sangat berkuasa disekolah elite. #bersambung... Sl 21 September 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD