bc

Target

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
dark
badboy
bold
city
like
intro-logo
Blurb

Demi podcast investigasi, langkah pertama yang harus diambil Aluna adalah menyusup di kalangan elit, untuk menemui sang target, seorang narasumber yang sedang menjadi trending topik saat itu. Suasana yang tidak biasa membuatnya salah langkah dan terpaksa mencium Raka untuk pengalihan. Satu ciuman yang membuatnya terjebak ke dunia asing, bersama seorang target berbahaya, pembunuh bayaran, yang membuatnya tersadar jika ia harus segera menjauh! Namun, tatapan dan sentuhan Raka yang sudah menjadi candu, membuatnya harus berdiri diantara dua pilihan, menyerahkan Raka ke pihak yang berwajib dan menghancurkan hatinya, atau justru mempertahankan cinta terlarangnya meskipun berujung kematian?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Bilik Panas
"Maaf, selain tamu undangan dilarang masuk," cegah seorang penjaga berpakaian serba hitam, saat Aluna hendak masuk ke ballroom hotel berbintang, di acara pesta kaum elit yang juga dihadiri oleh para artis ternama itu. Senyum Aluna merekah. Dengan sedikit gemetar ia menunjukkan sebuah tiket berwarna keemasan, ke hadapan pria itu. "Apakah ini yang Anda maksud?" tanya Aluna, dengan jantung berdebar kencang. Ia mendapatkan tiket itu secara kebetulan di lobby. Rupanya sang pemilik tanpa sengaja menjatuhkannya. "Oh, benar. Silakan masuk," jawab pria itu, yang seketika merubah raut wajahnya menjadi lebih hangat dan ramah. Aluna tersenyum lega. Ia pun lantas melangkah masuk sembari bersiul pelan. "Target utama, Hilman Caraka, pengusaha muda yang gosipnya menjadi sugar daddy," gumam Aluna, bicara sendiri, sembari mencari sosok yang ia maksud, diantara kerumunan para tamu. "Aku harus menemui dan merayunya untuk podcast investigasi, besok." "Itu dia!" teriak seseorang dengan suara tertahan, yang cukup di dengar oleh Aluna. Gadis itu pun sontak menoleh ke arah belakang dan terkejut saat melihat penjaga yang menegurnya di pintu masuk tadi. "Dia tidak punya tiket masuk!" ucap pria itu sembari menunjuk ke arah Aluna. "Gawat!" desis Aluna. Buru-buru ia melangkah cepat, menjauhi pria itu untuk mencari tempat persembunyian. "Sepertinya disini cukup aman," gumam Aluna, yang lalu bersembunyi di sudut gelap, di belakang panggung, diantara untaian kain lebar yang menjuntai ke bawah, dekorasi panggung megah itu. "Kemana dia?" desis seorang pria. "Cepat cari, jangan sampai lolos!" Suara derap kaki yang berlarian beradu dengan degup jantung Aluna. Ia tidak menyangka jika ternyata mereka tahu bahwa tiket itu bukan miliknya. Setelah beberapa saat berlalu, tempat itu kembali sunyi. Pelan dan takut-takut, Aluna keluar dari persembunyiannya dengan kedua tangan yang gemetar. Setelah memastikan kondisi, ia pun nekat memutuskan untuk pergi dari tempat itu. "Hampir saja ...," desis Aluna. "Demi podcast, aku sampai berkeringat dingin begini." Aluna berlari kecil, mencari pintu lain, tempat para tamu keluar. Namun ia berhenti seketika saat melihat penjaga tadi tengah berdiri siaga disana. Aluna mengumpat dalam hati. Terpaksa ia masuk ke salah satu bilik toilet umum, dan berdiam diri disana sembari memegangi pintu dengan jantung yang berdebar. "Ah ...! Siapa kau?" teriak Aluna dengan suara tertahan, saat melihat pemuda tampan, tengah berdiri menatapnya dalam diam. Raut wajah pria itu terkesan dingin dan angkuh, tatapannya tajam menyelidik. Jarak mereka begitu dekat. Aluna mengumpat dalam hati karena tidak melihat keberadaan pemuda itu saat masuk. "Kau tidak lihat disini ada orang?" hardik pemuda itu, yang membuat wajah Aluna seketika merona. "Kenapa nggak dikunci pintunya?" ucap Aluna, pelan. "Kau ti–" "Periksa semua bilik!" Teriak seseorang, yang cukup membuat keduanya terdiam dengan wajah pias. Aluna mengusap kasar wajahnya, sementara pemuda itu terlihat sedang berpikir keras, sembari menatap ventilasi udara pada dinding. "Gimana ini? Mau lari kemana lagi?" gumam Aluna, panik. "Bisa diam tidak?" hardik pemuda itu dengan suara tertahan. "Hey, kau juga lagi sembunyi? Nggak punya tiket undangan?" Aluna memicingkan kedua matanya, menatap wajah pemuda itu penuh selidik. "Diam!" desis pemuda itu jengkel. Dahinya berkeringat, sementara raut wajahnya terlihat panik. "Sepertinya ada orang disini, Pak!" teriak seseorang, tepat di depan bilik, tempat mereka bersembunyi. Pemuda itu mendecak kesal, ia menatap gusar pada Aluna, sembari meraba sesuatu dari balik jas hitam yang dipakainya. Melihat situasi yang semakin genting, tanpa pikir panjang Aluna menarik wajah pemuda itu lalu menautkan bibir, sembari berbisik pelan, "Ini cuma akting, ikuti saja!" Dan ketika pintu dibuka perlahan dari luar, keduanya kini sedang dalam posisi intim. Berpelukan erat sembari berciuman. Ruangan seketika sunyi. Pintu bilik tertutup perlahan. "Kenapa?" tanya seseorang. "Hanya pasangan m***m yang tidak punya modal untuk menyewa kamar hotel," jawab seseorang yang lain. Tak lama beberapa pria itu pun keluar. Ruangan kembali sunyi, menyisakan suara desah napas sepasang anak muda yang sepertinya sedang terhanyut dalam sandiwara yang mereka buat sendiri. Hingga akhirnya Aluna tersadar. Ia pun mendorong pelan tubuh pemuda itu dan menatapnya sayu. "Sudah cukup, mereka sudah pergi," ucap Aluna. Pemuda itu terdiam dan menatap Aluna dengan tatapan aneh. Ia tidak menyangka akan bertemu gadis cantik yang berani dan senekat itu menciumnya. "Kenapa menatapku seperti itu?" tegur Aluna, dengan perasaan jengah. Wajahnya memerah. "Nyaris!" desis pemuda itu. "Untung saja kau pintar!" Aluna tersenyum jumawa sembari memuji diri sendiri, mengakui jika dirinya memang pintar dan mampu berpikir cepat disaat yang genting. "Keluar!" desis pemuda itu, mengusir Aluna. "Nggak mau, takutnya mereka masih belum pergi," jawab Aluna, enteng. Namun kedua matanya seketika terbelalak lebar saat melihat sosok lelaki yang meringkuk diam, di sudut bawah, tepat di samping WC. Terlihat noda merah di bagian d**a, dan Aluna baru menyadari jika bilik itu sedikit beraroma anyir. "K-kau ...?" Aluna menatap ngeri. Cepat ia mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar sosok itu, namun ditepis kasar oleh sang pemuda. Beruntung ponsel itu tidak sampai terlepas dari tangan Aluna. "Lancang!" bentak pemuda itu, yang kini berusaha merebut ponsel Aluna. "Hapus, atau nasibmu sama dengannya!" ancamnya. Tanpa sadar gerakannya justru memperlihatkan senjata api berukuran kecil, yang terselip dibalik jasnya. Mulut Aluna terbuka lebar saat mengetahuinya. Dalam sekejap alarm di dalam benaknya berbunyi nyaring. Bahaya! Merasa tidak aman, Aluna membuka pintu bilik dengan cepat lalu berlari keluar dengan perut yang terasa mual. "Asem! Gue ciuman sama pembunuh, tepat di depan mayat, anjir!" gerutu Aluna sembari mengusap bibirnya saat berlari ke arah luar ballroom. Ia tidak peduli lagi pada para penjaga yang ia sangka sedang mengejarnya. Yang ia tahu, ia harus secepatnya menghilang dari tempat itu. "Berhenti!" teriak pemuda itu, yang kini berlari mengejarnya dengan mengenakan topi hitam dan masker berwarna senada. Tiba di basement, Aluna segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya cepat, pergi dari tempat itu, tanpa melihat lagi ke arah sang pemuda, yang kini mulai menyalakan motor sembari menatap tajam pada mobil Aluna. "Gawat! Tidak! Papa, mama, tolong selamatkan anakmu ini," teriak Aluna di dalam mobil. Ia begitu panik hingga nyaris menabrak kendaraan lain saat di jalan. Aluna berhenti mendadak ketika ponselnya berdering. Seseorang menghubunginya. "Nadya!" desis Aluna, saat melihat siapa yang sedang menghubunginya saat itu. "Hey, Nad, please ..., buruan tolong aku, aku la–" "Luna, aku salah kirim foto! Astaga, yang aku kirim itu foto buron, dan sekarang dia lagi ada di hotel itu juga. Apa kamu aman? Namanya Raka Wicaksana!" Nadya bicara cepat tanpa mendengar ucapan Aluna, yang kini tengah terdiam dengan perasaan kacau. Gadis itu buru-buru membuka galeri dan menatap foto yang sudah dikirim oleh Nadya, sahabatnya, sesama konten kreator. Aluna menelan saliva dengan susah payah. "Kamu yakin dia buron?" tanyanya. "Iya, kamu bisa lihat, semua lagi tayangin secara live, acara pesta itu. Kamu lagi dimana ini, Lun?" Aluna memejamkan matanya sembari menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tanpa sengaja ia telah masuk dalam lingkaran hitam sang pemuda itu. Tubuhnya seketika lemas. "Luna, are you oke? Apa semuanya aman? Ngomong, Lun, jangan diam saja! Please, aku khawatir banget sama kamu!" Aluna menghela napas panjang. Mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur. "Aku tidak aman, Nad," jawab Aluna, dengan suara pelan. "Aku ketahuan, dan buronan itu saat ini ada di sekitarku." "Apa?" teriak Nadya panik. "Please, deh, jangan bercanda!" "Aku serius, Nad, dan asal kamu tahu, tadi aku ciuman sama dia!" "Apa?" Aluna tertawa sumbang. Tak dihiraukannya lagi celoteh Nadya yang kini terdengar panik dan histeris. Ia harus segera pergi, karena Raka tengah mengejarnya. Ia yakin, setelah ini hidupnya tidak akan nyaman lagi, setelah melihat perbuatan Raka, yang diperkuat keterangan dari Nadya tentang sosok pemuda itu. "Asem!" teriak Aluna, saat melihat Raka memukul kaca jendela mobil, di sampingnya. Seketika wajahnya memucat. "Keluar!" teriak Raka. Tangan kanan pemuda itu kini menggenggam senjata api kecil, yang diarahkan tepat ke wajah Aluna. Dengan sangat terpaksa, Aluna membuka pintu mobilnya perlahan, lalu keluar sembari mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Sabar, Bro, jangan main tembak gitu aja, aku masih belum nikah, nih!" celoteh Aluna, dengan wajah panik. "Tinggalkan mobil, ikut aku!" perintah Raka. "Jangan dong, ini mobil kesaya–" Aluna tidak mampu melanjutkan ucapannya, saat melihat tatapan tajam Raka. "Punya SIM apa tidak? Parkirmu jelek!" gerutu Raka, tanpa disangka-sangka. Aluna ternganga.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook