Isotonik

652 Words
Satu minggu sejak pertemuan kami di danau membuat hubunganku dengan Irgan semakin lengket saja. Lelaki itu benar-benar menepati janjinya, sekarang Irgan tak bersikap dingin padaku bahkan cowok itu sangat perhatian denganku. Mengabaikan Irgan, kini aku kelimpungan mencari kabar Keler. Seolah berganti posisi dengan Irgan, kakak kelasku itu bersikap dingin dan bahkan sekarang tak pernah ada kabar. Aku tahu jika ujian sekolah itu sangat penting, tetapi sehingga membuat orang lain gelisah juga tak wajar. Bahkan sekarang dengan perlahan berusaha melupakan Kerel dengan segala kenangannya. Yang harus kulakukan hanyalah menjadi penyemangat bagi Irgan memberikan hatiku sepenuhnya untuk lelaki tersebut. Hawa panas dari terik matahari merambat masuk kedalam kelasku, maklum walau kelas kami terkenal dengan muridnya yang pintar-pintar bukan berati fasilitas yang disuguhkan juga mewah. Kepala sekolah disini terkenal adil dalam berbagi, jadi alhasil kami kepanasan saat siang hari. Berjalan keluar kelas mencoba mencari angin dari pohon rindang yang tertanam di depan kelas. Mengamati sekeliling dan berakhir mendapati Irgan yang tengah bercanda gurau dengan sahabatnya. Tiba-tiba Irgan menoleh ke arahku, aku gugup di tatap seperti itu dengan senyum yang terbit di bibir tipisnya. Dengan ragu-ragu kubalas senyumnya. Tetapi aku langsung berlari kedalam kelas, mengatur degup jantungku yang berirama tak wajar. Senyumku mengembang, mengingat senyumnya yang selalu membuatku terbang keawan. Irgan dengan pesonanya mampu menjungkir balikan hatiku. Dia cinta pertamaku dan kenangan terindahku. Aku bahagia sangat bahagia memiliknya di dalam hidupku. Berharap Tuhan tak akan memisahkan kami untuk yang kedua kalinya. Aku mencintaimu Irgan, sangat mencintaimu. _________________ Menatap ke langit penuh dengan bintang, menghiasi rembulan yang nampak terang dengan cahayanya harus ku katakan malam ini adalah pelengkap hatiku yang sedang berbunga-bunga. Aku kesusahan mengatur jantungku yang berdetak hebat kala mengingat Irgan. Desiran-desiran hangat menyapu hatiku yang dulu pernah membeku perlahan mulai mencair karena perilakunya yang begitu mengistimewakan ku. Di teras depan rumah ku hirup angin malam yang mulai merambat dingin menyentuh kulit. Menatap ponselku yang bergetar di meja menampilkan nama Irgan yang mengirimku satu pesan. Aku tersenyum, membaca pesannya. Jangan senyum-senyum sendiri. Bagaimana dia bisa tahu aku yang sedang senyum-senyum sendiri membayangkannya. Sudah gila memikirkan semuanya, aku benar-benar jatuh cinta dengan lelaki itu. Akhirnya aku memilih membalas pesannya Bagaimana kau bisa tahu? Aku berada di depan rumahmu, tolong buka pintu gerbangnya Mataku menatap kearah gerbang, benar saja nampak terlihat bayangan seorang lelaki. Aku berlari kecil menuju gerbang dan membukanya, hatiku menghangat melihat seseorang yang tengah berdiri menatapku. "Ada apa?" Tanyaku, Irgan memberikanku kantong kresek yang entah apa isinya "Ini apa?" Kataku mengamati kantung kresek berwana hitam "Lihat saja." Katanya, aku langsung membukanya dan tersenyum kearahnya ketika melihat apa yang dia berikan padaku. "Minuman isotonik?, Aku tidak sedang kekurangan energi Irgan." Jelasku, bukan berarti aku tak menerima pemberiannya hanya saja terlihat aneh malam-malam seperti ini meminum minuman isotonik. "Untukmu besok, agar kau bersemangat menjalani hari-harimu." Aku mencebik, lalu memukulnya karena gemas. "Kau ini ada-ada saja." Dia hanya tersenyum menanggapi lalu pamit ingin pulang "Jadi kau hanya mengantarkan ini saja?" godaku, Irgan mengangkat kedua alisnya seolah bertanya "Apa masih ada yang kau inginkan?" Aku mengangguk. "Apa?" Katanya dengan cepat "Jaga hatiku Irgan, kumohon jangan berubah." Lelaki di depanku menyisir rambutnya yang mulai memanjang. Lalu menjawab "selalu Karina, hatimu adalah miliku dan hatiku adalah milikmu. Aku tak ingin melukai miliki sendiri." Aku tersenyum lalu memeluknya, membuat Irgan yang tak siap tersentak namun ia tetap membalasnya penuh kehangatan. "Ini sudah malam, masuklah." Perintahnya lalu melepas pelukan kami. Aku cemberut, tetapi cowok itu justru menempelkan bibirnya dengan bibirku.  Sontak aku terkejut dengan serangannya yang mendadak tetapi tetap menikmati. "Masuklah." Perintahnya penuh penekanan. Aku mengangguk sembari memeluk kantong kresek yang berisi minuman isotonik tersebut "Hati-hati dijalan Irgan." Ia hanya tersenyum tipis menanggapi dan mengangguk samar lalu tangannya melambai seolah mengusirku. Tak ingin membuatnya marah kakiku akhirnya melangkah menjauhi Irgan dan menutup pintu gerbang. Sembari memeluk erat minuman isotonik yang ia berikan Aku hanya berharap semoga Irgan adalah pelabuhan terahkirku. Aku tak ingin mencari dan menemukan siapapun lagi, hanya itu yang kuharapkan. Sepenuhnya aku ingin menggantungkan harapan dan cintaku padanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD