Les Chester

1339 Words
Aku menikmati waktu bersama Flint dan Ed. Ginger beer yang Flint tawarkan rasanya memang tidak senikmat whisky dan wine koleksi keluargaku. Namun kebersamaan dengan mereka, membuat rasanya jauh lebih nikmat. "Sebentar lagi makan malam. Ayo kita bersiap," ajak Ed dengan semangat. "Aku akan mandi dulu," sambutku dengan riang. Belum sempat aku bergegas ke permandian umum bersama mereka. Ruben dan Ron muncul. Wajah mereka tampak serius dan meminta untuk mengikuti kedua guruku. Dengan sedikit kecewa terpaksa aku pergi. Kami menuruni lantai bawah dan masuk ke ruangan yang berada dekat tangga naik. Ketika tiba di dalam, sekumpulan orang dewasa telah duduk dan seperti menunggu. Jajaran kursi tiga baris tertata di sebelah kiri dan kanan. Sementara di panggung yang mirip dengan podium tampak meja besar panjang dengan tiga kursi tinggi. Tempat apakah ini? Semua yang hadir memakai jubah biru tua. Bahkan Hugo, Albert dan Wolf. "Duduk di sini," pinta Ruben pelan. Aku mendekati kursi di tengah ruangan dan duduk dengan hati tidak tenang. Posisiku menghadap panggung di mana ada dua pria dewasa dan satu wanita berambut putih keperakan duduk berdampingan. Ruben dan Ron mengambil kursi dan duduk di sebelah kanan dan kiriku. "Pentagram Bennet!" seru pria tua berkepala botak yang berada di tengah jajaran kursi tinggi di hadapanku dengan lantang.  "Ya, Pak," jawabku dengan kepala tegak. "Selamat datang di Les Chester Academy. Senang melihatmu akhirnya bisa kembali ke tempat ini," ucapnya berubah menjadi sangat ramah. "Terima kasih," jawabku singkat. "Hari ini kita semua hadir di ruangan sidang sekolah, bukan untuk menghakimi, namun mendengar kabar dan perkembangan dirimu." lanjut lelaki tua itu dengan suara bulat dan dalam. Aku bahkan baru mengerti jika ruang sidang sekolah terlihat seperti ini. "Kami memahami jika usiamu masih muda. Namun kewajiban yang kau tanggung melebihi semua yang berada di ruangan ini," wajahnya berubah menjadi prihatin. Aku tidak memahami arti kewajiban yang ia maksud. Setahuku, aku hanya disingkirkan dari dunia dan tetap tersembunyi karena sebuah pagan Osirus memburuku. "Apakah kamu sudah mengetahui semua yang terjadi?" tanyanya. Semua mata tertuju padaku. "Ya, saya sudah mengetahui tentang perburuan Pagan Osirus yang mengincar keberadaan saya," sahutku. "Tahukah dirimu, untuk menghindari engkau harus tetap tak terlihat?" tanyanya kembali. Aku mengangguk. "Ya, saya tahu," jawabku kemudian. "Bagus, kelima pelindungmu telah melakukan tugas dengan baik. Sekarang, kewajibanmu adalah ...," "Tunggu," potongku dengan cepat. Pria tua itu tampak terkejut namun memberi isyarat untukku melanjutkan. "Aku tahu tentang keberadaanku yang membahayakan dunia manusia. Tapi mengenai kewajiban, aku tidak pernah merasa ada kewajiban selain terus berlari menghindar," ucapku dengan lancar. Entah dari mana aku mendapat keberanian berbicara di depan manusia sekian banyak. "Mr. Watts? Mr. Baker?" sahut pria yang sepertinya bertindak sebagai pemimpin sidang dengan wajah bingung. "Ya Mr. Wester, kami memang belum memberitahu tentang kewajiban Pentagram Bennet karena usianya belum mencapai tujuh belas tahun. Keputusan Bennet untuk memikul tanggung jawab sebagai penerus Rupert dalam memimpin Pagan Fratrem tidak bisa kita paksakan. Bennet masih terbilang anak-anak," jawab Ruben dengan mantap. Kedua rekan pria yang duduk di sebelahnya terlihat terkejut. Sedangkan hadirin yang duduk di barisan bangku kanan dan kiri tampak hanya menjadi pengamat. "Bukan itu yang disepakati saat kita bertemu empat belas tahun yang lalu. Untuk mengukuhkan pagan kita, Pentagram Bennet harus menjadi pemimpin supaya pagan kita terlindungi!" bantah pria yang bernama belakang Wester tersebut. "Aku menghormati keputusan Rupert, buyut dari Pentagram. Tapi untuk menyanggupi atau tidak masih menjadi hak Pentagram sepenuhnya NANTI!" tukas Ruben tegas. "Ruben, pagan Fratrem berjuang untuk melindunginya selama ini, dan sekarang kau menyatakan akan memikirkan? Lalu kenapa kamu membawa dia kembali?" tuntut Wester mengajukan pertanyaan menyudutkan. "Pentagram masih belum cukup umur untuk memutuskan bergabung sebagai anggota Fratrem atau tidak. Keputusan kami memilih Les Chester sebagai tempat berlindung, karena sekolah ini adalah milik Rupert Bennet, kakeknya, dan ia berhak bersekolah di sini tanpa harus terikat oleh pagan kita!" sanggah Ruben kembali. Aku terkejut. Les Chester milik keluargaku? "Aku tidak mengerti jalan pikir kalian berlima. Fratrem adalah Bennet, dan Bennet adalah Fratrem. Itu sudah berlangsung ratusan tahun. Kenapa kalian mengubahnya? Apakah Osirus telah meracuni kalian?" tuduh Wester dengan sinis. "Demi Tuhan, Wester! Hentikan omong kosong ini! Tidak bisakah kita membiarkan Pentagram menikmati hidup normal? Empat belas tahun dalam keterasingan jauh dari peradaban. Sekarang kalian menuntutnya untuk segera memikul tanggung jawab?!!" pekik Hugo kali ini memberikan suara. Wester terdiam. Kedua orang yang duduk di sebelah kanan dan kirinya membisikkan sesuatu. Ketiganya terlibat pembicaraan serius. Aku merasakan tekanan yang berat dalam situasi saat ini. "Baik, semua yang hadir. Kami memutuskan untuk sementara sidang ini kami akhiri.  Ada yang perlu kami luruskan dengan kelima pelindung Pentagram Bennet. Terima kasih dan selamat malam," pungkas Wester mengetuk palu tiga kali. Serentak ketiga pemimpin sidang berdiri dan meninggalkan ruangan. Aku merasakan tatapan tajam dari wanita berambut putih perak sebelum berlalu dari ruangan. Dagunya yang lancip dan matanya yang naik seperti mata kucing terlihat mengerikan. Satu persatu meninggalkan ruangan tersebut kecuali kami berenam. Aku masih mematung di kursi dan menatap simbol segitiga dengan mata yang besar terlukis di tembok. "Itukah simbol Fratrem kalian?" tanyaku dengan pelan. Semua terdiam tidak menjawab. "Bennet, tentang kewajiban tadi, tidak ada satu pun yang harus kamu putuskan saat ini," seru Albert dengan suara datar. "Maafkan kami yang belum mengatakan dari awal," lanjut Hugo terlihat bersalah dan paling tertekan. "Aku ingin hidup sebagai manusia normal selama tiga tahun. Sebelum mencapai usia tujuh belas tahun, bisakah kita tidak mengungkit apa pun tentang kemampuanku?" pintaku dengan tegas dan tajam. Mungkin dorongan yang begitu besar untuk memiliki hidup yang kuinginkan, membuatku melontarkan permintaan tersebut. "Ya, bisa. Kami akan memastikan itu akan terjadi," janji Ruben. "Pasti, pasti ...," ulang Hugo dengan raut setuju. Ron juga Albert tersenyum. "Jiwa pembangkangmu mirip dengan Esther," cetus Wolf yang biasanya terdiam. Aku tersenyum dan sangat lega. 'Ibu ... kapan aku memiliki waktu mengenalmu?' batinku tiba-tiba. "Ayo, kita bersantap. Waktunya makan malam!" ajak Ron memecah suasana kikuk yang menyelimuti. Kami mengangguk dengan semangat, terutama diriku. Albert memimpin langkah meninggalkan ruang sidang k*****t itu. *** "Bennet!" panggil Flint dari jauh. Aku melambaikan tangan dan Ruben menepuk bahuku untuk memberi isyarat bergabung dengan mereka. Aku mendekati meja makan yang hanya terisi empat orang saja sementara yang lain penuh. "Meja VIP?" tanyaku mencoba melempar humor. Flint meringis dan menggeser piring untukku. "Kami termasuk kaum langka bagi mereka," sahut Ed dengan wajah kesal. Aku melirik pada gadis berambut coklat terang yang duduk di sebelah Flint. Bajunya mirip laki-laki dengan lengan tergulung hingga siku. "Ada apa tadi?" tanya Flint khawatir. Aku hanya mengedikkan bahu. Tidak ingin membocorkan semuanya. Aku baru mengenal mereka dan ruang makan bukan tempat yang tepat untuk diskusi. "Tidak banyak siswa wanita di sini," sindirku pada gadis yang asyik menyantap kaki kalkun dengan kedua tangannya. "Bellarine Reese Bowes-Lyon, kelas sembilan, juara science dan sepupu dari keluarga kerajaan Britania, Eleonore Antoniette Bowes-Lyon. Manusia yang teridentifikasi sebagai satu-satunya species unik," papar Ed sembari melempar potongan besar daging gulung dalam piringnya. "Unik? Sepertiku?" sambarku dengan antusias. Akhirnya ada seseorang yang memiliki kemampuan sepertiku. "Bukan. Beda, tapi kami akan menanyakan keunikanmu nanti, Reese adalah makhluk setengah wanita dan setengah pria. Hati-hati, dia bisa meledak setiap saat seperti gunung berapi!" seru Ed sembari menghindari kerlingan mata Reese yang tajam. Godaan Ed tidak mampu membuka mulut gadis yang terlihat tak acuh tersebut. Flint terkekeh sementara aku kecewa. Ternyata aku masih yang teraneh di antara mereka. "Kami masih sepupu, tapi ayahku tidak menyarankan untuk bergaul dengan Reese, takut dilemparkan ke dimensi lain," ledek Flint dengan jahil. Aku memucat. Dimensi lain? Apakah ini hanya guyon atau serius? "Melalui teori quantum," cetusku dengan cepat. Reese menghentikan aktivitasnya dan menoleh pelan-pelan ke arahku. "Max Planck ...," desisnya. Aku mengangguk. Reese dengan cepat mencuci tangan dan mengelap sembarangan pada bajunya. "Ikuti aku," ajaknya. Aku terkejut. Tidak menyangka mendapat respon yang demikian cepat namun senyentrik ini. "A-aku baru makan," protesku. Reese menoleh padaku dengan lirikan tajam. "Bawa dan kita makan di kamarku!" serunya dengan cepat. Aku melirik pada Ed dan Flint yang tampak bingung. Tanpa berpikir dan menunggu lagi, aku menyambar dua paha kalkun dan sekerat roti jagung. Aku membungkus dengan lap makan dan berlari menyusul Reese. Flint dan Ed yang penasaran akhirnya mengikuti langkah kami. Les Chester, aku siap untukmu! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD