Don terbaring di meja dengan mata tertutup. lukanya baru selesai dijahit, namun ia kehilangan banyak darah.
"Penta, yang akan kau lakukan sebentar lagi adalah aktivitas seorang traveler. Kamu akan mengajak kami melompati jarak, bukan waktu," pesan Ruben sembari meringis saat Hugo menjahit luka di lengannya.
"I-iya. Aku tahu ...," jawabku tidak yakin.
Begitu selesai, Emerin membersihkan dengan alkohol dan membalut dengan perban.
Ron dan wolf hanya terluka gores ringan yang membutuhkan antiseptik untuk mensterilkan dan menghindari tetanus yang bisa mengancam hidup mereka.
Aku ingat saat Hugo menyuntikku dengan anti tetanus dulu saat terkena cutter. Aku demam selama berhari-hari.
"Kita akan memastikan semua siap," ucap Albert yang bersiap dengan mengumpulkan semua informasi yang ia butuhkan.
Emerin masih berulang kali mengusap air matanya. Mungkin ia mengingat Remmy. Setahuku mereka cukup dekat karena Remmy cukup pendiam dan sering Emerin temani saat membersihkan atap.
"Ingat, Penta! Perasaan bahagia. Apa yang membuat kamu bahagia?" tanya Ruben dengan tatapan tajam.
Aku mengeluh dalam hati. Bahagia? Aku tidak tahu. Bertahun-tahun hidup hanya terkungkung oleh rutinitas membosankan dan tanpa teman.
Para guru asyik menjejali pikiranku dengan ilmu pengetahuan yang akhirnya menjadi hiburan dalam keseharianku karena tidak ada pilihan.
"Bennet!" panggil Albert kembali mengaungkan namaku. Aku tersentak dan kembali bingung.
"Aku ...," tidak sanggup kulanjutkan karena malu rasanya mengakui jika momen paling membahagiakan adalah saat melihat ekspresi para pelayan ketika aku membuat musim semi di taman kami.
"Tolong bantu kami mempermudah ini, Penta. Don telah kehilngan banyak darah, dan mungkin pasukan pagan Osirus akan kembali dalam waktu dekat," pinta Ruben dengan cemas.
Semua terlihat sudah siap dan memandangku. Albert meminta semua berkumpul di tengah. Aku berjalan mendekat dan berdiri dikelilingi mereka.
"Aku bahagia saat menciptakan musim semi," cetusku akhirnya. Ruben tersenyum senang dan terlihat lega.
Hugo meminta semua berpegangan, sementara Wolf dan Ron memapah Don. Aku memegang tangan Ruben dengan erat.
"Bayangkan Les Chester dan wujudkan keinginan terbesarmu untuk melihat bunga Daisy secara langsung," pimpin Ruben memberi arahan.
Aku memejamkan mata. Gambar hitam putih gedung yang kulihat di foto pelan-pelan terbayang dengan jelas. Lambat laun bayangan tadi menjadi sedikit berwarna. Aku seakan berdiri di seberang jalan dan untuk mencapainya harus melompat sekitar satu meter, melewati membran tipis penghubung. Seiring bayangan itu semakin jelas, aku juga mendengar suara bergemuruh dari lantai atas.
"Konsentrasi dan abaikan suara-suara di sekeliling. Apakah kamu sudah mendapatkan visualisasi Les Chester?" tanya Ruben kembali. Aku mengangguk.
"Aku harus melompat," jawabku.
"Lompatlah, kami mengikutimu," perintah Ruben terdengar tidak sabar. Aku menarik napas dan dengan kekuatan penuh melompat sejauh mungkin.
Hentakan seperti tertarik sesuatu membuatku membuka mata. Kami seperti sedang melesat dengan kecepatan fantastis melewati spektrum warna yang terlihat indah pada kedua sisi kami. Semakin lama semakin cepat, hingga aku melihat sebuah cahaya putih yang menyilaukan dan aku menabraknya tanpa bisa berhenti.
Berikutnya aku merasakan rasa sakit terhempas di lantai kasar yang berbau lumut. Pandanganku sedikit berbayang dan buram. Aku mengusap mata berulang kali dan terlihat semua terkapar di sekeliling. Dengan susah payah aku duduk dan mencoba memahami situasi saat ini. Berhasilkah kami?
"Bravo, Bennet!" pekik Albert terdengar antusias.
Aku memicingkan mata dan melihat matahari untuk pertama kalinya setelah dua hari terakhir. Tanpa memperdulikan seruan dari arah gedung, aku berdiri perlahan dan memandang gedung Les Chester yang berdiri dengan tegak dan gagah!
***
Sambutan dari beberapa anggota pagan Fratrem sangat luar biasa. Mereka tidak menyangka jika kami berhasil mencapai London dengan cepat dan selamat.
Setelah empat belas tahun terkungkung di pulau kecil, akhirnya kami berhasil keluar. Bagiku ini menjadi kebahagiaan baru. Aku melihat Don di dorong sementara berbaring menuju arah yang berlawanan denganku, hati ini sedikit lega.
Aku yang tidak pernah melihat dunia luar, merasa begitu semangat menebarkan pandangan ke berbagai sudut lorong sekolah tersebut. Mungkin ini adalah hari libur, karena tampak sepi tanpa murid sekolah.
Namun ketika kami memasuki ruangan ballroom, ternyata semua siswa dan guru berkumpul di sana.
Tepuk tangan dan siulan nyaring saling bersahutan memenuhi ruangan yang luas tersebut. Untuk pertama kali juga, aku melihat manusia yang seumuran, bahkan jauh lebih muda dariku.
Aku berjalan dengan pelan dan wajah terpana melihat keberadaan mereka. Inikah peradaban?
Seorang pria tua yang berpenampilan rapi dengan jas panjang, memperkenalkan kami satu persatu. Ketika tiba giliranku, semua mata memandangku dengan penuh selidik. Aku bingung harus berbuat apa.
Akhirnya hanya lambaian tangan kaku yang kulakukan untuk menyambut perkenalanku. Setelah Ruben dan Hugo memberikan sekelumit sambutan, mereka dibubarkan dan anak-anak menghambur keluar.
"Bennet, bersenang-senanglah dengan mereka," ucap Albert menepuk pundakku.
Aku bingung harus mengatakan apa. Tapi saat Ruben mempersilahkan seorang pemuda yang hampir setinggi aku, barulah sadar. Aku akan bergabung dengan mereka.
Dengan kikuk kuikuti langkah anak berambut cokelat pirang tersebut menuju keluar dan Ruben melambaikan tangan.
Lambaian tangan para siswa yang berebutan menyalamiku kutanggapi dengan gembira. Seperti inikah berada di tengah-tengah komunitas manusia sesungguhnya?
"Aku Flint Emerson. Ketua asrama kelas sembilan. Kita akan sekelas untuk semester ini dan mungkin akan terpisah semester mendatang," ucapnya dengan nada yang, mungkin, gugup sementara kami berjalan menjauhi kerumunan.
Aku tidak tahu harus merespon apa, ini belum pernah masuk dalam rancangan otakku.
Setelah menaiki dua tangga yang panjang, Flint mempersilahkan aku untuk masuk ke sebuah ruangan yang baru kuketahui adalah kamar tidur mirip dengan yang berada di bunker.
Ranjang itu tampak kecil jika dibandingkan dengan kamarku. Meja belajar yang panjang dengan tumpukan beberapa buku itu lebih mirip dengan meja makan. Aku tidak peduli. Semua kesederhanaan ini jauh lebih berharga dari kesendirianku selama empat belas tahun dalam sangkar emas.
"Kamu tidur di sini, aku akan berada di sebelahmu," cetus Flint kembali.
Ada tiga tempat tidur dan tiga lemari yang merapat ke tembok. Flint menunjuk pada salah satu lemari.
"Baju dan keperluanmu sudah ada di sana," aku mengucapkan terima kasih atas informasi terakhirnya. Tidak berapa lama muncul satu anak yang berambut ikal merah dan berwajah lucu. Aku heran melihat bintik-bintik di hidung dan pipinya.
"Hai, aku Edmund Junior Dawson. Panggil aku Ed!" serunya dan segera menjabat tanganku kuat-kuat. Aku menurut saja saat Ed menguncang tanganku berulang kali.
"Cukup, Ed! Kamu bisa meruntuhkan tulang Penta!" bentak Flint kesal.
Entah kenapa aku ingin tertawa. Akhirnya aku terbahak dengan kuat. Ed juga Flint memandangku dengan heran namun akhirnya turut tertawa.
"Aku ... aku tidak tau, harus menjawab apa ...," gelakku dengan nada benar-benar geli.
"Maaf ... aku tidak bisa menarik diri untuk tersadar sepenuhnya bahwa ini nyata," sambungku memberi alasan. Ed berhenti tertawa dan menatapku dengan prihatin.
"Apakah benar kamu terkungkung selama hidup?" tanya Ed hati-hati. Aku mengurangi gelakku dan mengusap ujung mata.
"Ya, empat belas tahun tepatnya," jawabku terdengar suara ringan.
"Ibu dan ayahku sering membicarakan dirimu. Tidak menyangka akan satu kamar denganmu," puji Ed antusias.
"Aku tidak tahu jika kalian mengenalku. Apalagi orang tuamu," balasku segan.
"Kami semua mengenalmu, Penta," sahut Ed dengan antusias.
"Sekarang kamu akan jadi teman kita, Bennet!" sambut Flint dengan suara bersemangat.
"Jika ada yang aneh dengan diriku, abaikan," tandasku.
"Apakah kamu tidur sembari jalan?" tanya Flint. Aku geleng kepala.
"Alergi kucing?"
"Tidak."
"Malas mandi?"
"Tidak juga."
"Berarti kamu belum dalam kategori aneh, Bennet!" seru Flint dengan senyum lebar. Aku tercekat dengan kalimat yang sederhana dan cukup menghibur. Kedua remaja itu terlihat nyata dan bukan khayalanku.
"Terima kasih, sudah menganggapku normal," ucapku sembari membungkuk ke arah mereka. Ed dan Flint membungkuk kembali.
"Aku bosan bersikap manis, saatnya menjadi laki-laki sejati!" pekik Flint sembari berlari ke arah perapian yang berada di ujung kiri dekat jendela kamar.
Tangannya mengarah masuk perapian dan dengan cepat dan meraba sesuatu dari dalam cerobong. Saat ia menarik keluar tangannya ada dua botol ginger beer. Dengan semangat Ed mendekati dan aku menyusul keduanya.
"Maaf, kami hanya ada dua botol saja. Tapi kita bisa berbagi, jika kau tidak keberatan," tawarnya. Aku mengiyakan dengan senyum lebar. Rasanya menyenangkan bersama mereka. Aku melupakan hal-hal buruk yang telah kulalui. Saat ini, aku hanya ingin menikmati situasi yang kuimpikan sejak dulu!
Memiliki teman!