Quantum Theory in Runaway

1074 Words
Waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Akhirnya, Albert mengutus dua pelayan untuk memeriksa kondisi di atas. Dengan penuh keberanian, Don dan Remmy meninggalkan bunker basement. "Pesan dari London, pagan Osirus menangkap dua anggota kita!" seru Albert menyerukan berita menyedihkan itu. Semua yang mendengar berdoa dengan cara masing-masing. Emerin terlihat memegang kalung Rosario dan menguntai gumaman doa dengan khusyuk. Aku menyingkir dan memilih duduk di atas kasurku yang terletak di ujung, dekat tembok. Kembali kubuka buku hitam dan meneruskan halaman terakhir yang belum tuntas terbaca. *Lompatan quantum adalah fenomena yang membedakannya dari sistem klasik quantum sendiri, di mana setiap transisi dilakukan secara bertahap. Dalam mekanika quantum, lompatan semacam itu dikatakan mendobrak keabsahan mekanika itu sendiri. Lompatan yang berhasil menundukkan sifat fisika. Sifat fisika adalah segala aspek dari suatu objek atau zat yang dapat diukur atau dipersepsikan tanpa mengubah identitasnya. Melompati waktu yang terukur adalah satu hal yang mungkin dilakukan dengan energi besar yang muncul dari perasaan bahagia. Pikiran manusia memiliki energi elektromagnetik terbesar yang gelombangnya mampu mewujudkan sesuatu yang kita sebut dengan CITA-CITA. Adapun gelombang otak manusia terbagi menjadi lima frekuensi. Yaitu: Gamma (16 hz - 100 hz) Beta (di atas 12 hz atau dari 12 hz s/d 19 hz) Sensori Motor Rhytm (12 hz - 16 hz) Alpha (8 hz - 12 hz) Theta (4 hz - 8 hz) Delta (0.5 hz - 4 hz) Schumann Resonance (7.83 hz)* Aku menarik napas untuk menangkan pikiranku yang mulai terpacu untuk lebih cepat mencerna semua ini. Wajahku menunduk dan kembali menelusuri buku. *Schumann Resonance adalah getaran alam semesta pada frekuensi 7.83 Hz yang juga masuk dalam kelompok gelombang theta. Seseorang yang otaknya mampu menghasilkan dan mempertahankan frekuensi ini memiliki kemampuan supernatural, seperti ESP, telepati, clairvoyance, dan fenomena psikis lainnya. Anak indigo, yaitu anak super cerdas yang biasanya berkemampuan ESP atau Extra Sensory Perception, juga bisa memasuki gelombang ini dengan mudah dan konstan.* Aku merasakan gelitik halus di pelipis dan tengkuk. Apa yang terjadi? Mataku membaca dengan cepat dan otakku menyerap dengan baik. "Kamu sudah sampai pada tahapan ini? Wow, kurasa setelah kekuatanmu terbuka, semua fungsi tubuhmu juga mulai bekerja dengan baik," seru Hugo yang telah duduk di sebelahku. "Aku paham jika butuh pikiran bahagia untuk berhasil melakukan lompatan itu, Hugo," cetusku dengan semangat. Derik tempat tidur yang menampung kami berdua terdengar nyaring saat Hugo yang bertubuh gempal menggeser tubuhnya ke tengah. "Tidak ada yang menghakimi dirimu untuk menjadi pemurung. Kamu dan Ruben bernasib sama. Besar tanpa orangtua. Hanya bedanya, Ruben bukan berasal dari kalangan elit seperti dirimu. Hidupnya sangat sulit dan susah. Rupert yang mengangkat dan mengasuhnya hingga Esther, ibumu, jatuh hati. Rupert sangat bangga ketika tahu keduanya berhubungan. Oleh karena itu, ia menunjuk Ruben sebagai walimu. Hanya Ruben yang tahu bagaimana Rupert menginginkan jalan hidupmu nanti," papar Hugo berkisah tentang Ruben. "Aku ingin Ruben kembali ...," gumamku dengan lesu. Semangat yang tadi timbul kembali meredup. Aku ingin menangis, tapi malu. Tidak ada satu pun pria yang menangis dengan mudahnya. "Sabar. Ini tidak akan lama lagi. Maafkan kami Penta. Semua yang ada di sini adalah manusia yang lemah dan terbatas. Tidak ada yang bisa menuntunmu untuk mengasah semua kekuatanmu. Hanya Ron dan Ruben yang bisa ...," keluh Hugo dengan suara melembut. "Aku hanya menjadi beban kalian," ucapanku penuh penyesalan dan malu. "Pentagram, dengar!" seru Hugo merubah intonasi suaranya. Aku mendongakkan kepala memandang pria berwajah kebapakan tersebut. "Tidak ada beban! Melindungimu sama dengan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ok? Hilangkan pikiran konyol tentang beban!" perintah Hugo dengan tegas. Aku ingin menggangguk namun hatiku gelisah. "Maaf, Hugo." Akhirnya yang keluar hanya permintaan maaf saja yang entah sudah berapa kali terlontar dari mulutku. "Bennet! Hapalkan tempat ini. Anggota kita menyatakan ini adalah tempat teraman untukmu membawa kita pergi. Mereka menyiapkan semuanya di sana," ujar Albert memberikan sebuah foto hitam putih yang cukup besar. Aku menerima dan memandang gedung yang cukup besar tersebut. Ada tiga gedung yang menempati masing-masing sisi kanan, kiri dan diantara keduanya. Ditengah terdapat lapangan dan pagar besi yang cukup tinggi dengan gerbang besar. Ajaib sekali mereka mengambil sudut pengambilan gambar hingga meliputi semuanya. Pada sudut atas gambar sebelah kanan ada tulisan kecil. LES CHESTER. "Les Chester ...," gumamku membacanya. "Kamu mengenal tempat ini?" tanya Albert. "Tidak, tapi Ruben pernah mengatakan padaku. Ibu dan dia, juga Cedric, pernah belajar di sana," jawabku. "Ah ...," Albert mengangguk senang. "Kita tunggu hingga Don dan Remmy kembali. Sepertinya pergi sekarang adalah yang terbaik," ucap Albert dengan senyum kaku. Hugo tampak termenung dan aku sendiri mulai merasakan tingkat kegelisahanku memuncak. *** Goncangan kuat menggoyang tubuhku. Aku terbangun dan gagap. Emerin menyilangkan telunjuk di bibirnya. "Bangun, jangan membuat suara keras," bisiknya dengan sangat lirih. Aku mengangguk dan baru menyadari ada gedoran yang sangat kuat dari atas. "Berapa pergerakan yang kamu dengar, Bennet?" tanya Albert yang berdiri di belakang Emerin. Aku mencoba mempertajam pendengaranku. Satu, dua, tiga. Tiga gerakan, namun empat hela napas yang kudengar. "A-ada empat sepertinya," jawabku gugup. "Sepertinya?" tanya Albert heran. "Satu napas lagi tidak memiliki gerakan apa pun," jawabku kembali. Albert memberi isyarat pada Rex untuk membuka pintu besi, sementara June dan July bersiap dengan pedang mereka. Basil bersiap di belakang keduanya dengan senapan dalam posisi siap membidik. Aku merasakan ketegangan. Gedoran semakin kuat terdengar. Rex dengan wajah pucat memutar kunci yang mirip dengan kemudi kapal. Pintu terbuka dan bergeser. "Don terluka! Remmy meninggal!" pekik Ruben dengan panik. Semua tunggang langgang menghampiri Ron dan Wolf yang memapah tubuh Don yang terluka di bagian perutnya. Darah begitu banyak. Tubuh ketiga guruku penuh dengan luka dan baju mereka terkoyak. Aku seketika gemetar. Mulutku terkancing dan lututku tidak mampu berdiri. "Osirus menyerang Ron dan Wolf hingga mereka tersudut ke sisi barat. Untunglah bukit-bukit di sana memiliki gua. Kami berhasil mengecoh dan hampir mencapai kastil ini kembali. Sialnya, Remmy dan Don muncul. Tiga anggota Osirus yang masih tersisa menyerang kami di pintu gerbang," tutur Ruben dengan cepat dan tanpa jeda. "Jadi benar, Osirus sudah menyelusup ke kepolisian kota Faroe?" tanya Albert tanpa berkesan bertanya. Ruben mengiyakan dengan wajah setengah putus asa. "Remmy yang malang. Aku meninggalkan jenazahnya begitu saja di gerbang. Tidak akan ada penguburan yang layak untuknya dalam kondisi seperti ini," keluh Ruben berduka. Albert terlihat bersalah karena mengirimkan Remmy dan Don. Rasa khawatir akan keselamatan Ruben, Ron dan Wolf, membuat Albert salah perhitungan. Hugo tampak sibuk menangani luka Don sementara Emerin membersihkan dan mengobati luka Ron dan Wolf. "Penta, siapkan dirimu. Al, kita pergi setelah ini," seru Ruben dengan tegas. Albert menggangguk. Aku masih mematung dan tidak tahu harus menjawab apa. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD