Sacred Memorial

1034 Words
 Tidak ada penyesalan yang paling layak, yang bisa kami berikan selama ini. Aku merasakan hatiku kebas, tidak mampu menangis atau meratap lagi. Kenapa harus ada kematian yang mengakhiri perjuangan kami? Ini tidak adil! Reese masih belum terima dan terus memeluk tubuh Leane yang bersimbah darah, meski Chen telah berusaha membersihkan sebelumnya. Darah itu terus mengalir dan merembes keluar. “Kita harus kembali ke Inggris, Bennet!” ucap Ed dengan suara sengau. Aku tidak yakin bisa dan mampu menguasai diri saat ini. “Jika tidak, Leane tidak bisa kita kebumikan dengan layak,” timpal Flint kemudian. Aku mengusap wajahku dan mengangguk lesu. “Aku akan berusaha,” jawabku terdengar seperti sedang tercekik. Tidak bersemangat dan putus asa. “Kau harus bisa, Bennet!” seru Reese dengan isak tangis. “Demi Leane, kau harus bisa!” Matanya menatapku dengan pandangan berlinang. Seperti tersentak dan baru tersadar jika ini semua tergantung aku, lambat laun hati ini mulai tergugu dalam sesal yang berbalut kepasrahan. Setelah apa yan kami perjuangkan sejauh ini, tidak akan kubiarkan pihak-pihak yang otoriter merenggut kebebasan kami! Chen memegang pundakku dan mengatakan akan membantu untuk memusatkan konsentrasi dengan baik. Aku mulai memejamkan mata dan meminta semuanya mendekat. Dengan bergandengan tangan, mereka menungguku. Secara perlahan, aku melihat sinar yang terang dan kotak seperti jendela, dan pemandangan halaman Les Chester ada di sana. Dengan sekali lompat, aku menyeret mereka dan mendarat dengan sempurna di halaman sekolah kami yang penuh dengan rumput menghijau. Teriakan histeris pertama terlontar dari Ms. Anna dan beberapa murid yang melihat dengan jelas kondisi kami yang sangat kacau! Wester tergopoh-gopoh keluar dan aku bisa melihat dengan jelas, raut yang terpancar dari semua adalah kepanikan dan kecemasan. Ms. Anna segera menguasai diri dan meminta dengan teriakan lantang untuk mengambil alih Leane dari pelukan Reese. Dalam sekejap, suasana menjadi hiruk pikuk. Hugo tampak pucat dan gugup mengikuti Leane menuju ruang perawatan. “Dia sudah mati!” teriakku dengan keras dan bergema. Semua yang sedang mencoba menyelamatkan Leane dan memastikan kami tidak terluka, berhenti seketika serta memandangku dengan tatapan syok. Aku berdiri lalu berjalan dengan langkah tegap ke tengah halaman. Sinar sore memancar dengan lembut dan jatuh di halaman yang menghasilkan warna keemasan. “Kami telah berjuang dan bertempur dengan menempuh resiko kematian yang mungkin akan menjadi pinalti berikutnya bagi kami!” Wester tidak berusaha menghentikan aku sedikit pun. “Jadi aku katakan pada kalian semua mulai detik ini juga!” Aku menebarkan pandanganku ke seluruh manusia yang hadir saat ini. “Jika ada yang menjadi antek Fratrem yang Shield pimpin, atau berusaha menumbalkan diriku demi pagan Osirus! Aku beritahu sekarang, untuk bersiap pergi, tinggalkan tempat ini dan jangan pernah kembali!” Masing-masing yang terlibat dengan dua oknum tersebut menunjukkan gelagat panik. Aku bisa melihat dan merasakan ketakutan yang terpancar dari mereka. “Dalam hitungan satu jam mendatang, aku ingin kalian benar-benar meninggalkan tempat ini dan jangan bermain-main denganku! Percayalah, kali ini, aku bukan Pentagram Bennet yang sama!” Langkah kaki dari para manusia yang menjadi incaranku, mulai terdengar tunggang langgang meninggalkan tempat dan bergegas menjauh dengan gugup. Wester menganggukkan kepala dengan senyum terukir, sementara Ruben dan keempat guruku lainnya, memandang ke arah kami dengan penuh kebanggaan. Luka ini tidak akan sembuh dalam waktu singkat. Entah berapa lama yang kami butuhkan untuk bisa mengatasi duka atas kehilangan Leane, tapi yang pasti, cengkeraman Fratrem yang dipimpin Shield dan juga pagan Osirus yang selalu memburuku, tidak lagi menjadi momok menakutkan bagi kami saat ini! Ruben berlari dan memeluk satu persatu dari kami dengan mulut mengatup dan mata penuh haru. Wolf dan Albert dan Ron mendekat dan menyalami kami satu persatu. Hugo yang paling memperlihatkan sikap cemas berlebihan. Dokter itu memeriksaku dengan teliti dan akhirnya terlihat lega. “Temui aku di ruang perawatan nanti, setelah aku mengurus Leane,” pamitnya dan meninggalkan kami. Aku kembali teringat akan keluarga Leane yang harus mendengar kabar tentang ini semua. Dengan ragu dan bimbang, aku mengatakan pada mereka mengenai liontin yang Leane titipkan padaku. “Bisakah kau menyampaikan sendiri pada kedua orang tuanya nanti?” tanya Ruben. Aku menunduk dan menarik napas dengan berat. “Aku tidak tahu,” sahutku terdengar tidak yakin sedikit pun. “Belajar dan kau harus bisa!” dukung Ron dengan tegas. “Ayolah, Bennet! Mereka akan merasa terhormat jika kau menyampaikan sendiri nanti,” imbuh Albert dengan kedipan mata yang meyakinkan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengiyakan dengan lemah dan seperti biasa, belajar untuk tidak menolak. Reese dan Flint sudah selesai diperiksa oleh tim dokter yang ada di sekolah dan melangkah menuju ke arah kami. Aku tidak melihat Ed dan mataku mencari-cari kemana perginya temanku tadi. Kami masih duduk di bawah pohon rindang, di bangku taman sekolah. “Ed?” tanyaku cemas. “Dia sedang dijahit, ada luka sobekan di lengannya,” ucap Reese terlihat biasa. Sejak kami menempuh petualangan yang begitu menegangkan tersebut, semua kini tampak seperti rintangan kecil yang tidak ada artinya. Wester akhirnya mendekat dan mengambil tempat duduk yang ada di seberangku. “Kekuatan pentagram sudah semua ada dalam dirimu, selamat Bennet!” cetus Wester dengan suara yang seperti biasa, tegas dan datar. “Terima kasih atas jebakan hukumanmu malam itu, Wester!” sambutku dengan ramah. Sikapku jauh berbeda dari yang pertama kali kami bertemu. Kepala sekolah kami tertawa kecil. “Mengejutkan, kau berani mengusir semua yang tidak masuk dalam hitunganmu sebagai kawan untuk tidak tinggal di tempat ini. Kau berkembang menjadi pribadi yang menarik!” pujiannya mengundang tawa dari yang lain. Kecuali Wolf, guruku yang satu itu memang selalu terdiam dan tidak banyak bicara. “Aku harap, mulai sekarang, Les Chester juga membuka sekolah untuk murid perempuan lebih leluasa lagi. Albert yang akan memastikan kita memiliki dana cukup dan bisa membuat program itu berjalan,” ucapku dengan penuh harap akan mereka pertimbangkan. “Astaga, Bennet. Ini adalah sekolah milikmu, kau bebas menerapkan semua peraturan yang berlaku!” dukung Wester tidak terdengar keberatan sedikit pun. Aku menunduk dan menatap ujung kakiku yang tidak memakai sepatu. “Aku ingin mengenang Leane beserta cita-citanya yang selalu aku ingat.” Dengan berat dan tenggorokan tercekat, aku mengumpulkan memoriku akan ucapan Leane dulu. “Dia berharap, semua wanita mendapat hak yang seimbang dalam hal pendidikan dan juga hukum. Kita akan menjadi sekolah pertama yang mewujudkan itu bukan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD