Final Truth

695 Words
Leane menarik tanganku dengan kuat, memasuki lorong panjang yang lembab. Tidak kusangka, semua berakhir hanya Leane dan aku saja yang menghadapi Dalai Lama. Teriakan para prajurit yang berusaha memenangkan pertarungan masih terdengar dengan jelas. Kenapa tidak ada satu pun yang mengalah? Kami terpaksa harus menjadi pembunuh dari usia remaja! Adilkah ini? Tidak! "Dia ada di sana." Leane memandang ke arah ruangan gelap yang ada di hadapan kami. Lampion merah yang menjadi satu-satunya penerangan, menambah keangkeran suasana. Siluet pria dengan posisi duduk bersila tampak memantul di tembok. Aku bisa melihat dengan jelas dan menajamkan indera mata untuk mendapatkan gambaran jelas. "Jadi dia memilih melimpahkan ilmu dan kekuatannya padamu." Suara berat dengan aksen tibet yang kental terdengar. Rupanya pria itu bisa bicara bahasa Inggris dengan baik. "Bukan aku yang meminta dan membujuknya. Thema menyerahkan semua secara sukarela!" tukasku. Pria itu membuka mata dan menatapku dengan tajam. “Tidak ada satu pun yang memahami, bahwa yang kalian percayai adalah salah! Manusia sepertimu, akan menyalah gunakan kekuatan dengan sembarang dan lalai akan tugas yang lebih penting!” Aku kini mengerti. Inilah yang selama ini ada dalam pikiran Dalai Lama. Tidak mempercayai manusia yang menempuh hidup biasa untuk menanggung beban kekuatan yang begitu besar. Pria tua tersebut memilih untuk merebut dan memaksakan takdir yang bukan semestinya, hanya karena rasa khawatir dan anggapan yang belum tentu benar. Untuk sesaat, aku merasa iba! “Tidak semua manusia itu memiliki sifat yang tidak mulia. Kami bisa mengerti arti berkorban.” Aku tidak yakin ucapanku akan mengubah caranya berpikir. Dalai Lama terjebak oleh pikiran yang salah dan harus tersiksa selama puluhan tahun karena doktrin yang ia ciptakan sendiri. Kolotnya pemikiran yang menganggap manusia yang tidak menjalani hidup seperti dia, adalah serakah, terdengar picik dan memprihatinkan. Aku tidak menyangka jika akan menghadapi situasi yang seperti ini. Aku pikir, manusia yang harus dihadapi adalah pria yang antagonis dan egois. Namun, dengan kondisi seperti ini, tegakah aku menghilangkan nyawanya? Leane memegang lenganku. “Semua tergantung padamu, Bennet,” bisik Leane. Seperti mengerti apa yang saat ini berkecamuk dalam jiwaku, Leane mundur dan memberiku ruang untuk memutuskan. “Aku tidak mungkin membunuhmu, Dalai Lama,” ucapku lirih. “Tanpa harus mengukur pun, kau tidak mampu menghadapi aku.” Hatiku berharap, dengan kalimatku barusan, pria itu akan mengurungkan niat dan memberikan kekuatan suka rela. Dalai Lama mengangkat tangan yang memegang tasbih dengan mata terpejam. “Aku mungkin akan kalah. Kekuatanku akan menjadi milikmu, tapi akan kuambil yang menjadi milikmu juga.” Usai mengucapkan kalimat terakhir, Dalai Lama menggebrak lantai dan retakan itu melesat hingga menciptakan lubang yang menganga. Aku mundur dan mendarat dengan ringan. Selanjutnya, serangan yang terlontar tampak mematikan dan kali ini aku tidak bisa santai dan menganggap remeh. Leane membantu dengan membekukan lorong itu untuk melemahkan kondisi Dalai Lama. Sayangnya, perhitungan itu salah. Aku tidak pernah menyangka jika akan mengalami hal seperti ini. Ketika aku melesat dan mencoba menghantam dadanya, tangan Dalai Lama teracung tapi bukan untuk menangkis seranganku! Bunyi tulang patah terdengar. Kraak!! Dalai Lama memandangku dengan bibir yang mulai mengeluarkan darah pada kedua sudut. “Tolong ingat baik-baik. Apa yang kau lakukan hari ini, akan kau bayar dikemudian hari dengan harga yang lebih menyakitkan!” desisnya sebelum ambruk. Aku mundur serta menarik diri. Tidak mengerti apa yang ia maksud dengan ucapannya barusan. “Leane, kau dengar? A-apa artinya dengan itu? Ancamankah?” tanyaku seraya menoleh. Sahabatku tidak bisa menjawab karena es yang ia ciptakan menembus dadanya sendiri! Aku ingat dengan jelas, Dalai Lama mengatakan akan mengambil apa yang menjadi milikku! Raunganku yang keras membahana dan bergaung memenuhi seluruh biara. Satu persatu sahabatku datang. Ketika melihat Leane yang terkulai di tanganku dengan bersimbah darah, Reese menjerit histeris. Flint memeluk sepupunya dan Ed berdiri dengan tubuh kaku. Chen muncul paling terakhir dan memandang dengan wajah pucat. Inilah kebenaran yang menjadi akhir dari perjuangan kami? Aku menangis dan membenci diri sendiri. Kenapa aku tidak bisa melindungi Leane dari Dalai Lama? Kenapa aku menjadi lengah dan tidak sadar jika pria busuk itu mengincar Leane sejak awal? Badai menderu di luar dan Chen memeras matanya kuat-kuat seraya menyentuh pundakku. “Setidaknya, selamatkan kami dari murkamu, Bennet,” bisik Chen. Serta merta aku terkulai dan memeluk Chen sekuatnya. Maafkan aku, Leane!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD