Serangan panah yang serentak terlontar ke arah kami dengan ratusan jumlahnya, memenuhi angkasa.
Aku hanya bisa berharap semoga semua sahabatku bisa berjuang dengan baik. Tidak ada satu pun yang bisa aku lakukan untuk melindungi mereka saat ini. Kami berjuang sendiri-sendiri dan mengandalkan kemampuan masing-masing untuk bertahan.
Setelah dengan sabar menunggu dan melewati proses perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami bisa maju dan menghadapi puncak dari semuanya dengan gagah berani.
Chen tidak menunjukkan gentar sedikit pun. Wajahnya mengeras dengan bahasa tubuh yang siap membantai semuanya. Sebagai satu-satunya manusia yang menggunakan kekuatan terbatas, Chen jauh lebih terlihat tangguh di antara kami.
Kesiapan dan kematangan mentalnya jelas terlihat dan bahkan menonjol. Darinya aku belajar satu hal, meyakini dengan sungguh-sungguh arti kesetiaan.
Flint dan Ed, bahu membahu, menyerang para prajurit biksu yang menyerang dengan gerakan kungfu cepat juga mematikan. Semua bekerja keras dan tidak melewatkan kesempatan untuk berjuang.
Leane tampak seperti kutu loncat yang bermain ke sana kemari, seraya menghajar musuh mereka dengan selendang suteranya. Sesekali Leane melemparkan
Tidak kalah garang dan beringas, Reese seperti banteng betina yang sedang mengamuk.
Hampir satu jam penuh mereka bertempur, termasuk diriku. Memang kuakui, sedikit campur tanganku dalam melancarkan pertarungan kali ini.
Ketika pasukan makin bertambah, justru memberiku ide untuk segera menarik diri dan melihat situasi saat ini.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mundur dan melihat medan pertempuran dari jauh. Semua sahabatku tidak menunjukkan kewalahan dalam menghadapi serangan para biksu yang jumlahnya entah ada berapa, karena tidak pernah ada habisnya.
Chen berteriak, memintaku untuk masuk ke dalam kuil utama. Aku tidak bertanya lagi, mengikuti kemauannya. Kakiku berlari secepatnya menaiki tangga menuju kuil utama yang pintunya telah hancur karena terjangan es dari Leane.
Ed memberi isyarat yang aku tangkap sebagai memasuki kamar nomor lima. Tanpa ragu, kakiku kembali menaiki anak tangga, sementara terus melawan biksu yang menghadangku. Kamar yang kupikir ada di jajaran nomor lima ternyata salah. Isyarat Ed yang memberiku angka lima bukan menunjukkan nomor melainkan lambang pentagram di pintu masuknya.
Kini aku sudah ada di depan kamar dan instingku mengatakan jika yang ada di balik pintu itu bukan seseorang yang biasa. Kakiku menendang pintu kamar tersebut sekuatnya hingga hancur menjadi kepingan kayu.
Suasana kamar cukup gelap. Satu-satunya penerangan adalah lampu lampion merah yang ada di tengah ruangan.
Lampion itu tergantung dengan tenang, sementara di bawahnya, ada seorang anak remaja seumuranku duduk dalam posisi meditasi dan mata terpejam.
Begitu masuk sepenuhnya, pintu yang tadinya hancur, mendadak pulih kembali dan menutup rapat di belakangku! Aku terkejut dan menyingkir buru-buru.
"Aku sudah menunggumu lama, Pentagram," sapanya dengan suara lembut.
Aksennya sangat asing dan aku menduga dia adalah salah satu penghuni biara yang aneh ini.
"Masih belum mengenalku?" ucapnya kemudian, seraya membuka mata perlahan.
Sesaat aku terhuyung dan mundur. Matanya merah membara dan tampak mengerikan. Tapi anehnya, wajah gadis itu begitu lembut menenangkan.
"Maafkan aku, ternyata baru mengingat mata itu ...," ucapku gugup.
Thema, pentagram kedua yang berasal dari Mesir! Sesaat aku berusaha menguasai diri dan menarik napas kuat-kuat.
"Apa yang harus aku lakukan, Thema? Pertempuran di bawah, akan memakan korban jiwa. Bisakah kita menghentikan mereka lebih dulu?" tanyaku sedikit panik.
Permintaanku hanya ditanggapi dengan senyum dan gelengan kepala lemah.
"Ada hal yang di luar kontrol kita. Duduklah, waktu kita sedikit."
Langkah dan gerakanku masih lamban dan penuh waspada.
“Hilangkan keraguanmu, Pentagram, aku bukan musuhmu.” Ucapannya menghilangkan semua kecemasanku yang sebetulnya tidak beralasan sama sekali.
Seharusnya aku menggunakan instingku dan membangun koneksi dengan Thema, bukannya menunjukkan sikap yang pengecut dan takut seperti saat ini.
"Pentagram pertama, Dalai Lama, akan mencoba merebut seluruh kekuatan kita. Tidak akan semudah itu bisa mengalahkan dia. Bisakah kau meneguhkan diri untuk terus memenuhi takdirmu?"
“Kenapa dia ingin sekali menguasai kekuatan kita? Aku perlu mendengar ini darimu, sebagai Pentagram yang memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu!”
Thema mengerjapkan matanya yang aku tahu buta sejak lahir.
“Dia terlanjur tenggelam dalam ambisi dan keangkuhan menjadi yang terkuat. Sikap skeptisnya tidak bisa aku salahkan. Hidup manusia saat ini memang sangat memprihatinkan, terutama sejarah keluargamu yang sangat tidak terpuji, Pentagram. Dalai Lama tidak mempercayaimu menjadi Pentagram yang akan menggantikan dia.”
“Jika kau membicarakan tentang kakek buyutku, Rupert, kami jelas-jelas tidak sama!”
Thema mengangguk dan tersenyum kecut.
“Sayangnya, ada beberapa dari keluarga kita yang mau tidak mau harus diterima untuk menjadi aib bagi diri sendiri bukan?”
Aku menunduk dan menelan air liurku yan terasa kering. Semua ucapan Thema sangat pas dan mengena. Aku tidak ingin larut dalam topik mengenai keluargaku yang sangat sensitif dan membuatku tidak nyaman.
“Apakah takdirku harus membunuh dia? Dalai Lama?”
Thema memejamkan mata dan aku merasakan jiwanya sedang memandangku dengan seksama. Luar biasa! Koneksi yang terbangun di antara kami, bahkan bisa membuat kami memahami satu sama lain.
“Ya, Pentagram. Itu tuntutan yang tidak bisa kau hindari.” Thema terdengar penuh sesal dan berduka.
"Bagiku tidak ada bedanya, antara membunuh Dalai Lama atau manusia yang baru saja meregang nyawa karenaku. Aku akan melakukannya, Thema."
Ucapan yang terlontar dariku, membuat remaja wanita itu mengangguk lega meski matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih." Thema memintaku mendekat dengan isyarat.
Aku beringsut ke depan, hingga jarak antara kami tidak ada lagi. Kedua lutut kami beradu, lalu tangan Thema yang sebelah kanan terangkat dan menyentuh dadaku.
Telapak tangannya menyentuh dan seperti mengalirkan energi, aku merasakan ada kehangatan yang makin meningkat intensitasnya.
Sensasi panas kian terasa dan aku hanya bisa meringis, menahan sekuat tenaga. Kini panas itu menjadi seperti bara yang membakar hingga ke dalam dan sakitnya tidak lagi terperi!
Aku hampir berteriak dan menarik tubuh ke belakang. Akan tetapi, seperti melekat dengan kuat, tangan Thema terus menahanku untuk bergeming dalam posisi yang sama.
"Selamat berjuang, Pentagram Bennet. Semua kekuatanku, telah jadi milikmu."
Seiring itu, Thema menarik telapak tangan, lalu tubuhnya terhempas ke belakang dengan pasrah.
"Thema!!"
Teriakanku mampu menggetarkan dinding, tapi sia-sia saja! Tubuhnya tidak lagi bergerak, tak peduli seberapa keras aku mengguncang dan memberinya napas buatan. Aku memompa dadanya dengan panik. Remaja itu tidak lagi bernapas. Pintu baru terbuka dan Leane masuk.
"Thema ...," desisnya dengan ekspresi tertegun.
Langkahnya tampak tersendat dan hampir limbung. Leane kemudian membungkuk serta memberikan perhormatan terakhir dengan caranya yang mirip seperti Chen ketika sedang berdoa.
Ingin rasanya menghibur Leane yang terlihat sangat terpukul dan syok.
"Bennet, bantu aku menyimpan ini."
Kalung dengan liontin hijau itu, Leane lepas dari lehernya dan dengan gemetar, diletakkan pada tanganku yang terbuka.
"Leane, apa maksudnya?"
Companionku menggelengkan kepala dengan cepat dan menarik napas ringan.
"Simpan dan ingatkan pada ibuku untuk mengambilnya." Bisikan Leane yang terdengar seperti embusan angin, bertiup dan meninggalkan hatiku yang menebak dengan liar.
Apa maksud dari sikap ganjil Leane barusan?
Kenapa kumpulan teka teki selama proses menuju Dalai Lama, semakin sulit untukku mengurai?
Kenapa Leane seperti misterius menyimpan sesuatu?