Bonding of Heroes Friend

1019 Words
Rasanya sangat lama mencapai puncak kedua yang akan kami tuju. Berkali-kali sahabatku harus berhenti sebentar untuk beristirahat. Memahami fisik kami yang memang belum terlatih baik, aku mencoba menyeimbangi dengan bersabar. Chen yang terlihat gusar. Berkali-kali juga ia menanyakan apakah kami sudah siap, setiap melakukan jeda sejenak. "Kita sudah sampai!" pekik Ed yang telah mencapai tepi hutan pertama. Flint mulai bangkit semangatnya. Sembari mengandeng tangan Leane, remaja lelaki berambut merah itu berlari. Aku menurunkan Reese dari punggung dan mengajaknya bergegas. Kami berdiri di tepi hutan dan memandang ke arah biara tersebut berada. Masih cukup jauh. Jika dihitung secara kasar, mungkin kurang dari satu kilometer. Mendadak aku merasakan kepalaku berdenyut sakit. Spontan aku memegang dahiku dan meringis. "Bennet!" seru Reese khawatir. Chen melangkah mendekat dan menyentuh dahiku. "Sakit sekali kepalaku," keluhku hampir menjerit karena tidak bisa kutahan lagi rasa nyeri yang ada di kepalaku! "Dia mulai bisa merasakan kehadiran pentagram lainnya," desis Chen seperti mengetahui apa yang kini ada di benakku. "Inikah efek dan akibat dari jumlah pentagram yang tidak seimbang?" tanya Reese dengan nalar dan logika yang mulai menangkap. Chen mengatakan ya, dan semuanya mulai cemas, terutama aku sendiri. "Aku tidak mau pergi ke sana tanpa rencana yang matang!" pekik Reese kalut. Sementara mereka berdebat dengan suara saling memekik, aku mulai merasakan pandanganku gelap. Khawatir jika diriku pingsan, aku mencoba menggapai sesuatu karena semua benar- benar meredup dan akhirnya gelap gulita. Aku mendengar Reese dan Leane berteriak, tapi terdengar saat jauh. Lambat laun aku mulai tersadar kembali dan napasku mulai sesak. “Ap-apakah aku bisa bertahan, Chen?” tanyaku susah payah. “Minum ini dan duduklah! Aku akan menotok beberapa aliran darahmu supaya kembali lancar!” pinta Chen dengan cekatan. Dengan cepat, Flint dan Ed membantuku duduk kembali. Reese mengajak Leane untuk membuat pelindung supaya diriku tidak terdeteksi oleh pentagram yang lain. “Kita bisa?” tanya Leane heran. “Seharusnya bisa. Ingat yang dibutuhkan untuk melindungi adalah mengeluarkan energi dalam tubuh kita, hingga menyelimuti kawasan yang akan kita selamatkan. Itu saja metode sederhananya, Leane. Ayolah, kita bisa!” “Reese benar! Aku akan membimbing kalian!” timpal Ed yang memang mahir membuat perlindungan selama ini. Ketiga sahabatku mulai melakukan gerakan perlahan untuk mengeluarkan kekuatan energi mereka. chen memintaku untuk mengatur napas dan dengan lembut, jarinya menekan beberapa titik. Aku merasakan sesaat kebas dan tidak bisa bergerak. Tapi itu berlangsung sejenak saja. Setelah Chen membuka kembali totokan jarinya, aku merasakan seluruh tubuhku terasa segar dan tidak ada lelah ataupun rasa penat yang tadinya menguasai tubuh. “Makasih, Chen.” Aku menepuk pundaknya dengan lembut. Chen membuka mata dan menatapku. “Siapkah kau bertarung, Bennet?” tanyanya tiba-tiba. Semua yang mendengar terhenyak. Flint yang sedari tadi menungguku dengan wajah cemas, makin tampak memucat. “Maaf, kawan-kawan semua. Tapi kali ini, kita tidak akan menghadapi pertarungan biasa sepertinya. Terlihat bagaimana Bennet terpengaruh oleh kekuatan Dalai Lama barusan, aku mulai berpikir lain. Mereka sudah menantikan dan sambutan yang akan kita dapatkan tidak akan ramah sedikit pun!” Kalimat yang Chen lontarkan memang terdengar terlalu berasumsi. Tapi mengingat dia juga menjadi penuntun kami dalam mengenali Dalai Lama, kami merasa ini bukan sekedar peringatan atau spekulasi liar! “Aku siap!” ucapku, entah kenapa tidak merasa gentar sedikit pun. Ada kekuatan yang mendadak ada dalam diriku. Flint yang melihatku mulai menunjukkan keberanian, ikut tersenyum dan bersemangat. “Aku juga! Kali ini, kita tidak akan mundur dan kalah!” timpalnya. Reese dan Leane saling berpandangan dan turut tersenyum penuh antusias. “Baiklah! Kurasa aku tidak punya pilihan selain bergabung dengan kalian!” balas Ed mencoba untuk melucu dengan wajah jenaka. Chen tertawa kecil dan mengangguk seraya bangkit. “Ayo! Jangan buang waktu!” Dengan berjalan paling depan, Chen memimpin langkah kami. Leane menyusul di belakangnya bersama Reese. Ed dan Flint mengapitku di kanan kiri, seakan melindungi keberadaanku. Inilah kami, kumpulan remaja yang masih terlalu muda, bahkan belum tahu apa arti pertempuran itu sendiri. Memberanikan diri untuk menempuh ujian terberat, yang dunia bebankan di pundak kami. Mungkin kami akan kalah hari ini. Tapi, aku dan teman-temanku akan belajar satu hal yang terpenting. Setiap kami melangkah dari awal hingga detik ini, tidak ada satu pun yang meninggalkan satu sama lain. Keteguhan saling mendukung dan percaya, rupanya tertanam dengan sendirinya tanpa kami rencanakan atau ikrarkan. Setelah menempuh perjalanan yang singkat, biara yang terlihat sepi dan senyap ada di hadapan kami. Masing-masing siap dengan kekuaatan yang terkumpul di tangan. Aku melihat kumpulan energi berwarna merah di tangan Reese. Teman perempuanku yang satu itu pasti tidak sabar mengeluarkan tenaga apinya. Ed mulai merapal mantra dan memanggil angin yang menjadi kekuatannya untuk bersiap menghadapi semua yang ada di balik gerbang tersebut. Deru angin yang mendadak bertiup di atas kami, menandakan siapakah pengendali sesungguhnya saat ini. Seorang manusia penyihir yang sangat kuat dan menurutku paling berbakat di antara kami semua. Ed, adalah companion kami yang menjadi pelindung paling bisa diandalkan selama perjalanan.  Walau begitu, aku juga sangat bangga. Kontribusi seluruh sahabatku tidak pernah aku bayangkan bisa hingga titik akhir. Keteguhan kami untuk saling mendampingi dan tidak mundur sedikit pun, harus dan layak diacungi penghargaan tertinggi dari seluruh peradaban manusia.  Demi mereka, kami ada di sini. Untuk menyeimbangkan bumi dan membuatnya tetap berada dalam koridor yang semestinya. Meski tahu dan sadar, resiko yang akan kami hadapi nanti adalah menyerahkan nyawa, tapi aku tidak melihat raut gentar pada wajah mereka. Inikah yang dinamakan pahlawan sejati? Dengan hati berdebar, masing-masing saling melemparkan pandangan yang penuh keyakinan.  "Berjanjilah untuk tetap hidup dan bernapas, Bennet!" pesan Reese dengan jelas, tanpa memandangku. Leane menimpali dengan tawa kecil "Aku yakin, untuk kalimat barusan, Bennet akan mengingatnya!" gurau Leane.  "Kenapa? Apa maksudmu, Leane?" tanyaku dengan heran. Flint dan Ed langsung paham dan ikut tertawa. aku dan Reese yang tidak paham masih melemparkan pandangan penuh tanya. "Supaya ada yang menggendongnya pulang nanti!" teriak Ed dengan kekeh geli. Aku hanya meringis dan melirik ke arah Reese yang mengeram kesal. Seiring Chen memberi isyarat untuk bersiap, ratusan anak panah terlontar dari arah dalam biara menuju kami! “Bersiaplah!” teriak Chen dengan seruan lantang dan mulai mengibaskan jubah cokelatnya dengan cepat! Kami melesat dan melupakan kejengkelan yang, aku yakin, masih bersarang di hati Reese!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD