Heading to Mountain

991 Words
Pagi itu sudah bulat keputusan kami untuk melangkah mendekati istana Dalai Lama. Chen telah menggambarkan semua denah teraman yang bisa kami tempuh lalui. "Semoga cuaca bersahabat," harap Leane. Reese mengancingkan ranselnya dan memimpin langkah meninggalkan gua tempat persembunyian kami selama ini. Flint berjalan beriringan dengan Ed sementara aku mengikuti dari belakang bersama Chen. Jalanan semakin menanjak dan terjal. Sesekali kami bertemu dengan penggembala domba yang sibuk menggiring ternaknya menuruni lereng gunung. Tidak tampak raut ramah atau sapaan hangat. Semua terlihat bergegas serta sibuk dengan urusan mereka. "Kupikir jalan ini bukan rute umum. Tapi ternyata cukup banyak masyarakat yang menggunakan sebagai jalan utama," cetus Reese. Chen mengangguk. "Banyak yang berubah," timpal Chen tampak cemas. "Siapa yang menguasai angin?" tanya Chen sembari menatap kami satu persatu. "Aku," jawab Ed. "Pelindung utama companion adalah dirimu?" tanya Chen takjub. Ed mengangguk. "Ok, bisakah kamu terbang dengan kekuatanmu dan mendahului kami?" tanya Chen. "Kurasa bisa. Bennet juga bisa melakukan itu," tanggap Ed dengan berani. "Jangan Bennet, dia adalah manusia yang harus kita lindungi lebih dari apa pun," tukas Chen dengan cepat. "Chen, aku tidak pernah keberatan melakukan itu."  Aku mencoba meyakinkan Chen untuk tidak membedakan diriku. "Jika kamu tertangkap, semua misi kalian gagal dan dunia akan dikuasai manusia paling kejam dan k**i," tegas Chen terlihat kesal. Akhirnya aku mengalah dan tidak lagi membantah. Ed segera melesat mendahului kami dengan kekuatan anginnya. Aku sangat kagum akan fenomena yang kami saksikan. Gulungan angin tersebut membawa Ed dengan cepat dalam hitungan detik. "Apakah kita harus segera mencapai kerajaan di puncak gunung hari ini?" tanya Reese pada Chen. "Kita usahakan secepat mungkin. Soalnya semua tidak pernah tahu, apa rencana Dalai Lama ke depan nanti. Jika kita tiba tepat waktu tanpa menunda, mungkin akan banyak nyawa yang terselamatkan," ucap Chen dengan wajah sendu. Aku menelan cairan mulut yang terasa kering. Tidak ada yang bisa memastikan kemenangan kami. Namun sekarang tidak ada jalan memutar kembali. Aku harus menentukan jalan kami sendiri. Setelah melewati jalan menanjak dan berbatu, kami tiba di hutan pinus yang sangat lebat. "Hati-hati. Banyak hewan buas yang ada di sini. Serigala adalah salah satunya!" cetus Chen memperingatkan. Flint mengambil satu batang pohon dan membuatnya menjadi tongkat. "Untukmu," tawar Flint menyodorkan pada Reese. Temanku tampak terengah. "Kau baik-baik saja, Reese?" tanyaku. "Dingin ini melemahkan tubuhku," keluh Reese. Aku paham. Sebagai remaja dengan kekuatan api, berada di kondisi lembab bukan favoritnya. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya saat mereka masih remaja biasa. Aku juga ingat, bagaimana Flint sempat mengalami kondisi buruk ketika berada di atas kapal. Elemen Flint adalah tanah, dengan berada di atas air dalam waktu lama sangat melemahkan fisiknya. "Ed telah kembali!" seru Leane. Kami menoleh ke atas dan Ed mendarat dengan mulus tanpa kendala. Dia begitu cepat dan mahir menguasai ilmu baru apa pun. Ed selalu terlihat percaya diri melakukan semuanya. Berbeda denganku yang tidak pernah memiliki keyakinan. "Kondisi istana yang mirip biara itu sangat sepi. Hanya beberapa penjaga yang terlihat. Aku mencoba mengendap, tapi kurasa kita melakukan bersama saja," lapor Ed. "Mungkin itu jebakan. Kita harus berhati-hati," pesan Chen. Sesuai dengan peta dari Chen yang telah kami pelajari, berenam kembali melanjutkan perjalanan. Reese dibantu Ed menempuh medan yang memang sangat sulit tersebut. Berkali-kali terdengar lolongan serigala yang bersahut-sahutan. "Perlukah kita waspada?" tanyaku lirih. Chen memasang telinga baik-baik, begitu juga aku. "Ada derap langkah kaki menuju ke sini," cetusku pelan. Chen meminta semua merapat, dan dengan posisi saling memunggungi, kami bersiaga. Derap itu semakin dekat dan muncul dari berbagai arah. Ketika menjadi begitu dekat, derap tersebut berubah menjadi langkah pelan yang hampir tidak terdeteksi. Namun aku mendengar dengus liar yang mengerikan. "Bersiaplah." Baru saja aku memberitahu mereka, mendadak muncul sosok besar dari balik pohon dan berbagai arah yang mengepung kami. Lututku menjadi gemetar karena tidak pernah menyaksikan serigala secara langsung dan dengan bentuk luar biasa besar. Mungkin sebesar mobil mesin ayah Flint, Larry! Mata mereka tampak bengis, dengan bulu berwarna hitam dan abu-abu. "Se-serigala ...," desis Reese kecut. "Apa yang harus kita lakukan?" bisik Flint cemas. Nyaliku menciut dan tubuhku lemas. "Kita bertarung!" tegas Ed tanpa gentar. "Kau gila, Ed!" tukasku resah. "Aku ingin menciptakan s*****a untuk kalian, tapi sebenarnya kekuatan kita lebih dari cukup untuk melawan!" ujar Ed yakin. Mereka makin mendekat dengan air liur yang menetes. "Kekuatan elemen?" tanya Flint terkesan linglung. "Kekuatan apa lagi, Flint? Tidak mungkin pikiranmu, jelas-jelas kau bukan pemikir yang cerdas!" sanggah Ed kesal. "s**l kau, Ed," rungut Flint. "Konsentrasilah kalian!" bentak Chen. Kami seketika bungkam. "Flint, tanam kaki mereka dengan tanahmu, Reese siapkan apimu dan Ed, singkirkan mereka supaya menjauh sedikit sebelum Flint melakukan aksinya," perintah Chen cepat. Rupanya sedari tadi, ia diam dan berpikir rencana untuk kami. "Aku?" tanya Leane dan aku bersamaan. "Bekukan mereka dengan es kalian!" Kami bersiap melakukan satu persatu perintah Chen. "Ingat! Lemahkan saja bukan membunuh mereka!" pekiknya kencang. Ed mengibaskan tangannya dan angin menderu membuat mereka terdorong ke belakang beberapa langkah. "Kurang, Ed!" seruku. "Bantu aku, Bennet! Mereka terlalu besar dan kuat!" pekik Ed. Aku mengikuti Ed untuk mengumpulkan angin dan satu kibasan tanganku menghempaskan serigala hingga jauh ke belakang. "Seharusnya kau bisa melakukan ini sendiri!" keluh Ed tampak prihatin. Aku tidak memiliki kepercayaan sebesar itu! Flint mengacungkan kedua tangan ke depan dan membuat gerakan menarik serta memutar. Tubuh para serigala terperosok ke dalam tanah. Dengkingan ketakutan terdengar seperti anjing. Aku sempat iba, tapi tidak ingin mengambil resiko konyol. Ini pertama kali aku melihat Flint menggunakan kekuatannya. Sangat menakjubkan. Flint terlihat melakukan dengan baik. Setelah itu, Reese membuat para serigala lemah dengan semburan api yang sebetulnya terlalu kecil. Untunglah, Leane segera mengurung masing-masing dengan pagar es yang mengelilingi tubuh binatang tersebut. "Sempurna!" teriak Chen senang. "Aku keren sekali!" puji Flint pada dirinya. Kami tersenyum geli. Dia memang komedian sejati. Setelah memastikan para serigala terperangkap, kami segera melanjutkan perjalanan. Waktu sepertinya mendekati sore. Kami harus mengejar sebelum malam tiba. "Naiklah ke punggungku, Reese," tawarku. Reese terlihat ragu, tapi kondisinya memang payah. Dengan setengah enggan, aku menggendong Reese. Ia memelukku dengan erat dan ia mulai mengatur napasnya kembali. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD