Creepy Palace

1121 Words
Perjalanan menuju puncak memakan sekitar empat jam termasuk istirahat makan sebentar. Kami mengendap dan bersembunyi di balik batu besar. Di hadapan terdapat padang pasir yang tidak terlalu luas. Mungkin sekitar tiga kali ukuran lapangan rugby. Istana Tibet berada di ujung padang pasir tersebut dan bongkah dinding menjulang tinggi puncak menjadi latar belakang istana. Sekilas terlihat eksotik dan mengagumkan. Tapi begitu kami memutuskan untuk berembuk dulu, angin membawa bau amis yang tidak begitu asing buatku. "Bau darah ...," desisku terpana. "Apa, Bennet? Kau bergumam tidak jelas!" seru Flint. "Aku mencium bau darah menyengat!" balasku lumayan kencang. Ternyata, suara kami bergaung pelan di padang tersebut. Reese membungkam mulutku dengan cepat. Kami terpaksa sesaat diam. Mengamati reaksi yang mungkin terjadi jika mereka mendengar suaraku. Ternyata tidak ada respon sedikit pun. Kami bernapas lega. "Jangan ceroboh lagi, Bennet!" ingat Reese dengan lirikan jengkel. "Maaf. Aku lupa," sesalku. "Menurutmu, kenapa ada bau darah? Penciuman Bennet tidak mungkin salah kan?" tanya Leane. "Seharusnya tepat. Tidak mungkin Bennet salah," sahut Ed yakin. "Apakah kita akan menuju ke sana sekarang? Hari sudah gelap dan pergerakan kita tidak akan mereka ketahui," saran Reese terlihat tidak sabar. "Ya. Kita akan mendatangi istana tersebut sekarang," jawab Chen. Ed dan Flint memimpin langkah menuju ke arah istana. Ed melindungi langkah kami dengan selubung anti pendeteksi. Pasir bercampur salju itu sangat lembut, hingga setiap langkah kami menjadi berat. Injakan kaki kami melesak ke dalam dan saat mengangkat kembali cukup menguras tenaga karena melakukan berulang kali. Baru sekarang ini, kami menjalani tempaan diri yang sangat berat. Bertahan selama beberapa minggu di kapal dan juga menghadapi serangan serigala membuat pengalaman tersebut begitu membekas. Namun, pada saat bersamaan juga menambah rasa percaya diri yang besar bahwa kami mampu. "Kita sudah sampai," bisik Chen sambil memberi isyarat tangan untuk menepi dan merapat ke tembok. "Astaga, tembok itu sangat tinggi sekali!" decak Reese kagum. "Baru kali ini, aku melihat tembok yang menimbulkan rasa ngeri," imbuh Flint. "Kita akan memanjatnya?" tanya Ed pada Chen. "Mungkinkah ada jalan rahasia?" timpal Leane juga bertanya. "Ada, tapi itu sangat menjijikkan jika kalian tidak keberatan," sahut Chen. "Maksudmu?" Ekspresi Reese sudah tampak bersiap untuk menolak. "Ruang saluran air yang lembab dan mungkin banyak lintah di sana," jawab Chen sambil bergerak menuju jalan rahasia tersebut. "Aku sangat tidak menyukai ini," keluh Reese. "Lintah itu menjijikkan," sambungnya. Leane tersenyum simpel. "Jangan khawatir. Kita bisa mencegah dengan ramuanku," hibur Leane seperti baru teringat. Tangannya merogoh ke tas kecil dan menyerahkan pada Reese. Sembari menunggu Chen memastikan lokasi yang tepat, kami sibuk mengoleskan minyak berwarna hijau tersebut. "Flint, mendekatlah!" seru Chen. Flint buru-buru menyerahkan botol dan menuju ke arah Chen. "Gali pasir ini," pinta Chen kemudian. Flint mengangguk dan segera mengangkat pasir itu dengan mudah. Ed membantu untuk mempercepat proses tergalinya tanah berpasir. Setelah muncul tembok pondasi, Chen memintaku untuk menghancurkannya. Tanganku hanya menghantam sekali, tapi tembok itu hancur. "Hebat sekali kau, Bennet," puji Reese. Leane menepuk pundakku dengan senyum cerah. Flint dan Ed meninju lengan dan menggodaku. "Sudah, ayo kita masuk," ajak Chen tidak ingin membuang waktu. Kami menelusuri lorong yang gelap dan berair tersebut. Reese dan aku membuat api di telapak tangan kami dan memimpin langkah di depan. Udara di bawah sedikit lebih hangat dan berbau menyengat seperti got. Tapi kami seperti tidak mempedulikan semua itu. Konsentrasi kami terus tertuju pada mencapai ke dalam istana secepatnya. Setelah berjalan dengan tubuh separuh basah, kami mencapai ujung lorong yang buntu. Hanya satu tangga besi yang setengah menggantung tampak menuju ke atas. "Berapa lama kita harus memanjat? Tinggi sekali!" cetus Flint lemas. "Ayo, jangan buang waktu!" ajak Chen tidak ingin melambat. Sepatu kami licin karena basah dan beberapa kali terpeleset. "Aku bisa mengeringkan kalian," tawar Ed. "Jangan, Ed! Anginmu membuat kami dingin!" tolak Flint dan Reese hampir bersamaan.  Hanya Leane seorang yang tidak mengalami kendala tersebut. Chen mulai terengah dan berhenti beberapa kali. "Butuh bantuan, Chen?" tanyaku. Chen mengangguk dengan gemetar. Aku memintanya naik ke punggung dan tanpa kesulitan membawa Chen menaiki tangga yang lurus ke atas. Aku yang paling duluan tiba di atas dan itu hanya berupa ruangan kotak kecil sempit. Kami saling berhimpitan berdiri di pinggir lantai sekeliling tangga. "Perlukah kita membuka pintunya dengan paksa?" tanyaku. Chen mengacungkan jari untuk meminta waktu sejenak. "Silahkan, Bennet," balasnya kemudian. Aku hanya mendorong pelan dan pintu kayu tersebut lepas dari engselnya. Flint dan Ed dengan sigap menahan supaya pintu tidak jatuh berdebum. Dengan pelan-pelan, mereka meletakkan daun pintu yang terlepas di lantai. Sebuah lorong lenggang tanpa manusia satu pun. Kami mengikuti langkah Chen yang berjalan dengan ragu. Wajahnya mulai terkesima ketika kami tiba di ruangan luas tak berpenghuni. "Ada yang salah," gumam Chen. Aku mulai merasa gelisah. Apakah mereka sudah menyiapkan jebakan yang mematikan? "Kalian harus menyebar dan periksa semua tempat," perintah Chen. Kami dengan patuh, mengikuti. Aku yakin, tidak ada satu pun dari kami yang percaya diri melakukan hal ini. Tapi keharusan situasi memaksa kami untuk tidak sempat membantah. Aku melihat ke ruangan yang mirip dengan aula yang menunjukkan berbagai s*****a di dinding. Mirip gudang s*****a. Bagaimana mungkin sebuah istana memiliki ruangan penyimpanan s*****a di atas? Bukankah seharusnya itu terletak di ruang bawah tanah? Hatiku berdebar dan memeriksa tiap sudut. Aneh! Tidak ada satu pun manusia atau penjaga. Aku keluar ruangan tersebut dan melihat Reese juga baru masuk ke ruangan berikutnya. Langkah kakiku masuk ke dalam ruang gelap yang berbau aneh, seperti bangkai bercampur dupa! Ketika tanganku muncul api untuk menerangi ruangan. Tanpa sadar aku memekik. Mataku menangkat jejeran tubuh tanpa kepala, digantung terbalik di atas! Aku keluar dengan wajah pucat dan perut mual. "Bennet!" panggil Reese dengan suara tertahan. "Mati ... mereka semua mati," ucapku terbata-bata. Belum sempat Reese bertanya, Chen dan Ed berlari dari ujung belokan. Mereka juga tampak pucat. "Mereka menancapkan kepala para biara pembangkang di pelataran tengah!" erang Chen pilu. Bahunya terguncang kemudian menangis tergugu dengan tangan membekap mulutnya. Ed terlihat jauh lebih tegar. "Tubuh mereka ada di dalam," timpalku masih menyisakan rasa ngeri yang mendalam. Leane dan Reese tampak begitu ketakutan. "Penjaga yang sempat kulihat waktu menyelidiki, ternyata hanya mayat yang diikat pada tiang," timpal Ed. "Ini menjadi istana berdarah. Bagaimana nasib yang lain?" tanya Flint seperti hampir turut menangis. "Aku takut memeriksa sisa tempat sendiri," keluh Leane. "Kita bagi. Flint dengan Leane, aku dengan Chen dan Reese bersama Bennet," ucap Ed. Kami sepakat. Setelah Chen mampu menguasai diri atas kematian para temannya, kami segera melesat menuju segala penjuru ruangan di lantai bawah. Begitu kami menghabiskan waktu beberapa menit untuk memeriksa, kami akhirnya berkumpul kembali di tengah ruangan yang berpermadani. "Tidak ada penjaga dan semua ruangan kosong. Apa maksud dari semua ini?" tanya Flint sangat tergelitik ingin mengetahui. "Entah. Tapi semoga kita akan mengetahui tidak lama lagi," tebak Chen kini mulai benar-benar kehilangan rencana. Kami menebarkan pandangan ke sekeliling tanpa tahu harus berbuat apa. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD