The Dark Sky

1178 Words
Aku menatap langit yang menghitam. Rupanya setelah pagi menjelang, baru tersadar jika tadi malam kami mendarat di lereng gunung yang berbatu. Jajaran pegunungan Tibet memang tampak indah, walau sebagian lereng hanya ditumbuhi pohon pinus dan bebatuan beku. Namun itu menjadi pemandangan yang identik sejauh mata memandang. Lembah antar pegunungan dan juga belahan sungai yang masih mengalir. "Kita masih jauh dari istana Dalai Lama," ucap Chen yang muncul di belakangku. Biksu itu hanya memakai baju kebesarannya tanpa jaket ataupun baju hangat. Aku lihat pori-pori tubuhnya membesar namun wajah dan ekspresinya tidak terlihat kedinginan. "Sepertinya masih dua hari perjalanan dari istana. Kita mendarat terlalu jauh," seru Ed. Dia baru kembali dari penjelajahannya dengan Leane. Keduanya memiliki unsur atau elemen yang membuat mereka bisa terbang ke atas. Sungguh, kekuatan yang menguntungkan. "Apakah kita akan menyelamatkan Thema hari ini?" tanya Reese keluar dari gua. Aku menoleh ke arah Chen. "Langit terlalu hitam. Pertanda tidak baik. Kita tunda dulu. Aku rasa tidak sulit buat kalian mencapai istana. Sebaiknya kalian mempelajari peta yang akan aku tunjukkan. Memudahkan untuk menyelamatkan gadis Mesir itu," cetus Chen. Kami mengangguk dan menurut atas semua nasehatnya. Flint dari jauh berteriak kegirangan. Dia menangkap ikan. Tiga ekor dan sangat besar. Mungkin hampir dua kilo beratnya. Ed dan aku berlari membantunya. "Aku akan masak ikan itu. Ed, bisakah kamu menyediakan nasi?" seru Leane. Reese tersenyum senang. Hari ini kami sedikit membuat diri lebih santai. Tidak ada yang bisa memprediksi kesulitan besok. Kami menikmati semuanya selagi bisa. Termasuk menjadi remaja yang tidak terlalu berpikir keras. Kami berada di alam bebas. Kesenangan apalagi yang kami inginkan? Ini adalah hiburan dan kegembiraan terbaik! *** Leane ternyata pandai memasak. Ikan yang Flint tangkap pagi tadi telah menjadi berbagai makanan dengan resep tradisional Leane, mirip seperti chinese food. Leane memerintahkan Ed mendatangkan berbagai macam bumbu dan juga kompor. Gua yang tidak begitu lebar Reese atur dengan rapi hingga bisa menjadi dapur kecil dan meja makan sederhana.  Di dekat mulut gua, aku membuat susunan melingkar dari batu yang tingginya sekitar tiga puluh senti untuk tempat membakar kayu. Perapian sederhana. Cukup menghangatkan. Terutama Reese selalu menaikkan suhu tubuhnya menjadi sedikit hangat. Itu sangat berpengaruh sekali! Chen merasa ini kemping termewah yang pernah dia alami. Kami harus bersabar hingga langit menjadi terang dan tidak gelap. Entah bagaimana Chen menilai semua berdasarkan warna dan kondisi langit, tapi kami mempercayai dia. *** Aku merasakan dadaku sesak. Saat terbangun aku melihat dadaku bersinar aneh! "Flint, Reese, Ed! Bangun!" pekikku panik. "Leane, bangunlah!" lanjutku kembali. Semua terbangun satu persatu dan Chen dari luar masuk ke dalam. "Langit di atas sangat aneh! Bintang-bintang itu membentuk tanda pentagram!" seru Chen. Ed segera memeriksa dadaku sementara Flint, Reese dan Leane berlari keluar. "Pentagram, simbol itu telah muncul!" ucap  Ed dengan gembira. Aku menunduk dan melihat ukiran seperti tattoo bintang yang bersinar merah redup lengkap tergambar di tengah d**a. Rasanya sangat panas dan perih. Entah kenapa ini bisa terjadi. Setelah semua temanku mendapatkan kekuatan mereka, mungkin ini giliranku yang paling terakhir.  "Bennet, keluarlah!" seru Flint. Aku dan Ed melesat keluar dan melihat bintang muncul membentuk simbol yang sama di dadaku. Langit sangat gelap dan bintang itu terlihat dengan jelas. "Mereka muncul seiring simbol di dadamu sempurna," desis Leane takjub. "Bukankah hari ini kamu berulang tahun?" tanya Reese tampak ragu. Aku baru teringat. "Ya, kurasa hari ini aku genap lima belas tahun," jawabku. "Hanya pentagram utama yang kemunculan simbolnya diiringi oleh pertanda alam. Aku rasa, Dalai Lama akan merasa sangat resah mulai detik ini. Mengingat, bukan dia yang ditakdirkan untuk memiliki kekuatan besar tersebut," ungkap Chen tampak lega dan gembira. "Apakah ini akan diketahui olehnya juga?" tanyaku kini tergelitik mengetahui lebih jauh mengenai Dalai Lama tersebut. "Pastinya. Thema, pentagram dari Mesir,  dia menguasai ilmu perbintangan. Gadis itu juga diculik bukan tanpa alasan. Thema mengetahui seluk beluk kisah dan takdir pentagram paling akurat. Dalai Lama menggunakan Thema dengan baik. Sangat licik manusia itu," cibir Chen setelah menjelaskan. "Apakah Thema tahu semua ini?" tanya Reese. "Mungkin dia tahu. Tapi sangat disayangkan, Thema memiliki prinsip tidak mencampuri apa pun dan bersikap netral. Baginya semua permintaan yang datang, asalkan dia bisa, akan dia lakukan," sahut Chen dengan wajah kecewa. Sakitku lambat laun berkurang dan bintang yang membentuk simbol pentagram juga mulai lenyap. Meredup dan hilang. "Menakjubkan bagaimana ini bisa terjadi," gumam Reese. "Jika yang kamu maksud kenapa alam bisa turut memiliki efek tersebut, mungkin karena kekuatan besar yang timbul dari dalam diri Bennet, menarik unsur yang berkaitan erat dengan salah satu unsur yang Bennet miliki," papar Leane. Kami semua kagum akan analisanya. "Kamu benar, Leane. Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya yang disebabkan oleh reaksi fusi nuklir yang menghasilkan energi yang terjadi intinya. Energi yang dihasilkan oleh bintang dari fusi nuklir memancar ke ruang angkasa dalam bentuk radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Energi elektromagnetik tersebut  sangat besar. Itulah kenapa beberapa bintang bersinar saat simbolku muncul. Mereka terpengaruh oleh tambahan energi yang keluar dari tubuhku barusan," tambahku sambil memandang ke angkasa. "Astaga, kau sungguh jenius!" decak Chen kagum. Aku menjadi kikuk atas pujiannya. "Dia memang tidak tertandingi otaknya!" timpal Flint. Reese masih terlihat penasaran. "Jadi energi elektromagnetik yang kamu miliki yang membuat mereka muncul? Bagaimana bisa? Mereka bukan benda yang memiliki receptor, Bennet," tanya Reese. "Yaaaah .... Sebenarnya radiasi elektromagnetik bintang meliputi keseluruhan spektrum elektromagnetik, dari yang panjang gelombangnya terpanjang yaitu gelombang radio, ke inframerah, cahaya tampak, ultraungu, hingga sinar X dan sinar gama yang panjang gelombangnya paling pendek. Spektrum elektromagnetik yang dalam bentuk gelombang radio tersebut yang menangkap semburan energiku. Itulah penjelasan paling masuk akal. Seperti siaran radio, ingat? Gelombang frekuensi yang sama membuat siaran itu menyebar ke seluruh unit radio yang orang miliki," jawabku menjelaskan versi sederhananya. Reese menggangguk dengan puas. "Aku tidak tepikirkan sejauh itu," tanggap Reese. "Kalian semua sepertinya memang memiliki kualitas sebagai seorang pahlawan. Selain otot, kalian juga memiliki otak," puji Chen kembali. "Terima kasih Chen, kami semua tidak sehebat itu," tukas Flint. "Tapi instingmu dan analisa kamu dalam merangkai semua kejadian paling luar biasa, Flint," sambarku. "Reese mirip denganku. Kami berdua menguasai dengan cukup baik ilmu sains dan beberapa hal lain. Leane unggul dalam strategi, dia bisa berpikir cepat dalam tiap situasi genting. Sedangkan Ed adalah penyihir Sorcere berbakat yang mampu menciptakan keajaiban terbaik," lanjutku. "Astaga, ini adalah pujian terbaik, Bennet!" seru Ed dengan antusias. Chen tertawa kecil dan tampak gembira. Tiba-tiba pria tersebut berlutut dan mengepalkan kedua tangannya bertaut ke atas. "Terimalah bakti dan pengabdianku. Aku akan mendedikasikan hidupku untuk kalian semua," ikrar Chen. Kami terkejut dan tidak mengira Chen akan memutuskan hal tersebut. "Chen, terima kasih. Tapi jangan mengambil keputusan besar seperti itu!" tukas Ed gugup. Chen diam tidak bergeming, masih pada posisinya. "Terimalah, aku mohon." Chen masih bersikeras. "Tolong terimalah, jika kalian menolak, itu akan menjadi penghinaan baginya. Karena  berarti dia gagal memenuhi kualifikasi sebagai seorang pengabdi," cetus Leane yang sepertinya memahami dengan baik tradisi tibet tentang pengabdian. Reese mendekati Chen. "Bangunlah Chen, kami terima pengabdianmu," ucap Reese. Chen menengadah dan dalam remang sinar dari dalam gua, aku melihat wajahnya tampak lega. "Terima kasih." Malam semakin pekat. Salju kembali deras turun. Kami masuk ke dalam gua dan memutuskan berbincang mengenai rencana ke depan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD