Aku masih mencoba untuk mengatasi rasa sedih yang mendera. Ruang tengah yang sering kami pergunakan untuk diskusi materi sejarah dan filsafat kini menjadi tempat ternyamanku dalam mengeluarkan emosi yang tidak pernah tercurah sejak kecil.
"Kenapa hatiku tidak bisa berhenti merasakan kesedihan?" tanyaku dengan mata basah penuh linangan airmata. Ruben mengulurkan sapu tangannya padaku.
"Ternyata seiring kami mengunci semua kekuatan, emosi dan perasaanmu menjadi kebas dan tak lagi berfungsi. Tapi pertanda baik saat kamu merasakan semua kerinduan dan kesedihan itu," hibur Ruben.
"Tenangkan dirimu, aku akan patroli dengan Wolf," pamit Ron berlalu dengan Wolf.
Hugo menghela napas panjang. Mungkin ia juga merasakan apa yang aku tahan selama ini.
"Maukah kamu istirahat di kamar?" tawar Ruben. Aku menggelengkan kepala.
"Aku selalu melewatkan detik, menit, juga hari sendiri. Aku butuh teman, tidak mau sendiri lagi," jawabku. Albert muncul dengan wajah ceria.
"Kabar gembira!" serunya sambil tersenyum. Aku mengusap mataku.
"Awal tahun Tahun 1899, Guglielmo Marconi berhasil melakukan komunikasi nirkabel antara Perancis dan Inggris melalui Selat Inggris dengan menggunakan osilator tesla. Sekarang kita bisa berkomunikasi dengan alat tersebut. Bayangkan kemudahannya!" lanjutnya dengan antusias.
"Tahun lahirku ...," desisku tanpa sadar.
"Betul, tahun saat kamu lahir, banyak keajaiban yang terjadi, termasuk penemuan radio. Setelah anggota pagan kita menyempurnakan, saatnya mencari tahu tentang Cedric," sahut Albert.
Ruben berpaling padaku dan baru teringat akan Cedric yang tersebut saat aku siuman.
"Kalo kamu tidak keberatan, maukah menceritakan yang kamu lihat atau dengar dalam kondisi tidak sadar tadi?" tanya Ruben. Hugo serta merta menunjukkan minatnya.
Dengan pelan dan jelas aku menceritakan dengan detail dan terperinci.
"Sangat menarik kamu mengalami sesuatu yang menjadi memori ketika masih bayi, bahkan masih dalam perut!" seru Hugo dengan heran.
"Yang terakhir aku dengar, betulkah itu momen saat kakekku terbunuh?" tanyaku terbata-bata. Hugo dan Albert mengangguk dengan gamang.
"Ruben, aku dengar ibuku juga berpesan padamu. Apakah dia tahu, bahwa dia akan mati?" tanyaku kembali. Ruben yang terpekur menatap lantai berkarpet mengangguk dengan lemah.
"Jika kalian tahu ini semua, kenapa kalian biarkan aku hidup? Berapa nyawa yang harus terbunuh karena kelahiranku? Aku hanya pembawa musibah untuk manusia! Kenapa kalian biarkan aku hidup?" ratapku dengan airmata bercucuran. Sebetulnya malu aku bersikap seperti remaja cengeng.
Hugo ingin mengucapkan kalimat sanggahan namun Ruben memberi isyarat dengan mengangkat tangan.
"Secara tertulis, aku adalah wali sahmu. Sekarang kewajibanmu adalah mengikuti semua ajaran baik kami, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pagan Osirus yang terus memburu dan mengincar. Tidurlah, cukup untuk hari ini," perintah Ruben dengan wajah tegas dan serius.
"Tapi membiarkan ratusan nyawa terbunuh demi aku adalah tidak masuk akal dan keputusan konyol!" bantahku.
"Keputusan untuk hidup dan mati adalah hak mutlak Magna Patris! Bukan dirimu, kami atau pun Osirus! Jadi jalani hidup sebaik mungkin!" tangkis Ruben kembali dengan keras.
"Dan kembali ke kamarmu sekarang! Cukup pembahasan hari ini!" perintah Ruben tidak merubah permintaannya. Aku berdiri dengan kesal dan meninggalkan mereka.
***
Mungkin karena lelah, aku tertidur cukup lama. Jam tua di ujung perapian menunjukkan pukul tiga sore. Sebetulnya cukup singkat untuk menjejalkan semuanya dalam otakku. Mungkin ini lebih dari yang bisa kuterima. Aku beringsut turun dari tempat tidur dan melihat tumpukan album di meja belajar. Dengan pemasaran aku mengambil tumpukan itu dan membuka album teratas.
Foto-foto hitam putih yang masih terlihat bersih tersusun rapi ditiap halaman. Satu persatu terbuka dan aku tidak mengetahui siapakah mereka. Beberapa mirip dengan lukisan yang baru saja tergantung. Aku masih mencoba meraba dan mengingat. Pintuku di ketuk dan tanpa menunggu jawaban, terkuak.
Ruben muncul dengan nampan berisi sepiring makan siang. Perutku bergemuruh minta segera diisi. Ruben mengambil album dari tanganku dan memberi isyarat untuk menyantap makanan segera. Dengan raut masih menyisakan kesal dan mengantuk, aku mulai melahap ayam saus bechamel dengan cepat.
"Ini adalah Rupert muda. Ini George dan Mary, kakek dan nenekmu, menggendong Esther yang masih bayi. Ini paman dan juga sepupumu," terang Ruben menjelaskan satu persatu orang dalam album. Aku mendengar semua dengan seksama. Kali ini aku mengingat dengan baik.
"Dan ini adalah Cedric, sepupu Esther. Putra dari kakak George, kakekmu," tunjuk Ruben pada sebuah foto yang menunjukkan seorang pemuda tampan simpatik dan gagah.
"Dia mirip denganku," desisku dengan heran Ruben tersenyum.
"Kau benar. Rambut hitam, kulit pucat dan bibir merah menawan. Esther seumuran dengannya. Mereka satu sekolah di Les Chester School. Kami satu asrama dulu," kenang Ruben dengan bibir tidak berhenti tersenyum.
"Di manakah Les Chester, Ruben?" tanyaku.
"London, Inggris. Sebuah sekolah berkualitas yang sangat indah ketika musim semi. Setiap semester penuh dengan materi dari guru besar," tutur Ruben. Aku mencoba membayangkan namun gagal. Tidak pernah kusaksikan musim semi sesungguhnya selama ini.
"Aku ingin pergi kesana," harapku dengan ragu dan tidak yakin.
"Semoga, suatu saat," timpal Ruben. Aku mengangguk dan senyumku mulai terukir.
"Bisakah kamu menggambarkan musim semi? Aku tidak bisa membayangkan dalam pikiranku," pintaku dengan penasaran. Ruben menutup album tersebut dan meletakkan di sebelah nampan piringku.
"Musim semi di London penuh dengan bunga liar yang berwarna warni. Peoni, Daisy, Dafodill adalah bunga yang selalu bisa kamu temui di mana pun. Tapi favoritku adalah bunga Daisy. Memiliki setiap warna dan selalu segar dilihat."
Aku mendengarkan cerita Ruben tentang bentuk setiap bunga yang ia ceritakan dengan sangat terperinci. Ruben bahkan mendeskripsikan hingga ke suasana danau dan pepohonan yang menaungi di sekitar taman St. James Park. Aku larut dalam semua tutur kisahnya. Teriakan dari bawah membuyarkan obrolan hangat kami.
Pekikan salah satu pelayan wanita membuat kami berdua bangkit dan menuju jendela. Baik Ruben maupun diriku terhenyak.
Terhampar di halaman yang tadinya tertutup salju, bunga-bunga seperti Ruben ceritakan beserta dengan pepohonan yang secara ajaib muncul memenuhi taman yang tadinya hanya tanaman hijau yang membeku!
"Oh Tuhan ...," desis Ruben takjub. Aku terpana oleh keindahannya. Inikah musim semi?
"Penta, kau baru saja menciptakan deskripsi yang kuceritakan ...," ucap Ruben tercenggang.
"A-aku?" tanyaku gugup.
"Tuan Bennet! Bunga yang indah!" pekik Emerin dari bawah. Pelayan wanita yang biasa menyiapkan bajuku dan tidak pernah berbicara sekalipun padaku, kini berteriak dengan pijar bahagia.
Hugo berjalan dengan tertatih keluar dengan tangan menutup mulutnya karena terkesima.
"Bennet! Good job!" puji Albert dengan suara lantang. Awan salju yang gelap lambat laun tersingkir dan tergantikan oleh sinar hangat matahari.
"Dar-dari mana mereka tahu bahwa itu aku?" tanyaku masih gugup namun bercampur bahagia. Ruben menarik tanganku untuk turun.
"Karena mereka semua ada pelindung dan penjagamu. Mereka tahu keajaiban yang terjadi dulu, sebelum kami memutuskan mengunci semuanya," terang Ruben sambil terus menggandeng tanganku.
Kami menuruni anak tangga dan berlari keluar. Semua memekik dengan gembira dan wajah bersinar penuh harap.
"Ruben, apa yang terjadi dulu?" seruku masih ingin tahu.
"Saat engkau marah, terjadi hujan dan badai. Ketika engkau tertawa, musim semi datang. Tetapi jika muncul dukamu, maka salju akan mendominasi semuanya," jawab Ruben dengan semangat.
Aku hanya bisa berdiri mematung tanpa bisa mengatakan satu kata pun. Inikah aku? Pentagram Bennet Sang Pengendali cuaca? Sehebat itukah?