Unlocking

1062 Words
Pagi hari sebelum pukul tujuh aku sudah rapi dan selesai sarapan. Ruben dan Ron yang baru hendak menyantap makan pagi heran. Aku melempar senyum pada mereka dan melangkah keluar sementara salju masih turun.  Cuaca dua tahun terakhir yang aku bisa ingat dengan jelas, salju tidak pernah berhenti turun sedikit pun. Tapi pagi ini tidak kuperdulikan. Aku membuat bola-bola salju dan asyik melempar keluar pagar. Mungkin suasana hatiku sangat mendukung untuk bersenang-senang. Semua pelayan terlihat bingung melihat keceriaanku. Aku, anak yang terkenal sebagai pemurung dan pemarah kini terlihat bergembira dan menikmati pagi yang dingin tanpa jaket ataupun baju hangat. "Bennet! Sudah waktunya!" seru Ron sambil memberi isyarat dengan tangan untuk mengikutinya. Aku tidak membuang waktu. Kegembiraanku memuncak. Kami berjalan menuju ruang ballroom yang sangat jarang kami kunjungi. Ruangan itu sangat luas dan merupakan tempat berdansa juga pesta yang sempurna.  Karpet dinding ruang ballroom masih terlihat baru. Gorden berwarna krem terkuak dan karpet senada terhampar di tengah. Lampu gantung kristal yang bernilai tinggi menyempurnakan ruangan tersebut.  "Kita akan membuka kekuatanmu sekarang dan akan sedikit menyakitkan, karena melibatkan proses membuka beberapa jalur otot juga syaraf," terang Ron sembari memintaku duduk bersila di karpet.  "Buka sepatumu," pinta Ruben yang sudah terlebih dulu duduk tanpa alas kaki. Aku membuka sepatu bootku dan meletakkan di pinggir.  "Buka bajumu juga!" seru Albert yang masuk dan mendorong troli berisi beberapa peralatan kedokteran.  "Kalian tidak akan membedahku, kan?" tanyaku dengan gugup.  "Bennet, sudah kami lakukan dari dulu jika niat kami hari ini mencuri organmu," sahut Albert dengan mimik menggoda. Aku tersenyum kecut. Hugo datang dan mengambil stetoskopnya di saku. Ia mendekati dan memeriksa tubuhku dengan seksama. Tangannya meraih pengukur suhu dan menunggu beberapa saat.  "Semua aman dan normal," terang Hugo dan segera menyingkir. Wolf datang terakhir dengan buku di tangannya.  Hugo, Albert dan Wolf duduk di kursi dengan posisi memandang kami bertiga. Sementara di karpet, duduk berhadapan denganku Ruben dan di belakang, Ron. Jantungku berdetak keras. Apa yang akan terjadi setelah kekuatanku terbuka nanti?  "Penta, pejamkan matamu dan jangan berpikir apapun. Kosongkan benakmu lalu pusatkan perhatian hanya pada ucapanku," ujar Ruben, tatapan matanya sangat tajam menusuk. Aku mengangguk dan melakukan semua perintahnya.  "Tarik napas dan keluarkan dalam hitungan ketiga, ulangi hingga kamu bisa memulihkan detak jantungmu," ucap Ruben.  Aku mengosongkan semua pikiran cemas, kegembiraan juga berbagai pertanyaan yang masih berkecamuk. Napas keluar dan masuk melalui hidungku dan perlahan jantungku tidak lagi berdebar. Hanya detak kecil teratur yang terdengar.  Aku merasakan telapak tangan menempel di punggung dan dadaku.  "Jangan melawan, pasrah dan jangan bereaksi," pinta Ruben. Semua perintahnya kuikuti dengan patuh.  Berikutnya sensasi hangat muncul dari d**a dan punggung lalu menyebar hingga ke seluruh bagian tubuhku. Kepala dan jari kakiku yang tadinya dingin mulai hangat dan nyaman.  Ada rasa yag mengelitik pada beberapa titik tubuh namun aku masih mengacuhkan. Beberapa detik berikutnya, gelitik itu menjadi hunjaman nyeri. Terutama di bagian belakang kepalaku dan pergelangan tangan juga kaki.  Wajahku mulai meringis. Tusukan seperti ratusan jarum kurasakan di beberapa titik tersebut.  Semakin lama intensitas sakitnya meningkat. Bukan hanya hunjaman jarum biasa, namun terasa seperti tusukan jarum yang membara. Keringat meleleh dan rahangku mengeras menahan sakit.  "Sakit sekali ...," keluhku.  "Sabarlah Bennet, tidak lama lagi!" seru Albert yang selalu memanggil namaku dengan nama keluarga.  Deskripsi tidak lama lagi dari Albert ternyata berbeda jauh dengan ekspektasi dan perkiraanku. Sudah berlangsung hingga beberapa menit, titik sakitnya kian bertambah. Kini di belakang daun telinga dan hidungku. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Tubuhku membungkuk ke depan. Salah satu dari mereka menahan dengan telapak tangan satunya.  "Jika kau ingin melihat proses, buka matamu," seru Ruben mengerti rasa penasaranku.  Perlahan aku membuka mata dan melihat jemari Ruben memancarkan sinar sepeti bara api dari tiap jarinya. Sinar itu mengarah pada titik sakit yang kurasakan.  "Kami sedang membuka jalan kekuatanmu," jelas Ron dari belakang.  Aku memilih memejamkan mata. Bayangan sinar yang menyorot tubuhku menambah kengerian tersendiri. Tubuhku mulai terasa lelah. Keringat membanjiri tubuh dan energiku mungkin sudah habis didera sakit.  "Kamu hebat, bisa menahan sekian lama," puji Hugo. Aku tidak menganggap pujiannya berarti karena yang kurasakan berikutnya sungguh di luar kemampuanku. Sensasi seperti sayatan silet menggores punggung dan pergelangan kaki juga tangan. Tubuhku gemetar dan gigi bergemelutuk menahan sakit juga ngilu.  Aku masih ingat saat bermain dengan cutter dan tergores di telapak tangan dulu. Sakitnya bagaikan seribu kali lipat saat ini.   "Tarik napas dan tahan," seru Ron. Aku tidak lagi mendengar dengan jelas karena kesadaranku mulai menghilang. Hentakan keras kurasakan dari depan seiring dadaku mulai sesak dan semuanya menjadi gelap. *** Aku mengerjapkan mata berulang kali. Masih terlihat buram dan terkadang gelap.  "Penta, Penta, bisakah mendengar suaraku?" suara Hugo yang terus membangunkan aku berdengung menyakitkan. Secara refleks aku menutup telinga dan menjerit.  "Kurangi timbulnya suara, ia tidak mampu menahan semua bersamaan."  "Kita bawa saja ke kamar."  Berbagai dengung suara terdengar dan semua mengisi gendang telinga dengan volume yang sangat keras dan memekakkan. Entah siapa yang memapahku menuju ke kamar, namun aku melihat cat warna hijau tua pintu dan kembali semua gelap. Aku terjebak dalam kepekatan tanpa kesadaran sedikit pun.  Tiba-tiba aku bisa merasakan keberadaanku di tengah gelap gulita yang mengurung. Tapi aku tidak bisa merasakan kaki dan juga tangan. Diriku seperti melayang dalam suatu ruang hampa.  "Aku ingin memberinya nama Pentagram. Itu nama yang Osiris inginkan."  Siapa itu? Suara wanita? Di mana dia? "Pentagram Bennet. Nama yang sangat indah."  Aku tidak pernah mengenal suara berat dan terdengar sangat lembut. Mirip Hugo namun jauh lebih dalam.  "Seharusnya aku bisa mendampingi dan membesarkannya, tapi kenapa aku harus mati, Ruben?" suara wanita iu terdengar kembali. Selanjutnya aku mendengar wanita itu terisak.  "Esther, aku berjanji akan merawatnya. Jangan pernah ragu." Ruben terdengar sengau dan menangis.  Apa yang terjadi padaku? Apakah aku sudah mati? Kenapa suara-suara itu datang? Darimana asalnya?  "Esther, jangan tinggalkan Kakek nak, bangun Esther, bangun!!!" Suara pria yang berat dan dalam kembali terdengar dan meraung pilu memanggil wanita yang kutahu bernama Esther, ibuku.  "Siapa kamu? Berani masuk ke rumahku! Tunggu kau adalah ... Cedric! Biadab kau ... Arrrgggh ....!"  Suara tembakan terdengar dan jeritan pria itu mengakhiri semuanya.  "Penta ...  Penta ..!" Guncangan keras membangunkan aku.  "Siapa Cedric!" teriakku dengan peluh bercucuran dan tanganku mencengkeram selimut dengan kuat-kuat. Ruben memicingkan mata dan menatapku.  "Darimana kamu tahu Cedric?" Kelima guruku menatap dengan pandangan heran sekaligus gugup. Hugo mendekat dan mengusap wajahku dengan lembut.  "Apakah kamu mendengar semuanya tadi?" tanyanya. Aku mengangguk dan mendadak rasa sedih yang belum pernah kualami menderaku. Hugo memeluk dan aku menangis sejadi-jadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD