Begin of Journey

1074 Words
Memutuskan untuk melompat ke dalam kapal dagang India adalah konyol. Kami menyelinap di antara peti kemas dan berusaha terus bersembunyi supaya tidak terlihat. Leane mengenal baik seluk beluk kapal, karena sebelumnya dia menempuh perjalanan dari hongkong dengan kapal dagang. Leane mengajak kami masuk ke dalam peti raksasa yang kosong. "Tidak ada bekal makanan atau pun uang. Ini jauh lebih menyedihkan daripada menara doa. Bahkan kasur juga tidak ada," keluh Flint. "Kamu lupa jika Ed penyihir?" seruku dengan senyum. "Tidak ada lagi larangan, Ed. Kini kamu bisa memunculkan makanan terenak. Mungkin menu yang hangat?" ujarku mencoba menggugah Edmund. "Mudah," jawab Ed senang. Dengan sekali jentik disertai gumaman mantra, dalam sekejap, hidangan makan malam yang lezat terhidang. Kami segera menyantap dan lupa jika kami sedang dalam pelarian. ☆☆☆ Berada di antara kotak peti kemas yang besar dan sempit terkadang menjengkelkan. Rasanya ingin terbebas dan merasakan udara luar seperti dulu. "Bau amis ini membuatku tambah mual!" seru Reese kembali mengeluarkan isi lambungnya. Sudah tiga hari kami berada di dalam kapal dagang yang menuju India. Rasanya tidak menyenangkan! "Munumlah ini. Kamu akan merasa lebih baik," ujar Leane dengan seteko panas teh. Ed menghadirkan beberapa cangkir dan kami menikmati teh hangat Leane. Rasanya sangat menyegarkan. Warnanya hijau bening, namun membuat tubuh terasa segar dan menahan mual yang kami rasakan. "Terima kasih, Leane. Ini sangat enak," puji Ed. Flint terlihat termenung sambil memegang cangkir tehnya. "Flint, apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku. Flint biasanya selalu ceria, namun sejak kami berada di kapal dia berubah menjadi pemurung. Sementara Ed yang biasa berpetualang dengan ayahnya tampak tidak terpengaruh terhadap apa pun. Beda dengan Reese, aku tidak melihat gadis itu seperti dulu. Jauh lebih dewasa dan tidak ketus. "Element Flint adalah tanah. Tidak  berada di atas tanah membuat Flint sedikit melemah," spekulasi Leane terdengar masuk akal. "Aku cemas akan kondisi Les Chester. Bagaimana keselamatan semua guru dan murid-murid yang kita tinggalkan?" ucap Flint setengah membantah kesimpulan Leane. Aku menyandarkan tubuh di sisi peti kemas kayu dan menengadah. "Tidak ada yang tahu. Tapi aku merasa bersalah meninggalkan mereka," tanggapku. "Bisakah kita tidak membicarakan mereka? Mimpi buruk tiap malam sudah cukup memberiku hari yang menyedihkan," pinta Reese terdengar lemah dan lesu. Akhirnya kami memilih diam.  "Maafkan aku melibatkan kalian dalam hal ini," sesalku. Jika aku tidak menjadi anak terpilih, maka mereka akan baik-baik saja. "Bennet, takdir kami memang harus seperti ini. Jangan merasa bersalah," tangkis Leane menyanggah semua penyesalanku. "Jangan lanjutkan, tolong. Aku ingin istirahat," pinta Reese. Gadis berambut cokelat itu merebahkan diri di kasur dan menarik selimutnya. Flint menyusul kemudian. Aku masih belum bisa berbaring. Semua kecemasan mengisi benakku. Apa yang terjadi jika kami menghadapi penjahat dan kalah? Apa yang harus aku sampaikan pada orang tua mereka? ☆☆☆ Aku terbangun dengan badan berkeringat. Entah kenapa, aku memiliki mimpi buruk yang terus datang akhir-akhir ini. Semua masih terlelap. Dengan perlahan, aku berjalan menuju atas dek.  Hanya pada saat malam hari, penjaga sedikit melonggarkan patrolinya. Aku merasakan hembusan segar. Udara terasa memenuhi dadaku dan membuat tubuhku sedikit bugar. Di bawah sana kami harus menerima bau pengap dan amis. Hembusan angin menerpa wajah dan juga membelai kulitku. Aku menikmati pemandangan malam yang hanya berupa hamparan air luas tanpa berujung. Betapa kami sangat berani menempuh perjalanan ini. Terlalu banyak kejutan dalam hidupku. Kurang dari sebulan aku berulang tahun, usiaku akan genap lima belas. Namun tanda-tanda simbol atau lambang pentagram belum juga muncul di sekujur tubuhku. Apakah aku akan menjadi Pentagram seutuhnya? Jauh di dalam hatiku, aku ingin semua gagal dan tidak pernah terjadi. Kehidupan normal yang kuinginkan. Tapi ketika membayangkan perjuangan dan pengorbanan teman juga kelima guruku beserta para sahabat ibu, rasanya tidak bisa memutuskan seegois itu. "Sangat kelam namun indah untuk momen seperti ini bukan?" Reese berdiri di sampingku. Kami bersandar pada batas tembok geladak dan menikmati pemandangan malam di lautan lepas. Aku tersenyum samar. "Aku tidak pernah melihat laut, apalagi pantai hingga usia empat belas tahun," balasku. "Pasti sangat sulit menerima perubahan hidup yang sangat cepat untukmu, Bennet." "Aku berusaha menerimanya, Reese. Memaksakan dan menjejalkan satu persatu ke dalam penerimaan yang terasa memuakkan." "Menjadi companions dan memiliki kekuatan api sangat memberi pengaruh besar padaku, Bennet. Rasanya sangat asing, namun secara bersamaan aku merasa kuat dan timbul kesombongan yang berusaha kutundukkan hingga detik ini." Reese mengambil jeda sejenak. "Bagaimana kamu bisa setenang ini dan tidak merasa sebagai manusia super power yang bisa menaklukkan siapa saja? Kenapa kesombonganmu tidak pernah muncul, Bennet? Mengapa kamu bisa tetap menjadi remaja biasa yang judes dan malas bicara, tapi rendah percaya diri pada waktu bersamaan? Inikah kualitas sesungguhnya seorang jagoan?" sambungan kalimat Reese menghentakku pada sesuatu yang tidak pernah aku sadari. "Aku tidak memiliki apa-apa untuk kusombongan, Reese. Sebanyak apa pun harta yang aku miliki, aku tidak memiliki cinta sebanyak yang kalian punya," suaraku terdengar bergetar dan penuh kesedihan. Betapa cengengnya aku! "Oh Bennet, kamu memiliki kami!" tukas Reese dengan mimik prihatin. Aku menunduk dan tertawa pahit. "Aku merindukan pelukan seorang ibu yang tidak pernah aku rasakan. Atau rengkuhan seorang ayah yang tidak pernah terjadi. Aku tidak memiliki semua hal tersebut!" ucapku sedikit keras. Reese memeluk lenganku dan meletakkan kepalanya di pundakku. "Jangan pernah merasa sendiri, Bennet. Kami akan bersamamu menanggung beban ini. Saat ini tidak ada satu pun dari kita yang memiliki orang tua yang bisa melindungi." Kami berdua terdiam. Reese menjadi sangat dewasa akhir-akhir ini. Dia lebih seperti kakak perempuanku, walau dia hanya setahun lebih tua dariku. "Apakah kita akan berhasil dalam misi kali ini, Reese?" "Entah. Tapi aku yakin, selama kita bersama, bisa kita atasi." "Semoga." Tubuh kami terayun bersamaan dengan gerak kapal yang membelah lautan. Hampir sepanjang perjalanan, Leane dan aku menyingkirkan badai juga gelombang yang mengancam perjalanan. "Reese, jika suatu saat semua ini berakhir, aku ingin hidup di desa dan bertani. Mungkin memiliki peternakan domba." Reese tertawa. "Lumayan juga rencanamu, Bennet. Aku akan membantumu mencukur bulu domba." "Jangan sampai kau bakar dombaku, Reese," gurauku. "Ide yang bagus, mungkin kita bisa mencukur bulu domba sekaligus menikmati domba panggang." Reese terkekeh. Satu pembicaraan yang sederhana tentang masa depan. Reese melemparkan canda dan kami menahan geli yang menggelitik. Rasanya menyenangkan bisa melupakan sejenak himpitan tanggung jawab yang saat ini terpikul di pundak kami. Suatu hari nanti, aku berharap ini terwujud. Jika aku diberkati dengan umur yang panjang, membagikan sebagian harta Bennet adalah obsesiku. Mungkin mendirikan sekolah khusus kalangan menengah ke bawah. Atau sekolah wanita, supaya perempuan cerdas seperti Reese bisa mendapat kesempatan untuk maju. Entahlah, semua rencana bertumpuk di kepala. Awal perjalanan ini terasa berat, namun menjadi menyenangkan karena mereka, sahabatku. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD