Life in Shipment

1255 Words
Aku masih tidak percaya akan keberanian kami menempuh perjalanan berbahaya ini menuju ke India untuk menemui Dalai Lama. Sungguh satu spekulasi yang tinggi tanpa menimbang resiko sedikit pun. Ed menciptakan makanan lezat, kasur yang hangat dan baju-baju untuk kami. Terkadang kami harus mengendap secara diam-diam untuk mencapai lantai atas kapal hanya demi mandi dan membersihkan diri. Ed memang bisa mendatangkan air bersih, begitu juga Leane. Tapi kami butuh tempat luas untuk itu. “Aku dengar tadi mereka membicarakan tentang tawanan yang ada di kapal bagian cargo manusia,” ucap Reese dengan wajah tegang. Rambut indahnya terlihat kusut dan kusam. “Kamu bisa mengerti bahasa mereka?” tanya Flint. Reese menggelengkan kepalanya. “Mereka sepertinya kalangan bangsawan India yang sudah memahami bahasa kita seutuhnya. Bahkan pengucapannya sangat sempurna,” sahut Reese dengan wajah masih terlihat gusar. “Kenapa kamu terlihat gelisah? Bukan urusan kita untuk bersimpati pada para tahanan kan?” tanya Ed dengan bingung. “Mereka mengatakan jika tawanan itu utusan Dalai Lama yang ingin bernegosiasi dengan Inggris. Tentara Tibet, begitu mereka menyebut tawanan itu,” tutur Reese tidak sabar. “Jika memang itu tentara Tibet, kita harus menyelamatkan mereka,” ucap Leane seketika terlihat gelisah. “Harus? Sejak kapan kita berkewajiban menjadi pahlawan untuk tentara Tibet?” sanggahku. Leane terdiam, hanya mulutnya saja yang terbuka tanpa kalimat keluar sedikit pun. “Ada sesuatu yang kamu simpan, tapi kamu tidak pernah mengatakan pada kami, Leane,” tuduh Flint dengan jelas. Leane tampak merah padam. “Ucapanmu mulai terdengar konyol, Flint!” desis Leane geram. “Aku tidak asal menuduh! Berawal dari kegigihanmu yang meminta kami untuk segera pergi menemui Thema juga Dalai Lama! Kebetulan sekali kita harus melarikan diri dan kamu yang mengarahkan Bennet menuju dermaga. Apa arti dari semua ini, Leane?” tuntut Flint. “Aku adalah bagian dari kalian! Buat apa aku menyimpan sesuatu dari kalian juga?!” tangkis Leane dengan marah. “Cukup!” bentakku. Seketika kapal terasa bergoyang hebat. Aku menarik napas dan mengatur emosiku supaya kembali tenang. Teriakan panik terdengar dari atas, kami mendengar mereka berlarian di geladak. Ombak mengguncang kapal dengan keras. “Maaf,” sesalku. “Flint, kamu tidak berhak menuduh Leane seperti itu. Dan kamu, Leane. Jika ada sesuatu yang belum kamu ceritakan, tolong katakan sekarang,” pintaku. “Bennet, aku ingin kita menyelamatkan tentara Tibet karena dia utusan Dalai Lama yang bijak! Tidak adil menahan seseorang hanya karena Dalai Lama tidak mendukung penjajahan Inggris di tanah Tiongkok!” dalih Leane dengan wajah meyakinkan. Aku mengangguk dan menatap Fint. “Sudah puas jawaban itu, Flint?” tanyaku. Flint membuang muka dan mendengus kesal lalu menjauh pergi. Leane juga pergi ke arah yang berlawanan. Ed mengejar Flint segera. Reese duduk di sebelahku dengan gamang. “Kita mulai terpecah,” gumamnya dengan risau. “Entah kenapa, aku merasa Flint benar,” ucapku lirih. Reese menoleh dan menatapku dengan tajam. “Apakah kamu menyesal pergi, Bennet?” tanya Reese. Aku menelan ludah yang terasa pahit. “Aku tidak bisa menghindari perjalanan ini, Reese. Hanya saja, aku berharap kita tidak menuju arah yang salah,” jawabku ragu. *** Ed akhirnya mengalah dan mengamati situasi di cargo sebelah barat tempat tawanan itu berada. Reese pergi bersamanya. Aku memilih menunggu di tempat persembunyian kami di antara peti raksasa bersama dengan Leane dan Flint yang masih tidak berbicara satu sama lain. “Aku takut dan gentar,” cetusku mengisi keheningan tanpa suara manusia. Suara debur ombak yang menghantam sisi kapal terdengar memekakkan telinga. “Menghadapi nanti saat bertemu dengan Dalai Lama adalah saat yang sangat menakutkan dan aku tidak siap,” lanjutku. Keduanya terdiam. “Bagaimana jika ini jebakan? Apakah aku akan mati?” tanyaku dengan suara makin kecil dan lemah. Leane makin tampak bersalah. “Aku akan menyusul Ed dan Reese,” pamitnya buru-buru. Aku tersenyum pahit. Sudah kuduga. Leane memang menyembunyikan sesuatu! “Bennet, apakah kamu juga curiga pada …?” Flint mengajukan pertanyaan mengambang, aku mengangguk dengan pilu. “Tahan dirimu untuk menunggu waktu yang tepat, Flint,” pintaku. Sahabatku ini mengiyakan dengan sendu. Ed datang dengan Reese. Langkah mereka cukup tergesa. “Gimana?” tanya Flint tidak sabar. “Tawanan itu dalam kondisi menggenaskan. Kita memang harus menyelamatkan mereka demi kemanusiaan,” sahut Reese dengan prihatin. “Mereka menyiksa dengan sangat k**i,” sambung Ed sambil bergidik. “Leane mana?” tanyaku kemudian. Ed dan Reese berpandangan. “Kami hanya pergi berdua, Bennet,” balas Ed heran. “Tapi dia menyusul kalian,” tukasku. Baru saja kami hendak mencari tahu, Leane datang dengan seorang pria yang seperti satu ras dengannya. “Kau sudah membebaskan dia?” pekik Reese dengan kaget. “Kalian hanya mengamati sementara dia hampir kehabisan darah,” semprotnya dengan kesal. Leane membaringkan pria itu dan mulai mengeluarkan tas kecil dari balik bajunya. “Itu apa?” tanya Ed. “Herbal, akan membantu menyembuhkan lukanya dengan cepat dan menyumbat pendarahan,” jawabnya dengan cepat. Setelah memakan waktu beberapa menit, Leane membalut luka-luka di sekujur tubuh pria itu dengan sobekan kain yang ia temukan. Reese akhirnya membantu dan mereka sibuk merawat pria tersebut. “Kamu memicu mereka mengeledah seluruh kapal, Leane,” keluh Flint duduk dengan lemas. “Jika penjaga itu sadar bahwa salah satu tahanan penting lepas, seluruh penjaga akan waspada dan kita akan tertangkap,” lanjut Flint mulai berada pada titik kejengkelan paling puncak. Aku memeras otak dan setuju dengan pendapat Flint. “Leane lain kali, jika ingin bertindak, bertindaklah sebagai tim. Bukan individual!” bentak Reese yang merasa ikut kesal. Leane merasa tersudut. “Kalian terus menyalahkan aku! Tidakkah kalian sadar jika terlambat menyelamatkan nyawanya dia bisa meninggal?!” balasnya dengan emosi. “Sadar seratus persen, Leane. Oleh karena itu aku dan Ed datang untuk mengawasi. Langkah selanjutnya, kita harus bicarakan dengan baik! Bukan asal bertindak tanpa perencanaan!” bentak Reese. Leane melengos dan membanting diri dengan di tumpukan kasur. “Sekarang kita harus bagaimana?” tanya Ed. “Aku ingat waktu Ruben menyembunyikan pemakaman keluargaku dari kepolisian Faroe. Tapi aku lupa mantra yang dia ucapkan, apakah kamu tahu, Ed?” tanyaku. Ed menghela napas berat. “Aku tahu dan ingat. Bisa menyembunyikan tapi tidak melindungi. Saat mereka mengobrak-abrik dengan menusuk membabi buta, kita tetap akan terluka,” jawab Ed masih tidak menghilangkan kecemasan di wajahnya. “Berapa hari lagi kita sampai di India?” kini aku berpaling pada Leane. “Perkiraan sekitar dua minggu lagi,” sahut Leane dengan suara ketus. “Kita akan melakukan lompatan,” putusku. “Kamu yakin, Bennet?” tanya Flint. “Nggak ada pilihan. Kita tidak mau mati konyol kan?” tanyaku. “Bisakah kamu membawa dia juga?” tanya Flint sambil menunjuk pria yang terluka. Aku menarik napas berat. “Entahlah Flint, selama ini aku tidak pernah kesulitan membawa penumpang. Bahkan ketika membawa sepuluh pelayanku dari Faroe,” sahutku. Reese mengangguk dengan senang dan antusias. “Leane, ada visual apa yang bisa kamu berikan padaku?” tanyaku. Leane mengingat sebentar. Langkah kaki berderap terdengar dan teriakan penuh amarah terdengar. “Cepatlah sedikit, mereka mulai sadar jika tawanan hilang,” pinta Flint. Leane menyentuh dan memberikan visual sebuah tempat mirip dengan bangunan aneh di pegunungan. “Tempat apakah itu?” tanyaku. “Istana Dalai Lama,” sahut Leane. Aku berdebar. Sepertinya aku harus mengunjungi dan berhadapan dengan manusia itu secepatnya. Aku memejamkan mata dan mulai membayangkan tempat yang Leane berikan padaku melalui pikirannya. Semua bergandengan tangan dan Ed menggendong tubuh pria itu dengan mudah. Aku melompat dan semua tertarik secara otomatis. Kami tersedot ke dalam jalur spektrum warna warni dan setelah beberapa saat, kami terpental di atas tanah berbatu!  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD