~Jika aku memiliki kesempatan untuk memilih ayah, kau akan menjadi pilihan. Dirimu adalah manusia yang memiliki cinta terhebat untukku. Aku menyayangimu, Uncle Cedric~
***
Sejak kami berhasil memecahkan kode, hatiku resah. Rangkaian itu mengungkapkan tentang bagaimana ritual yang akan aku alami. Bayangkan jika kita mengetahui cara manusia lain akan menyiksamu! Bisakah kau hidup dalam damai?
Kesedihan menguasai jiwaku. Menyingkirkan rasa gelisah dan takut ternyata tidak mudah. Mendung sesekali datang, tapi berhasil dipulihkan saat aku terhibur oleh kehadiran Flint dan Reese.
Inilah persahabatan yang aku rasakan sangat berpengaruh dalam hidup. Flint dan Reese mampu merubah kondisi hatiku dengan cara yang aku bisa terima. Mungkin inilah dunia remaja yang tidak pernah aku dapatkan selama ini dari kelima guruku.
Ruben, Ron dan Albert belum juga kembali hingga tiga hari mendatang. Akhirnya, aku meminta ijin pada Hugo untuk menghabiskan liburan musim panas di rumah keluarga Bowes-Lyon. Hugo dengan senang hati mengiyakan.
Flint sangat antusias sekali dan Reese terlihat jengkel karena aku memilih Flint dibandingkan dirinya.
"Kita akan bertemu pada hari ketiga," janjiku. Tetap saja gadis itu menampilkan wajah tidak menyenangkan. Raut mukanya cemberut.
Perjalanan menuju rumah Flint cukup jauh. Hampir menghabiskan lima jam perjalanan non-stop dengan kereta kuda. Flint berjanji dalam perjalanan pulang ke sekolah nanti, akan membawaku menempuh perjalanan dengan kereta api. Aku belum pernah naik kereta api sebelumya. Itu akan jadi petualangan yang seru.
Pekikan histeris penuh sukacita terlontar dari ayah Flint, Larry, dan ibunya, Eliza.
"Aku tidak pernah menyangka jika Esther meninggalkan semua ciri khas wajahnya padamu!" pekik Larry dengan haru. Berkali-kali dia memeluk dan mencium kening juga pipiku. Aku merasa risih diperlakukan seperti anak kecil.
Tetapi saat Flint mendapat perlakuan yang sama, baru aku sadari. Itulah cara mereka mengungkapkan kasih sayang. Aku mulai menyukainya. Larry, Pria berkumis dan bertubuh jangkung kurus itu adalah versi Flint tua nanti.
Eliza berkali-kali menyodorkan kue kering dan makanan manis lainnya padaku. Aku menerima dengan segan.
"Sewaktu Ruben mengabarkan bahwa dia akan kembali ke Les Chester, hatiku hampir melompat keluar," kenang Larry dengan penuh semangat menceritakan kegembiraannya.
"Aku yakin, Margie dan Tom pasti iri jika mengetahui kamu memilih untuk tinggal bersama dengan kami!" seru Eliza dengan bangga. Wanita yang masih terlihat cantik dan muda itu selalu mengumbar senyum. Rambutnya yang pirang terlihat rapi tertata dengan ikal menawan yang menambah keanggunannya.
"Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah mengundang mereka makan malam besok. Leo sudah pergi mengantarkan undangan untuk keduanya," sahut Larry ceria.
"Astaga! Aku harus melihat stok makanan kita!" pekik Eliza dengan gugup dan mendadak panik. Tanpa pamitan, wanita ramah itu melesat pergi diiringi pelayan-pelayannya.
"Eliza selalu sepeti itu. Seorang wanita hebat yang kunikahi karena Esther. Eliza adalah sepupu kandung ratu kita terdahulu. Aku sangat beruntung menikahinya," puji Larry dengan tatapan penuh cinta.
"Wah, aku harus memeriksa brandi dan wine di gudang. Semoga aku masih bisa menemukan stok terbaikku!" seru Larry tiba-tiba turut panik dan berlalu dengan langkah panjang. Flint akhirnya menarik napas dengan lega.
"Maafkan, Bennet. Aku tidak menyangka jika reaksi mereka sangat mencekikmu," sesal Flint dengan mimik bersalah. Aku tertawa.
"Aku justru menikmatinya. Belum pernah aku memiliki pengalaman berkunjung ke rumah orang lain sekalipun dalam hidupku," sahutku dengan suara gembira. Flint terlihat lega kembali.
Kehidupan mereka sebagai anggota kerajaan, hampir mirip dengan kondisiku di kastil penjaraku dulu, dengan versi lebih hangat.
Pelayan, yang entah berjumlah berapa, siap melayani Flint dan juga keluarganya. Tapi aku sangat salut dengan ibunya yang terlihat sibuk mengatur semua sendiri. Para pelayan juga tampak bahagia dan gembira menjalani pekerjaan mereka.
Ketika Flint menunjukkan kamar tempatku tidur, aku meminta supaya tidur bersamanya.
"Lebih menyenangkan daripada sendiri," alasanku. Flint dengan semangat mengiyakan dan kami berlari menuju kamarnya.
***
Margie datang dengan Reese dan ayahnya, Geoff. Mirip dengan penyambutan keluarga Flint, mereka juga memelukku dengan antusias dan penuh sukacita.
Makan malam berlangsung dengan hangat. Segala cerita mengenai masa muda mereka terlontar dari mulut masing-masing. Aku baru tahu jika ibuku adalah wanita yang sangat berani dan cukup vokal dalam menyuarakan pendapatnya.
"Esther selalu memiliki segudang ide untuk melakukan kejahilan. Bahkan kami mengikuti perjalanan singkatnya menuju Amerika Serikat," ucap Margie dengan binar mata bahagia.
"Ibuku bisa membawa dalam jarak sejauh itu?" tanyaku tertarik.
"Dengan bantuan Tom tentunya," sahut Larry mendadak sendu.
"Di mana Uncle Tom dan Ed?" tanyaku heran. Flint menunduk dan yang lain saling pandang dengan wajah cemas.
"Sebenarnya kami ingin memberitahu saat makan malam usai. Kami tidak ingin merusak suasana menyenangkan ini," balas Eliza dengan gelisah.
"Apa yang terjadi, Aunt Eliza?" tanyaku kembali.
"Keluarga Dawson mengungsi ke rumah musim panas mereka di Middlesbrough. Sangat jauh dari sini, Bennet," cetus Margie.
"Ke-kenapa?"
"John Wester menekan Tom untuk mengungkap di mana Cedric. Tapi Tom bersumpah tidak tahu sedikit pun. Akhirnya dia memilih menjauh daripada mengalami intimidasi terus menerus dari mereka," jawab Margie. Aku merasakan jengkel yang memuncak pada pria botak tua yang bernama John Wester tersebut.
Tidak ada satu pun orang yang lepas dan luput dari tekanannya. Bahkan diriku sendiri.
"Kenapa memilih Wester untuk menjadi kepala sekolah? Dia adalah kepala dewan Fratrem juga bukan?" tanyaku. Semua mengangguk.
"Mereka memiliki standar sendiri untuk memutuskan, Nak," jawab Larry dengan lesu.
"Untunglah kita sudah terlepas dari mereka," timpal Geoff dengan wajah penuh syukur.
"Apakah Pentagram bisa kita selamatkan dari cengkeraman mereka?" tanya Reese.
"Menurut Hugo dan kelima gurunya, tidak hingga dia dewasa. Pentagram belum siap menghadapi kedua pagan yang akan memburunya," jawab Margie. Wanita berambut cokelat tebal dengan wajah tirus panjang itu terlihat cerdas. Mirip dengan Reese.
"Ya, Hugo juga memberitahu kami malam itu. Aku memang akan menjadi sasaran empuk mereka. Apakah aku memang akan menghadapi pagan Osirus yang mengerikan itu?" tanyaku ingin menggali lebih dalam.
"Ya. Mengerikan dan s***s! Pagan Osirus sudah menguasai Jerman. Tinggal menunggu kapan mereka meledak dan merajalela menjajah dunia," sahut Geoff, ayah Reese.
"Dengar, Bennet. Tidak perduli seberapa mengerikan serangan mereka, kamu tidak sendiri. Kamu memiliki kami dan juga kelima guru yang sudah membuktikan mengorbankan hidup mereka demi melindungi dirimu," cetus Margie dengan lemah lembut.
"Masih membingungkan antara posisi Fratrem dan Osirus saat ini bagiku. Walaupun keduanya sangat menginginkan diriku demi keuntungan mereka, tapi aku melihat jika Fratrem tidak akan menjadi ancaman yang berbahaya," ungkapku dengan ragu.
"Bennet, katakan padaku. Jika ada sebuah organisasi yang mengancam pihak lain untuk menyerahkan kekayaan mereka atau tunduk dan mengabdi tanpa keuntungan sedikit pun. Kemudian rakyat dimiskinkan sementara kalangan Fratrem hidup senang, apakah kamu akan mengatakan IYA untuk mewujudkan hal tersebut?" tanya Larry panjang lebar. Aku menggeleng.
"Itu sama saja penindasan dan p*********n halus," jawabku. Larry tersenyum dan mengedikkan bahu seperti mengatakan 'sudah kubilang'.
"Itulah tujuan Fratrem. Sekeji itu juga Osirus yang berniat menguasai dunia dengan kegelapan dan meniadakan Tuhan," timpal Eliza bergidik.
"Semoga musim panas ini, kamu bisa menyerap sedikit apa yang kami ketahui tentang dua pagan tersebut. Berita gembiranya, Leo sudah kukirim untuk menjemput Ed supaya menemanimu berlatih," ujar Larry dengan senyum lebar.
"Terima kasih ... sepertinya Uncle Cedric juga memiliki kalian untuk mendukungnya," balasku dengan harapan mereka akan mengatakan iya.
"Hanya Cedric harapan kami untuk menyelamatkan Kamu. Ruben dan Ron juga kuat, tapi mereka mereka terikat janji darah dengan Rupert untuk menjauhkan kamu dari pamanmu sendiri. Jadi apa pun yang telah terjadi, kami berharap Cedric tetap sehat dan selamat," suara Margie sengau dan tercekat dengan haru.
"Aku ingin bertemu dengannya ...," suaraku terucap lirih namun terdengar dengan jelas.
"Bersabarlah, Bennet. Bersabarlah," hibur Larry menguatkan. Aku menunduk dalam-dalam dan merasakan kerinduan akan kehadiran Cedric begitu mencekikku.