Breaking the Code

1172 Words
~Mengurai rumitnya sebuah susunan kode tidaklah serumit mengungkapkan kapan hari kematian kita~ *** Keesokan paginya, kami kembali bangun terlambat dan tidak sempat sarapan pagi. Reese yang terlihat sudah rapi, menjejalkan dua bungkus sandwich ke dalam tasku dan Flint. Entah bagaimana dia bisa mengatur waktunya dengan baik, namun Reese tampak tidak pernah kerepotan dalam mengurus dirinya. Aku? Sangat berantakan! Pelajaran Senin ini sangat singkat dan padat. Menjelang pukul sebelas kami sudah selesai. Mengingat kami menghabiskan hari Minggu kemarin hanya di kamar membaca buku harian Uncle Cedric, aku mengajak kedua temanku untuk duduk di taman rekreasi sembari menikmati musim panas yang masih menyisakan sedikit salju semalam. Semua murid heboh membicarakan tentang peristiwa turun salju. Aku berjanji dalam hati untuk lebih mengontrol emosiku. Hugo benar, ini akan memancing kecurigaan yang mudah ditebak untuk Osirus mengetahui keberadaanku. "Aku ingin mengunjungi Ed," ucap Reese sambil meluruskan kakinya di hamparan rumput. Taman itu luas dan rindang. Rumput yang terpotong rapi membentang serta dinaungi pohon-pohon besar yang lebat dan besar. Mungkin sudah berusia ratusan tahun pohon-pohon tersebut. Beberapa siswa memanfaatkan musim yang indah ini sambil membaca buku atau sekedar mengobrol. "Liburan musim panas ditangguhkan kembali?" tanya Flint. "Tidak, Rabu ini kita akan mulai libur. Aku akan meminta ijin Ibu untuk pergi mengunjungi Ed dalam perjalanan pulang," jawab Reese. "Bolekah aku ikut?" pintaku. Flint seketika menganggukkan kepalanya. "Ya!" sahutnya antusias. "Jangan habiskan waktu bermain catur, Bennet. Uncle Larry sangat tergila-gila dengan catur," ledek Reese. "Yah, terserah kamu. Kupikir lebih baik berada dengan keluargaku, daripada dengan Aunt Margie dan harus belajar menyulam," tangkis Flint tidak mau kalah. Aku tertawa kecil. Reese melempar Flint dengan batu kecil. Sepertinya akan menyenangkan merasakan kehangatan keluarga mereka. Hugo berjalan dengan tergesa dan memberiku isyarat supaya mendekat. Aku bangkit dan berjalan ke arahnya. "Ruben mengirimkan sesuatu tadi pagi dari Kota London. Bisakah kamu mengikutiku sebentar?" tanyanya dengan serius. Aku mengangguk dan memberi kode pada Reese dan Flint untuk mengikuti kami. Hugo hendak memprotes. "Mereka bagian dari pasukanku!" tegasku. Hugo akhirnya mengangkat tangan dan melangkah menuju kantornya. Kantor Hugo tepat berada di sebelah klinik sekolah yang terletak di gedung utama tengah. Ruangan itu besar dan terdapat empat rak yang terisi penuh dengan buku kedokteran. Setelah mengunci pintu, Hugo membuka lemari brankasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu berwarna merah mahoni. Sekilas kotak itu seperti potongan blok. Aku tidak mengerti apa maksud Hugo dengan kotak tersebut. "Ini catatan dari Ruben." Hugo mengangsurkan selembar kertas dengan cap lilin inisial RW terukir dibawahnya. Ruben Watts. -Aku menemukan ini dalam brankas lemari Rupert. Coba pecahkan bagaimana membukanya, mungkin ada informasi penting. RW- Reese sudah meneliti dengan seksama, tapi menggelengkan kepala dengan wajah bingung. Flint mengambil alih dan mulai menajamkan penglihatannya.  "Ada garis halus yang sepertinya menjadi bagian penutup atas untuk membuka," gumam Flint. Reese terlihat kesal. "Kamu yakin?" bantahnya dengan ragu. "Apakah Dokter punya jarum?" tanya Flint tidak menjawab keraguan Reese. Hugo mengiyakan dan mengambil tas medikalnya serta mengeluarkan dompet kecil yang terlihat sangat steril. Tangannya dengan hati-hati mengeluarkan jarum dan menyerahkan pada Flint. Sahabatku dengan hati-hati mengores garis halus tersebut. Kini tampak dengan jelas batas bagian penutup kotak yang mengelilingi keseluruhan balok. "Pertanyaan berikutnya, bagaimana membuka ini?" gumam Flint masih bergulat dan terlihat makin penasaran. Tangan Flint mencoba memutar dengan memegang bagian atas dan bawah secara terpisah, kotak itu bergerak! "Cerdas!" puji Hugo dengan senang. Flint belum puas. Putaran hingga beberapa kali belum juga membantu untuk memecahkan cara membukanya. "Coba putar searah jarum jam satu kali dan sebaliknya satu kali," saran Hugo. Flint melakukan sesuai perintah Hugo. Belum juga berhasil. "Lakukan dua kali," pinta Reese memberikan suaranya. Masih belum berhasil. "Kalian tahu jumlah sudut pentagram?" tanyaku. "Ya, lima sudut," jawab Reese. "Ada berapa garis lurus?" tanyaku lagi. "Lima, Bennet," sahut Reese mulai kesal karena merasa dipermainkan. "Coba putar lima kali ke kiri dan kanan," saranku. Flint melakukan lima putaran pertama dan suara klik halus terdengar. Senyum Hugo mulai terkembang. Flint kembali memutar lima kali putaran kedua. Hening. "Mungkin bukan lima, tapi enam. Sesuai dengan unsurmu. Lima elemen dan enam panca indra," saran Reese. Flint menambah putaran terakhir dan berhasil! Semua menghela napas lega.   Dengan perlahan, Flint membuka kotak dan terdapat gulungan kertas papirus kecil, mungkin sepanjang sepuluh centi dan selebar lima centi. Begitu gulungan itu terbuka, yang terlihat hanyalah gambar mirip dengan bintang, tapi ada dua sudut yang masing-masing menghadap atas dan ke bawah. Mirip seperti bintang dengan enam sudut. Di bawah ada angka dan hufuf yang ditulis secara bergerombol. 1:1,618C 100.000 1.800 Pb82146 Aku merasakan otakku berdenyut. "Teka teki lagi! Kenapa senang sekali menggunakan semua hal dengan cara yang misterius?" keluhku. "100.000 bisa berarti banyak hal, seperti panjang pembuluh darah manusia contohnya," ucap Hugo seraya mengetukkan jarinya di mulut. "Dan 1:1,618 adalah golden rasio yang berasal dari angka Fibonacci. Tubuh manusia jika diukur akan memiliki skala rasio yang sama," cetus Reese dengan cerdasnya. "Lalu C artinya?" tanya Flint. "Cor adalah bahasa latin untuk jantung," jawabku. "1.800 adalah volume darah kita," lanjut Hugo menyambung. Semua makin bersemangat dan Reese mencatat semuanya di buku catatan. "Aku penah melihat rangkaian huruf dan angka terakhir, tapi di mana ya?" gumam Flint. Sejenak suasana hening. "Hugo, apakah kamu memiliki daftar nama kimia?" tanya Reese. Hugo menggelengkan kepala. "Tidak, tapi mungkin kantor Ron ada," sahutnya sembari mengeluarkan kunci dari saku celana. Hugo berlalu dengan tergesa. Reese menatapku dengan wajah seperti ingin mengatakan sesuatu. "Apa, Reese? Aku tidak punya kekuatan telepati," cetusku. Reese menarik sudut bibirnya sebelah kiri dengan kesal. "Sadarkah kamu jika semua teka teki ini mengarah tentang bagaimana upacara pembantaianmu nanti?" cetus Reese dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana kamu bisa menyimpulkan begitu, Reese?" tanyaku dengan gugup. "Jika tebakanku benar, maka kita harus menghancurkan kertas ini, atau menyimpan rapat-rapat. Aku yakin, Osirus dan Fratrem sangat menghargai informasi yang akan kita pecahkan sebentar lagi," sahutnya dengan nada gelisah. Aku membuang muka dan tidak ingin melihat tatapan matanya. Menjaga emosi dan perasaanku sangat penting. Mengingat kondisi cuaca di mana aku berada, sangat terpengaruh dengan suasana hatiku. Hugo kembali dengan kertas mirip dengan poster. "Untunglah kutemukan di papan tulisnya!" seru Hugo. Reese mencari dan mengurutkan tabel tersebut. Akhirnya telunjuk gadis itu berhenti pada satu kolom. Timah hitam atau timbal lambang kimianya adalah Pb, dengan nomor atom 82, golongan 14 atau golongan karbon dan termasuk periode 6. Pb82146. Tepat! Reese menelan cairan mulutnya dengan gelisah. "Jantung, panjang pembuluh darah, volume darah, timbal," Hugo membaca ulang hasil memecahkan kumpulan angka dan huruf tersebut. "Menusuk jantung dengan s*****a dari timbal dan mengucurkan semua darah," simpul Reese dengan suara gemetar. "Jangan lupa simbol ini. Ingat tentang tanda pentagram yang akan muncul saat Bennet berusia tujuh belas tahun nanti? Yang tepat, menusuk d**a di mana tattoo pentagram timbul, kemudian menguras habis darah melalui pembuluh dengan s*****a yang terbuat dari timbal." Flint menyempurnakannya dan itu terdengar jauh lebih mengerikan. "Manusia biadab!" rutuk Hugo dengan wajah pucat. "Cara k**i paling sempurna untuk mencapai kemuliaan," timpalku kecut. "Kuharap Ruben cepat kembali," harap Hugo dengan geram. Kami menyingkir dengan pelan dari meja kerja Hugo dan terdiam dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang berkecamuk dalam benak mereka. Tetapi aku merasakan hentakan halus tidak menyenangkan, muncul menyelimuti hati. Aku mulai gentar! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD