Baik Hugo maupun Wolf berulang kali mengusap airmata dengan ujung lengan baju mereka. Wolf menangis dengan sedu sedan keras. Aku tidak menyangka jika guru filsafatku sangat melankolis. Tatapan sedihnya tidak pernah menjadi ganjalan hatiku selama ini.
Kupikir Wolf hanya tipe manusia dengan mata sayu dan sendu. Mulutnya hanya terbuka jika mengucapkan sesuatu yang penting saja. Termasuk saat memberi materi pelajaran, ia lebih cenderung serius dan membahas yang berkaitan dengan pelajaran saja.
Tidak pernah ada bahan diskusi pribadi. Hanya saja, setiap dia hendak menutup pintu, tatapan sedih selalu ia lemparkan padaku.
"Kalian mengetahui sesuatu," tuduh Flint dengan cepat.
"Anak muda, kami tidak perlu membahas ini sekarang. Kita harus menunggu formasi lengkap untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya," jawab Hugo.
"Nah, berarti betul! Memang ada sesuatu yang kalian simpan. Betul, Dokter?" sambar Flint kembali.
Aku baru sadar jika Flint memiliki bakat sebagai detektif karena hampir setiap dugaannya sangat teliti dan tepat. Sungguh, di balik tubuh jangkung dan sifat penggerutunya, Flint adalah seorang remaja yang kritis.
"Aku memilih untuk tidak menjawab. Kita harus sudahi semua ini dan, Penta, tolong bergembiralah. Kamu akan mengundang pagan Osirus untuk datang," pinta Hugo dengan sangat.
"Cedric adalah muridku!" seru Wolf dengan isak tangis. Kami bertiga terpaku dan sangat tidak menyangka akan pengakuan Wolf.
"Aku mengenalnya dengan baik, karena dia adalah murid terbaikku," kenangnya dengan raut berduka.
Hugo tidak lagi mampu menahan Wolf untuk menghentikan curahan hatinya.
"Semua mengatakan jika Cedric adalah pembunuh dan pemberontak. Tapi tidak pernah sekali pun aku mempercayai itu," ucapnya dengan mata merah melotot dan penuh dengan keyakinan.
"Teruskan, Wolf. Aku butuh semua fakta tentang Uncle Cedric," pintaku mulai memanggil dengan sebutan yang layak untuk pria yang ternyata telah berjuang sebelum aku dilahirkan.
"Cedric memang menjadi pembelot di keluarga Bennet yang terkenal sebagai keluarga bangsawan. Tapi Cedric bukan manusia seperti itu. Dia penganut agama Katholik yang taat dan menentang Protestan. Cedric dianggap noda keluarga saat bergabung dengan mendiang Emily, bahkan saat ia mendanai semua pergerakan mereka, Rupert menyerahkan Cedric kepada polisi. Esther dan Ruben yang membebaskannya." Paparan kisah Wolf sangat mengugahku.
"Wolf, kumohon. Ungkapkan semuanya," pintaku lagi.
Wolf menghapus airmata dan ingusnya, sementara Hugo terpekur dengan kepala tertunduk.
"Bennet, bukan hanya Cedric yang mencurigai tentang andil Rupert yang membangkitkan Osirus kembali dan menumbalkan ibu juga dirimu. Tapi kami berlima. Namun sebelum semua terbukti, kami memilih mengikuti rekaan cerita Rupert yang telah tertata rapi," sambung Wolf mulai tenang.
Hugo mulai mengangkat kepalanya dan menatapku.
"Penta, bukan hanya Osirus yang mengejarmu, melainkan Fratrem juga," cetus Hugo dengan suara berat.
"Apa?!" seru Reese syok.
"Osirus mengejarmu untuk mencapai gerbang Osiris, sedangkan Fratrem mempertahankanmu untuk menjadi pelindung supaya mereka menjadi yang terkuat di antara organisasi dunia," lanjut Hugo akhirnya memilih untuk turut membuka mulut.
"Aku memilih untuk bebas dan tidak berpihak pada siapapun," balasku.
"Tapi kenapa kebohongan yang kalian jejalkan pada otakku?" cecarku kemudian.
"Karena kami tidak tahu, seberapa besar kemungkinan dirimu tetap berada dalam perlindungan kami!" jawab Hugo dengan kesal. Dokter yang selama ini selalu lembut, tiba-tiba berubah menjadi sangat emosional.
"Serangan hari itu di luar dugaan kami. Jika kami membawamu pergi tidak ke Les Chester, maka dua pagan terbesar dunia akan merongrong kita dan keberadaanmu akan tersudut!"
"Tapi Hugo ...,"
"Tidak ada tapi! Tutup mulut kalian dan jangan melakukan tindakan mencurigakan! Wester menekan kami untuk membujukmu supaya menerima Fratrem dan mau mengaungkan suara sebagai pelindung pagan leluhurmu! Lakukan itu, maka untuk sementara waktu kita hanya cukup menghadapi satu musuh!" perintah Hugo dengan tegas.
"Dan berlindung pada musuh satunya, itu cara pengecut," cibirku.
"Itu cerdas!" tukas Reese.
"Mengambil cara berseteru dengan musuh adalah taktik brilian sementara kamu mengumpulkan kekuatan," sambung Reese. Aku terdiam.
"Syukurlah kamu memilih teman yang tepat, Penta. Setidaknya dia jauh lebih bijak," puji Hugo. Reese mengedikkan bahunya dengan tidak acuh.
"Tujuh belas tahun, saat kekuatanmu sempurna dan lambang pentagram terukir penuh, maka itu waktu yang tepat buatmu bertindak sebagai jagoan," cetus Hugo. Aku tidak memiliki bantahan lagi. Flint dengan sebal meraih botol wine dan tanpa sungkan menuang di gelas serta menyodorkan pada Hugo dan Wolf.
"Kalian minum saja ini, kerasnya kepala Bennet biar jadi urusan kami," seru Flint sok bersikap dewasa. Hugo ingin memprotes, namun akhirnya memilih menenggak wine dengan cepat. Wolf menghabiskan isi gelas dengan sekali teguk.
"Sekarang usiamu baru empat belas tahun, September ini dirimu genap lima belas tahun. Nikmati masa bebasmu dan bernaunglah di bawah bendera Fratrem. Selama itu kamu lakukan, Osirus tidak akan menyentuhmu," saran Hugo yang menjadi lancar setelah tersentuh wine.
Flint menuang kembali cairan merah memenuhi setengah ukuran gelas bening. Hugo mengangguk senang.
"Anehnya, kalian dipersatukan kembali. Persahabatan orang tua kalian dulu, adalah takdir baik yang Tuhan berikan padamu, Penta," cetus Wolf dengan terharu.
"Ya, Rudy mengatakan pada kami," sambut Flint dengan senang.
"Harusnya berempat," cetus Hugo yang mulai mencair. Suaranya kembali lembut dan bulat.
"Berempat?" tanyaku.
"Larry, Margie, Esther dan Tom. Mereka empat s*****n yang sangat dekat. Tom adalah keluarga Dawson yang membantu Cedric lepas dari kejaran polisi. Mereka diasingkan, hingga akhirnya Dawson membuktikan dia tidak berpihak pada Cedric setelah bergabung dengan Fratrem," terang Hugo.
"Ayah Ed ...," desis Reese.
"Ah ... Edmund, satu-satunya anak lelaki Dawson," Hugo membenarkan.
Aku tidak mengerti bagaimana prediksi jalur takdir. Tapi ini sangat di luar nalar dan logika.
"Ed pernah mengatakan jika kedua orang tuanya selalu menceritakan tentang aku," ujarku seraya menyambar botol wine dari tangan Flint.
"Apakah semua siswa yang bersekolah di sini adalah anggota Fratrem?" tanyaku dengan penuh selidik.
"Hampir sembilan puluh persen, ya," jawab Hugo.
"Kecuali orang tuaku dan Flint," kata Reese dengan pelan. Mendadak terlihat resah.
"Jika keluarga kalian berdua bukan anggota kerajaan, maka Fratrem sudah mengincar," ungkap Hugo.
"Lyon-Bowes merupakan keluarga yang sangat berpengaruh dalam dunia politik kerajaan. Larry salah satu anggota parlemen yang memiliki suara paling berpengaruh," imbuh Wolf.
"Aku tidak pernah tahu itu, politik bukan favoritku. Maaf Profesor Hamilton," cengir Flint dengan segan. Wolf tersenyum samar.
"Aku lebih suka disebut dengan filsuf daripada politikus," sambut Wolf. Flint terlihat lega.
"Siapakah Shield? Pemimpin Fratrem?" tanyaku.
"Fratrem itu luas. Pimpinan dewan tertinggi berada di London. Tapi jaringannya hingga ke beberapa negara. Rata-rata anggotanya adalah pengusaha yang merangkap politikus dan ilmuwan. Daniel Shield adalah pemimpin yang ditunjuk oleh dewan Fratrem. John Wester salah satunya, dan Shield sendiri berasal dari Amerika. Seorang Kapten hebat dan kini menjabat sebagai penasehat utama Vatikan untuk penyebaran misionaris. Bukan dalam hal religius, melainkan kemudahan penempatan. Tidak ada yng oerna6h bertemu dengannya. Dia sangat misterius,," papar Hugo.
"Dia berada di Roma," imbuh Wolf.
"Ya, pemuda baik dan berbakat. Dia masih sangat muda, seumur dengan Wolf. Empat puluh lima tahun," tambah Hugo. Flint menuangkan cairan terakhir wine.
"Entah kenapa ia menyanggupi. Mungkin ada kaitannya saat ia membawa Rupert menuju Mesir," kenang Wolf. Kami semua termangu.
"Salju sudah berhenti," seru Reese yang sudah berdiri di depan jendela.
Tidak lama kemudian listrik menyala kembali. Hugo memberi isyarat pada Wolf untuk bergegas.
"Tadi aku berhasil menyalakan api," cetusku sebelum mereka pergi. Hugo walaupun tampak terkejut, namun mengukir senyum.
"Berlatihlah terus. Ruben, Ron dan Albert sedang mengurusi beberapa hal. Mungkin baik jika terus menempa kekuatanmu," tanggap Hugo dengan lembut, aku mengangguk dengan semangat.
"Semoga Ed cepat kembali. Dia akan menjadi teman latihan yang tepat," seru Wolf seraya mengikuti langkah Hugo. Aku tercekat.
"Ed?"
"Ya, bukankah sudah kami beritahu jika Dawson adalah keluarga penyihir?" jawab Wolf mengernyitkan dahinya. Aku menggeleng dengan gugup dan sekaligus senang. Flint juga Reese terlihat saling berpandangan heran.
"Nah, sudah tahu sekarang kalian. Tidurlah," pamit Wolf menyusul Hugo yang sudah berjalan menjauh. Kami bertiga masih berdiri mematung. Edmund Junior Dawson adalah penyihir?