~Jika cinta adalah elemen dasar sifat manusia yang terbesar, maka tidak akan ada benci dan angkara~
***
Reese memenuhi janji membawa makan malam buat kami berdua. Flint membangunkan aku yang sebetulnya tidak mampu beristirahat.
"Makan dulu," ajak Reese. Aku memandang nampan berisi penuh makanan. Daging asap, daging gulung, salad brokoli, roti jagung, kentang keju, dan potongan buah. Mulut kami membulat.
"Aku membujuk orang dapur untuk menyiapkan makan malam," ucap Reese dengan cepat.
"Caramu sungguh terdepan," pujiku tulus. Reese tampak tersipu.
"Siapa saja yang hadir makan malam?" tanyaku.
"Yang pasti siswa kelas tujuh dan delapan berkurang. Para guru juga hanya tinggal beberapa. Gurumu hanya tampak Mr. Hamilton dan Dokter Morrison. Aku tidak melihat Mr. Watts, Mr. Baker dan Mr. Cooper," ucap Reese.
Wolf dan Hugo ada. Ron, Ruben dan Albert tidak nampak. Kemana mereka?
Dalam sekejap semua makanan habis berpindah tempat. Flint tampak puas dan kekenyangan. Dengan senyum jahil, ia berdiri dan menghampiri lemarinya. Reese hanya menggelengkan kepalanya dengan kesal.
"Pasti minuman keras yang kamu keluarkan," tuduhnya.
Betul! Flint mengeluarkan botol wine dan membuka dengan lihai. Ia bahkan memiliki gelas tersendiri.
"Selamat menikmati," ucapnya sembari menuang ke gelas masing-masing untuk kami.
Aku tidak keberatan. Wine mungkin akan memicu tambahan energi untuk membaca diari Cedric nanti. Aku beranjak dan mengambil buku diari dari laci.
"Kalian siap?" tanyaku.
Reese menggeser nampan dan mengangguk dengan serius.
Aku membuka sampul dan tulisan tangan rapi tertuang di atas kertas buram putih yang banyak bercak jamur kertas. Dengan hati-hati, aku mulai membaca.
Hampir sepuluh halaman pertama hanya berisi tentang catatan peristiwa yang penting untuk Cedric. Tidak ada satu pun yang berkaitan denganku.
Catatan itu mengenai beberapa petunjuk untuk menjadi time traveler yang sudah aku ketahui dari buku hitam Ruben.
Tapi begitu kami membuka halaman dengan pita pembatas buku, emosiku yang selama ini penuh amarah pada pamanku menjadi luntur. Semua berganti dengan haru dan sedih yang menghentak.
***
01 Agustus 1899
Uncle George dan Aunt Mary terbunuh! Aneh, kenapa Hugo mengatakan tidak ada bekas luka? Bukankah pengawal mengatakan jika mereka terbantai? Misteri kematian mereka akan aku selidiki. Hugo memenuhi janjinya untuk menutup mulut dengan rapat tentang kedua paman dan bibiku. Aku yakin, Rupert juga menekan pria tua malang itu dengan iming-iming kesetiaan terhadap pagan Fratrem.
18 Agustus 1899
Menulis buku harian sangat menjengkelkan. Tapi aku harus mencatat semuanya demi keponakanku yang belum terlahir. Dia berhak mengetahui semua kebenaran. Tidak peduli sebenarnya apa yang akan terjadi pada diriku nanti. Tapi seseorang yang terlanjur dicap sebagai kambing hitam keluarga, Cedric Millenia Bennet bukan seorang manusia tidak berhati.
Esher, sepupuku yang manis. Kenapa harus dirimu yang menjadi tumbal kekejaman seorang Rupert? Seandainya aku wanita, akan kuambil alih tanggung jawab itu!
05 September 1899
Akhirnya semua terbukti! Rupert pergi ke Mesir bukan untuk perjalanan bisnis. Perjalanan selama satu tahun penuh itu hanya untuk mencari kemaksiatan demi kemuliaan omong kosong! Aku perlu mencari bukti tentang iming-iming dari pemujaan terhadap Osiris.
07 September 1899
Esther O Esther, melihatmu tersiksa setiap hari menghancurkan hatiku. Kemana gadis kecil periangku yang selalu bernyanyi merdu? Bahkan cinta Ruben tidak mampu menjadi penyemangat hidupnya.
Rudy memberi laporan bahwa ada kapal yang merapat di dermaga. Aku memintanya untuk terus mencekoki mereka dengan perempuan dan hiburan. Semoga ada informasi yang Rudi dapatkan.
08 September 1899
Keponakanku, jika suatu saat kamu membaca diariku ini, mengertilah. Jika semua yang terjadi adalah karena keserakahan Rupert, kakek kita. Orang mesir itu mengatakan jika mereka akan membawamu pergi untuk dibesarkan dalam adat Mesir, supaya siap saat akan ditumbalkan nanti.
Aku berharap akan terus hidup untuk melindungimu. Hingga helaan napas terakhir, aku akan terus berjuang untuk membebaskan dirimu.
Semoga saat usia tujuh belas tahun nanti, ketika simbol Pentagram sempurna muncul di dadamu, aku sudah menjadi manusia bebas tanpa tuduhan sehingga bisa menjadi pelindungmu!
10 September 1899
Aku membunuh Rupert, karena dia yang menyebabkan Estherku meninggal! Manusia biadab!
15 September 1899
Lima pelindung yang Rupert pilih untuk melindungimu, telah melakukan tugasnya dengan baik. Kalian di pulau Faroe dan Ron juga Ruben sangat cerdas karena melindungi seluruh keberadaan kalian. Ternyata aku bisa bernapas lega, keselamatanmu akan terjamin untuk sementara.
Aku harus terus berlari untuk menghindari tuduhan sebagai pemberontak dan pembunuh. Sampai ketemu hingga saat yang Tuhan ijinkan, Pentagram Bennet!
Cinta seutuhnya, CMB
***
Entah kenapa, aku merasakan cintanya yang tulus untukku. Aku mulai terisak dan tersedu tanpa malu. Reese sudah berlinang airmata dengan Flint.
"Dia satu-satunya keluarga yang akan kujadikan sandaran hidup, kemana dia sekarang," ratapku dengan pilu.
Reese yang duduk di sebelahku memeluk dengan erat. Aku melepaskan semua tekanan berat hati dengan tangisan terpedih. Uncle Cedric, di mana kau?
***
Kami bertiga terkapar di karpet karena lelah menangis. Aku terbangun dan melihat lampu padam. Apa yang terjadi? Aku membangunkan Reese juga Flint.
"Astaga gelap. Listrik padam," keluh Reese dengan suara sengau. Tangisannya tadi mampu melunturkan anggapanku bahwa Reese bukan perempuan yang ingin menjadi lelaki.
"Hujan deras di luar," sahutku sembari merapatkan jendela. Reese memegang lilin dan meraba-raba mencari korek.
"Ini bukan karena emosimu, 'kan?" tanya Flint.
"Kita tertidur cukup lama, jika ini memang perbuatanku, harusnya salju turun karena berduka," tukasku dengan cepat. Reese masih kerepotan mencari korek api.
"Kubantu," ucapku dengan ragu.
Dalam gelap aku menerima lilin dari tangan Reese. Menurut buku, api adalah salah satu elemenku, tapi belum pernah mencoba sebelumnya.
Ada petunjuk di dalam buku hitam yang kupelajari, yang harus dilakukan hanya memikirkan tentang api dan mewujudkannya. Ron yang seorang Alkemis pernah sekilas memberitahuku tentang memusatkan kekuatan pada tangan, kemudian jari. Dengan sekuat tenaga aku fokus dan aliran hangat mulai mengalir dari d**a menuju lengan dan ke telapak tangan.
Aku mendorong napasku dan dari telunjukku muncul cahaya api. Reese memekik dan Flint berteriak kuat. Aku menyalakan lilin dan api yang muncul kemudian meredup kembali.
Kedua sahabatku memandangku dengan takjub.
"Kekuatan pikiran," terangku dengan pelan. Reese menelan air liurnya dengan gugup.
"Aku harap, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menjadi musuhmu, Bennet. Bisa hangus nanti," cetus Flint dengan ngeri. Aku tersenyum geli.
"Di luar ramai sekali," seru Reese dengan heran. Flint berjalan menuju jendela dan membukanya.
"Bennet! kamu memang mengerikan!" teriaknya dengan kagum bercampur gugup. Aku dan Reese berlari menuju jendela dan melihat derai salju mulai turun.
Di bawah anak-anak menari dengan gembira dan tertawa riang, sementara para guru terpana memandang turunnya salju di musim panas.
"s**l," umpatku.
Reese dan Flint menatapku dengan tercenggang. Gedoran di pintu terdengar dan dari bau yang tercium, aku tahu. Wolf dan Hugo sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Hugo dan Wolf," ucapku memberitahu kedua sahabatku.
Reese mengerutkan kening dan berjalan menuju pintu. Tangannya siap membuka pintu.
"Jika benar mereka, aku akan bersumpah akan menjadi pengikut setiamu!" janji Reese dengan serius seraya menarik gagang pintu.
"Penta! Apa yang terjadi?!" seru Hugo dengan wajah tegang dan Wolf seperti biasa memandangku dengan tatapan sedih.
Reese terperanjat dan menyingkir pelan-pelan.
"Masuklah, aku telah memecahkan teka teki!" seruku. Hugo dan Wolf masuk dengan tubuh tertatih dan meletakkan lilin yang mereka bawa di meja.
"Teka teki apa, Penta?" tanya Hugo dengan suara bergetar. Matanya gelisah melirik ke arah Reese dan Flint.
"Kami sudah tahu, Dok," ucap Reese menjawab tatapan mata Hugo.
Aku merasakan kesedihanku pada Cedric kembali menyeruak.
Aku tidak menjawab, namun menyorongkan buku diari Cedric.
Seketika Wolf yang berbadan besar dengan jenggot dan kumis lebat menjadi lunglai. Ia meraih buku Cedric dan duduk di kursi kecil kami dengan pelan. Hugo mematung dan Wolf mulai terisak!