Friendship

1123 Words
~Fantasi bukanlah pelarian dari dunia nyata, tetapi sebagai ajakan agar memasuki lebih dalam ke dalam misteri dunia kita sendiri~ *** Dalam perjalanan pulang, kami bertiga terdiam. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan pada Rudy, namun waktu tidak memungkinkan. Tujuanku yang semula ingin menikmati dunia luar menjadi lenyap. Tersingkir oleh kenyataan bahwa masih banyak misteri dalam hidupku yang harus kuungkap, demi keselamatan jiwaku setelah berusia tujuh belas tahun nanti. Rudy memberiku buku diari milik Cedric yang pamanku titipkan padanya sebelum menghilang karena tuduhan sebagai pembunuh keluarganya sendiri. Cedric telah menjadi buron selama empat belas tahun dan tidak pernah ditemukan. "Bennet, terima kasih telah memberi kami kesempatan untuk terlibat," ucap Reese yang duduk di depanku. Aku yang tadinya menatap keluar jendela, berpaling padanya. "Tidak seharusnya kalian aku libatkan," sesalku. "Bennet! Ini akan menjadi petualangan yang hebat. Aku pikir hidupku akan membosankan, tapi ternyata semua berubah!" tukas Flint dengan wajah berbinar. "Kita baru bertemu, tidak seharusnya aku memberitahu semuanya," ucapku dengan pelan. "Kamu salah, Bennet. Kita bukan baru sekarang bersahabat. Pertemanan kita sudah dimulai dari orang tua kita," sanggah Reese yang terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya. Raut wajahnya yang judes dan ucapannya yang ketus berubah total. "Apakah kita berteman?" tanyaku. "Pertanyaan apa itu, Bennet? Tentu kita berteman, ayahku dan Aunt Margie sudah mengawali dulu dengan ibumu," jawab Flint dengan ceria. "Esther, Esther nama ibuku ...," sambungku. "Nama yang indah," gumam Reese. Aku menunduk menatap buku bersampul kulit hitam. Ada ukiran inisial CMB. Kependekan dari nama Cedric. "Apakah kamu akan menceritakan semua ini pada kelima gurumu?" tanya Flint. Aku terdiam. Jujur belum ada keputusan yang terlintas. Semua informasi masih kuolah dalam kepala. "Kita serahkan pada Bennet. Aku yakin dia paling tahu jika itu memang perlu," imbuh Reese mewakili perasaanku. Flint mengangguk dengan senyum. *** Suasana asrama sekolah jauh lebih sepi dari sebelumnya. Mungkin banyak siswa yang dijemput oleh orangtua mereka. Isu tentang krisis negara yang mungkin memicu perang dunia ke II membuat semua orang tua memilih menyelamatkan anak-anak mereka. Pilihanku tidak ada. Les Chester adalah tempat terbaikku. Flint masih merapikan baju yang baru saja dikirim oleh petugas laundry ke kamar. Aku duduk di meja belajar dengan gusar. Buku diari Cedric masih tertutup rapat. Aku belum punya keberanian untuk membacanya. "Liburan musim panas tetap berjalan, satu minggu mulai minggu depan. Kamu mau kemana?" tanya Flint. "Libur? Bukankah kita baru mulai semester baru?" tanyaku heran. Aku sendiri tidak paham sistem sekolah dunia yang baru aku kenal. Sebelumnya aku belajar dari pagi hingga siang selama lima hari dalam seminggu. Tidak ada libur dan jeda. Belajar menjadi satu-satunya kegiatan yang menyenangkan karena ada orang yang bisa berinteraksi denganku. "Seharusnya ya, tapi berhubung krisis mulai melanda, mereka memajukan menjadi minggu depan," ucapnya. Aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak mau kembali ke pulau Faroe. Memori yang terjadi di sana tidak membuatku nyaman. Mungkin aku akan tinggal di sini," jawabku. "Bukankah mansion keluargamu masih ada di kota London?" tanya Flint. Aku berkerut. "A-aku tidak tahu. Kelima guruku tidak pernah memberitahuku," jawabku gagap. Duh, betapa banyak hal yang harus dikejar dan kupahami. "Datanglah ke rumahku jika kamu tidak ada tujuan, Ayahku pasti dengan senang hati menyambutmu," tawar Flint. Aku tersenyum dengan haru. Pintu di gedor dan tanpa menunggu jawaban dari kami, terkuak. Reese masuk dengan wajah tegang. "Kenapa, Reese?" tanya Flint. "Kalian tahu wanita yang terbunuh kemarin?" tanya Reese. Kami berdua mengangguk. Reese langsung duduk dan menyodorkan koran sore yang entah ia dapat dari mana. "Aku membeli ini di Milly toserba tadi. Baca ini," tunjuknya pada sebuah artikel. Emily berteman dengan Sang Buron? Emily Wilding Davison, seorang aktivis feminis yang mengalami kecelakaan kemarin diketahui ternyata bersahabat dengan penjahat buron Cedric Millenia Bennet. Pemuda yang berusia 35 tahun dan membunuh kakek buyut juga sepupunya sendiri. Keduanya diketahui berteman sejak Cedric mulai bergabung dalam grup pejuang rakyat. Entah apa yang melatarbelakangi sekongkol keduanya, tapi sangat disayangkan. Wanita yang mewakili suara perempuan dan menjadi pahlawan bagi kaum minoritas, kini dicurigai merencanakan pemberontakan. Aku tertegun. "Ruben mengatakan mereka bersama-sama sekolah di sini dulu," cetusku. "Berapa usia Ruben?" tanya Flint. "Dugaanku empat puluh tahun, mungkin," jawabku. "Tidak mungkin. Ruben dan Cedric pasti seumuran jika melewatkan masa sekolah bersama," tukas Reese. "Emily sudah berusia empat puluh tahun saat mengajak Cedric bergabung ke dalam grup yang memperjuangkan hak wanita. Mungkin Emily adalah senior mereka berdua," duga Reese menunjukkan informasi tersebut dalam artikel koran. Aku merasakan semuanya berkumpul penuh di otakku. Ini terlalu banyak dan rumit. Aku tidak bisa menampung kegilaan ini semuanya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mengungkap kebohongan kakekku tentang tugas Fratrem? Atau mencari dimana Cedric berada? Belum lagi diburu seumur hidup, dan terancam mati saat menginjak tujuh belas tahun nanti. Semua menumpuk dalam otakku dan aku bisa gila!" keluhku dengan putus asa. Reese melipat koran dan menghela napas pendek. "Bennet. Istirahatlah. Aku bawakan makan malam untukmu nanti," saran Reese sambil berdiri. Flint berkerut. "Sejak kapan kamu berubah menjadi ibu peri yang baik?" tanya sepupunya dengan heran. Reese berbalik dan membuang muka. "Siapa bilang? Aku cuman nggak mau hilang kesempatan baca diari itu," jawabnya dengan cuek. "Dasar!" gerutu Flint dengan sengit. Sepertinya tiada hari tanpa mereka berdua bertengkar. "Aku harus ketemu dengan Ruben, ada yang ingin kutanyakan," cetusku. "Tentang?" Reese tampak khawatir. Gadis itu urung pergi. "Rumah peninggalan keluargaku. Mungkin aku akan menghabiskan waktu di sana. Siapa tahu ada petunjuk yang bisa menuntun menemukan satu persatu jawaban," sahutku. "Bennet. Jika mendengar dari Rudy, kita tidak bisa begitu percaya pada mereka. Kelima gurumu adalah orang pilihan Rupert. Tidak menutup kemungkinan, salah satu atau bahkan kelimanya menjadi double agent. Tolong, simpan dulu semuanya," ucap Flint. "Tumben kamu cerdas," sindir Reese sambil menyilangkan tangan di d**a. "Aku memang cerdas dan menyenangkan," sambut Flint meledek Reese. "Huh!" dengus gadis itu kesal. "Kalian memintaku untuk berhati-hati. Tapi kalian berdua juga baru kukenal. Apakah bijak mempercayai kalian untuk membantuku membuat keputusan?" tanyaku dengan kritis. Reese melotot padaku. "Apa sih yang menjadi kepentingan remaja usia empat belas tahun, sampai mencampuri urusan dua pagan dunia terbesar? Aku lebih memilih bergabung dengan anggota klub sains dibandingkan terlibat dalam pagan konyol!" tandas Reese tajam. "Ayahku sudah keluar sejak lama," imbuh Flint. "Keluargaku mundur sejak Shield berkuasa," timpal Reese menambahi. Aku menghela napas panjang. Tapi entah kenapa, aku yakin dua remaja ini memahami keraguanku tadi. "Pilihanmu, Bennet. Untuk mempercayai siapa. Tapi aku dan Flint tidak akan mengkhianati kepercayaanmu," ucap Reese dengan wajah tertunduk, namun rautnya tampak keras. Flint mengangguk setuju. "Aku ingin jadi pribadi bebas. Tanpa terikat pagan atau aturan komunitas. Aku ingin menjadi manusia yang bisa mewujudkan kehendak sendiri," ucapku mengungkapkan keinginan terdalam. "Aku juga. Menjadi pribadi tanpa memandang statusku sebagai seorang perempuan," balas Reese. "Ya, menjadi pribadi tanpa tunduk pada peraturan dan harus terbungkam karena tekanan," sahut Flint turut memberikan suaranya. "Rupanya ini yang menyatukan kita," balasku dengan lega. Baik Flint ataupun Reese menatapku. "Hidup tanpa pagan!" ucap kami serentak. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD