Usia dua puluh satu tahun membawa Sengkala ke puncak keahliannya sebagai mantri pangalasan, tapi juga ke jurang ketidakpastian yang semakin dalam. Majapahit, meski masih megah di permukaan dengan candi-candi yang menjulang dan upacara kerajaan yang meriah, mulai menunjukkan retakan: wabah sampar yang merayap dari pesisir, gesekan antara pangeran kakak beradik yang memperebutkan pengaruh di belakang Hayam Wuruk yang semakin tua, dan desas-desus tentang kerajaan-kerajaan Islam di utara yang semakin berani menentang upeti. Trowulan tetap ramai, tapi udara terasa lebih berat, seperti besi yang sudah terlalu panas dan siap retak.
Pagi itu, bengkel keluarga Sengkala—kini sudah diperluas menjadi dua ruangan dengan ruangan murid—hiruk pikuk dengan denting palu ganda. Sengkala, kini berusia 21, berdiri di tengah, mengawasi tiga murid muda yang menempa tombak untuk laskar di perbatasan. Tubuhnya kini kekar penuh otot dari bertahun-tahun bekerja keras, sinjang katun tebalnya basah kuyup oleh keringat, kalung kayu leluhur menggantung di d**a, dan di pinggangnya tergantung keris *Giris Pawaka*—bilah pertamanya yang kini jadi lambang pribadi.
“Landasanmu miring, Lurah!” tegur Sengkala tegas pada murid termudanya. “Bila tombak itu patah di tangan prajurit, bukan musuh yang kau bunuh, tapi saudaramu sendiri!”
Lurah, remaja kurus berusia 15 itu mengoreksi posisi besinya dengan tangan gemetar. “Maaf, Mas Sengkala. Api terlalu ganas hari ini.”
“Api selalu ganas,” balas Sengkala sambil meniup tungku hingga bara memerah lagi. “Yang membedakan adalah tangan yang memegangnya. Poles pamornya dua kali lagi sebelum dingin.”
Mpu Wira, yang kini lebih banyak mengawasi daripada bekerja langsung karena usia, duduk di sudut dengan secangkir wedang jahe. “Pesanan dari istana datang lagi, Le. Keris pusaka untuk Sang Mahapatih. Tapi kali ini... spesial. Katanya untuk upacara besar, tapi bisik-bisiknya untuk pangeran tertua.”
Sengkala menghentikan palunya, menatap ayahnya. “Pangeran tertua? Yang katanya sering berdebat dengan adiknya soal wilayah pesisir?”
“Benar,” jawab Mpu Wira pelan. “Gajah Mada sudah tua, pengaruhnya mulai goyah. Pangeran-pangeran mulai berebut posisi. Keris pusaka bukan sekadar s*****a—itu simbol. Siapa yang berhasil memegangnya, maka memegang juga legitimasi.”
Sengkala menggeleng pelan, melanjutkan pukulan. *Tang-tang-tang.* “Kita buat saja, Pak. Tapi hati nurani tak bisa ditempa ulang.”
Dewi Laras muncul dari dapur, membawa periuk nasi liwet dan urap yang segar. Rambutnya mulai beruban, tapi gerakannya masih lincah. “Sudah, kalian berdua. Makan dulu sebelum bicara politik. Wabah sampar sudah merebak di desa sebelah—jangan tambah beban dengan perut kosong.”
Sengkala tersenyum tipis, meletakkan palu. Saat mereka makan bersila di tikar pandan, suara kentongan dari arah istana terdengar lagi—panggilan pasukan. “Itu yang ketiga di minggu ini, Bu,” kata Sengkala. “Laskar latihan terus menerus apa sebenarnya mau perang?”
“Jangan spekulasi, Le,” tegur Dewi Laras. “Fokus pada kerjaanmu. Kerajaan punya urusannya sendiri.”
“Tapi kerjaanku bagian dari urusan mereka,” balas Sengkala. “Kalau keris kita dipakai saudara lawan saudara, apa kita tetap bilang ‘bukan urusan kita’?”
Mpu Wira menatap putranya bangga tapi prihatin. “Itulah pertanyaan yang akan kau jawab sendiri suatu hari nanti. Aku dulu juga bertanya begitu pada bapakku.”
***
Siang itu, Sengkala pergi ke pasar Trowulan untuk membeli logam tambahan. Pasar lebih ramai dari biasanya, tapi suasananya tegang: pedagang Cina dan Gujarat berbisik soal kapal dagang yang dicegat oleh laskar pesisir, ibu-ibu menimbun beras karena takut wabah sampar menyebar, dan sekelompok prajurit istana berlalu lalang dengan tombak baru—mungkin dari bengkelnya sendiri.
Di sudut pasar, ia bertemu Jaka, sahabat lamanya yang kini jadi pengantar barang ke pelabuhan utara. Jaka tampak lebih kurus, matanya cekung. “La! Lama tak jumpa. Kau masih sibuk menempa besi buat kerajaan?”
“Masih,” jawab Sengkala sambil membeli seikat batang besi dari pedagang. “Kau? Pelabuhan utara katanya ramai oleh kapal Islam?”
Jaka mengangguk gelisah. “Ramai, tapi bukan dagang biasa. Mereka membawa ulama, membawa ajaran baru. Orang bilang, Demak dan Tuban mulai membangun masjid besar, menolak upeti Majapahit. Pangeran di sana katanya lebih menghormati sultan daripada raja di Trowulan.”
Sengkala mengerutkan dahi. “Wabah sampar juga dari sana?”
“Katanya iya. Kapal membawa penyakit dan ide-ide baru. Rakyat pesisir bilang Majapahit sudah tua, seperti beringin yang kering akarnya.”
Sengkala tertawa kecut. “Kalau begitu, kenapa istana masih pesan keris pusaka? Bukankah itu tandanya mereka masih yakin?”
“Atau putus asa,” balas Jaka sinis. “Aku dengar pangeran kakak dan adik mulai kirim mata-mata ke bengkel-bengkel seperti punyamu. Mau tahu siapa yang paling setia.”
Sengkala terdiam, membayar besi. “Kalau mereka tanya padaku, apa jawabanku, Jaka?”
“Jawab jujur. Kau bukan prajurit. Kau empu. Tapi hati nuranimu milik keluarga dan tanah ini, bukan tahta mana pun.”
Mereka berpisah dengan pelukan persaudaraan. Sengkala pulang dengan pikiran berputar: loyalitas bukan hitam-putih lagi.
***
Malam harinya, saat Sengkala mulai menempa keris pusaka untuk Mahapatih, seorang utusan istana datang secara tak diundang. Pria berjubah halus, kalung emas tipis di leher, berdiri di ambang bengkel dengan dua pengawal.
“Mpu Sengkala?” tanyanya langsung.
“Iya,” jawab Sengkala, meletakkan palu tapi tak memadamkan api. “Ada pesanan baru?”
“Bukan pesanan. Tapi undangan,” kata utusan itu. “Pangeran tertua ingin bertemu denganmu besok pagi. Katanya kau empu muda yang karyanya sangat terkenal. Ingin melihat tangan yang menempa masa depan kerajaan.”
Sengkala saling pandang dengan ayahnya. Mpu Wira mengangguk pelan. “Kami hormati undangan itu.”
Utusan itu tersenyum tipis. “Hanya kau, Mpu Sengkala. Bukan bapakmu. Pangeran ingin bicara langsung dengan generasi baru.”
Begitu utusan pergi, Dewi Laras keluar dari rumah, wajahnya pucat. “Le, jangan pergi. Ini jebakan. Mereka berebut pengaruh, kau bisa terseret.”
“Aku harus pergi, Bu,” kata Sengkala tegas. “Bukan untuk memilih pihak, tapi untuk tahu. Kalau empu seperti kita diam saja, siapa yang akan memberi suara untuk rakyat biasa?”
Mpu Wira menepuk bahu putranya. “Pergilah. Tapi ingat: lidahmu lebih tajam dari kerismu. Bicara apa adanya, tapi jangan memberi janji kosong.”
***
Keesokan paginya, Sengkala berpakaian sopan—sinjang sutra tipis hadiah dari saudagar, keris *Giris Pawaka* di pinggang—masuk ke paviliun pangeran di kompleks istana bagian luar. Ruangan mewah: lantai marmer, dinding berukir dengan relief garuda, aroma kemenyan sangat tebal. Pangeran tertua, lelaki paruh baya berwajah tegas dengan sorot mata yang licik, duduk di singgasana kecil, dikelilingi penasihat.
“Mpu Sengkala,” sapanya ramah tapi dingin. “Kudengar tanganmu andal. Keris untuk Mahapatih katanya kau yang poles pamornya.”
“Kawula hanyalah pembantu ayah, Gusti,” jawab Sengkala sembah puspa, tiga kali angguk dalam.
Pangeran tertawa. “Mengecilkan diri? Kau tahu, adikku yang bungsu juga pesan s*****a darimu. Dia bilang kau setia. Aku bilang kau pintar. Pintar akan tahu angin berhembus ke mana.”
Sengkala tetap tenang. “Kawula setia pada kerajaan, Gusti. Bukan pada angin.”
Pangeran menyipitkan mata. “Bagus. Wabah sampar telah merebak, pesisir memberontak, pangeran adikku bisik-bisik soal ‘reformasi’. Kau, sebagai empu, apa pendapatmu soal masa depan Majapahit?”
Sengkala menarik napas dalam. “Kawula pikir, kerajaan seperti besi panas: kuat kalau ditempa dengan benar, tapi retak kalau dipukul sembarangan. Yang dibutuhkan bukan s*****a baru, tapi kesatuan dari dalam.”
Pangeran tersenyum puas. “Bijak. Kalau kau mau, besok kau bisa kerja langsung di bengkel istana. Gaji tiga kali lipat.”
“Terima kasih, Gusti. Kawula pikirkan,” jawab Sengkala sopan, tapi hatinya bergolak.
Keluar dari paviliun, ia bertemu utusan pangeran bungsu di gerbang—jelas mata-mata. Tekanan mulai nyata.
Di rumah malam itu, Sengkala bercerita pada keluarga. “Mereka berebut, Pak. Aku seperti bilah yang mereka incar.”
Mpu Wira mengangguk. “Pilihanmu sekarang menentukan jejakmu di sejarah, Le.”
Sengkala tahu: retakan sudah terbuka. Ia harus memilih: setia buta, atau kesetiaan yang bijak. Dan api di bengkelnya kini terasa seperti metafor hidupnya sendiri—mengendap, menunggu ledakan.