Bab 5 : Api yang Mengendap di Balik Kemegahan

4356 Words
Angin yang berhembus dari arah sungai pada siang itu terasa lebih panas ketimbang hari-hari biasanya, sambil membawa serta bau tanah yang kering dan asap tipis yang berputar lembut di udara, berasal dari ladang-ladang yang sedang melalui proses pembersihan dengan cara dibakar. Di tengah hawa lembab nan kering itu, tampak Sengkala yang kini telah menginjak usia enam belas tahun, berdiri tegap di ambang pintu bengkel kerja sambil mengikat sinjangnya dengan lebih kuat dan kencang. Bahunya telah terbentuk kokoh dengan otot lengan yang semakin menonjol, menggambarkan perubahan fisik yang tidak main-main; wajahnya kini tidak lagi menggambarkan seorang bocah belia: rahang telah menjadi lebih tegas, memproyeksikan kekokohan sementara tatapan matanya yang tajam dan penuh arti masih menyimpan kelelahan yang mendalam. Dihadapannya, pada rak kayu yang sederhana namun kokoh, berjejer bilah-bilah keris dan tombak yang menunggu untuk dipasangi gagang. Ada berbagai pesanan datang dari prajurit istana yang dengan setia menjalankan tugas negara, dari pengawal adipati yang menjaga keselamatan pemimpin lokal, bahkan dari seorang saudagar kaya yang berdomisili di pesisir, yang memiliki koneksi kuat dengan pelabuhan penting di pesisir utara Jawa—pelabuhan tersebut terkenal sebagai tempat di mana para saudagar muslim terus memperkuat jaringan perdagangan mereka secara bertahap. “Le,” suara Mpu Wira tiba-tiba mengganjal lamunannya dengan lembut, “hari ini kau yang memimpin kerja. Bapak hanya mengawasi.” Sengkala menoleh perlahan, dengan sedikit kebingungan. “Memimpin, Pak?” “Usiamu sudah cukup,” jawab Mpu Wira dengan penuh pengertian. “Kau yang atur prioritas: mana bilah yang harus selesai dulu, mana yang bisa ditunda. Dunia di luar sana semakin tak sabar dengan perubahan yang begitu cepat. Kalau kau tak belajar mengambil keputusan di bengkel ini, bagaimana kelak kau bertahan di luar sana, di dunia nyata yang jauh lebih keras?” Sengkala menarik napas panjang, berusaha untuk memompa semangat baru. “Baik, Pak. Kita selesaikan dulu dua keris untuk pengawal istana. Mereka akan datang sebelum senja menjelang.” Mpu Wira mengangguk penuh persetujuan. “Itu jawaban yang tepat. Istana mungkin goyah dalam urusan orang besar, tapi jika kita lalai dalam urusan kecil, kita ikut menggoyahkan dunia yang kita pijak ini, yang kita yakini sebagai sandaran.” Bengkel pun kembali hidup dengan semangat dan kegigihan yang baru. Api dinyalakan dengan kecekatan, tungku ditiup hingga bara berubah merah merona, besi dimasukkan dan ditarik secara bergantian. Suara palu yang berdentang kini bukan hanya milik Mpu Wira—dentang palu Sengkala tidak kalah mantap dan menggema di seisi bengkel. Seorang remaja lelaki dari desa sebelah, bernama Lurah, yang baru saja dijadikan murid oleh Mpu Wira, sibuk mengangkat batang-batang besi dan mengelap keringat yang mengucur dari wajahnya yang penuh harapan. “Mas Sengkala,” kata Lurah, penuh rasa ingin tahu, “kenapa akhir-akhir ini pesanan tombak lebih banyak daripada keris?” Sengkala menghela napas perlahan, tanpa menghentikan ayunan palu yang sedang ia pegang. “Karena tombak untuk laskar dan pasukan banyak dibutuhkan, Lurah. Tombak adalah alat perang; sementara keris lebih sering menjadi pusaka atau lambang status. Jika tombak sudah mulai banyak dipesan, itu berarti ada pergerakan di lapangan yang juga semakin intens dan masif. “Artinya perang?” suara Lurah mengecil, mencerminkan ketakutan yang mendalam. “Belum tentu besok perang terjadi. Tapi anginnya sudah berhembus ke sana, mengarah ke kemungkinan besar,” sahut Sengkala dengan tatapan mata yang penuh kewaspadaan. Dari luar bengkel, suara kentongan dari arah kota raja, terdengar: *tong-tong-tong*—irama yang bukan tanda bahaya, melainkan tanda berkumpulnya prajurit untuk latihan atau rapat penting. Sengkala berhenti sebentar, memiringkan kepala dengan rasa ingin tahu yang kian meningkat. “Pak, kentongan itu...?” “Panggilan latihan atau rapat pasukan,” jawab Mpu Wira dengan bijak dan tenang. “Belakangan ini sering terdengar, menjadi rutinitas untuk banyak prajurit. Kau perhatikan?” Sengkala mengangguk yakin. “Aku juga perhatikan para pedagang dari pesisir makin banyak datang, dan mereka datang bukan hanya membawa rempah-rempah harum, tetapi juga membawa kabar penting yang harus diantisipasi.” “Kabar apa?” Lurah bertanya, dengan rasa penasaran yang tidak bisa ditahan. “Kabar tentang kota-kota pelabuhan yang kini makin kaya raya, tentang ulama dan saudagar yang punya pengaruh besar terhadap rakyat di sana, dan tentang betapa suara istana di Trowulan tak selalu ditakuti seperti dulu lagi,” jawab Sengkala dengan lirih, mengisyaratkan kegelisahan yang mendalam. Siang menjelang, dan Sengkala memutuskan untuk pamit sejenak ke pendapa Guru Damar. Meski sudah remaja dan tidak lagi dianggap bocah, ia masih setia datang bila sempat; bukan lagi sebagai murid kecil yang belajar cara bersedakap, tapi sebagai pemuda yang haus akan penjelasan mendalam tentang dunia yang semakin kompleks dan penuh dinamika. Pendapa hari itu tampak sepi, suasana tenang menyelimutinya. Hanya ada Guru Damar yang duduk bersila dengan penuh konsentrasi, membaca lontar kuno dihadapan matanya yang menunjukkan kerut tua dan bijak. Rambutnya kini semakin memutih dan garis keriput di wajahnya bertambah semakin dalam, tanda kebijaksanaan yang menambah wibawa. “He Guru,” sapa Sengkala dengan penuh hormat sambil merunduk. “Boleh aku ganggu sebentar?” “Kau tak pernah mengganggu, Sengkala,” jawab Guru Damar, tersenyum lelah namun ramah. “Duduklah. Wajahmu tampak seperti bilah yang habis ditempa—panas tapi disembunyikan dengan sempurna.” Sengkala duduk bersila dengan penuh etika, meletakkan palu kecil yang selalu ia bawa di samping lututnya. “He Guru, Mengapa semakin hari, semakin kurasa Majapahit seperti bengkel yang tanpa henti menyalakan api di semua sudut, tetapi lupa memadamkan bara di sudut-sudut yang kotor dan terlupakan?” Guru Damar tertawa pendek, dengan nada tanpa kegembiraan. “Perumpamaanmu semakin tajam dan menyentuh. Apa yang membuatmu berkata begitu?” “Pesanan s*****a semakin meningkat dari hari ke hari. Kentongan sering berbunyi memanggil. Para pedagang semua bercerita tentang pelabuhan-pelabuhan yang sudah mulai berani menawar hukum pajak kekaisaran. Dan...” Sengkala menelan ludah, perlahan namun dalam, “ada rumor bahwa di dalam istana sendiri, para pangeran dan pejabat tinggi mulai saling curiga satu sama lain.” Guru Damar merapikan lontar, menatap lurus ke mata Sengkala dengan tatapan yang penuh misteri dan kekhawatiran. “Itu bukan kabar baru, Nak. Sejak raja-raja besar dulu tiada dan pergi, bayangan perebutan kekuasaan sudah menggantung di udara. Tetapi kini, ya, angin itu bertiup lebih kencang daripada sebelumnya.” “Apakah ini awal dari keruntuhan Majapahit yang selama ini menjadi pusat segala kekuasaan?” Sengkala bertanya lirih, menahan kegelisahan yang bergejolak. “Sejarah jarang runtuh dalam sekali hantam,” jawab Guru Damar bijak. “Ia runtuh pelahan-lahan: dari retak di dalam dirinya, dari kerakusan yang dibiarkan, dari keadilan yang diabaikan. Amukan besar sering kali didahului oleh bisikan-bisikan kecil yang lama tak dihiraukan, hingga akhirnya tak bisa diabaikan.” “Lalu... peran orang seperti aku apa?” suara Sengkala bergetar pelan, penuh pertanyaan eksistensial. “Aku bukan prajurit, bukan pejabat, bukan pendeta.” Guru Damar tersenyum tipis namun penuh arti. “Kau adalah empu. Kau membuat s*****a, kau juga mencatat dalam sejarah. Dua hal itu tidak remeh, Le. s*****a bisa membunuh dengan kejam, tapi juga bisa digunakan untuk menahan orang zalim. Catatan bisa dilupakan hari ini karena dianggap tidak penting, tapi kelak menjadi satu-satunya saksi ketika orang berpura-pura tidak ingat akan masa lalu.” Sengkala menunduk dalam, merasakan pergulatan emosi. “Kadang aku merasa takut, He Guru. Takut menjadi bagian dari kezaliman yang tak kusadari, hanya karena aku terus menempa bilah s*****a ketika seharusnya aku berhenti demi keadilan.” “Jangan terlalu cepat menghukum diri sendiri dengan keras, Nak,” ujar Guru Damar dengan nada lembut. “Yang terpenting adalah jangan butakan mata batinmu. Jika suatu hari datang masa ketika kau diminta untuk memilih—antara hidup nyaman dengan hati gelap, atau hidup susah dengan hati yang lega—kau sudah memiliki bekal untuk memutuskan pilihan yang kau inginkan.” Menjelang usia delapan belas tahun, Sengkala untuk pertama kalinya diajak langsung mengantar sebuah keris ke kompleks dalam yang lebih mendekat ke istana megah. Bukan di ruang singgasana tentunya, tapi paviliun seorang pejabat tinggi yang terkenal sangat dekat dengan salah satu pangeran yang ambisius. “Kau harus hati-hati jika berbicara,” pesan Mpu Wira di luar gerbang paviliun. “Kau hanya antar keris. Tidak lebih dari itu.” “Aku mengerti, Pak,” jawab Sengkala, merapikan sinjang terbaiknya. Kali ini ia memakai kain yang motifnya sedikit lebih halus, hadiah dari seorang saudagar yang pernah ia tolong dalam memperbaiki pisau kepunyaannya. Di dalam paviliun, seorang laki-laki kurus dengan sorot mata tajam menyambut mereka dengan pandangan penuh selidik. Di pinggangnya sudah tergantung sebuah keris lama, tetapi di meja di hadapannya tergelar beberapa bilah lain—seperti seorang kolektor yang tak pernah merasa kenyang. “Ini keris pesananku?” tanyanya dengan nada tanpa basa-basi, langsung pada titik persoalan. “Benar, Raden,” sahut Mpu Wira, meletakkan kotak kayu di meja dan membuka penutupnya perlahan. Di dalamnya terbaring keris dengan pamor yang berpilin menyerupai ombak laut yang menari. Sengkala memperhatikan dengan seksama, diam seribu bahasa. Raden itu mengangkat keris tersebut, mengamatinya dari ujung gagang hingga mata bilah dengan penuh selidik. “Bagus,” gumamnya, sedikit puas. “Ringan, tapi terasa mantap di tangan. Cocok untuk... pergerakan cepat.” Pergerakan cepat. Kata itu membuat bulu kuduk Sengkala berdiri tegap. Ia membayangkan keris itu tak hanya di upacara, tetapi juga di lorong gelap, di belakang seseorang yang tak menduga kehadirannya. “Siapa yang mengerjakannya?” tanya si Raden dengan intensitas yang tinggi. “Saya yang merancang, putra saya yang menyelesaikan beberapa tahap” jawab Mpu Wira, melirik Sengkala dengan bangga. Raden itu menoleh, menatap Sengkala dari atas ke bawah penuh penilaian. “Nama?” “Sengkala, Raden,” jawabnya, menunduk sembah penuh respect. “Sengkala...” Raden itu menyeringai tipis. “Nama yang sangat cocok untuk masa seperti ini. Semoga kerismu menggoreskan masa depan yang menguntungkan kita—bukan hanya mereka yang duduk di atas mengatur segalanya.” Sengkala menahan diri untuk tidak bereaksi. Mereka pamit dengan sopan. Begitu keluar pagar, napasnya baru terasa lega. “Pak,” katanya pelan, sejumlah kekhawatiran menghantui benaknya, “apa Raden itu...” ia tak menyelesaikan kalimatnya, namun keraguan meliputi. “Dia bukan orang yang kita hakimi,” potong Mpu Wira, meski nada suaranya berat dan penuh makna. “Kita hanya perlu tahu: keris seperti itu bisa berada di mana saja, di pinggang siapa saja. Itu sebabnya Bapak selalu bilang, setiap bilah membawa beban tersendiri dalam hidup ini.” “Bagaimana jika suatu hari aku tak sanggup lagi menanggung beban itu?” tanya Sengkala, suara penuh ketidakpastian meliputinya. Mpu Wira menatap langit, mencari jawaban. “Itu pertanyaan yang akan dijawab zaman, Le. Bukan hari ini. Tapi kau boleh mulai menyiapkan jawabanmu untuk menghadapi tantangan tersebut.” Di desa, malam-malam belakangan ini semakin sering dan diiringi dengan kabar aneh yang menyeruak dan penuh misteri. Kadang seorang pengawal dari utara melintas, bercerita di warung: tentang kerusuhan kecil yang terjadi di sebuah kadipaten yang tak terima wakil raja yang baru. Kadang pedagang dari pesisir membicarakan bagaimana laksamana-laksamana muslim mulai mengatur pelayaran sendiri, dengan hukum dan sultan mereka, sementara pajak ke Majapahit mereka tawar demi keberlangsungan ekonomi mereka. Duduk bersama Jaka dan Mbok Sari di bawah pohon beringin yang megah, Sengkala mencoba merangkai semuanya, mencari makna dan pemaknaan. “Majapahit masih besar, tapi seperti kain yang mulai lusuh dan serabut di ujungnya,” katanya pelan, penuh pemikiran. “Kain bisa dijahit, kalau orang-orangnya mau,” ujar Mbok Sari, mendekap lututnya dengan hangat. “Bisa juga disobek kalau yang pegang tangan penuh nafsu dan ambisi,” timpal Jaka, menatap rumah-rumah yang mulai sepi dengan penuh arti. “Kau sendiri bagaimana, La?” tanya Mbok Sari. “Kau adalah seorang empu yang tidak kalah penting. Tanpa s*****a, orang tak bisa perang dan bertahan. Tapi tanpa s*****a, kalau ada yang menyerang, bagaimana bertahan melawan kejahatan?” “Persis di situlah masalahnya terletak,” Sengkala menghela napas dengan berat. “Di tengah-tengah. Di antara ‘tanpa’ dan ‘dengan’. Kita selalu di tengah-tengah yang penuh tantangan.” “Lalu, kau pilih apa?” desak Jaka, penasaran dengan pilihan Sengkala. “Aku... belum tahu,” jawab Sengkala jujur dan terbuka. “Tapi satu hal, jika nanti aku dipaksa memilih antara ikut menajamkan keris untuk saling bunuh saudara sendiri, atau berhenti dan kehilangan semua yang kumiliki... mungkin di situlah aku baru benar-benar tahu siapa Sengkala dalam kehidupan ini.” Mereka terdiam, suasana penuh refleksi. Angin malam menyapu daun beringin, menggoyangkan bayangan di tanah dengan lembut. Menjelang usia dua puluh tahun, keretakan dalam kekaisaran itu makin terasa nyata. Bukan perang besar, belum; tetapi sengketa kecil, ketegangan pajak yang harus dibayar, dan berita terus terdengar tentang beberapa daerah yang mulai enggan mengirimkan upeti wajib. Di Trowulan, kehidupan masih tampak normal dan ramai: pasar tetap penuh sesak, upacara keagamaan tetap berlangsung, istana masih menyelenggarakan pertunjukan dan persembahan yang megah. Tetapi bagi yang mau melihat lebih dalam, ada sesuatu yang berubah di mata prajurit, dalam cara pejabat berbicara, dan di nada doa para pendeta yang terdengar lebih gelisah. Sengkala merasakan semua itu menempel di kulitnya, seperti debu arang yang tak mau hilang meski sudah dibasuh berkali-kali. Ia terus menempa dan memperkuat kemampuannya, terus mencatat dalam lontar-lontar kecil miliknya setiap kali malam datang dengan refleksi yang penuh makna. “Kalau kelak anak cucu bertanya: bagaimana Majapahit runtuh? Biar mereka tidak hanya mendengar dari sisi pemenang,” tulisnya pelan dengan penuh dedikasi, “tapi juga dari tangan-tangan kecil yang dulu mengira mereka tak punya suara dalam sejarah.” Di luar, gong istana dipukul dengan kuat dan teratur, menandai awal upacara yang diadakan untuk memohon kesejahteraan dan ketenteraman. Di dalam dirinya, Sengkala tahu: doa dan besi sedang berjalan berdampingan dan bersaing—dan suatu hari, salah satunya akan berbicara lebih keras dan menentukan nasib bangsa. Bara remaja di kota raja sudah bukan lagi bara yang polos. Ia kini api yang mengendap-endap, menunggu saat ditantang: apakah akan menyala untuk menerangi, menjadi cahaya kebenaran, atau akan berubah menjadi amuk yang menghabiskan segalanya dengan kekuatan yang luar biasa. *** Saat Sengkala menginjak usia antara 17 sampai 20 tahun, perubahan di Majapahit tak lagi hanya sekadar bisik-bisik di pasar; getarannya terasa di setiap sendi pekerjaan. Gejolak tersebut terlihat jelas di wajah para prajurit yang melintas, bahkan sampai pada denting palu di bengkel yang dulunya terasa aman dan damai. Pagi itu, udara Trowulan terasa kering dan penuh debu yang beterbangan. Matahari baru saja meninggi, namun Sengkala sudah sibuk di tungku kerja; ia memimpin dua orang murid muda dalam sebuah rutinitas yang terencana dengan cermat, mengatur ububan dengan penuh perhatian, memeriksa kualitas arang yang akan digunakan, dan menghitung bahan untuk satu pesanan besar yang penting: serangkaian tombak yang siap dikirim ke laskar batas untuk menangani daerah yang sedang bergolak. Dengan lincah dan cekatan, tangan-tangannya bergerak tanpa ragu, gerakannya mantap dan teliti — hasil dari latihan intensif selama bertahun-tahun — namun matanya tetap awas, menakar setiap orang yang datang dan pergi dengan kehati-hatian. “Periksa kadar karbon lagi, pastikan tepat,” perintahnya pada Lurah, murid termuda yang dengan sigap membantu memegang besi. “Kalau kadar ini meleset sedikit saja, pamor bisa pecah di tengah laga saat paling penting.” Lurah pun mengangguk patuh dan bertanya dengan ragu, “Mas Sengkala, jika pamor pecah di tengah laga, siapa yang akan disalahkan untuk kegagalan tersebut?” Sengkala menatapnya dengan serius; suaranya berat namun lembut memberikan nasehat. “Yang membuatnya memiliki tanggung jawab, juga keadaan yang memaksanya dipakai pada tempat yang salah harus dipertimbangkan.” Selama mereka sibuk bekerja, pedagang yang lewat membawa serta berita-berita terbaru — kabar yang kini menjadi bagian dari sarapan sehari-hari mereka: pengiriman rempah ke pelabuhan utara tersendat karena adanya penegakan aturan baru dari penguasa pesisir; adipati kecil di timur menolak pengaruh perwakilan pusat; seorang pangeran dalam istana menuduh saudara kandungnya merencanakan kudeta halus. Kata-kata ini tidak perlu dicari kebenarannya lebih dalam; bagaimanapun kabarnya, mereka menempel di udara seperti abu halus, membuat semua orang terdiam dalam kekhawatiran. Sore hari, sebuah kereta perahu kecil berlabuh perlahan di dermaga dekat bengkel; seorang perantara istana yang dikenal mengurus pesanan keris tiba sendiri untuk mengantarkan berita penting. Wajahnya datar, meskipun matanya mengamati semua hal disekitarnya dengan tajam dan fokus. “Mpu Wira,” sapa perantara itu dengan nada formal, “ada permintaan khusus dari sebuah unit pengawal istana. Mereka menginginkan keris berbilah tipis dan ringan, dirancang untuk gerakan cepat — bukan hanya untuk menjadi lambang, tetapi alat yang bisa dipakai di lorong-lorong sempit dengan efisien.” Mpu Wira menunduk hormat, menerima perintah itu dengan penuh tanggung jawab. “Kami akan kerjakan dengan sangat seksama, dengan dedikasi penuh.” Perantara menoleh kepada Sengkala dengan tatapan tajam. “Kau yang akan merampungkan bilah-bilah ini, ya?” Sengkala membalas dengan anggukan singkat menunjukkan keyakinannya, “Kami mampu menyelesaikannya dengan sepenuh hati.” Perantara itu menatapnya lebih lama lagi, seakan menimbang sesuatu yang mendalam namun tak terucapkan. “Ingatlah, jika bilahmu nantinya dipakai di tempat yang salah, sejarah akan mencatatnya, bukan hanya yang menggunakan, tetapi yang membuatnya pun akan disebutkan.” Kata-kata itu seperti siulan dingin; Sengkala pun merasakan beban berat itu masuk ke dalam relung dadanya, menambah ketegangan yang sudah ia rasakan selama ini. Malamnya, ia pergi ke pendapa Guru Damar bukan hanya untuk belajar, tetapi untuk mencari ketenangan batin. Guru Damar, meski rambutnya semakin memutih dimakan usia, tetap menatap lontar dengan mata yang masih tajam dan penuh kebijaksanaan. “He Guru,” kata Sengkala, duduk dengan tenang di tikar yang sudah usang. “Aku menempa untuk menjaga semua. Namun kadang aku takut: jika s*****a yang kubuat dipakai melukai sesama, bagaimana aku menanggungnya secara moral dan spiritual?” Guru Damar memandangnya, penuh perhatian. “Empu, seperti pendeta, pedagang, dan petani, adalah bagian dari jalinan hidup ini. Kau tak pernah sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihan orang lain karena mereka bebas membuat keputusan sendiri, tetapi kau bertanggung jawab pada niatmu yang murni. Bekerja dengan niat yang benar adalah permulaan yang baik. Lalu, kau harus siap menerima akibatnya dan, jika perlu, mengubah jalan hidupmu jika memang diperlukan.” Diskusi itu menempel di kepala Sengkala berhari-hari, meresap hingga ke alam bawah sadarnya. Ia mulai menulis — bukan hanya gambar rancangan keris, tapi catatan kecil tentang siapa yang memesan, dari mana mereka datang, dan alasan permintaan. Catatan itu disimpan rapi di lemari bengkel, di balik tumpukan kain minyak, seperti dokumen kecil yang tak berani dipamerkan dan disembunyikan karena rahasia. Beberapa minggu kemudian, sebuah peristiwa kecil namun penuh makna terjadi: sepasang prajurit dari daerah tetangga yang baru pulang menceritakan tentang bentrokan di perbatasan dengan detail mendalam. Mereka menyebutkan bahwa lawan mereka mampu memukul mundur pasukan bukan dengan keunggulan jumlah, tetapi karena adanya pengkhianatan saat malam hari — orang di dalam menutup pintu gerbang. “Kami menyangka kami akan menang dengan mudah,” kata salah satu prajurit pada pemilik warung. “Namun gerbang terkunci dari dalam oleh orang yang kami kira sekutu. Kami dibantai.” Berita itu menyebar cepat bak api di padang rumput kering. Di bengkel Mpu Wira, para pembuat s*****a lokal berkumpul lebih sering; pembicaraan mereka bergeser dari soal teknik menempa ke pembahasan moral yang lebih dalam: siapa yang harus dipercaya dalam situasi genting, apa peran empu ketika senjatanya dipakai untuk mempermudah tindakan pengkhianatan. Suatu ketika, Sengkala bertemu dengan Jaka di tepi sungai yang tenang. Jaka, yang kini bekerja sebagai pengantar barang penting ke pelabuhan, tampak gelisah dengan beban pikiran. “Kau dengar tentang gerbang itu?” tanya Jaka, suaranya penuh kekhawatiran. “Aku dengar,” jawab Sengkala singkat, merasa tegang. “Siapa yang sampai hati menutup gerbang?” “Ada yang bilang perintah itu datang dari orang dalam — seorang pejabat kecil yang belum puas dengan jabatannya. Katanya ia ingin menukar kesetiaan dengan janji posisi yang lebih tinggi ketika raja lemah,” Jaka mengangkat bahu, menunjukkan keraguannya. “Orang bilang, kalau politik sudah makan hati, perang hanya soal perut semata.” “Aku menempa bilah. Bukan aku yang mengunci gerbang,” Sengkala menahan amarah yang tak mudah ia ungkapkan kepada siapapun. “Tapi jika bilah yang kau buat digunakan untuk memotong saudara sendiri, apa bedanya?” Jaka menatapnya datar, menantang. Pertanyaan itu menghantui Sengkala hingga malam, ketika ia duduk diam di serambi, menatap lampu minyak yang bergoyang di tiup angin malam. Ia mencari jawaban dari bayangan guru, pengalaman ayah, dan bunyi palu yang sudah akrab di telinganya. Jawaban itu tak kunjung datang, hanya kenyataan: dunia semakin keras, dan pilihan-pilihan antara aman dan benar kian sempit dan membingungkan. Semua semakin tegang ketika perintah baru tiba: ada permintaan pembuatan s*****a dalam jumlah besar dari wilayah pesisir yang sebelumnya independen, yang kini meminta persenjataan untuk mempertahankan diri melawan intervensi pusat dengan cara yang lebih cerdik. Permintaan ini datang lewat perantara yang tak pernah menyebutkan nama pemberi pesanan. Uang yang ditawarkan sangatlah besar, lebih besar dari biasanya — cukup untuk membuat bengkel Mpu Wira diuntungkan selama beberapa musim panen mendatang. Mpu Wira duduk bersama anaknya malam itu, rokok tembakau arang di telapak tangannya, wajahnya kusut menahan beban pikiran yang mengganggu. “Kau tahu apa artinya uang sebesar itu?” tanyanya datar, namun penuh makna. Sengkala memandang palunya dengan sendu. “Itu berarti kita bisa bangun bengkel lebih besar dan lebih maju, Pak,” jawabnya, menggunakan panggilan akrab penuh kasih untuk ayahnya. “Aku tahu,” ucap Mpu Wira. “Tapi uang itu juga berarti mengaduk api yang sudah hampir padam di hati beberapa orang yang mungkin mencurigai. Jika kita menerima tanpa tahu siapa pemiliknya, kita ikut ambil bagian dalam arus itu tanpa sadar.” “Apa kita harus menolak demi keselamatan kita sendiri?” Sengkala bertanya, suaranya hampir serak menahan emosi. “Aku tak tahu,” kata Mpu Wira jujur, suara empatinya terasa. “Aku seorang empu, bukan penilai politik. Namun aku berharap niat baik tetap jadi ukuran utama. Jika yang datang ingin mempertahankan negeri dari serangan, kita bantu sepenuh hati. Namun jika yang datang berniat menggulingkan saudara sendiri demi ambisi pribadi...” “Lalu apa yang harus kita lakukan?” sela Sengkala, napasnya berat dan penuh harapan. “Kita perlu tahu lebih jauh,” jawab ayahnya bijak. “Tanyakan siapa pemiliknya, dari mana uang itu berasal, untuk apa mereka butuh s*****a banyak-banyak. Kau, sebagai yang akan menempa, juga berhak tahu. Jangan menerima datangnya uang tanpa melihat rupa niatnya.” Sengkala menyadari hal yang diabaikan banyak empu di masa lalu: hak untuk bertanya pada orang berkuasa. Sejak dulu, empu sering dianggap hanya sebagai tukang; suara mereka tak dianggap penting di meja keputusan besar. Sekarang, ketika badai mulai menggulung dunia mereka, suara itu menjadi penting — bukan untuk menggantikan keputusan raja, tapi untuk menyiapkan pilihan moral yang tepat. Dengan hati-hati dan penuh pertimbangan, Sengkala dan Mpu Wira menolak pesanan besar itu secara sopan dan terhormat pada perantara—mereka meminta agar pemesan datang sendiri, atau setidaknya meninggalkan identitas lengkap. Perantara itu hanya memberikan senyum kaku, namun menit berikutnya kabar beredar: bengkel lain, yang lebih kecil, menerima pesanan itu tanpa ragu. Di pasar, gosip muncul cepat dan menggerus reputasi. “Empu Wira menolak uang banyak,” gumam pelan salah seorang pedagang, penuh makna. “Mungkin ia memilih kehormatan di atas segalanya.” “Atau mungkin ia bodoh tidak memanfaatkan peluang,” balas yang lain dengan acuh. Malam berikutnya, keributan muncul di jalan keluar desa yang selalu tenang. Sebuah rombongan berpakaian gelap lewat, langkahnya cepat dan tegas. Mereka tidak berteriak, tidak perlu — kata-kata mereka cukup keras: “Jangan ikut campur urusan kami jika tidak ingin celaka.” Di pagi hari, ada tanda yang mengejutkan: dua batang besi di gerbang bengkel lain yang menjadi pusat gosip, dipatahkan dengan brutal, dan sebuah pesan tertulis samar di dinding: “Jangan bermain di antara dua keluarga besar.” Ketegangan jadi nyata dan sensitif. Sengkala sadar ia tidak bisa lagi hanya menempa dalam ketenangan yang dahulu ia nikmati. Setiap keputusan kecil punya konsekuensi yang meluas: menolak pesanan besar terasa seperti menentang arus, menerima pesanan besar terasa seperti menyerah pada praktik yang tidak pasti moralnya. Di usianya yang hampir dua puluh tahun, Sengkala akhirnya memutuskan melakukan sesuatu yang amat sederhana namun berisiko: ia mengundang beberapa empu lain yang ia percayai ke bengkelnya pada malam tanpa rembulan yang gelap. Mereka duduk di sela bara kecil untuk menghangatkan diri, berbagi cerita dengan tenang, dan berkali-kali menyinggung satu kata yang terasa berat: tanggung jawab. “Apa kita hanya tukang yang menutup mata pada kenyataan?” tanya seorang empu tua dengan rasa prihatin. “Aku telah melihat keris-kerisku dipakai di pertempuran yang sebenarnya hanya perebutan takhta antara pangeran,” jawab empu lainnya. “Kami memperkuat satu sisi. Lalu apa jawab kita di hadapan cucu-cucu kita nanti ketika mereka bertanya?” Sengkala angkat bicara dengan tekad: “Kita tidak bisa menghentikan perang dengan sendok. Namun kita bisa menahan diri untuk tidak memperbesar amukan. Kita bisa menolak jika niat pemesan jahat; kita bisa menanyakan siapa pemiliknya. Kita juga bisa menyimpan catatan yang jelas. Jika sesuatu buruk terjadi, setidaknya nama kita ada dalam catatan itu—supaya esok hari orang tahu siapa yang bersikap bagaimana.” Beberapa empu mengangguk setuju, beberapa terdiam merenung. Tidak semua setuju dengan gagasan itu — beberapa khawatir soal reputasi -masuk yang bisa memutus suplai bahan. Namun percakapan itu menabur benih pemikiran baru: kesadaran bahwa pekerjaan empu bukan sekadar membuat, melainkan juga memilih dengan bijak dan mempertimbangkan moralitas. Hari-hari berikutnya, Sengkala mulai menaruh catatan lebih rapi; ia menulis nama pemesan, jumlah pembayaran yang diterima, dan keterangan singkat yang penuh arti. Ia mulai menyelipkan doa pendek saat menempa bilah yang akan dikirim ke daerah rawan konflik: bukan untuk membuat bilah tidak lebih mematikan, melainkan agar orang yang akan mengangkatnya berpikir seribu kali sebelum menghunuskannya pada saudara sendiri. Kisah ini menutup bagian dengan dua adegan yang mengesankan: sebuah malam ketika sebuah pasukan kecil bergerak melewati Trowulan, tanpa pertempuran besar yang sengit, namun membawa pesan bahwa dunia kian terbelah secara politik dan sosial; dan Sengkala, duduk di serambi bengkelnya, menatap lontar-lontarnya yang penuh catatan, merasakan beratnya sejarah yang tak lagi abstrak. Di dadanya kini bertumpu satu tekad yang kuat dan berakar: bila suatu hari amuk itu benar-benar datang, ia ingin punya keberanian berdiri di antara barisan yang memilih kemanusiaan—atau setidaknya meninggalkan jejak bahwa ada di antara mereka yang memilih berbeda dari yang lain. Hal ini menegaskan bahwa api yang mengendap di balik kemegahan bukanlah satu titik obor yang mudah padam begitu saja. Ia adalah serangkaian pilihan yang menumpuk — keputusan untuk menerima atau menolak, kata-kata yang diucapkan atau disimpan dalam diam, dokumen yang dicatat atau dibakar. Dan di antara pilihan itu, Sengkala semakin mempelajari satu pelajaran besar dan penting: menjadi saksi yang bertanggung jawab kadang sama beratnya dengan menjadi pejuang yang gagah dan penuh tekad.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD