Saat Sengkala menginjak usia sebelas tahun, denting palu di bengkel bukan lagi sekadar irama latar masa kecilnya. Kini, setiap pukulan palu adalah dialog antara dirinya dan besi yang membara. Tubuhnya mulai mengeras: lengannya lebih berisi, telapak tangannya menebal kapalan, dan pundaknya pelan-pelan mengisi sinjang yang dulu kebesaran. Matanya tak lagi hanya memantulkan rasa ingin tahu, tetapi juga api kecil yang menyala—campuran ambisi dan kecemasan.
Pagi itu, ketika kabut di sawah Trowulan belum sepenuhnya terangkat, Mpu Wira menatap putranya lama-lama sebelum berkata, “Le, mulai hari ini, kamu tidak hanya membantuku. Kamu akan menempa bilahmu sendiri.”
Sengkala menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyusun arang. “Bilahku sendiri, Pak?” suaranya setengah tak percaya.
“Ya.” Mpu Wira mengangkat sebatang besi sedang, menggosoknya dengan ujung jarinya seakan menyentuh sesuatu yang hidup. “Bukan pusaka untuk orang lain. Bilah ini akan menjadi saksi siapa dirimu. Kamu akan menempanya dari awal, dari besi mentah sampai pamornya tampak.”
Dewi Laras, yang baru keluar dari dapur dengan kain sampir di bahunya dan rambutnya yang disanggul rapat, tersenyum cemas. “Jangan sampai lupa makan, Le. Kalau terlalu fokus, perutmu suka lupa lapar.”
Sengkala mengangguk. “Kalau bilah ini jadi, apakah itu artinya aku sudah jadi empu, Pak?”
Mpu Wira tertawa pendek. “Menjadi empu bukan urusan satu bilah, Le. Tapi setiap empu harus mulai dari satu. Anggap ini langkah pertamamu menghadapi dunia sebagai laki-laki.”
Tungku dinyalakan. Uap panas naik bersama asap, menyelimuti bengkel dalam kabut keemasan. Sengkala meniup tungku dengan hati-hati, menjaga bara tetap merah menyala. Besi mentah itu, yang sebelumnya dingin dan keras, kini perlahan memerah, melunak di ujung penjepit.
“Jangan terburu-buru,” ujar Mpu Wira di belakangnya. “Ia belum siap untuk dipukul. Lihat warnanya. Terlalu pucat, ia belum matang. Terlalu putih menyilau, ia akan retak di dalam. Kamu harus tahu kapan saatnya.”
Sengkala menunggu. Keringat mengalir di pelipisnya, bukan hanya karena panas, tetapi karena tegang. Saat besi itu mencapai warna merah tua—setengah gelap, setengah terang—Mpu Wira mengangguk. “Sekarang.”
Palu kecil Sengkala turun. *TANG.* Dentingnya lebih mantap dari saat ia berumur enam tahun, tapi belum seberat palu ayahnya. Ia mengatur napas: angkat, tarik, pukul, hembuskan. Besi memanjang sedikit demi sedikit, bentuk bilah mulai tampak dari sesuatu yang tadinya hanya batang kaku.
“Rasakan iramanya, Le,” suara Mpu Wira mengalun. “Jangan cuma pukul besi. Pukul juga keraguanmu sendiri.”
“Apa Bapak dulu takut waktu pertama kali menempa bilah sendiri?” tanya Sengkala tanpa menghentikan gerakannya.
“Takut,” jawab Mpu Wira jujur. “Takut gagal, takut bilahnya buruk, takut ditertawakan oleh empu lain. Tapi besi tidak peduli namamu. Ia hanya merespon suhu dan pukulan. Begitu juga dunia kelak.”
Di usia dua belas tahun, langkah Sengkala mulai lebih sering menuju pendapa Guru Damar bukan hanya untuk belajar adat, tetapi juga untuk membaca dasar-dasar sastra dan sejarah. Guru Damar menilai bocah empu ini berbeda: terlalu banyak bertanya, terlalu senang merenung setelah pelajaran selesai.
Suatu siang, setelah teman-temannya bubar, Sengkala tetap duduk bersila, menatap lontar yang menggambarkan perjalanan Hayam Wuruk mengelilingi negeri.
“He Guru,” panggilnya, “kalau Majapahit sudah sejauh ini menguasai pulau-pulau, kenapa orang-orang masih gelisah?”
Guru Damar menatapnya, lalu menggulung lontar dengan hati-hati. “Karena, Nak, semakin besar sesuatu, semakin besar pula bayangan yang ia timbulkan.”
“Bayangan?” Sengkala mengerutkan dahi.
“Ya. Bayangan ketidakpuasan, bayangan iri, bayangan ambisi. Di pinggiran kekuasaan, selalu ada orang yang merasa diabaikan. Di hati penguasa, selalu ada godaan untuk merasa tak terkalahkan.”
“Apakah... menurut Guru, Majapahit bisa runtuh?” Sengkala bertanya pelan, seakan takut kata-kata itu didengar oleh tembok.
Guru Damar tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar pendapa, ke arah kota raja yang di kejauhan tampak damai. “Segala yang tegak akan rebah pada waktunya. Tapi yang lebih penting dari runtuh atau tidaknya sebuah kerajaan adalah: apakah orang-orang di dalamnya belajar sesuatu sebelum semuanya terlambat.”
“Belajar apa?”
“Belajar bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan amuk.”
Kata itu—amuk—masuk ke telinga Sengkala dan menggema di d**a. Ia belum tahu betapa dekat kelak ia dengan kata itu.
Menjelang tiga belas tahun, Sengkala mulai sesekali diikutkan ayahnya bertemu langsung dengan perantara istana, bukan hanya menunggu di luar. Di sebuah bangunan kayu dengan tiang berukir dan lantai yang bersih, seorang pejabat bertubuh agak gemuk dengan wajah tenang menyambut mereka.
“Mpu Wira,” sapa pejabat itu, “kerjaanmu selalu memuaskan. Kerajaan sedang sibuk mempersenjatai beberapa laskar di daerah perbatasan. Banyak kabar soal pemberontakan kecil dan usaha kerajaan tetangga menggoyahkan kekuasaan.”
“Saya hanya menjalankan tugas membuat s*****a,” jawab Mpu Wira sopan. “Soal dipakai untuk apa, itu di luar kuasa saya.”
Pejabat itu melirik kepada Sengkala. “Ini putramu? Sudah tampak seperti empu muda.” Ia mendekat sedikit. “Namamu siapa, Nak?”
“Sengkala,” jawabnya, menunduk dan merapikan sembah sebagaimana yang telah diajarkan. “Kawula aturaken pangabekten.”
“Sengkala, ya?” pejabat itu mengulang, seolah merasakan getar pada nama itu. “Nama yang berat. Kamu tahu artinya?”
“Hanya sedikit,” jawab Sengkala. “Nama itu katanya pengingat tentang waktu. Penanda zaman.”
“Bagus,” pejabat itu tersenyum miring. “Kalau begitu, jangan cuma jadi penanda. Jadilah saksi yang tahu kapan harus bicara, kapan harus diam.”
Setelah keluar dari bangunan itu, Sengkala berjalan di samping ayahnya, menatap wajah Mpu Wira yang tampak sedikit lebih murung dari biasanya.
“Pak, kenapa pejabat tadi banyak bicara soal pemberontakan?” tanya Sengkala.
“Karena api bukan hanya menyala di bengkel, Le,” jawab Mpu Wira pelan. “Ia juga mulai menyala di hati orang-orang yang tak puas. Dan kerajaan mencoba memadamkan semua api dengan besi.”
“Apakah... kita salah kalau terus membuat s*****a?” Sengkala memberanikan diri.
“Pertanyaan itu tidak punya jawaban yang mudah,” Mpu Wira menghela napas. “Tapi kalau kita berhenti, orang yang lebih rakus dan tak punya hati akan mengambil tempat kita. Setidaknya, selama di tangan kita, besi ini masih ditempa dengan doa.”
Di usia empat belas tahun, bilah pertama Sengkala akhirnya selesai. Pamornya mungkin belum seindah karya Mpu Wira, tapi garisnya bersih, bentuknya proporsional, dan ketika diuji, ia tidak patah meski dipukul keras. Di malam hari, saat bengkel ditutup. Hanya ada api kecil di sudut, dan di tengah ruangan, Sengkala berdiri memegang bilah pertama itu.
“Namai dia,” kata Mpu Wira, berdiri dengan tangan bersedekap di d**a. “Setiap bilah punya nama, meski hanya kamu yang tahu.”
Sengkala menatap bilah itu. Dalam kilau samar, ia melihat bayangan dirinya: bocah yang lahir di bawah kejayaan, tumbuh di tengah cerita-cerita kebesaran, dan kini berdiri di tepi sesuatu yang ia belum mengerti.
“Akan kupanggil... 'Giris Pawaka',” ucapnya pelan. “Giris yang lahir dari api, tapi semoga tidak mudah dihasut api kebencian.”
Mpu Wira tersenyum tipis. “Nama yang bagus. Ingat, Le, suatu hari bilah ini mungkin akan berada di pinggang seseorang yang pilihan-pilihannya tak selalu kamu setujui. Namun ia tetap anakmu. Begitu pula keputusan-keputusanmu kelak.”
Dewi Laras, yang berdiri di pintu membawa dupa, lalu menambahkan, “Sebelum keris itu keluar dari rumah ini, biarkan Ibu menyalakan doa untuknya.”
Ia menancapkan dupa di mangkuk kecil, asapnya melingkar di sekitar bilah. “Pergilah sebagai pelindung, bukan pembawa malapetaka,” bisiknya.
Di usia lima belas tahun, Sengkala mulai merasakan tarikan dua dunia: dunia besi dan dunia kata-kata. Di satu sisi, ia semakin mahir di bengkel, bisa menggantikan ayahnya untuk beberapa pekerjaan ringan dan mulai dipercaya mengawasi adik-adiknya yang mulai belajar dasar menempa. Di sisi lain, pelajaran pada Guru Damar menyalakan minatnya pada catatan, kisah, dan doa.
Suatu senja, setelah pelajaran, Sengkala duduk sendiri di tepi parit dekat dengan tembok luar kota raja, mengamati pantulan langit di air yang tenang.
Mbok Sari datang menghampiri, membawa keranjang kain. “Hei, empu kecil. Kenapa murung?”
“Aku tidak murung,” bantah Sengkala, meski wajahnya memang serius. “Aku hanya... berpikir.”
“Berpikir soal apa? s*****a? Perang?” usik Jaka yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Semuanya,” jawab Sengkala jujur. “Aku lihat lebih banyak prajurit lewat. Pedagang di pasar makin sering bicara soal pajak naik, soal wilayah jauh yang mulai memberontak. Di bengkel, pesanan s*****a bertambah. Guru Damar juga makin sering mengeluh dalam doa. Rasanya... angin berbau lain.”
“Menurutku, selama sawah masih bisa ditanami dan pasar tetap buka, kita baik-baik saja,” kata Jaka, mencoba santai. “Yang penting panen tidak gagal dan celengan tidak kosong.”
Mbok Sari malah menatap ke arah istana. “Kalian lelaki selalu bicara soal perang dan pajak. Aku lebih takut kalau kebencian menular ke hati orang-orang di sini. Kalau tetangga saling curiga, apa gunanya kerajaan kuat?”
Sengkala terdiam. Kata-kata Mbok Sari menempel di kepalanya. “Kalau begitu,” katanya pelan, “mungkin tugasku bukan sekadar menempa besi. Mungkin aku juga harus mengingatkan diriku sendiri, dan orang-orang yang mau mendengar, bahwa besi dan amarah tidak boleh berjalan terlalu dekat.”
“Bagaimana caramu lakukan itu?” tanya Jaka. “Kamu bukan pendeta, bukan pejabat.”
“Aku tidak tahu,” Sengkala mengangkat bahu. “Tapi aku bisa mulai dengan satu hal: mencatat. Menyimpan cerita. Agar kalau semuanya benar-benar terbakar pada suatu hari nanti, setidaknya ada jejak tentang bagaimana api itu menyala.”
Mbok Sari tertawa kecil. “Empu yang menulis. Itu baru aneh.”
“Aneh bukan berarti salah,” jawab Sengkala, tersenyum samar.
Malam itu, di kamarnya yang kecil, dengan lampu minyak redup, Sengkala mengambil sepotong daun lontar yang diberikan Guru Damar beberapa hari sebelumnya. Dengan hati-hati, ia mulai menggoreskan aksara yang dipelajarinya: bukan tentang raja, bukan tentang sumpah besar, tapi tentang hari-hari kecilnya di Trowulan—tentang bara, tentang tawa, tentang bisik-bisik yang mulai terdengar.
“Tanggal tak kutulis,” gumamnya pelan, “karena yang penting bukan hari kejadiannya, tapi bagaimana rasanya hidup di hari itu.”
Di luar, gamelan dari arah istana mengalun, mungkin untuk mengiringi pesta, mungkin untuk menutupi kegelisahan. Di dalam, seorang remaja bernama Sengkala mulai menulis jejaknya sendiri, tanpa tahu bahwa kelak, di tengah amukan kehancuran, catatan-catatan seperti inilah yang akan menyelamatkan ingatan dunia yang nyaris punah.
Dan di antara semua itu, Majapahit masih tampak tegak: candi-candinya berdiri, prajuritnya berbaris, upacaranya berlangsung megah. Namun bagi Sengkala yang berumur antara sebelas hingga lima belas tahun, bayangan di balik kemegahan itu sudah tak bisa lagi diabaikan. Api yang menempa besi di bengkel terasa seirama dengan api lain—api sejarah—yang pelan-pelan m******t akar kerajaan.
Itu baru permulaan.
***
Usia lima belas tahun di Trowulan bukan sekadar tentang bertambahnya angka. Bagi Sengkala, itu adalah waktu di mana ia mulai merasakan beratnya napas dunia di punggungnya yang masih muda, dan derap langkah sejarah mulai berdentam dekat di telinganya.
Pagi hari di bengkel, Mpu Wira memperlihatkan karyanya yang terbaru—sebilah keris dengan pamor rumit yang diarsir sampai berkilau seperti mutiara hitam. “Ini namanya 'Kawi Sutra,'” ujar ayahnya dengan bangga, “s*****a untuk seorang adipati yang baru kembali dari pertempuran.”
Sengkala mengamati dengan tajam. Tangannya yang sudah kuat mengangkat palu kecil dan mulai melatih tarikan napas serta konsentrasi yang dalam.
“Tapi mengapa, Pak, kita buat s*****a kalau sebenarnya damai yang kita inginkan?” Sengkala bertanya saat melanjutkan menempa.
Mpu Wira berhenti sejenak, lalu menatap ke langit gelap lewat jendela. “Damai bukan berarti s*****a berhenti dibuat, Le. Kadang s*****a yang kuat justru menjaga perdamaian. Namun, ada kalanya s*****a melahirkan konflik. Itu beban empu, dan beban dunia.”
Sengkala keluar dari bengkel dan berjalan ke pasar yang semakin ramai. Suara tawar-menawar pecah di udara: pedagang rempah membentangkan karung lada dan pala, pembuat kain menampilkan motif batik bakar terbaru. Terasa angin perubahan dalam bisik-bisik rakyat yang mulai mempersiapkan diri pada tantangan yang mendekat.
Di sudut pasar, Sengkala bertemu Mbok Sari dan Jaka. “Kamu dengar tidak, Sengkala?” kata Mbok Sari dengan nada cemas. “Pangeran di istana mulai berebut kekuasaan. Kata orang, mereka tak sabar menunggu hari tua Raja.”
“Kalau begitu, aku harus belajar lebih banyak, ya?” tanya Sengkala.
Jaka mengangguk. “Bukan hanya tentang cara menempa, tapi cara menghadapi dunia. Kamu harus siap, La.”
Malam harinya, di serambi rumah, Sengkala duduk di dekat api unggun kecil. Dewi Laras menceritakan dongeng panjang tentang kerajaan kuno, tentang kesetiaan, pengkhianatan, dan arti sebenarnya dari kekuasaan.
“Le, kalau kamu sudah dewasa, kamu harus tahu: dunia istana itu seperti api unggun. Hangat dan memberi cahaya, tapi bisa membakar siapa saja yang lengah,” kata ibu.
Sengkala menatap nyala api. “Apakah Bapak dan Guru Damar pernah merasa terbakar?”
“Kadang, Le. Tapi dari bara itulah kamu belajar untuk menjadi baja,” jawab Dewi Laras.
Keesokan harinya, Sengkala melangkah ke pendapa Guru Damar untuk pelajaran terakhir dalam seri ini.
“He Guru, apa yang harus kupegang sebagai kunci agar tidak terbakar dalam api dunia?” tanya Sengkala.
Guru Damar tersenyum penuh arti. “Kunci itu ada di hatimu, Le. Niat yang murni, kesetiaan yang bijak, dan keberanian menghadapi kegelapan.”
Di luar, suara genderang perang bergema samar. Di antara riuh pasar dan syair gamelan, Sengkala punya satu tekad: akan menempa tidak hanya bilah besi, tapi juga nasibnya sendiri sepanjang berjalannya sejarah amuk dan perubahan.
***
Malam itu, angin dingin menyelinap di antara reruntuhan batu bata dan pepohonan beringin tua di sekitar rumah Mpu Wira. Sengkala duduk termenung di ambang bengkel, memegang palu kecilnya, sementara api unggun kecil yang dibuat ayahnya menyala redup, mengusir kegelapan yang mulai merayap.
“Sengkala, kamu sudah benar-benar siap menghadapi dunia ini?” tanya Mpu Wira, duduk di sampingnya, wajahnya tertutup bayang.
“Aku merasa belum, Pak,” jawab Sengkala. “Dunia ini besar dan penuh suara-suara yang sulit kupahami. Aku takut jika nanti menempa keris, bilah itu justru menjadi alat perpecahan, bukan pelindung.”
Mpu Wira menghela napas panjang. “Itulah beban empu. Kamu menempa bukan sekadar logam, tapi takdir yang kadang tak bisa kamu kendalikan.”
“Lalu apa yang harus dilakukan, Pak?” tanya Sengkala, matanya menerawang jauh.
“Tugasmu adalah menempa dengan hati, berdoa agar energi yang kamu beri pada bilah itu menjadi pelindung perdamaian, bukan api peperangan.”
Hari-hari berjalan dengan tekanan yang meningkat. Di pasar dan pendopo, bisik-bisik soal ketegangan antara pangeran rival dan desakan kerajaan pesisir Islam menjadi cerita yang tidak bisa dihindari.
Satu sore, saat berjalan pulang bersama Jaka dan Mbok Sari, Sengkala mendengar dua pedagang berdiskusi keras: “Perang tidak bisa terhindarkan jika Mahapatih tidak menuntaskan sumpah palapanya.”
“Lain dari dulu, kerajaan pesisir makin agresif. Sumpah itu makin berat, dan rakyat menjerit,” balas yang lain.
Sengkala terdiam, suaranya pelan. “Kita bisa apa, Jaka?”
Jaka memandang jauh. “Kita harus lebih kuat. Bukan hanya dengan s*****a, tapi juga dengan hati yang bulat.”
Di pendapa guru Damar, Sengkala belajar filosofi Astabhrata—kewajiban raja yang diyakini harus seimbang agar kerajaan tetap kuat.
“He Guru,” tanya Sengkala, “apa raja juga bisa salah?”
Guru Damar tersenyum. “Tentu, Nak. Raja juga manusia. Kesalahan adalah ujian bagi siapa pun yang memegang kuasa.”
“Mungkinkah kesalahan itu menyebabkan amuk?” Sengkala menelan ludah.
“Amuk bisa berasal dari banyak hal: kemarahan, ketidakadilan, dan keserakahan. Tapi juga dari ketakutan yang tak terucap dan kebencian yang dipendam.”
Sengkala termenung. Kata-kata itu seperti bayangan gelap yang menghantui benaknya.
Malam itu, dalam gelap dan dingin, Sengkala bermimpi: ia berdiri di tengah lautan api yang melahap istana; bayangan kegelapan merayap seperti ular, dan suara-suara riuh yang menyerukan amuk kekuasaan bergema. Ia mendengar suara bapaknya dengan suara berat, “Le, ingat, bara terbesar pun bisa memusnahkan jika tak dijaga.”
Bangun dari mimpi, Sengkala ada di teras rumah, melihat langit malam yang pekat. Ia berbisik, “Aku akan menjaga bara ini, Pak... untuk damai, bukan amuk.”
***
Dewan depan istana Majapahit dipenuhi oleh bayangan yang merentang. Di balik gerbang megah, para bangsawan berkumpul, menyusun strategi, sementara di luar tembok, dunia berubah dengan langkah perlahan tapi pasti menuju ketidakpastian. Di tengah hiruk-pikuk itu, Sengkala yang kini berusia lima belas tahun berdiri di ambang masa remajanya; tangannya kasar dari palu yang menempa besi, pikirannya penuh dengan janji dan beban yang belum sepenuhnya ia mengerti.
Pagi itu di bengkel, Mpu Wira sedang memeriksa bilah keris baru yang dibentuk Sengkala. “Lihat ini, Le. Pamornya mulai kelihatan, tapi kedalaman metalurginya harus kamu asah lagi. Seperti hidup, tak cukup indah dilihat, tapi harus kuat di dalamnya.”
Sengkala mengangguk pelan, matanya fokus menatap bilah berkilau yang hampir selesai. “Pak, bisakah aku membuat keris untuk raja?"
Mpu Wira menatapnya lama, ada perasaan campur antara bangga dan kekhawatiran di matanya. “Itu bukan kehormatan kecil, Le. Kamu harus siap berdiri di bawah bayang-bayang luar biasa itu. Kamu ingin menghadapi beban itu?”
“Ya, Pak. Aku ingin membuktikan, bahwa s*****a yang lahir dari tangan kami, punya cerita yang lebih dari sekadar besi dan api,” jawab Sengkala penuh tekad.
Malam harinya, Sengkala diundang ikut memasuki aula istana untuk menyimak pertunjukan wayang kulit—kisah Ramayana yang dibawakan oleh dalang ternama di Majapahit. Cahaya lentera dari obor mengayun, bayangan wayang menari di kelir putih, mengisahkan pertempuran, pengkhianatan, dan ketabahan dalam menghadapi kekuasaan.
Setelah pertunjukan, Sengkala berdiri dengan beberapa bangsawan muda. Ia bertanya pada salah seorang, “Bagaimana kalian memandang perjuangan raja kita di tengah ketegangan ini?”
Pria muda itu merespons dengan suara berat, “Kami, yang di dalam istana, terkadang melihat kerajaan ini seperti kapal besar di tengah badai. Kuat di luar, tapi tak tahu berapa lama bisa bertahan sebelum terpecah.”
Sengkala merenung, ingat dengan kata-kata Guru Damar soal bayangan di balik kemegahan.
Suatu hari di pasar Trowulan, Sengkala mendengar bisik-bisik pedagang asing tentang kedatangan kapal dari kerajaan pesisir yang semakin agresif. Seorang pedagang Cina menuturkan, “Kekuatan Majapahit tidak lagi mutlak. Dalam diam, persekutuan dibuat, dan dunia ini makin sempit.”
Ketegangan mulai dirasakan bukan hanya di dinding istana, tapi hingga ke lorong-lorong pemukiman dan bengkel-bengkel seperti milik keluarga Sengkala.
Suatu malam, saat berdiskusi dengan Mpu Wira dan Dewi Laras, Sengkala bertanya, “Apakah mungkin yang terjadi nanti bukan kerusakan dari musuh luar, tapi dari hati kita sendiri?”
Mpu Wira menjawab, “Terkadang musuh terbesar ada di dalam, yakni rasa iri dan ambisi yang membakar jiwa.”
Dewi Laras menambahkan, “Dan tugasmu, Le, adalah menjalani jalan itu sebagai pembawa cahaya, bukan penyulut api.”
Sore menjelang, ketika langit berwarna jingga kemerahan, Sengkala berjalan di pinggir Sungai Brantas. Ia melihat bayangan keris yang tergenggam erat di tangannya, menggenggam erat bukan hanya sebuah logam, tapi harapan dan doa banyak orang.
Di matanya, Majapahit yang megah adalah sebuah dunia yang bisa saja ambruk, tapi juga dunia yang penuh peluang untuk ditemukan makna sejati.
Dan seperti api yang membara, Sengkala tahu, perjalanan membentuk dirinya baru saja dimulai—jalan yang penuh liku, intrik, dan badai amuk yang akan datang.