Bab 15 : Belenggu Tahta yang Runtuh

1131 Words
Kabut pekat di pagi hari masih tergantung rendah, menutupi lembah yang seakan menjadi nafas dari seekor ular raksasa yang sedang berdiam diri. Namun, meskipun kabut belum mengangkat kerudung misterinya, suara langkah kaki kuda yang gagah sudah bergema dari arah timur, membawa berita tentang gelombang pasukan Purwawisesa yang tampaknya sudah tidak lagi dapat dibendung. Secara tragis, Desa Sengkala kini berfungsi lebih sebagai benteng terakhir dari keputusasaan: tembok pertahanan darurat yang dibangun dari kayu reot dan batu kasar, parit di sekelilingnya yang hampir kering namun penuh dengan jebakan dari duri tajam, dan pos jaga bukit yang menyimpan luka dari pertempuran keras yang berlangsung pada malam sebelumnya. Persediaan makanan mereka, sayangnya, telah menipis, hanya menyisakan nasi yang sudah berbau busuk dan akar-akaran liar yang pahit; wabah sampar pun turut mengancam kehidupan di desa ini, telah merenggut nyawa dua anak kecil sepanjang malam terakhir. Di tengah kesuraman ini, berdiri Sengkala, di lapangan balai desa, tubuhnya bergetar karena demam tinggi akibat infeksi dari luka yang dideritanya, tetapi keris pusaka 'Giris Pawaka' tetap tergenggam erat di tangannya. Mengelilingi Sengkala, 50 prajurit desa yang masih tersisa menunggu arahan dengan wajah pucat, s*****a-s*****a mereka terbuat dari berbagai bahan, sementara ratusan warga pengungsi memandang dengan mata kosong tanpa harap. “Apakah surat untuk Wikramawardhana sudah dikirim?” tanya Sengkala dengan suara serak pada Srintil, yang baru saja kembali dari perjalanan ke utara. “Sudah, Mas. Namun jawabannya... utusan mereka tiba tadi pagi. Mereka mengirim 20 pasukan dengan bendera putih sebagai tanda damai, tapi intelijen kami melaporkan bahwa ada 300 pasukan tambahan yang bersembunyi di balik hutan,” jawab Srintil. Lurah yang kakinya yang kini dibalut dengan kain kotor karena luka, segera mendesak, “Mas, pasukan Purwawisesa sudah dekat—apakah kita harus melawan mereka lebih dahulu?” Sengkala menggeleng pelan, menatap kosong ke arah timur. “Tidak. Kedua kubu ini hanya memainkan drama politik. Purwawisesa menyerang kita untuk melemahkan, lalu Wikramawardhana akan datang 'menyelamatkan' dan mengambil alih kekuasaan. Kita tidak akan jatuh dalam jebakan itu.” Ki Jaka datang dengan berlari, terengah-engah. “Mas! Utusan dari Wikramawardhana sudah sampai di gerbang! Pemimpin mereka Raden Wijaya—saudara sepupu pangeran. Mereka meminta untuk bertemu denganmu sekarang juga!” Sengkala mengangguk, tapi Dewi Laras menahan lengannya. “Le, kau sedang demam tinggi! Lebih baik biar Suradipa yang mewakili. Jika kau pingsan di depan mereka...” “Aku harus pergi sendiri, Bu,” jawab Sengkala dengan tegas. “Ini soal harga diri desa kita.” Dengan langkah terpincang akibat luka, dia berjalan menuju gerbang, diikuti oleh Suradipa dan Lurah. Di gerbang, dengan barisan rapi, berdiri 20 prajurit Wikramawardhana, bendera putih berkibar. Raden Wijaya, seorang pria kurus dengan janggut yang tertata rapi dan pakaian sutra yang basah karena hujan, maju sambil mengangkat tanda damai. “Salam hormat, Mpu Sengkala! Gusti Wikramawardhana mengirimkan salam hormat kepada Anda. Kami tahu bahwa desa Anda saat ini diserang oleh Purwawisesa. Jika Anda menyerahkan kendali, kami akan memberikan perlindungan. Kami juga menawarkan makanan, obat-obatan, dan pengakuan resmi sebagai benteng netral.” Sengkala menatap tajam ke arah Raden, dan perlahan 'Giris Pawaka' setengah terhunus dari sarungnya. "Netral? Jika memang netral, kenapa kalian tidak menyerang Purwawisesa secara langsung? Mengapa kalian harus menunggu sampai desa ini lemah?" Dengan senyum yang licik, Raden menjawab, "Ini adalah permainan politik perang, Mpu. Gusti membutuhkan benteng aman di wilayah selatan. Jika Anda bersedia membuat s*****a untuk kami, kami akan berbagi hasil rampasan perang. Namun jika Anda menolak... pasukan bandit dari Purwawisesa akan tiba lebih dulu." Suradipa, dengan amarah yang membara, menggeram dan berkata, “Ini adalah sebuah ancaman yang jelas!” Namun, Sengkala mengangkat tangan untuk menghentikannya. “Sampaikan kepada Gusti bahwa desa ini adalah milik rakyat, bukan milik kerajaan. Kami menolak untuk dijadikan pion di tengah permainan kalian. Jika Wikramawardhana memang raja yang sejati, buktikan dengan melindungi tanpa syarat apa pun.” Raden mengangkat bahu sedikit acuh. “Pilihan di tangan Anda.” Mereka kemudian pergi, tetapi Srintil berbisik dengan cemas, “Mereka meninggalkan mata-mata di belakang barikade.” Tepat pada saat itu, derap kuda dari arah timur bergema keras—pasukan Purwawisesa datang! Gerombolan 400 prajurit, dengan obor yang menyala dan bendera kain berwarna merah yang mulai terkoyak oleh angin. Pemimpin mereka, Adipati Kertabhumi—yang adalah saudara dari Purwawisesa—berteriak dengan lantang dari kudanya: “Desa pengkhianat! Serahkan empu dan keris wahyu, atau kalian semua akan mati terbakar!” Dengan nyali yang tak surut, Sengkala berteriak balik dari gerbang: “Kami tak punya wahyu! Pergi, atau rasakan sendiri panasnya api dari desa ini!” Pertempuran pun pecah dengan cepat. Gelombang pertama menyerang barisan pertahanan: tombak saling berbentur dengan tombak musuh, jeritan menggema memenuhi udara. Sengkala memimpin pasukan dari barisan tengah, dengan 'Giris Pawaka' yang berhasil menebas hingga empat musuh, namun demam membuat penglihatannya kabur. Lurah juga terluka parah, terjatuh di tengah lumpur pertempuran. “Mas! Mundur sekarang!” teriak Suradipa, sambil menusuk musuh yang berada di belakang Sengkala. Namun musuh utama mereka, Adipati Kertabhumi, melompat dari kudanya, langsung mengarahkan pedang ke Sengkala. “Keris itu milik kami sekarang!” Duel brutal berlangsung sengit: pedang lawan berhasil menggores bahu Sengkala sekali lagi—dia terjatuh, namun berhasil menusuk kaki sang adipati. Musuh mengerang kesakitan dan memutuskan mundur. Desa masih berhasil bertahan—tapi dengan harga yang sangat mahal: 20 jiwa hilang, barikade separuhnya hancur. Sengkala dibawa kembali ke balai desa, hampir tidak sadarkan diri. Dewi Laras menangis sambil merawatnya dengan penuh cemas. “Le, kau gila! Mereka tidak akan berhenti, tidak dengan cara seperti ini!” Srintil berlari masuk, dengan nafas terengah-engah. “Mas! Mata-mata dari Wikramawardhana kabur ke arah timur—mereka memberi sinyal kepada Purwawisesa! Mereka sengaja membiarkan kita tetap lemah!” “Dua kubu memanfaatkan kita! Apa yang harus kita lakukan sekarang?!” tanya Ki Jaka dengan murka. Dengan nafas yang lemah dan terengah, Sengkala berbisik: “Siapkan evakuasi total menuju selatan. Bakar semua stok makanan yang kita miliki. Biarkan lembah ini kosong. Mereka tidak akan mendapatkan apa pun dari kita.” Mpu Wira, meskipun lemah, mengangguk setuju. “Itu langkah bijak... tapi harus cepat. Mereka akan menyerang lagi malam ini.” Evakuasi desa pun dilakukan dengan terburu-buru: perempuan dan anak-anak diutamakan ke gua-gua di selatan, sementara para prajurit bertugas membakar lumbung pangan, Sengkala dibopong dalam keadaan lemah. Saat api mulai melalap desa yang kini kosong, bantuan dari Purwawisesa tiba—tetapi yang mereka temui hanyalah puing-puing. Adipati Kertabhumi maraung dalam kemarahan: “Mana empu?! Mana keris?!” Di dalam gua selatan yang gelap dan lembab, Sengkala berbisik kepada Lurah dengan nada kesedihan dan tekad: “Ini baru permulaan... belenggu dari sebuah takhta yang runtuh akan terus menggali dan mengejar kita.” Ketegangan mencapai puncaknya: evakuasi berhasil dilakukan nyaris tanpa sisa waktu, membuat kedua kubu musuh kecewa, dan nyawa Sengkala berhasil diselamatkan meski desa harus hilang. Bayang-bayang kejaran dari kekuatan yang lebih besar terus mendekati mereka dengan ancaman yang nyata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD