Kabut jingga dari api parit yang berkobar masih bergulung-gulung menyelimuti lembah, menerangi malam dengan cahaya yang menyeramkan seperti neraka yang hidup. Di tengah kesunyian malam, terdengar jeritan memilukan dari para Tumbal Pusaka yang memenuhi udara—suara itu adalah campuran dari rasa sakit yang tak tertahankan, amarah yang meluap-luap, dan kegilaan yang mencekam—sementara bau daging hangus dan besi panas menusuk tajam ke hidung setiap orang yang berada di sana. Di barikade desa yang bergoyang hebat, bambu-bambu berduri tampak patah satu persatu di bawah tekanan kuat dari gelombang kedua pasukan musuh. Panah-panah yang ditembakkan dari pihak desa melesat dengan liar, dan suara benturan tombak bergema nyaring seperti genderang akhir zaman yang berdentang. Sengkala, sosok yang berdiri teguh di garis depan barikade utama dengan keris pusaka, 'Giris Pawaka', kini telah berlumuran darah hitam dari musuh-musuhnya, sementara bahunya terus berdarah meski telah dibalut ulang. Di sekelilingnya, para pejuang lainnya berjuang mati-matian: Lurah menggunakan tombak untuk menikam musuh di depan, Suradipa memimpin flank kanan dengan keberanian yang luar biasa, dan Srintil melepaskan anak panah dari bukit kecil dengan presisi yang mengagumkan.
Di tengah hujan yang tiba-tiba mengguyur deras, menyatu dengan darah dan lumpur, Sengkala berteriak lantang, “Pegang posisi!” suara teriakannya menggelegar, penuh ketegasan dan semangat yang tak mengenal takut. “Jangan maju! Biarkan mereka kelelahan di parit!”
Namun, bahaya datang semakin mendekat ketika seorang prajurit Tumbal Pusaka yang wajahnya setengah hangus terbakar melompat melewati parit, menebaskan tombaknya ke arah Sengkala. “Mana keris! Serahkan wahyu!” teriaknya dengan penuh hasrat ganas.
'Clang!' suara benturan logam terdengar saat 'Giris Pawaka' memblokir serangan itu, dan dengan cekatan Sengkala menusukkan kerisnya ke d**a musuh. “Ini bukan wahyu! Ini hanyalah besi!” teriaknya dengan sengit.
Ketika tubuh musuh jatuh tanpa nyawa, gelombang ketiga yang lebih besar mulai menyerbu: sekitar 50 prajurit musuh, dipimpin oleh sosok bertubuh besar yang dibalut kain merah—Ki Ageng, komandan dari sayap Purwawisesa, dengan kapak raksasa yang siap menghantam lawan, berseru keras: “Ambil empu! Bakar desa ini sebagai tumbal!”
Kepanikan mulai merayap di barisan pertahanan desa. Seorang pemuda desa, dengan ketakutan terlihat jelas di matanya, berteriak, “Mereka terlalu banyak, Mas! Kita akan kalah!”
Lurah, yang baru saja menusuk musuh di sampingnya, berkata dengan suara yang sedikit goyah, “Mas Sengkala, flank kiri bolong! Mereka masuk dari arah sungai!”
Sengkala melihat dengan cepat situasi di flank kiri: sekitar 20 musuh berhasil menyusup melalui aliran air parit, menebas para perempuan yang sedang membantu mengisi panah. Di belakang barikade, Dewi Laras yang penuh keberanian, melempar batu ke arah musuh terdekat sambil berteriak keras, “Pergi dari sini, b******n!”
Melihat situasi yang semakin genting, Sengkala segera melompat menuju flank kiri, dengan 'Giris Pawaka: berputar dan berhasil menebas tiga musuh sekaligus. “Bu, mundur ke balai!” teriaknya memberikan instruksi dengan tegas, “Lurah, segera tutup celah itu!”
Ki Ageng, dengan mata penuh kemarahan, melihat Sengkala dan melompat melewati parit, menebaskan kapaknya dengan tenaga penuh. “Kau! Empu pengkhianat! Kerismu adalah milik Tumbal Pusaka!” serunya melawan Sengkala dengan kebencian yang membara.
Pertarungan sengit pun dimulai. 'Clang! Clang!' suara kapak bertemu keris, menghasilkan percikan api yang terbang di tengah hujan deras. Sengkala dengan gesit menghindari tebasan di lehernya, tetapi sayangnya kapak berhasil menyayat lengannya, membuat darah muncrat keluar. Ia dengan cepat membalas dengan menusuk paha Ki Ageng, membuat musuhnya itu meraung kesakitan namun tetap bertahan.
“Kau kuat, empu!” kata Ki Ageng mengejek dengan sinis, mengayunkan kapaknya lagi dengan penuh keyakinan. “Tetapi wahyu ini bukan sesuatu yang bisa kau lawan!”
Sengkala tersungkur ke dalam lumpur, nafasnya mulai tersengal-sengal. Saat itu juga, ketika kapak musuh hampir menebas kepalanya, Suradipa datang menyelamatkan—tombaknya patah menghantam kapak musuh. “Mas, lari!” teriaknya.
Srintil dari bukit melepaskan panah tepat ke d**a Ki Ageng—musuh berteriak kesakitan dan roboh. Namun, kemenangan itu terasa sekilas: musuh perlahan-lahan mundur, meninggalkan 30 mayat mereka dan ancaman yang menggema: “Kami akan kembali membawa api yang lebih besar!”
Desa menarik napas lega untuk sejenak, namun konsekuensi yang harus ditanggung sangatlah besar: 12 pejuang desa gugur, 25 terluka parah, dan persediaan makanan sebagian besar hancur. Sengkala dibawa ke balai untuk mendapatkan perawatan, Dewi Laras dengan cemas mengobati luka-lukanya yang parah. “Le, kau hampir mati tadi! Kenapa kau tidak menyerahkan keris itu saja?!”
“Bu, kalau kuserahkan keris ini, mereka pasti akan membantai kita semua esok hari. Keris ini adalah simbol—mereka lebih takut padanya daripada kita.”
Mpu Wira, yang berbaring lemah di tempat tidurnya, berbisik pelan. “Le, malam ini mungkin kau menang, tetapi besok... Wikramawardhana telah mengirim mata-matanya. Mereka khawatir jika kau menjadi pahlawan baru.”
Srintil masuk ke dalam ruangan, wajahnya penuh dengan lumpur dan kelelahan. “Mas, pengintai melihat: Purwawisesa sendiri yang memimpin bala bantuan 500 orang dari arah timur. Mereka akan datang dua hari lagi. Dan... Wikramawardhana juga mengirim utusannya membawa pesan perdamaian—tetapi syaratnya, kau harus menyerahkan desa ini kepada mereka.”
Ki Jaka menggelengkan kepala tidak percaya. “Kita terjepit di antara dua kubu yang saling bertolak belakang!”
Sengkala, meskipun lemah, menatap semua orang di ruangan itu dengan tekad yang kokoh. “Besok pagi, kita harus mengirim pesan ke kedua kubu: desa ini bersikap netral, melindungi rakyatnya. Kalau mereka tidak mendengarkan... kita akan bakar sendiri persediaan makanan kita, mengatur evakuasi ke selatan, dan biarkan lembah ini menjadi lautan api. Jangan biarkan mereka mendapatkan apapun dari kita.”
Desa gempar mendengar rencana tersebut, namun semua setuju. Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi dengan jeritan garuda yang seolah terputus—simbol kejayaan Majapahit yang kini tinggal bayangan—Sengkala menulis surat terakhir di atas lontar: “Hari ke-20. Dua kubu berusaha menekan, tetapi hati kami di desa ini tetap utuh. Jika kami terpaksa jatuh, maka kami akan jatuh dengan garis merah yang gagah.”
Ketegangan meningkat seiring datangnya bala bantuan dari Purwawisesa yang semakin dekat, utusan Wikramawardhana yang dijadwalkan tiba pagi berikutnya, dan rahasia keris yang menjadi pusat dari badai pertarungan ini. Desa kini berada di ujung tanduk, dengan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian dan tantangan menghadang yang semakin besar.