Bab 13 : Api di Tengah Kabut

1625 Words
Hujan sudah lama berhenti, namun hawa dingin yang menggigit seolah terus menusuk hingga merasuk ke dalam tulang. Kabut pagi yang tebal dan lembut menyelimuti lembah bak sebuah tirai kelabu, membuat barisan tebing serta pepohonan yang tinggi menjulang tampak seperti siluet raksasa yang mengintai dari kejauhan. Di bawah naungan kelabu tersebut, Desa Sengkala berdiri dalam kepucatan yang memprihatinkan: rumah-rumah panggung yang separuhnya sudah hangus terbakar, parit-parit yang penuh dengan darah dan lumpur, serta bau besi yang menyengat bercampur dengan aroma arang yang masih kuat menggantung di udara. Malam yang gelap tanpa bintang itu telah berlalu, tetapi kini menyisakan pagi yang menandai awal dari babak baru yang penuh ketidakpastian. Sengkala, dengan tubuh yang terbalut perban yang kasar akibat luka-luka pertempurannya, duduk termenung di serambi balai desa. Meskipun bahunya masih terasa nyeri luar biasa, tatapannya tetap tajam serta waspada, mengamati setiap gerakan di luar dengan seksama. Desa tampak hidup dalam kegelisahan yang mencekam: para lelaki sibuk memperbaiki barikade bambu yang telah roboh, wanita-wanita menjemur pakaian yang masih basah sekaligus merawat mereka yang terlukai, sementara anak-anak duduk diam di pojokan, menatap hampa ke arah langit dengan mata-mata yang dilukiskan oleh keputusasaan. “Mereka bilang... apakah benar pasukan Purwawisesa sudah mundur?” tanya Lurah sambil menyusun kembali karung beras yang jumlahnya nyaris habis. “Belum,” jawab Sengkala dengan nada pelan namun penuh keyakinan. “Yang kita kalahkan kemarin hanyalah kelompok bandit—bekas anggota laskar mereka. Inti dari pasukan mereka masih berada di utara. Berdasarkan laporan dari Srintil, mereka kini berhenti di dataran tinggi Goa Jalatunda, yang jaraknya kira-kira dua hari perjalanan dari sini.” Lurah menelan ludah dengan segan, raut wajahnya segera berubah tegang. “Jadi, mereka memang belum selesai dengan kita.” “Belum,” Sengkala menatap cabang pohon yang patah di kejauhan dengan pandangan sayu, “dan nanti mereka akan datang dengan membawa dendam yang jauh lebih besar.” Dewi Laras muncul dari balik pintu, mengantarkan semangkuk ramuan jahe dan kunyit dengan penuh kasih. “Minum ini dulu, Le. Jika luka-lukamu tidak diberi minuman hangat, kondisinya bisa semakin parah,” ucapnya lembut. Namun, ada nada getir yang jelas dalam suaranya—ia paham benar bahwa anaknya tak akan beristirahat dengan tenang. Sengkala menatap ibunya sejenak, tersenyum samar sebagai jawaban. “Bu, kalau aku menghentikan langkahku sekarang, mungkin banyak dari kita tak akan pernah melihat pagi lagi di desa ini.” “Kau bukanlah seorang dewa, Le,” balas Dewi Laras dengan lembut namun tegas. “Kau hanyalah seorang manusia. Biarkan mereka yang lebih muda yang mengangkat senjata.” Sengkala memandang sekelilingnya. Para pemuda desa yang disebut "muda" itu—kulit mereka tampak pucat, tangan mereka gemetaran, bahkan beberapa di antara mereka baru berusia belasan tahun saja. “Mereka bertarung karena aku masih bisa berdiri,” katanya akhirnya dengan nada muram. “Jika aku terjatuh, kepercayaan mereka juga bisa ikut hancur.” Siang menjelang ketika Srintil muncul di balai desa, dengan napas yang tersengal dan wajah yang penuh bekas lumpur. “Aku lihat mereka, Sengkala. Pasukan Purwawisesa sedang berkumpul di Jalatunda. Jumlah mereka... lebih banyak dari yang kukira.” “Berapa banyak mereka?” tanya Ki Jaka dengan penasaran dan kecemasan. “Seribu, mungkin lebih. Mereka sekarang tak lagi menyebut diri sebagai ‘laskar Purwawisesa’. Kini mereka menyebut diri mereka 'Tumbal Pusaka.'” Alis Sengkala mengernyit mendengar nama itu. “Apa maksud dari sebutan itu?” Srintil menatap Sengkala dengan tatapan yang serius dan dalam. “Mereka percaya bahwa keris pusaka milikmu—'Giris Pawaka'—adalah keris asli kepunyaan Majapahit, yang pertama kali ditempa atas berkah Dewa Geni. Mereka yakin bahwa jika mereka dapat merebut keris itu, mereka akan mendapatkan surat wahyu yang menjamin kemenangan.” Balai desa sunyi untuk sesaat. Ki Jaka—yang selama ini hanya percaya pada hal-hal nyata seperti tanah dan logam—mengusap tengkuknya dengan bingung. “Itu hanyalah takhayul.” “Bagi mereka yang lapar dan haus akan kekuasaan, takhayul bisa menjadi alasan untuk melakukan pembunuhan,” jawab Sengkala dengan getir. Lurah memandang pemimpin mereka dengan kekhawatiran yang mendalam. “Jadi, mereka datang bukan sekedar untuk mencari makanan. Mereka datang untuk... 'mencarimu.'” Sengkala berdiri dengan perlahan, menahan rasa sakit di bahunya yang hampir tak ia hiraukan. “Kalau begitu, yang mereka dapat bukanlah kepalaku, tetapi sebuah pelajaran.” “Le,” potong Dewi Laras dengan cepat, “apa yang hendak kau lakukan?” “Jika mereka datang mencari aku, aku akan tunjukkan bahwa keris ini bukanlah wahyu, tapi sebuah peringatan,” katanya sambil menatap dengan penuh arti pada kilau pamor 'Giris Pawaka.' “Mereka ingin api, maka aku akan nyalakan sampai mereka merasakan panasnya.” Sore itu, di bawah langit yang terlihat begitu muram dan penuh kekhawatiran, Sengkala mengumpulkan semua pemuda dan mantan prajurit di lapangan kecil di depan balai desa. Wanita-wanita desa menatap dengan cemas dari kejauhan, sementara anak-anak bersembunyi di balik lumbung padi. Sengkala berdiri di tengah lingkaran, memegang 'Giris Pawaka' di tangannya dengan penuh keyakinan akan langkah yang akan diambilnya. “Dengar semua!” suaranya menggelegar membelah kabut yang semakin tebal. “Malam lalu kita memenangkan pertempuran, tetapi harga yang kita bayar adalah darah, luka, dan kehilangan. Besok malam, mereka pasti akan datang kembali—laskar Tumbal Pusaka, seribu orang yang memiliki keyakinan kuat bahwa besi ini,” ia angkat kerisnya tinggi-tinggi, “akan menebus kekalahan mereka!” Sorak marah terdengar bersahutan. Sengkala melanjutkan, “Mereka percaya benda ini memiliki kesakralan! Tetapi kalianlah yang lebih sakral! Kalian yang hidup, menyelamatkan anak-anak dan orang tua di desa ini. Jika keris ini hilang, kita masih bisa menempa lagi. Tetapi jika hati kalian padam, habislah kita.” Ki Jaka berteriak dari barisan, “Apa rencana kita, Mas?” Sengkala menatap peta tanah yang ia bentangkan di bawah kakinya. “Kita tak mungkin melawan seribu orang. Jadi, kita perlu mengubah medan: jebakan, asap, dan mimpi buruk. Kita akan menjadikan lembah ini sebagai perut neraka bagi mereka.” Ia tunjuk titik lereng pada peta itu. “Lurah, gali parit besar di sini. Isi dengan minyak dan getah. Jaka, pimpin 20 orang untuk membuat panah dari bambu. Srintil, persiapkan lima pembawa pesan ke selatan jika desa ini jatuh.” Seseorang dari kerumunan bertanya dengan suara serak dan cemas, “Dan jika mereka menuntut keris, Mpu?” Sengkala terdiam sesaat, lalu menjawab lirih namun tegas, “Jika mereka datang dengan api, mereka akan kutempa jadi besi.” Malam turun dengan cepat. Langit tertutup oleh awan tebal, udara dingin seperti napas. Desa sunyi menyentuh hingga ke hati—hanya ada suara hujan ringan yang menetes dari ujung atap yang terdengar. Sengkala duduk di depan tungku kecil, menggendong 'Giris Pawaka' di pangkuannya. Ia menyeka bilah keris itu dengan kain putih, lalu berbisik seolah kepada dirinya sendiri. “Dulu, aku membuatmu untuk melindungi, bukan untuk membunuh. Namun ternyata dunia ini terlalu gila untuk tahu bedanya.” Dewi Laras menghampiri dengan perlahan, duduk di samping putranya. “Le, jika mereka menangkapmu, apa kau akan menyerah?” Sengkala memandang api tungku dengan tatapan yang dalam. “Keris ini tak bisa diserahkan begitu saja. Karena jika terjatuh ke tangan Tumbal Pusaka, mereka akan menggunakannya untuk memulai perang baru. Namun jika aku mati di tangan mereka, biarlah namaku menjadi peringatan terakhir untuk kejayaan Majapahit.” Mpu Wira dari dalam rumah memanggil dengan suara lirih, “Le... aku dengar suara derap kuda.” Mereka berdua segera bangkit. Suara itu semakin jelas terdengar—derap kuda yang banyak dan cepat, mengguncang tanah. Srintil berlari dari pos jaga, berteriak keras, “Sengkala! Mereka datang lebih cepat dari yang diperkirakan! Satu peleton sudah berhasil menembus kabut!” Teriakan gong dipukul dengan keras—'TANG! TANG! TANG!'— menandakan bahaya telah datang. Desa terbangun, para prajurit desa segera mengambil tombak, dan perempuan-perempuan dengan cekatan mengamankan anak-anak ke gua selatan. “Ke pos barat!” perintah Sengkala dengan suara lantang. “Nyalakan sinyal asap sekarang!” Suradipa bergegas ke depan barikade, melapor dengan cepat, “Mas, mereka tidak membawa obor—mereka bersembunyi dalam kabut tebal!” “Semakin bagus,” gumam Sengkala sambil mengambil busur panahnya. “Biarkan mereka datang ke dalam gelap yang mereka ciptakan sendiri.” Drap! Drap! Drap!—suara langkah kaki yang menghantam lumpur semakin mendekat. Pandangan mata Sengkala samar-samar bisa melihat siluet: barisan sosok hitam menembus kabut, bersenjata lembing dan belati. Tumbal Pusaka telah tiba untuk membawa kehancuran. Sengkala menarik napas panjang, kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Sekarang, semuanya tetap di tempat masing-masing hingga aku beri tanda!” Saat kabut pekat mulai menelan desa, siluet pertama muncul dari arah utara—wajah-wajah kotor penuh jelaga, pakaian yang robek-robek, namun mata mereka menyala dengan kilatan layaknya orang kerasukan. Mereka meneriakkan satu kalimat yang menggema tanpa henti: “Serahkan keris! Serahkan wahyu Majapahit!” Jeritan tersebut menggema sepanjang lembah, seakan mantra dari dunia lain yang berusaha mengubah kenyataan. Barisan pertama memasuki parit yang telah dipersiapkan—jebakan minyak yang dipersiapkan oleh Lurah bekerja dengan sempurna. Sangkala menurunkan tangannya. “Sekarang!” Lurah segera melempar obor yang terbuat dari bahan yang kering ke dalam parit—'BOOM!' lidah api meledak ke udara, menelan puluhan prajurit pertama secara instan. Teriakan kesakitan menggema, panas berpadu dengan kelembapan hujan, dan langit malam seketika berubah menjadi berwarna jingga oleh kobaran api. Srintil berteriak dari bukit dengan kuat, “Mas, mereka masih terus berdatangan! Lebih banyak lagi dari sebelumnya!” Sangkala tersenyum getir. “Bagus. Semakin banyak dari mereka yang datang, semakin cepat ini akan terbakar habis.” Dan di sinilah, pada malam di mana api menari mengelilingi lembah, perang besar yang sesungguhnya dimulai—perang yang mempertemukan sisa-sisa kejayaan Majapahit dengan bayangan kegilaan yang menginginkan keris sakti sebagai wahyu ilusinya. Di tengah gemuruh pertempuran, dalam hati Sangkala terbersit satu kepastian: bahkan jika esok dunia runtuh dalam kehancuran, api yang ia nyalakan pada malam ini akan tetap menyala dan dikenang dalam catatan sejarah yang tak akan pernah padam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD