Bab 12 : Malam Tanpa Bintang

1394 Words
Hari keenam belas setelah terjadinya serangan besar yang meletus dan membara di Trowulan, menjadikan suasana desa lembah bagaikan urat nadi yang berdenyut tegang dan intens di tengah-tengah badai besar yang mengguncang. Kabut yang tebal datang dari utara bersatu dengan derasnya hujan yang tidak kunjung berhenti sejak tengah hari, mengubah parit-parit yang menjadi barikade pertahanan menjadi rawa-rawa licin seperti es, sementara bambu berduri yang berat menjadi semakin berat karena basah, dan api unggun yang biasanya menjadi pusat harapan dan rasa hangat kini sulit untuk dinyalakan. Stok makanan kini dalam keadaan kritis, dengan ubi yang mulai membusuk sementara persediaan beras tinggal cukup untuk tiga hari ke depan. Keadaan bertambah sulit saat wabah sampar merenggut nyawa lima belas orang lagi. Para pengungsi mulai panik dan ribut, dengan beberapa dari mereka ingin melarikan diri ke selatan, sedangkan sekelompok mantan prajurit mendesak untuk melakukan serangan lebih dulu untuk menghadapi ancaman yang ada. Di tengah ketidakpastian ini, Sengkala berdiri kokoh di balai desa, tubuhnya terbungkus jubah hujan yang terbuat dari daun lontar, memimpin rapat darurat yang diadakan di bawah cahaya lentera yang bergoyang ditiup angin malam. Meski bahunya mengalami luka infeksi dan demam ringan mengganggu kestabilan suhu tubuhnya, pandangan mata Sengkala tetap tajam dan penuh determinasi. "Berapa banyak bandit yang tersisa di luar sana?" tanya Sengkala dengan suara serak, menoleh kepada Suradipa yang baru saja kembali dari patroli. "Jumlahnya mencapai sekitar 80 orang, Mas. Mereka adalah campuran antara pasukan Purwawisesa dan bandit-bandit liar yang tak jelas asal usulnya. Mereka berkumpul di gua bagian timur, yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan kaki dari sini. Hujan yang terus-menerus ini membantu menyamarkan kami, namun kami yakin besok pagi mereka akan bergerak tanpa ragu," lapor Suradipa dengan cermat sambil mengatur napasnya. Lurah, terlihat lelah dan basah kuyup, melaporkan berita lebih buruk. "Kabar dari utusan selatan yang telah kita tunggu hilang tanpa jejak selama dua hari. Tidak ada bantuan makanan yang datang. Di desa-desa tetangga, mereka kacau balau, saling menyerang demi memperebutkan stok makanan yang semakin menipis." Ki Jaka hanya bisa menggelengkan kepalanya, menambahkan, "Para pengungsi sudah mulai merasakan kelaparan yang amat sangat. Anak-anak menangis kelaparan, perempuan mulai ribut karena putus asa. Mbok Sari nyaris dianiaya tadi siang karena dianggap membagikan ubi secara tidak adil." Kemudian, Srintil, yang kini diakui sebagai mata-mata utama desa, mengangkat suaranya dengan keberanian. "Dari gua tadi, aku dengar suatu kabar: Purwawisesa mengirim utusan ke Wikramawardhana untuk menawarkan perdamaian palsu. Namun, kabarnya mereka merencanakan untuk mengepung desa kita. Mereka mengatakan bahwa engkau memegang 'rahasia keris' yang konon katanya bisa mengubah nasib perang ini." Sengkala sejenak menatap lontar yang menyimpan catatan rahasianya di sudut ruangan—sepotong sejarah yang panjang dan penuh teka-teki. "Rahasia itu tidak lebih dari cerita lama yang telah dilupakan. Mereka hanya mencari alasan untuk merampok dan memusnahkan kita di sini." Tiba-tiba, Mbok Sari bergegas masuk dengan wajah yang pucat pasi. "Mas, ada pengungsi baru—lima orang dari istana. Mereka mengklaim membawa pesan dari Wikramawardhana dan meminta bertemu denganmu secara pribadi." Desa menjadi heboh dengan bisik-bisik. Suradipa mendesak dengan penuh kewaspadaan. “Ini sebuah jebakan, Mas! Jangan pergi!” "Aku akan bertemu dengan mereka," tegas Sengkala dengan ketenangan yang menggelora. "Ini adalah saat kita diuji akan netralitas kita. Jika benar Wikramawardhana menawarkan perdamaian, maka kita bisa terselamatkan. Tapi jika ini sebuah jebakan... setidaknya kita akan mengetahui siapa musuh kita yang sebenarnya." Di luar balai, di tengah kegelapan dan derasnya hujan, Dewi Laras menarik lengannya dengan penuh harap. “Le, hujan deras ini, lukamu sudah cukup parah. Biarkan Suradipa yang mewakili.” “Bu, ini tentang kepercayaan dan kewibawaan. Jika aku mundur sekarang, maka desa ini akan hancur dari dalam oleh keraguan." Dia memeluk ibunya dengan perasaan yang campur aduk, kemudian, sambil mengambil 'Giris Pawaka', dia mengikuti Mbok Sari menuju tenda pengungsi yang baru datang. Di dalam tenda yang remang-remang dan terendam basah, lima lelaki berjubah kain katun yang sudah basah menunggu dengan penuh kesabaran—diantaranya seorang pimpinan dengan janggut tipis dan cincin batu giok menghiasi salah satu jemarinya. "Apakah Anda Empu Sengkala?" tanyanya dengan nada hormat. “Ya, saya. Apa pesan dari Wikramawardhana?” Pria itu bangkit berdiri, menyerahkan gulungan kain basah. “Gusti kami telah menang di istana pusat. Purwawisesa telah mundur, tapi dia mengirim bandit-bandit untuk mengganggu desa-desa netral seperti desa Anda. Gusti menawarkan perlindungan bagi desa Anda, serta bantuan makanan untuk sebulan penuh, asalkan Anda bersedia membuat 100 tombak untuk laskar pusat. Dan... menyerahkan rahasia keris yang Anda simpan.” Sengkala membuka gulungan itu—sebuah surat resmi lengkap dengan cap garuda yang menunjukkan keaslian pesan tersebut. “Aku tidak memiliki rahasia keris, dan aku tidak akan membuat s*****a untuk pihak mana pun yang sedang berperang.” Pria itu tersenyum tipis dan dingin. “Gusti kami mengatakan Anda pintar. Menolak, maka desa Anda dianggap aman dari ancaman Purwawisesa... tetapi bandit ‘yang tak terkendali’ mungkin saja datang menyerang malam ini.” Ancaman yang t*******g dan nyata sudah jelas terlihat. Sengkala menatap pria itu dengan keteguhan di matanya. “Katakan kepada Gusti Anda: desa ini memilih untuk bersikap netral. s*****a di sini hanya untuk bertahan, bukan untuk memulai perang saudara. Jika Wikramawardhana memang raja yang sejati, dia akan melindungi rakyatnya tanpa harus memaksa.” Pria itu hanya mengangkat bahunya sambil menjawab, “Pilihan ada pada tangan Anda sendiri.” Mereka pun pergi, menghilang di tengah hujan yang semakin deras menutupi malam. Kembali ke balai desa, Sengkala menceritakan kejadian tersebut dengan detail yang menyulut kegemparan. Seorang petani berteriak dengan penuh emosi, “Kita harus serang para bandit terlebih dahulu!” “Tidak!” bentak Sengkala dengan lantang. “Jika kita menyerang terlebih dahulu, maka kita akan menjadi bagian dari kubu yang berperang. Kita harus bertahan! Malam ini semua berjaga lebih waspada. Srintil, kau harus kembali ke gua dan periksa jumlah mereka dengan akurat. Lurah, siapkan minyak tambahan untuk jebakan yang mungkin kita perlukan.” Hujan seakan semakin deras dengan berlalunya waktu. Tengah malam menjelang, dan dari pos bukit, sinyal api dinyalakan tiga kali—pertanda kedatangan musuh! Sengkala berlari menuju bukit dengan hujan deras bagaikan cambukan dingin di wajahnya. Suradipa menyambut dengan informasi cepat: “100 bandit, Mas! Mereka bergerak melalui lembah timur, membawa obor-obor anti air!” “Tarik semua pasukan menuju barikade utama!” Sengkala memerintahkan dengan tegas. Desa pun terbangun dari tidur malam: para perempuan dengan cepat menyembunyikan anak-anak mereka, sementara para prajurit segera mengambil tombak untuk bersiap menghadapi musuh. Badai serangan bandit pun tiba: teriakan mereka menggema penuh kebengisan, obor menyala menyibak hujan. Pemimpin mereka—seorang raksasa dengan tubuh besar membawa kapak yang tidak kalah mengerikan—berteriak lantang: “Serang! Ambil semua makanan dan empu!” Gelombang pertama menghantam barikade dengan keras: bambu-bambu patah, suara jeritan memenuhi udara. Sengkala berada di garis depan dengan 'Giris Pawaka' yang kini berlumur darah bercampur hujan. Dia berhasil menebas tiga bandit, tetapi bahu yang terluka kembali mengucurkan darah bercampur air. “Lurah, minyak!” teriaknya dengan suara yang gugup namun jelas. Sang Lurah dengan sigap menuangkan minyak ke dalam parit, dan Suradipa menyalakan panah yang segera melesat—'whoosh!' Ledakan api besar membakar hingga 20 bandit, jeritan terdengar di antara dentuman hujan. Pemimpin bandit melompat melewati parit, menghadapi Sengkala dengan mata dengan penuh amarah. “Kau, empu pengkhianat! Mati kau!” Kapaknya menghantam bahu Sengkala—darah kembali memuncrat. Sengkala dengan gesit menghindar, kemudian menusukkan senjatanya ke perut bandit tersebut. “Kau, bandit yang haus darah! Desa ini tidak gentar melawan para penjarah!” Bandit itu roboh tak berdaya. Sisa-sisa yang lain panik dan melarikan diri tertunduk di bawah hujan. Kemenangan berpihak pada desa untuk saat itu—40 musuh tewas, sedangkan 15 dari desa terluka dan tewas dalam perjuangan melindungi kehidupan mereka. Namun, setelah itu Sengkala terjatuh berlutut, diserang demam yang semakin tinggi. Srintil datang membantunya berdiri. "Mas, kau telah menyelamatkan kami sekali lagi," katanya dengan rasa syukur yang mendalam. Di balai desa, ketika kondisi tubuhnya dirawat dengan penuh perhatian oleh tangan-tangan yang peduli, Dewi Laras menangis. “Le, esok hari kau harus beristirahat total. Desa ini membutuhkanmu dalam keadaan hidup.” Sengkala berbisik, pandangannya menatap hujan yang tak henti-henti. “Malam ini benar-benar gelap tanpa bintang... namun fajar pasti akan tiba. Kita harus terus bertahan.” Namun, di dalam kegelapan malam yang membisu, bayangan mata-mata dari Wikramawardhana dengan sembunyi-sembunyi mengintip—rahasia yang disimpan oleh Sengkala perlahan-lahan mulai terungkap, sementara ancaman serangan besar yang direncanakan oleh Purwawisesa semakin mendekat dan ketegangan memuncak tanpa henti. Sungguh cobaan yang berat menanti desa kecil ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD