Bab 11 : Bisik Bayangan dari Utara

1688 Words
Malam ketiga setelah serangan bandit yang melanda, desa yang damai kini terbungkus oleh kegelapan yang jauh lebih pekat dibandingkan dengan biasanya. Kabut tipis yang terbawa dari kehancuran di Trowulan masih bergelung di atas lembah, bagaikan kain kafan yang menutup tubuh dalam ketidakpastian, membuat setiap suara langkah menjadi lebih dekat dan menggema, dan setiap bayangan tampak lebih mengancam dari sebelumnya. Barikade yang awalnya hanya terdiri dari anyaman bambu berduri, kini telah diperkuat dengan balok-balok kayu jati yang dicuri dari hutan terdekat, dan di bagian paling luar, parit-parit telah dipenuhi air keruh yang bercampur dengan getah pohon, disiapkan agar licin dan sulit dilalui musuh. Pos penjaga di bukit dijaga bergantian oleh para penduduk dengan obor yang nyalanya dibuat temaram supaya tidak terlalu mencolok dari kejauhan. Simpanan makanan yang tersisa kini semakin menipis; hanya ada cukup beras untuk bertahan selama seminggu, sementara ubi dan jagung menjadi andalan utama. Celakanya, wabah penyakit sampar yang melanda berhasil merenggut tiga jiwa lagi pada pagi hari ini. Di tengah situasi yang genting ini, Sengkala berdiri tegak di balai desa, meskipun bahunya terluka dan masih bernanah. Di hadapannya terbentang peta dari lontar, dikelilingi oleh tokoh-tokoh penting desa seperti Ki Jaka, Lurah, Suradipa, dan Mbok Sari, merencanakan langkah selanjutnya. "Utusan selatan belum kembali," ucap Sengkala dengan suara pelan tetapi tegas. Jepit jarinya mengikuti garis tepi hutan di peta itu. "Bantuan makanan tertunda. Malam ini kita harus irit lagi—untuk semuanya hanya bubur encer, tidak ada sup daging." Ki Jaka mengusap wajahnya yang lelah dengan tangan, menunjukkan betapa melelahkannya situasi ini. "Mas, para prajurit yang sudah terluka mulai gelisah. Mereka bilang bandit kemarin cuma pengintaian awal. Besok malam, Purwawisesa akan melancarkan serangan yang lebih besar—kabarnya laskar mereka berjumlah 200 orang, lengkap dengan kuda dan kereta perang." Lurah menelan ludah, tanda kerisauan yang semakin menghimpit. "Dari mana kabarnya? Apakah ini dari mata-mata kita yang biasa kita kirim?" Suradipa menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Bukan dari mata-mata seperti biasanya. Kabar ini dibawa oleh pengungsi baru yang berhasil lolos dari arah timur. Mereka bilang Purwawisesa menuduh desa kita menyembunyikan seorang empu pengkhianat—Mpu Sengkala. Katanya, kau dulu menolak pesanan s*****a dari mereka, dan sekarang ada isu bahwa kau membantu Wikramawardhana secara diam-diam.” Sengkala tertawa kecut, namun tatapan matanya tetap dingin. “Pengkhianat? Aku tidak memilih berdiri di kubu mana pun. Namun bagi mereka yang dikuasai oleh ambisi, netral sama dengan musuh yang berbahaya. Mbok Sari, pastikan kamu urus pengungsi yang baru—cermati satu per satu, jangan sampai ada mata-mata di antara mereka.” Mbok Sari mengangguk, meskipun suaranya tegas, kelihatan jelas bahwa tangannya gemetar karena kegugupan. “Sudah saya lakukan, Mas. Pengungsi yang mencurigakan sudah kita arahkan ke tenda terbuka. Namun, ada satu yang mengaku telah melihat bayangan yang mencurigakan di hutan bagian selatan tadi siang. Bukan bandit biasa, melainkan sosok prajurit berjubah.” Mendengar hal itu, Sengkala bangkit dengan semangat meski bahunya masih terasa sakit. Diraihnya 'Giris Pawaka' dari pinggangnya. "Aku akan patroli malam ini. Lurah, kau ikut denganku. Suradipa, shift penjagaan bukit diganti setiap satu jam. Ki Jaka, persiapkan rencana evakuasi darurat: perempuan dan anak-anak diungsikan ke gua di selatan dengan berikan tanda api sebanyak lima kali." Di tengah persiapan, Dewi Laras mendekat dari balik pintu, wajahnya pucat namun matanya tetap menyala dengan penuh semangat. “Le, jangan pergi sendirian kali ini. Luka di bahumu belum sepenuhnya sembuh. Biar Lurah yang pergi.” “Bu, jika aku mundur saat ini, semangat semua orang pasti mundur juga. Mereka perlu melihat bahwa pemimpin mereka tetap kuat,” jawab Sengkala dengan lembut namun tegas. Direngkuhnya ibunya sebentar, memberi kekuatan sebelum ia melangkah keluar menuju kegelapan malam yang semakin kelam. *** Di pinggiran hutan desa, suasana sunyi dengan nuansa mencekam, hanya terdengar suara serangga malam dan angin yang dengan lembut mengusap dedaunan yang kering. Sengkala dan Lurah bergerak dengan sangat pelan, tombak telah siap di masing-masing tangan, dan 'Giris Pawaka' berada dalam posisi setengah terhunus, siap dipakai jika diperlukan. Udara tercium dengan bau tanah basah bercampur asap dari kejauhan yang tidak begitu bersahabat. Tiba-tiba, terdengar suara ranting patah di sisi kanan mereka—suara yang sangat kecil namun begitu jelas. “Siapa di sana?!” Sengkala berbisik tajam, menghentikan langkahnya dengan waspada. Dari balik pohon beringin tua yang berdiri kokoh, seorang sosok ramping muncul secara perlahan: seorang perempuan muda berpakaian sinjang hitam yang sudah compang-camping, rambutnya berantakan namun matanya bersinar tajam seperti elang yang sedang mengintai mangsa. Ada keris pendek berkilau samar yang tersemat di pinggangnya. “Jangan serang aku, Mpu Sengkala,” katanya perlahan, suaranya merdu namun ada ketegangan yang kentara. “Aku bukan musuh. Namaku Srintil, dulu aku adalah pengawal pribadi Purwawisesa. Kini... aku hanya seorang pelarian.” Menyadari akan ancaman, Lurah segera mengangkat tombaknya. “Bohong! Pasti dia mata-mata!” Namun, Sengkala segera mengangkat tangan untuk menghentikan tindakan tersebut. “Buktikan! Mengapa kau datang sendirian kemari?” Srintil lalu maju selangkah, lalu ia membuka ikat pinggangnya dan menunjukkan sebuah tato kecil berbentuk garuda di bawah perutnya tepat dibawah pusar, lambang pengawal istana yang tidak bisa dipalsukan. “Ini buktinya. Aku meninggalkan Purwawisesa setelah dia membunuh saudaranya sendiri dalam peristiwa Paregreg. Laskar mereka sekarang seperti laskar liar, merampok desa demi makanan. Mereka tahu bahwa desamu kuat—rencananya mereka akan menyerang kedesamu adalah besok fajar, dengan 150 orang, dipimpin oleh Ki Demang yang s***s, bengis dan haus darah.” Sengkala menyipitkan matanya dengan penuh perhatian. “Kenapa kau berbagi semua informasi ini padaku? Jika kau benar-benar pelarian, kenapa tidak langsung menuju selatan dan menyelamatkan diri?” Srintil balas menatap. “Karena aku mendengar bahwa kau adalah seorang empu yang tidak memilih kubu manapun. Desamu bahkan menyelamatkan pengungsi tanpa pandang bulu. Dan... Purwawisesa mencari kepalamu. Desas-desus mengatakan bahwa kau telah menyembunyikan rahasia keris pusaka yang konon dapat mengubah nasib perang.” Lurah menggeleng kepala, semakin khawatir. “Rahasia apa yang dibicarakan? Lagi-lagi aneh?” Sengkala terdiam sejenak, teringat kepada catatan rahasia yang tersimpan dalam lontarnya. “Itu adalah urusan yang sudah lama berlalu. Srintil, jika kau ingin bergabung dengan kami, bersumpahlah setia lebih dulu. Karena pengkhianat di sini hukumannya hanya satu: kematian.” Dengan penuh keyakinan dan tekad yang bulat, Srintil menjawab, “Aku bersumpah atas nama Dewi Sri,” katanya tegas sambil berlutut, menunjukkan kesetiaan. Setelah malam yang panjang, mereka kembali ke desa dalam kesunyian. Di balai desa, Sengkala mengumumkan kepada semua orang dengan cepat. “Besok pagi saat fajar menyingsing, kita akan dihadapi oleh serangan dari pasukan Purwawisesa. Sekitar 150 orang akan datang menyerang kita. Kita hanya punya 60 prajurit dari desa. Rencananya: tarik mereka masuk ke lembah sempit di bagian timur, bakar jebakan minyak dari pohon kelapa yang sudah kita siapkan, dan hujani mereka dengan panah dari atas tebing. Lurah akan memimpin kelompok kiri, Suradipa kanan, dan aku di tengah.” Suradipa keberatan, berusaha menolak strategi berbahaya. “Mas, jumlah mereka tiga kali kita! Ini seperti misi bunuh diri!” “Ini bukan misi bunuh diri,” sahut Sengkala dengan tenang namun tetap tegas. “Mereka saat ini lapar dan lelah. Kita bisa menggunakan medan ini untuk menguntungkan pihak kita. Srintil, kamu tunjukkan rute mereka.” Srintil mengangguk. “Ada jalan setapak yang tersembunyi dari arah timur yang bisa kita gunakan. Aku bersedia memimpin 10 orang dari desa ke sana—memutuskan jalan mereka untuk mundur.” Dewi Laras menarik Sengkala sedikit ke samping, raut wajahnya penuh dengan kegelisahan. “Le, jika rencana gagal... seluruh keluarga kita bisa mati.” Sengkala memeluk ibunya, mencoba memberinya kekuatan dan ketenangan. “Bu, jika kita memilih untuk lari sekarang, bandit dan musuh akan mengejar kita hingga selatan dan takkan pernah berhenti. Kita harus bertahan. Ini adalah desa kita, rumah kita.” *** Saat fajar merekah, suara dentuman kaki kuda dan teriakan perang menggema di seluruh penjuru desa. Laskar Purwawisesa muncul dari bagian timur—jumlah mereka sekitar 150 orang, meskipun penampilan mereka compang-camping, semangat mereka tetap ganas dan berkobar, obor di tangan menyala dengan terang, dan tombak mengkilap dalam genggaman mereka. Ki Demang berada di depan, berteriak keras, “Serang! Ambil semua makanan dan empu yang katanya pengkhianat itu!” Desa tetap tenang dan sunyi seolah tak ada kehidupan. Mereka berhasil masuk ke dalam lembah sempit yang telah dipersiapkan untuk menjebak. Tiba-tiba—api menyala! Jebakan minyak yang digelar sebelumnya menyala dan membakar barisan depan mereka. Kemudian, panah dari segala arah datang seperti hujan dari tebing: 20 orang laskar jatuh seketika. “Balik! Mundur!” jerit Ki Demang panik. Namun, semuanya sudah terlambat. Sengkala melompat dari tebing dengan penuh semangat, 'Giris Pawaka' berputar di udara. “Untuk keselamatan desa!” teriaknya penuh semangat. Ia berhasil menusuk dua prajurit yang berdiri di depannya, lalu Lurah dan Suradipa menyerang dari flank kiri-kanan dengan serangan yang tak kalah hebat. Di sisi lain, Srintil memotong dari belakang—10 orang desa datang menyerang dan memutus jalan mundur musuh. Pertarungan berlangsung sengit: darah berceceran di berbagai sisi, sementara jeritan memenuhi lembah yang nyaris ditutupi kabut. Ki Demang menghadapi Sengkala dalam pertarungan satu lawan satu yang penuh dengan emosi. “Kau menolak pesanan senjataku dulu! Kini saatnya kau mati!” *Clang!* Suara logam yang beradu terdengar jelas saat pedang bertemu keris. Sengkala dengan lincah menghindari tebasan lawannya dan menusuk kaki Ki Demang. “Aku menolak karena kau berniat membunuh saudaramu sendiri! Pergi sekarang juga atau kau mati di sini!” Ki Demang akhirnya roboh, laskar yang tersisa berlarian kalang kabut, kalah dalam kekalahan yang memalukan. Desa berhasil menang—50 musuh tewas dan sisanya melarikan diri, sementara 10 orang desa mengalami luka yang parah serta gugur dalam perjuangan. Ketika pagi menjelang, Sengkala berdiri di antara korban yang berjatuhan, napasnya berat penuh dengan beban pikiran. “Kita bertahan lagi,” ujarnya tegar. “Rayakan keberhasilan ini sebentar, lalu segera bersiap untuk gelombang serangan berikutnya.” Srintil mendekatinya dengan langkah pelan. “Kau memang seorang pemimpin yang hebat, Mpu. Namun, ingatlah bahwa Purwawisesa tak akan berhenti.” Sengkala menatap jauh ke utara dengan mata penuh keyakinan, api masih menyala dan membumbung tinggi. “Maka kita juga tak boleh berhenti.” Dalam ketegangan yang belum mereda, desa berhasil selamat untuk sementara waktu, namun ancaman dari Purwawisesa semakin mendekat, dan rahasia masa lalu Sengkala mulai terurai sedikit demi sedikit, seperti membuka lembaran sejarah yang belum usai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD