Bab 10 : Jerat di Tengah Abu

1690 Words
Fajar yang menyingsing di lembah desa memberikan nuansa remang yang biasanya disambut dengan harapan baru, namun saat ini, cahaya pagi tak kuat menembus kabut tebal yang bercampur dengan asap dari arah utara, menimbulkan suasana yang menekan dan menambah ketidakpastian. Desa kecil yang dulunya damai dan jarang terdengar konflik kini telah berubah menjadi semacam benteng darurat yang sifatnya sementara namun mengesankan: barikade dari bambu berduri mengelilingi perimeter desa untuk memberikan perlindungan, sementara parit dangkal yang diisi dengan air kotor dari got dibuat sebagai tambahan pertahanan. Di satu bagian desa, terdapat pos jaga yang berdiri tegak di sebuah bukit kecil, di mana para pemuda desa, dengan penuh tanggung jawab dan rasa waspada, berjaga secara bergantian, sebagai bagian dari upaya untuk melindungi kampung halaman mereka. Populasi yang biasanya tidak banyak, kini telah membengkak hingga hampir 400 jiwa, terdiri dari campuran orang-orang yang beragam; dari petani lokal yang tekun bekerja di tanah mereka, pengungsi dari wilayah Trowulan yang hancur, bekas prajurit-prajurit yang kini tak lagi mempunyai medan pertempuran, hingga keluarga-keluarga yang terlantar akibat situasi yang mencekam. Di tengah semua itu, Sengkala, yang kini secara de facto menjadi pemimpin, berdiri dengan sikap yang penuh dengan tanggung jawab di sebuah bangunan yang diberi nama balai desa utama, dengan peta yang terbuat dari lontar yang tergelar di atas tikar pandan sebagai panduan. Tak dapat dipungkiri, meskipun tampaknya tegar, bahu Sengkala yang terluka itu dibalut dengan kain bersih oleh Dewi Laras, tanda dedikasi dan perhatianannya yang telah menjadi sumber kekuatan batin. Namun, meskipun luka di bahunya belum sepenuhnya pulih, Sengkala tetap memberikan perintah dengan suara penuh ketegasan kepada Ki Jaka, yang kini dipercaya mengurus segala kepentingan logistik desa. "Hitung lagi stok makanan kita," ujarnya sambil memandang jauh ke depan. "Beras bisa cukup untuk dua minggu, asalkan porsi yang biasa kita terima kita kurangi. Ubi dan jagung bisa kita tambah dari kebun yang ada di bagian selatan desa kita. Untuk air, kita ambil dari mata air yang ada di atas—ingat, janganlah pernah sentuh air dari sungai, karena telah tercemar oleh mayat yang terbawa ke hilir." Ki Jaka, mendengar arahan ini, hanya bisa mengangguk mengiyakan sambil mencatat instruksi tersebut di atas pelepah lontar. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya. "Semua itu sudah tercatat, Mas. Akan tetapi, yang menjadi masalah besar adalah obat-obatan kita yang semakin menipis. Wabah sampar masih terus menghantui pengungsi baru kita. Memang benar Mbok Sari turut membantu ibu-ibu untuk merawat yang sakit, namun daun sirih dan rempah kunyit yang kita miliki saat ini benar-benar tak mencukupi." Di saat yang sama, Lurah yang baru saja kembali dari patroli malam, menyampaikan laporannya dengan wajah penuh keletihan sambil mengusap keringat yang mengalir di dahinya. “Ada dua kelompok bandit yang bergerak melewati utara, Mas. Meski mereka belum menyerang, tetapi mata-mata kita sudah melihat dengan jelas bahwa mereka tengah berkumpul di hutan sebelah timur. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 50 orang, dan s*****a yang mereka bawa tak main-main, dari tombak hingga keris yang diambil dengan cara mencuri.” Ketegangan tercermin di wajah Sengkala ketika ia menatap peta, dengan telunjuknya menunjukkan titik-titik yang dianggap lemah. “Perkuatlah barikade yang ada di bagian timur. Pasang jebakan lubang dari bambu berduri di sepanjang jalan setapak yang mungkin mereka lewati. Suradipa, kau pimpin 20 orang bekas prajurit dan siagakan mereka di bukit. Jika musuh mendekat, nyalakan sinyal api tiga kali sebagai pertanda.” Dengan tekad bulat, ia menambahkan, “Dan malam ini, aku akan mengirim utusan ke bagian selatan menuju desa tetangga untuk meminta bantuan baik makanan maupun obat-obatan. Bawalah kain putih sebagai pertanda damai serta tawaran untuk menukar hasil-hasil kebun kita.” Di tengah ketegangan yang berkembang, Dewi Laras muncul dari belakang dengan membawa periuk berisi bubur jagung yang encer. "Makanlah dahulu, Le. Luka di bahumu mengkhawatirkan, bengkak lagi sepertinya. Jika kau jatuh sakit, siapa lagi yang bisa memimpin semua ini?" Sengkala tersenyum lemah, tetapi penuh dengan ketulusan ketika mengambil mangkuk tersebut. “Bu, dalam situasi seperti sekarang, ini bukan lagi soal satu orang. Sekarang desa ini seolah telah memiliki hati dan jiwanya sendiri.” Di pojok lain, duduklah Mpu Wira, menggunakan tongkatnya sebagai penyangga diri, dia memberikan pandangannya dengan suara parau yang penuh akan pengalaman. “Hati itu memang bagus, tetapi jangan lupa bahwa perut juga harus diisi terlebih dahulu. Aku mendengar kabar dari pengungsi bahwa di luar sana, Wikramawardhana mengklaim kemenangan, tetapi Purwawisesa telah mundur ke arah timur, membawa serta sisa laskarnya. Kini, para bandit yang ada pun sudah campuran menjadi dua kubu yang berbeda—merampok siapa saja yang bisa mereka rampok.” Dengan bijaksana Sengkala pun mengangguk. “Justru itulah sebabnya kita tidak pernah memilih berdiri di bawah satu kubu manapun. Yang kita lakukan saat ini adalah bertahan dengan sikap netral. Tujuan kita semata-mata hanya untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk memperebutkan kekuasaan.” Saat siang berganti, diadakanlah rapat besar di balai desa dengan menghadirkan semua orang dewasa yang ada di desa, mereka duduk bersila menunggu arahan. Sementara itu, anak-anak dijaga dengan baik di lumbung, dan para perempuan dengan cekatan membagi tugas untuk memasak. Di tengah-tengah itu semua, Sengkala berdiri dengan suara yang lantang menggema di seluruh ruangan. “Dengar semua! Konflik besar di Trowulan belum menemukan titik akhir. Nyala api masih menyebar, dan bandit merajalela di mana-mana. Namun, ingatlah bahwa desa ini akan tetap aman selama kita tetap bersatu. Maka dari itu, aku menetapkan aturan baru: shift berjaga dilakukan setiap dua jam sekali, makanan dijatah menjadi separuh porsi, dan obat difokuskan terlebih dahulu untuk yang terluka, anak-anak serta lansia. Jika ada di antara kalian yang tidak setuju dengan keputusan ini, silahkan bicara sekarang juga.” Seorang bekas prajurit yang bernama Suradipa dengan sigap mengangkat tangan. “Aku setuju, Mpu. Namun, jika bandit menyerang malam ini, apa yang harus kita lakukan? Kita kekurangan s*****a. Apakah tombak kayu yang kita punya saat ini cukup untuk melawan keris mereka?” Dengan tenang, Sengkala menanggapi keprihatinan tersebut. “Malam ini kita akan membuat tombak darurat dari bahan bambu yang kita asah hingga tajam dan kita kombinasikan dengan besi yang masih tersisa. Aku sendiri yang akan mengajari para muridku cara membuatnya. Dan jika serangan itu datang, tindakan kita bukanlah bertarung mati-matian—tetapi lebih pada menarik mundur ke arah hutan dan memanfaatkan jebakan yang telah kita siapkan. Ingat, kita bertahan dengan harapan selamat, bukan untuk mengorbankan nyawa.” Di antara yang hadir, seorang ibu pengungsi dengan raut wajah penuh kekhawatiran menambahkan, “Kenapa tidak kita lari ke selatan sekarang juga? Demi keselamatan kita semua!” Sengkala menjawab dengan penuh pertimbangan. “Benar kita bisa pergi ke selatan, tapi apakah kau menyadari bahwa di sana ada gunung yang curam, Ibu? Dengan membawa 400 orang bersamamu, berapa banyak yang bisa jatuh? Di sini kita memiliki sumber air, kebun yang bisa kita andalkan, serta benteng untuk perlindungan. Bertahan tiga hari saja, dan aku yakin bantuan pasti datang.” Dengan semangat baru, rapat akhirnya bubar, meninggalkan pembagian tugas yang jelas dan terorganisir. Sengkala memimpin orang-orang untuk mengumpulkan besi tua yang ada dari bengkel lama dan mulai mengubahnya menjadi ujung tombak. Di lapangan terbuka, dia mendemonstrasikan prosesnya: memanaskan potongan besi kecil hingga menjadi merah di atas api unggun, lalu memukul-mukulnya hingga berbentuk lancip menggunakan batu sebagai landasan. “Perhatikan, Lurah. Ini cukup tajam untuk menusuk daging, tanpa harus megah dengan pamor yang memikat mata. Ini adalah s*****a untuk bertahan hidup yang kita perlukan saat ini.” Lurah mencobanya, dengan hasil yang memuaskan. “Bagus sekali, Mas! Saya yakin kita bisa membuat 50 buah tombak malam ini.” Semangat kembali membakar semua orang. Malam datang lebih cepat dengan langit gelap tanpa bulan, angin berhembus membawa bau gosong yang menyengat. Pos jaga di bukit memberikan sinyal satu asap—musuh telah terlihat. Sengkala segera naik ke bukit, disambut oleh Suradipa yang datang dengan laporan terkini. “Ada sekitar 30 bandit, Mas. Mereka membawa obor dan tampaknya mereka mabuk. Mereka mendekat dari arah timur.” Sengkala mengamati dengan teropong bambu sederhananya sambil memberikan perintah, “Tarik mundur semuanya secara perlahan. Biarkan mereka masuk ke jebakan yang sudah kita pasang.” Di bawah, teriakan yang penuh semangat dari para bandit menggelegar: “serahkan rumah! Makanan kalian!” Namun, jeritan pertama langsung terdengar saat jebakan bambu menembus kaki tiga bandit. Kepanikan melanda mereka, sementara dari balik barikade, orang desa menghujani dengan panah. Sengkala yang memimpin serangan dengan keberanian yang luar biasa didampingi oleh Suradipa dan Lurah menembus celah pertahanan lawan, memberi serangan yang menentukan. “Untuk desa!” teriak Sengkala lantang, sementara bilah *Giris Pawaka* memantulkan cahaya dari obor musuh yang berkobar. Ia sendiri berhasil menusuk lengan ketua bandit, memaksa mereka mundur. Pertarungan yang terjadi berlangsung singkat namun mematikan: 10 bandit tewas dan terluka, sedangkan sisanya melarikan diri dalam kekacauan. Meskipun desa memenangkan pertempuran kecil ini, harga yang dibayar tidaklah kecil, dengan 3 prajurit desa terluka dan satu orang terpaksa gugur. Ketika pagi datang, dengan kelelahan yang masih menggantung di udara, Sengkala mengumpulkan para korban. “Malam ini, kita berhasil menang. Namun, jangan lengah, karena besok mungkin lebih banyak yang akan datang. Rayakan kemenangan ini sebentar saja: bagikan daging yang dibawa bandit untuk membuat sup.” Ki Jaka mendekati Sengkala dengan kabar baru yang membangkitkan harapan sekaligus kekhawatiran. “Mas, utusan dari selatan telah kembali: bantuan makanan akan datang dua hari lagi. Namun, ada kabar buruk yang turut dibawa: Purwawisesa mengirim mata-mata untuk mencari empu yang dianggap pengkhianat—namamu disebut-sebut di antara mereka.” Dengan tekad yang tak tergoyahkan, Sengkala hanya bisa menatap ke arah utara di mana api masih menyala dengan redup. “Biarkanlah. Kita akan tetap bertahan. Jerat mereka di sini.” Di mata orang luar, desa ini mungkin hanyalah satu titik kecil di peta yang hancur, tetapi bagi mereka yang ada di dalamnya, itu adalah sebuah tempat perlindungan yang harus dipertahankan dengan segenap jiwa dan raga. Meskipun saat ini desa semakin kuat, Sengkala menyadari sepenuhnya bahwa semua ini hanyalah permulaan dari serangkaian ujian panjang. Di serambi malam itu, ia menulis pada lontar, mencatat setiap detail perjalanan hidupnya. “Hari ke-7 pelarian. Desa tetap bertahan, tetapi jerat sejarah makin kencang. Kita bukan pahlawan, hanya para penyintas.” Cerita baru ini membuka fase bertahan hidup Sengkala sebagai pemimpin dari desa sebagai benteng yang harus menghadapi ancaman bandit yang tiada habis, kelaparan yang mengintai, sementara rahasia masa lalunya terus membayangi dan mengejar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD