Langit yang membentang luas di atas lembah desa perlahan tapi pasti berubah warnanya dari semburat jingga khas senja menuju kegelapan malam yang pekat, seolah diselimuti selimut hitam yang tebal. Namun, di ufuk utara terlihat semburat cahaya merah yang kuat dan menakutkan, berasal dari Trowulan yang kini terbakar hebat—sebuah pemandangan yang menyala hebat, tak ubahnya luka terbuka yang enggan sembuh. Sengkala, seorang pria yang telah mencapai usia akhir tiga puluhan, berdiri tegap di perbatasan hutan. Ia ditemani oleh Lurah, pemimpin desa yang bijaksana, dan Ki Jaka, seorang figur penting lainnya, mereka bertiga memandang dengan penuh perhatian ke arah asap yang membumbung tinggi di udara. Desa kecil mereka, yang selama ini hanya dikenal sebagai persinggahan yang damai, kini mendadak berubah fungsi menjadi tempat perlindungan bagi ratusan pengungsi yang terus berdatangan. Suara tangis bayi yang memekakkan telinga, bisikan doa yang penuh dengan harap, serta derit gerobak yang dipenuhi barang-barang seadanya menyeruak memenuhi keheningan malam yang gelap gulita.
“Mas, ini bukan lagi sekadar latihan laskar yang biasa kita hadapi,” kata Lurah dengan nada suara yang sangat pelan dan berhati-hati, sementara tangannya menggenggam erat tombak kayu sederhana yang telah dibuat oleh Sengkala dari sisa besi yang ditemukan. “Ini sudah melibatkan kota raja. Jika api itu merambat dan menyebrang ke daerah ini...”
“Tidak akan terjadi penyebrangan api hari ini,” jawab Sengkala dengan tegas, matanya tetap terpaku pada ufuk yang jauh. Tubuh kekarnya masih mencerminkan ketangguhan, meskipun garis di wajahnya penuh dengan jejak-jejak pelarian dan kelelahan akibat pekerjaan bertani. Sinjang lusuhnya sudah basah oleh keringat yang mengucur, sementara *Giris Pawaka*, s*****a andalannya, tergantung dengan kukuh di pinggangnya. “Namun, besok? Kita harus siapkan desa ini. Balai desa akan kita ubah menjadi pos jaga, sementara lumbung dapat digunakan untuk menyimpan makanan. Dan kau, Lurah, ajarilah para pemuda desa untuk memegang s*****a tingkat dasar demi pertahanan.”
Ki Jaka, yang kini menjadi kepala dari para pengungsi, mengangguk setuju. “Telah ada sekitar 200 orang yang berkumpul, Mas. Banyak di antara mereka adalah bekas prajurit yang kehilangan s*****a. Mereka mengatakan bahwa Wikramawardhana telah memenangkan pertempuran di istana pusat, tetapi Purwawisesa telah membakar jalan mundurnya. Kini bandit dan laskar liar berkeliaran dan merajalela.”
Sengkala mengepalkan tangannya seolah menampung semua kekuatan dan tekadnya. “Besok pagi, kita akan mengumpulkan semuanya. Aku akan membagi tugas: mereka yang kuat akan menjaga perimeter desa, yang sakit akan dirawat dengan lebih baik, dan anak-anak kecil harus diajarkan bagaimana bersembunyi. Malam ini, kita juga akan mengirim mata-mata ke arah utara.”
Lurah tampak terkejut, dan matanya terbelalak lebar. “Siapa yang akan kau kirim, Mas? Apakah kau akan pergi sendiri?”
“Tidak. Kau dan dua pemuda yang cepat gerakannya. Bawa selembar kain putih sebagai simbol damai. Cari tahu: apakah api sudah padam sepenuhnya, atau masih ada kubu yang bertahan."
Setelah mengakhiri percakapan dengan doa singkat, mereka berpisah untuk melanjutkan persiapan masing-masing. Sengkala kembali ke rumah panggung yang juga menampung Dewi Laras dan Mpu Wira. Ibu dari Sengkala menyodorkan semangkuk bubur jagung panas. “Makanlah dulu, Le. Wajahmu pucat seperti besi yang mengalami pemanasan berlebihan.”
Sengkala duduk dan mulai makan perlahan-lahan. “Bu, Pak... mungkin besok kota akan jatuh secara total. Para pengungsi mengatakan bahwa istana sudah terkepung dari dalam. Terdapat perselisihan antar Pangeran, dan rakyat menjadi korban antara konflik ini.”
Mpu Wira, meskipun telah menua dan menjadi lebih lemah, masih menyimpan ketajaman dalam pandangannya, menggenggam tongkatnya. “Sudah kukatakan bertahun-tahun yang lalu: bahwa reruntuhan besar selalu diawali dari borok kecil di istana itu sendiri. Wikramawardhana mungkin akan duduk di takhta besok, namun Purwawisesa juga tidak akan tinggal diam. Dan pesisir? Mereka sudah siap untuk mengambil alih puing yang tersisa.”
Dewi Laras menangis pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Apakah kita benar-benar aman di sini? Desa ini tersembunyi dari pandangan umum.”
“Kita akan aman—walau hanya sementara,” jawab Sengkala. “Tetapi jika amuk yang terjadi terus menyebar, bandit tidak akan membedakan apakah kita empu atau sekadar petani biasa. Kita harus menyelamatkan orang sebanyak mungkin yang kita bisa.”
Mpu Wira menatap putranya dengan pandangan penuh harapan. “Kau sekarang bukan lagi empu istana, Le. Kau adalah pemimpin desa ini. Apa rencanamu selanjutnya?”
Sengkala bangkit dari duduknya, mengambil peta lontar yang ia gambar sendiri dengan detail matang. “Lembah ini memiliki dua jalan keluar: utara menuju kota—yang tentu berbahaya—dan selatan menuju pedalaman yang relatif aman. Esok, kita akan membuat barikade dari bambu berduri di bagian utara, menggali parit, dan menyiapkan jebakan sederhana. Yang memiliki s*****a, dibagi menjadi dua kelompok: setengah berjaga malam, setengahnya lagi beristirahat. Dan aku... aku akan pergi ke kota sebelum fajar menyingsing.”
Dewi Laras memegang tangannya dengan kuat, penuh kekhawatiran. “Itu tindakan gila! Kau akan menuju kematian?”
“Bukan untuk mati, Bu. Aku mencari tahu. Jika ada keluarga atau teman yang tersisa, kita harus menyelamatkan mereka. Dan membawa kabar yang akurat—siapa yang menang, siapa yang mundur. Para pengungsi kini membutuhkan harapan, bukan sekadar rumor yang belum tentu benar.”
Mpu Wira mengangguk pelan, memberinya persetujuan. “Pergilah. Tapi bawa *Giris Pawaka*. Bukan untuk membunuh, tetapi untuk mengingatkan dirimu akan siapa dirimu sebenarnya.”
Sengkala memeluk keduanya dengan erat, kemudian ia keluar. Malam yang gelap membentang di sekitarnya, hanya ditemani kerlip bintang serta nyala api yang terlihat dari kejauhan. Ia mengumpulkan para pemimpin pengungsi di balai desa: para bekas prajurit, petani, dan perempuan-perempuan tangguh yang telah teruji keberaniannya.
“Dengarkan baik-baik!” suaranya terdengar lantang dan tegas. “Malam ini kita semua berjaga dan melindungi desa ini. Esok pagi, Lurah akan memimpin pembuatan barikade, sementara Ki Jaka akan mengurus ketersediaan makanan. Aku akan pergi ke kota untuk mencari kabar terbaru. Siapa yang mau ikut bersamaku?”
Seorang prajurit tua yang sudah berpengalaman mengangkat tangannya. “Aku, Mpu. s*****a kerismu telah menyelamatkan aku saat itu.”
Dua pemuda lainnya kemudian ikut bergabung. “Kami siap untuk berangkat.”
Rencana matang digambarkan di tanah: sebuah pos jaga akan dibangun di bukit, sinyal api akan dinyalakan tiga kali jika ada bahaya yang mengancam, rute evakuasi menuju selatan juga sudah disiapkan. Lalu mereka semua berpisah dengan semangat baru yang berapi-api.
Saat fajar mulai menyingsing, Sengkala, Suradipa, dan dua pemuda bergerak pelan menuju utara. Hutan lebat yang mereka lewati semakin pekat oleh asap. Sampai di pinggir kota, mereka terkejut dengan pemandangan mengerikan yang ada di depan mata: rumah-rumah yang hangus terbakar, mayat berserakan tanpa ada tanda kehidupan, dan pagar candi yang dulunya megah kini hanya tinggal setengahnya dan setengah lagi telah roboh. Terdengar jeritan samar dari kejauhan, menambah kesan horor.
“Suradipa, apakah kau masih ingat jalan belakang menuju kota?” tanya Sengkala dengan suara berbisik.
“Ada g**g menuju pasar lama. Ikuti aku.”
Mereka menyusup dengan cepat dan hati-hati. Setibanya di pasar, pemandangan kacau sudah menunggu: orang-orang berlarian membawa barang-barang berharga mereka, para prajurit bertarung dengan saudara mereka sendiri, api berkobar-kobar, m******t setiap kios yang ada. Tiba-tiba, segerombol bandit muncul—mantan laskar liar yang kini berbalik menjadi musuh.
“Berhenti di tempat! Kalian mau kemana dengan tangan kosong?!” bentak ketua bandit dengan pedang berkarat yang ia pegang erat.
Sengkala segera menarik *Giris Pawaka*. “Kami tengah mencari keluarga. Biarkan kami lewat, kami tak ada urusan dengan kalian.”
Bandit itu tertawa keras. “Sekarang semua orang memiliki urusan dengan kami! Serang mereka!”
Pertarungan sengit meletus seketika. Sengkala menebas dua bandit dengan gerakan lincah—pengalaman bertahun-tahun menempa s*****a membuatnya mahir dalam memahami sudut dengan tajam. Suradipa berhasil menusuk satu bandit. Namun, salah satu pemuda terluka dalam pertempuran, meskipun berhasil meloloskan diri.
“Cepat lari ke g**g ini!” teriak Sengkala memimpin. Mereka terus berlari, menyaksikan pemandangan horor di sekitar mereka: istana di kejauhan kini berkobar dalam api, terdengar suara ledakan berasal dari bubuk mesiu yang meledak.
Di balik tembok yang roboh, kelompok mereka menemukan beberapa orang yang selamat—termasuk Jaka dan Mbok Sari yang mengalami luka parah.
“La! Kau akhirnya datang!” seru Jaka sambil memeluknya. “Di kota sedang terjadi kegilaan. Pangeran saling membunuh, rakyat tanpa daya menjadi sasaran korban. Wabah dan kelaparan mempercepat kehancuran.”
“Kita harus keluar dari tempat ini sekarang. Desa masih aman,” ajak Sengkala. “Bawa barang yang sekiranya bisa kau bawa.”
Mereka berhasil mengevakuasi sekitar 20 orang, tetapi para bandit masih mengejar dari belakang. Di dalam hutan, Sengkala menghadapi ketua bandit sendirian dalam konfrontasi terakhir.
“Kau mungkin dikenal sebagai empu yang terkenal! Senjatamu digunakan oleh semua kubu!” ejek bandit dengan suara meremehkan.
“s*****a tidak dibuat untuk merampok, tapi untuk melindungi!” balas Sengkala, mereka berdua terlibat duel sengit. *Clang-clang!* *Giris Pawaka* berhasil memotong tangan bandit, tetapi Sengkala juga mengalami luka di bahu.
Bandit akhirnya mundur dan kabur. Kelompok yang berhasil diselamatkan akhirnya sampai di desa, disambut dengan haru dan kebahagiaan yang dalam. Sengkala segera dirawat oleh Dewi Laras yang khawatir.
“Kau benar-benar gila, La,” kata Jaka dengan nada cemas. “Tetapi, kau telah menyelamatkan kami semua.”
“Ini mungkin baru permulaan dari segalanya,” jawab Sengkala sambil terus menatap ke arah utara. “Amuk ini belum berakhir sepenuhnya.”
Desa tersebut kini berfungsi sebagai benteng kecil, dan Sengkala diangkat menjadi pemimpinnya. Kegelapan malam masih menyelimuti, namun cahaya lilin dari lontar tetap menyala—menjadi simbol harapan yang terus berkobar di ujung masa.