Bab 8 : Menyala di Atas Ranting Kering

2345 Words
Angin malam dari arah Trowulan membawa serta aroma dan nuansa yang begitu beragam dan berbeda dari biasanya; bukan hanya menyebarkan jejak asap dapur yang khas dan aroma dupa candi, namun kali ini terasa ada campuran aroma getir yang mengusik ketenangan—tercium jelas aroma kayu terbakar, kain yang telah hangus, serta sesuatu yang lebih lembut dan sulit diungkapkan, yakni kecemasan yang meresap dalam. Di sebuah lembah kecil, yang terlindung oleh hutan, terdapat sebuah desa yang dulu hanya dikenal sebagai tempat persinggahan bagi para pemburu yang lalu lalang, kini tempat ini telah menyaksikan perkembangan dengan berdirinya beberapa rumah panggung yang baru. Salah satu rumah panggung itu adalah milik seorang bernama Sengkala. Tidak terasa, sudah hampir dua tahun berlalu sejak ia mengambil keputusan untuk membawa keluarganya meninggalkan kehidupan di bengkel tua yang terletak di dekat kota raja. Usianya kini telah melampaui tiga puluh tahun, namun beban yang menggelayuti pundaknya seakan setara dengan seseorang yang usianya jauh lebih tua darinya. Di dalam rumah kayu yang sederhana dan penuh kehangatan itu, tidak lagi terlihat rak-rak yang penuh dengan keris dan tombak yang dikenal berkelas; yang ada kini hanyalah deretan cangkul, sabit, serta alat-alat bertani yang dengan tekun dan ketekunan ia buat sendiri. Namun demikian, di sudut terdalam ruangan yang paling gelap, terbungkus rapat dalam kain putih, tersimpan *Giris Pawaka*—peninggalan satu-satunya yang masih ada dari hidup lamanya ketika ia menjadi seorang empu di istana. Pagi itu, cahaya matahari pagi menyelusup dengan lembut melalui celah-celah dinding bambu, menyinari wajah Sengkala yang tertidur di lantai, kelelahan setelah semalaman penuh mengolah tanah baru di lereng. Dewi Laras, ibunya, membangunkannya dengan sentuhan lembut, yang kini tampak rambutnya jauh lebih banyak beruban dari sebelumnya. “Le, bangunlah. Air di pancuran sudah Ibu ambilkan. Hari ini kita mulai menanam padi di petak barat,” begitu bisikan lembut dan nasihat bijaknya dengan suara lembut tetapi terdapat nada tegas yang tidak bisa diabaikan. Sengkala membuka matanya perlahan, sementara sendi-sendinya masih memberontak protes, tetapi ia memaksa dirinya untuk bangkit. “Iya, Bu. Kalau kita terlambat menanam, pasti panen juga akan terlambat. Musim sekarang tidak bisa lagi ditebak,” jawabnya, menyadari perubahan alam yang tidak menentu. Dari luar rumah mereka, terdengar suara energik dari Lurah dan Ki Jaka—dua mantan muridnya yang memutuskan untuk bergabung mengikuti gaya hidup tenang di desa ini—memanggil dengan penuh semangat. “Mas Sengkala! Bajak telah siap. Kerbau Pak Tirta bisa kita pinjam hari ini,” teriak Lurah, menyampaikan kabar gembira. Mengambil langkah keluar, Sengkala merasakan embun pagi yang segar membasahi sinjang kasarnya. Alih-alih mengenakan apron kulit empu seperti dulu, kini ia hanya mengenakan kain lusuh dan ikat kepala yang sederhana saja. Ki Jaka mendekatinya, menyodorkan sebatang kayu cangkul yang baru. “Kau sudah jauh lebih cocok mengenakan ini daripada palu, Mas,” godanya dengan nada ringan. Sengkala memberikan tersenyum dengan senyuman samar. “Besi itu adalah besi, tanah itu adalah tanah. Keduanya keras dan menantang jika tidak kau dekati,” jawabnya sambil tertawa kecil. Ketiganya, bersatu dan bersemangat, menuruni tanah menuju sawah. Kabut tipis masih menggantung mempesona di atas petak-petak tanah yang baru dibuka. Di kejauhan, samar-samar, terlihat puncak candi di Trowulan, berdiri megah seperti bayangan masa lalu yang tetap mengawasi dengan penuh kebijaksanaan. Saat mereka mulai proses membajak tanah, tiba-tiba saja suara kentongan terdengar dari arah jalan desa, terdengar lirih tetapi penuh dengan ketergesaan. Seorang lelaki setengah baya terlihat berlari dengan nafasnya yang tersengal. “Sengkala! Kalian semua!” serunya, menunjukkan urgensi. “Dari utara… ada asap besar yang terlihat jelas. Katanya pasukan laskar mulai bentrok lagi. Dan… beberapa orang yang lewat bilang Trowulan mulai dikepung oleh laskarnya sendiri!” Cangkul di tangan Sengkala berhenti seketika di udara, menggambarkan rasa terkejut. “Dikepung oleh siapa?” tanyanya dengan nada penuh keheranan dan kekhawatiran. “Entahlah. Ada yang bilang oleh laskar yang kecewa dengan pajak yang melambung tinggi. Ada yang bilang oleh kubu pangeran yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Pokoknya, orang-orang dari kota berhamburan mencari perlindungan ke selatan. Mereka mulai bergerak lewat jalan di dalam hutan. Mungkin sebentar lagi mereka sampai di sini,” jawab lelaki itu, menggambarkan situasi yang semakin genting. Ki Jaka memaki pelan, menyadari realitas yang mengerikan. “Jadi amuk itu benar-benar telah meletus.” Lurah menatap Sengkala dengan tatapan penuh kekhawatiran. “Mas… kalau kota raja benar-benar jatuh dalam kekacauan… apakah mereka akan ingat bengkel lama kita?” tanyanya, menjelaskan kekhawatirannya. “Bengkel itu mungkin sudah jadi arang,” jawab Sengkala dengan lirih, matanya kehilangan kilauan semangat. “Yang lebih aku khawatirkan adalah orang-orang yang suka menyalahkan siapa saja yang pernah dekat dengan istana atau yang pernah berhubungan dengan kekuasaan,” tambahnya dengan suara penuh perasaan. *** Menjelang sore, kekhawatiran yang mereka rasakan menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari. Jalan tanah di tepi desa mulai dipenuhi dengan rombongan kecil para pengungsi: ada ibu-ibu yang menggendong bayi mereka dengan penuh kasih sayang, lelaki tua yang kesepian menyeret barang seadanya dengan keperihan, serta anak-anak yang dengan tatapan kosong tanpa harapan. Sebagian dari mereka masih mengenakan pakaian yang layak dikenakan oleh warga Trowulan, sedangkan sebagian lain mengenakan sinjang compang-camping hasil dari pelarian yang tergesa-gesa. Sengkala berhenti bekerja secara spontan. “Lurah, Ki Jaka, tolong bantu arahkan mereka ke balai desa. Kita harus segera membagi air dan makanan yang bisa kita sediakan,” perintahnya dengan penuh tanggung jawab. Dewi Laras sudah lebih dulu bergerak proaktif, menyiapkan air minum di kendi besar dan beberapa panci bubur ala kadarnya. Mpu Wira, yang kini berjalan dengan bantuan tongkat bambu, duduk di serambi, menatap satu per satu wajah yang berlalu dengan penuh perenungan. Seorang lelaki dengan pakaian bekas prajurit berhenti di depan Sengkala, napasnya terdengar berat mengusik. Di pinggangnya tidak lagi terlihat keris—hanya bekas sarung yang kosong tanpa isi. “Kau… Sengkala?” tanyanya dengan nada ragu. Sengkala menatap wajah itu, sambil mengingat-ingat, samar mengidentifikasi. “Kau adalah mantan prajurit pengawal barisan depan dulu… Suradipa, bukan?” katanya memastikan. Suradipa mengangguk lemah. “Dulu kerisku dibuat dari bengkelmu. Dulu aku bangga membawanya dengan nama bengkelmu di pinggangku. Sekarang lihat,” ujarnya sambil menunjukkan sarung kosong, “keris itu kupakai untuk menahan teman sendiri yang mengamuk karena keluarganya mati terkena sampar… lalu setelah itu dirampas oleh laskar yang marah. Semuanya… benar-benar kacau dan tak jelas arah.” Sengkala terdiam sejenak, termenung. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di Trowulan, Suradipa?” tanyanya, mencari tahu lebih lanjut. “Tak ada lagi siapa lawan siapa yang bisa didefinisikan dengan jelas,” jawab Suradipa getir, mengungkapkan kekecewaannya. “Pajak terakhir terlalu berat dikenakan pada penduduk, laskar pesisir tak mau tunduk, lalu dua kubu pangeran saling tuduh menganggap yang lain bersalah. Kemudian ada yang mulai melempar api ke lumbung. Wabah dan kelaparan membuat orang kehilangan akal sehat. Sekarang, kayu kering tahun-tahun terakhir itu terbakar dalam api kemarahan dan kekhawatiran yang tak terkendali.” Mpu Wira berbicara dari serambi dengan suara lemah namun jelas dan penuh pemahaman. “Apakah raja masih berada di dalam istana?” “Raja?” Suradipa tertawa hambar, menggambarkan skeptisismenya. “Tak ada lagi suara yang benar-benar didengar dan dianggap penting. Yang ada hanya teriakan yang bergema di setiap sudut. Beberapa bilang raja sakit, beberapa bilang ia disekap dan ditahan. Yang jelas, tembok yang dulu kita kira kokoh itu sekarang penuh dengan retakan yang mengkhawatirkan.” Seorang ibu muda mendekap anaknya yang demam, memohon. “Tolong… apakah ada tempat kami bisa tidur dan beristirahat malam ini?” Dewi Laras segera menuntun mereka dengan penuh empati dan keramahan ke lumbung kosong. “Masuklah. Tak banyak, namun cukup untuk tidak kehujanan malam ini,” sajarnya penuh pengertian. Sengkala menatap pemandangan itu: desa kecilnya yang tenang kini menjadi mata air pengharapan bagi orang-orang yang kehausan atas rasa aman dan kenyamanan. Ia merasa seperti palu yang berdiri di antara besi-besi bengkok yang datang dalam kerapuhan meminta untuk dibentuk ulang, padahal lengannya sendiri sudah mulai lelah dan kehabisan tenaga. *** Malam turun dengan cepat dan dramatis. Di kejauhan, di arah utara, langit memerah bukan oleh senja, tapi oleh api besar yang menyala-nyala di ufuk, simbol amarah dan kerusakan yang merajalela. Beberapa pengungsi duduk di sekitar api unggun kecil di tengah desa, berbagi kisah yang terdengar seperti potongan mimpi buruk yang hidup. “Aku lihat sendiri,” cerita seorang lelaki tua yang penuh cerita. “Gapura besar yang dulu kita banggakan… hangus dilalap api yang membara. Patung garuda yang kita sembah sebagai penjaga… sayapnya patah, jatuh ke tanah dengan membawa simbol kehancuran. Orang berteriak: ‘Ini hukuman! Ini balasan atas kesombongan yang tak berdasar!'” katanya dengan suara penuh penyesalan. Seorang pemuda dengan cepat memotong pembicaraan. “Jangan salahkan dewa. Ini adalah kesalahan manusia yang tak pernah merasa kenyang dan selalu ingin lebih,” sahutnya menggambarkan kesadaran. Seseorang menoleh pada Sengkala dengan pertanyaan menusuk. “Kau seorang empu, bukan? Kerismu ada di pinggang banyak orang di kota. Apakah kau merasa bangga sekarang?” tanyanya, menghasut. Pertanyaan itu menusuk begitu dalam. Sengkala menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Tidak ada yang patut dibanggakan saat saudara saling membunuh dalam keputusasaan dan kemarahan. Namun aku juga tak akan lari dari kenyataan bahwa tanganku pernah menempa banyak besi yang sekarang mungkin saling beradu dan menyebabkan kehancuran.” “Kalau begitu,” sahut lelaki itu dengan nada tajam, “apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan memilih membunuh dirimu sendiri sebagai tebusan?” tantangnya. Sengkala menggeleng pelan, menahan dirinya. “Tidak. Membunuh diriku sendiri tidak akan menyelamatkan siapa pun dari penderitaan ini. Namun membiarkan diriku berpura-pura tidak punya peran dalam semua ini juga pengecut. Yang bisa kulakukan sekarang adalah melindungi siapa yang bisa kulindungi dengan kekuatan yang ada, dan menyimpan kisah ini, agar kelak generasi setelah kita tahu bahwa kerajaan ini runtuh bukan hanya oleh serangan dari luar, tetapi juga oleh borok dan kebusukan dari dalam yang kita biarkan,” ucapnya dengan penuh kesadaran. Mpu Wira batuk kecil. “Sengkala, bawakan aku *Giris Pawaka*,” pintanya tiba-tiba. Dewi Laras memandang suaminya dengan kaget. “Untuk apa? Sudah lama kau simpan agar tak dipakai lagi.” “Untuk dihadapkan pada kebenaran,” jawab Mpu Wira, menandakan tekadnya. Sengkala segera masuk ke dalam rumahnya, mengambil bungkusan kain putih dari sudut gelap, lalu membuka sedikit. Kilau baja keris itu menyambar api unggun, pamornya seperti gelombang yang tak lagi sabar menepi dalam keindahan dan kekuatan. Ia menyerahkannya pada ayahnya dengan dengan sikap penuh hormat. Mpu Wira menggenggam gagangnya pelan, menatap bilah yang dengan penuh kebanggaan ikut ia bimbing untuk lahir bertahun lalu. “Lihat baik-baik, semua,” katanya pada orang-orang yang berada di lingkar api yang berkumpul dan mendengarkan dengan cermat. “Ini bukan dewa, bukan setan. Hanya besi. Tapi tangan siapa yang mengarahkannya, dan hati apa yang menggerakkannya, itulah yang menentukan apakah ia jadi pelindung atau pencabut nyawa.” Ia mengembalikan keris itu kepada Sengkala. “Mulai malam ini, kau bukan lagi hanya empu atau bekas empu. Kau saksi dari sejarah yang tengah terjadi. Kau akan menulis apa yang kau lihat dan alami. Kau akan ceritakan bahwa ketika Majapahit terbakar, masih ada orang kecil yang mencoba tak ikut mengipas apinya,” ujarnya dengan nada penuh harapan. Seorang anak kecil yang mendengar dari sudut mendekat dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. “Mbah… apakah Majapahit akan hilang selamanya?” tanya anak itu dengan tanya yang polos. Sengkala berjongkok di hadapan anak itu, mencoba menjelaskan dengan bijak. “Majapahit sebagai istana dan tembok mungkin hilang dalam kehancuran dan perubahan. Tetapi Majapahit sebagai pelajaran dan pengalaman… itu bisa kita simpan di kepala dan hati kita. Kalau kau tumbuh dewasa dan tidak mengulangi kesalahan mereka, berarti sedikit dari Majapahit masih hidup dalam diri kita,” jawabnya dengan senyuman disertai penuh akan harapan. Anak itu mengangguk pelan, meski belum benar-benar mengerti makna kata-kata bijak tersebut. *** Larut malam, setelah desa mulai tenang dan sunyi, Sengkala duduk sendirian di serambi rumahnya, lontar kosong di pangkuannya, pisau raut di tangan siap menulis. Di kejauhan, nyala merah di utara berkedip seperti mata raksasa yang murka, simbol kemarahan dan kehancuran yang melanda. “Babak baru,” gumamnya sendiri, mencoba menata pikirannya dan membangun tekad. “Dulu aku menulis tentang hari-hari damai di bengkel yang tenang. Sekarang aku harus menulis tentang hari-hari ketika api keluar dari tungku dan membakar lumbung serta harapan,” ujarnya dengan nada determinasi. Ia mulai menggoreskan aksara di atas lontar: tentang rombongan pengungsi pertama yang datang dengan kegetiran, tentang wajah Suradipa yang kehilangan keris di pinggang, tentang kabar gapura runtuh yang memprihatinkan. Setiap huruf terasa seperti pukulan palu ke besi lembek—bukan lagi membentuk s*****a, tapi membentuk ingatan yang tak akan pernah dia lupakan. Dari belakangnya, Dewi Laras bersandar di tiang menemaninya. “Kau yakin mau menulis semua itu, Le? Kalau suatu hari mereka yang berkuasa menemukan catatanmu dan menganggapmu sebagai pengkhianat?” tanyanya dengan penuh kewaspadaan. Sengkala tidak berhenti menulis, meneguhkan niatnya. “Kalau aku diam, aku ikut berkhianat pada mereka yang tidak pernah punya suara untuk menyampaikan isi hati. Kalau suatu hari cucu-cucu kita bertanya ‘bagaimana semua ini bisa terjadi?’ dan kita hanya bilang ‘entahlah, tahu-tahu ambruk’… bukankah itu suatu kebohongan besar?” ujarnya dengan nada tegas dan sadar. Dewi Laras menghela napas panjang, merasakan beban yang terpikul. Lalu ia duduk di samping anaknya. “Kalau begitu, tulislah dengan keberanianmu. Tapi jangan lupa tidur dan makan yang cukup. Saksi yang jatuh sakit tak bisa menyelesaikan ceritanya dengan baik,” nasihatnya dengan penuh perhatian. Mpu Wira dari dalam rumah berkata lirih, hampir seperti doa yang dialamatkan kepada mereka. “Tulis juga bahwa di tengah amuk, masih ada orang yang mencoba bertahan tanpa ikut menghunus pada saudaranya,” ujarnya dengan kebijaksanaan. “Ya, Pak,” jawab Sengkala pelan, mengingatkan dirinya akan pesan tersebut. Ia menatap sekali lagi ke arah utara, mencoba memahami dan menerima apa yang terjadi. Cahaya merah itu tampak sedikit meredup, atau mungkin hanya tertutup oleh awan yang menyelimuti. Namun di desa kecil itu, api lain menyala—kecil, di ujung sumbu lontar dan di d**a seorang bekas empu yang kini mulai mengerti: terkadang, di zaman yang penuh amuk dan ketidakpastian, menjadi saksi yang jujur jauh lebih berbahaya dari pada menjadi prajurit yang mengacungkan pedang dengan kekuatan. Namun itulah jalan yang ia pilih. Dan inilah awal dari perjalanan baru yang harus dijalaninya dengan keberanian dan tekad.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD